Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.
Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?
Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA PULUH SEMBILAN
Rakha baru saja masuk. Jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja yang lengannya digulung rapi. Wajahnya tampak lelah, tapi tetap dengan aura tenang yang entah kenapa selalu membuat orang ingin menatapnya lebih lama.
Ia berhenti beberapa langkah di belakang Maharani, pandangannya mengikuti arah mata wanita itu-ke satu foto lama dalam bingkai kayu tua.
"Aditya and Mikhayla," ucap Rakha pelan, suaranya dalam dengan sedikit nada nostalgia. "We used to be inseparable back in Oxford."
Maharani menoleh cepat, sedikit terkejut. "Oh-jadi Mas dan Pak Aditya udah kenal dari kuliah?" Ia tersenyum kecil. "No wonder kalian bisa kerja bareng dengan chemistry sekuat itu. Dunia kalian ternyata kecil banget, ya. From Oxford to Jakarta."
Rakha mendekat perlahan, berdiri di sampingnya. Ia ikut menatap foto itu. "Aditya always said, 'the legal world is small, Rakha - one way or another, every path will eventually cross.'"
Ia menghela napas pendek. "He was right."
Maharani melirik dari sudut mata. Ada sesuatu yang berbeda di wajah Rakha kali ini-lebih lembut, lebih manusiawi. Seolah ada rindu yang pelan-pelan muncul di antara kalimatnya.
"Kalau yang perempuan itu..." tanya Maharani pelan, menunjuk ke sosok bergaun putih di foto itu. "She's one of your classmates too?"
Rakha menatap foto itu lama sebelum mengangguk. "Yeah. Mikhayla. She was brilliant-one of the sharpest minds in our class. We worked together on a lot of cases, debates, competitions... sometimes even against each other."
Ia tersenyum tipis. "She never liked losing."
Maharani ikut tersenyum, tapi matanya memerhatikan ekspresi Rakha yang tiba-tiba berubah sendu.
"Kayaknya banyak banget kenangan di balik foto itu," katanya pelan. "I can see it in your eyes."
Rakha menoleh pelan ke arahnya. Senyumnya lembut, tapi ada bayangan luka di sana.
"Maybe," ujarnya tenang. "But some memories... are better left untouched."
Ruangan sejenak hening. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan, berpadu dengan napas mereka yang nyaris seirama.
Maharani menunduk, lalu tersenyum canggung, mencoba mengalihkan suasana. "Mas Rakha, seriously... pialanya banyak banget. I feel like I'm standing in a professor's office. I don't even know which one to look at first."
Rakha tertawa kecil, suaranya rendah dan menenangkan. "You know what's funny, Hani?" katanya, menatap deretan penghargaan di depan mereka. "These awards used to mean everything to me. Validation, pride, success..."
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Maharani dalam.
"But now, I realize-what really matters isn't what I've achieved, but what I can still do... for others."
Maharani terpaku.
Ada sesuatu dalam nada suaranya-tulus, tapi juga menembus dinding yang selama ini ia bangun di dalam dirinya sendiri.
Dan untuk sesaat, dunia di luar ruangan itu seakan lenyap.
Rakha kemudian memalingkan pandangannya kembali ke lemari kaca. "Life changes people, Hani. Sometimes, not in ways we want-but in ways we need."
Maharani hanya mengangguk pelan.
Dalam diamnya, ia tahu: pria di hadapannya bukan sekadar pengacara dingin dan cerdas. Tapi seseorang yang memikul masa lalu berat... dan mungkin, luka yang belum sembuh sepenuhnya.
Ada keheningan kecil sebelum Rakha berjalan ke meja, mengambil nampan kecil. Gerakannya tenang, tapi entah kenapa terasa begitu alami - seperti seseorang yang sudah terbiasa memperhatikan detail kecil di sekitarnya.
"Ngomong-ngomong, kamu udah makan belum?" tanyanya santai sambil menaruh nampan di meja kaca di hadapan Maharani. "Saya tadi beli beberapa snack sebelum pulang, takut kamu belum sempat makan."
Maharani menatap nampan itu dengan alis terangkat. Di atasnya tersusun croissant almond hangat yang masih berkilau oleh lelehan butter, ditemani secangkir teh chamomile yang mengepulkan aroma lembut dan menenangkan.
"Serius, Mas?" ujarnya pelan, sedikit terkejut. "Ini... makanan favorit saya."
Ia menatap Rakha, nada suaranya tercampur antara kagum dan curiga. "Dari mana Mas tahu? Saya bahkan udah lama banget nggak makan ini. Apalagi... croissant almond."
Rakha sempat terdiam, lalu tersenyum kecil sambil memainkan sendok di antara jarinya. "Maybe you underestimate how famous you are," katanya ringan. "Kamu itu public figure, Hani. Semua orang tahu kamu classy - bukan tipe yang suka junk food. Kamu kelihatan lebih kayak tipe yang menikmati sesuatu yang subtle, soft, dan elegan. Croissant almond and chamomile tea? That fits you perfectly."
Maharani menyipitkan mata, senyumnya tipis tapi nakal. "Hmm... tapi croissant ini bukan dari kafe biasa, Mas. Ini dari toko pastry kecil di Menteng. Tempatnya aja nyempil banget, nggak semua orang tau."
Rakha menatap teh di cangkirnya sejenak sebelum menjawab dengan nada ringan, nyaris tanpa ekspresi. "Mungkin staf pantry kantor yang pilih. I just told them to get something simple."
Maharani menatapnya lekat, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. "Tapi kok kebetulan banget ya?" ujarnya dengan nada menggoda. "Kayak Mas tahu aja apa yang saya suka."
Rakha mengangkat pandangan, menatap balik. Ada sedikit senyum yang nyaris tak terlihat di sudut bibirnya, tapi cukup untuk membuat udara di ruangan itu berubah hangat.
"Mungkin saya cuma observant," katanya pelan. "Atau mungkin... selera kita sama."
Maharani menunduk kecil, senyumnya mengembang tanpa sadar. Ia duduk di sofa, mengambil potongan kecil croissant dan mencicipinya perlahan. Teksturnya renyah di luar, lembut di dalam, rasa almond-nya berpadu pas dengan wangi teh yang menenangkan.
"Enak banget," gumamnya, hampir seperti berbicara pada diri sendiri.
Rakha hanya memperhatikannya dalam diam, tangan kirinya memegang cangkir teh, sementara pikirannya samar-samar terisi sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Ada ketenangan aneh saat melihat wanita itu duduk di ruangan kerjanya - ruangan yang biasanya terasa dingin dan steril, kini terasa... hidup.
Maharani menatap ke arah Rakha lagi, matanya jernih, bibirnya masih menyisakan senyum lembut. "Kalau terus kayak gini, saya bisa betah di sini, Mas."
Rakha mengerjap pelan, lalu menjawab dengan nada datar tapi matanya menghangat. "Itu bukan hal buruk, kan?"
Suasana kembali hening. Hanya suara jam dinding dan aroma teh yang perlahan memudar di udara. Dua manusia dengan luka dan rahasia masing-masing - duduk berhadapan, dalam keheningan yang anehnya terasa nyaman.