NovelToon NovelToon
Gairah Suami Kakakku

Gairah Suami Kakakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Misi Dada "Gunung Kembar"

Misi Dada "Gunung Kembar"

​Kamar kos Bella mendadak berubah jadi laboratorium kecantikan ilegal. Di atas lantai, berserakan berbagai macam botol minyak bulus, krim pembesar instan hasil iklan pop-up yang mencurigakan, sampai alat hisap aneh yang katanya bisa bikin bibir setebal Kylie Jenner tapi malah bikin bibir Tiara jadi mirip habis disengat tawon satu sarang.

​"Rum, sini lo duduk! Jangan bengong mulu mikirin si Kulkas Berjalan itu," perintah Bella sambil mengenakan ikat kepala kain seperti mau perang. "Kita udah riset di TikTok sama forum-forum rahasia. Kalau lo mau ngalahin si Clarissa 'Gunung Kembar' itu, lo harus punya strategi volume!"

​Aku menatap botol minyak berbau amis di depannya dengan ragu. "Bel, lo yakin ini minyak bulus asli? Baunya kayak selokan mampet dicampur terasi, tauk!"

​"Heh! Bau itu tanda khasiat, Arum sayang!" seru Tiara sambil sibuk memijat-mijat dadanya sendiri di depan cermin. "Coba liat gue, udah agak naik kan? Udah mulai kerasa ada gravitasi-gravitasi gimanaaa gitu."

​"Itu mah karena lo pake bra yang kawatnya kenceng banget, Ti! Lo lepas dikit juga balik lagi ke pengaturan pabrik," sindirku pedas.

​Bella nggak peduli. Dia malah ngeluarin korset yang ukurannya sekecil lilitan sosis. "Terus ini, Rum. Strategi kedua: Waist Training. Biar pinggang lo sekecil tawon, nanti pantat lo bakal kelihatan bohay sendiri karena efek kontras. Sini, napas dalem-dalem... TAHAN!"

​"ADEW! BEL! SESEK! GUE NGGAK BISA NAPAS!" teriakku saat Bella menarik tali korset itu sekuat tenaga. Wajahku memerah, mataku nyaris keluar.

​"Tahan, Rum! Demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat per-bohay-an! Demi bikin Gavin keselek ludah pas liat lo!" Bella terus menarik. "Lo mau kan pas lo lewat, Mas Gavin langsung lupa cara napas?"

​Bayangan Gavin yang mencium Clarissa di mall kemarin lewat di otakku. "Oke... tarik lagi, Bel! Tarik sampai rusuk gue geser!" ucapku penuh dendam.

​Kami bertiga berakhir dengan cara konyol: Tiara yang bibirnya jontor karena alat hisap, Bella yang tangannya pegal karena mijat minyak amis, dan aku yang jalan tegak lurus kayak robot karena korset yang mencekik napas.

​"Sumpah ya, kita bertiga kalau masuk sirkus langsung keterima," gumam Tiara sambil mengompres bibirnya pake es batu.

​Sore Harinya - Depan Kampus

​Aku keluar gedung fakultas dengan gaya berjalan yang sangat kaku. Tiap langkah rasanya kayak mau pingsan karena korset ini. Tiba-tiba, Raka muncul dengan motor besarnya, menghadang jalanku.

​"Rum! Lu oke? Kok jalan lu kayak abis disunat?" tanya Raka dengan wajah polos yang minta ditampol.

​"Diem lo, Rak! Gue lagi nggak mau diganggu!" semprotku.

​Raka turun dari motor, wajahnya penuh kekhawatiran. "Rum, lu masih marah soal yang di mall? Sumpah, gue nggak maksud apa-apa. Gue cuma pengen jagain lu. Sini, gue anter pulang. Gue udah beliin martabak kesukaan lu."

​Raka mencoba merangkul bahuku, tapi aku langsung menepisnya dengan kasar. "Jangan sentuh-sentuh! Gue bilang jangan deket-deket gue, bau parfum lo bikin gue mual, tau nggak?!"

​"Tapi Rum, ini parfum yang lu bilang enak tempo hari—"

​"DULU! Sekarang selera gue udah ganti! Pergi nggak?! Kalau nggak, gue teriak nih!" aku melotot tajam.

​Raka mematung. Matanya berkaca-kaca, tampak sangat terluka. Dia cuma cowok baik yang nggak tahu apa-apa, tapi dia jadi samsat pelampiasan emosiku. "Lu... lu bener-bener berubah, Rum. Lu jahat banget."

​Raka memakai helmnya dengan gerakan lemas, lalu memacu motornya pergi.

​"Duh, Rum... kasihan tauk si Raka," celetuk Bella yang tiba-tiba muncul di belakangku bareng Tiara. "Gue yang liat aja nyesek. Lo jahatnya udah level villain sinetron Indosiar, Rum."

​"Biarin aja! Gue lagi males sama semua cowok!"

​"Halah, males sama semua cowok apa cuma males karena cowok yang lo mau lagi asyik jadi suami idaman?" Tiara menyindir telak. "Ayo balik, liat hasil eksperimen minyak bulus lo di depan Mas Gavin."

​Malam Hari - Di Rumah

​Suasana rumah terasa sangat hangat, tapi bukan untukku. Mbak Siska sudah bisa duduk di ruang tamu, sedang menonton TV sambil bersandar di bahu Gavin. Gavin terlihat sangat perhatian. Dia mengelus rambut Siska, menyuapinya buah potong, dan sesekali mengecup pelipis istrinya.

​"Mas, Arum udah pulang tuh," ucap Siska lembut saat melihatku masuk.

​Gavin menoleh sekilas. Tatapannya dingin, hanya bertahan satu detik sebelum kembali fokus pada Siska. "Oh. Mandi sana. Baumu aneh, kayak bau pasar ikan."

​Darahku mendidih. Minyak bulus sialan! Baunya ternyata nggak ilang meski aku udah pake parfum sebotol.

​Aku nggak menyerah. Aku berjalan melewati mereka dengan gerakan yang disengaja. Aku membusungkan dadaku semaksimal mungkin (meski sesak karena korset) dan sengaja menggoyang-goyangkan pinggulku agar efek korset itu terlihat.

​"Mbak, Arum mau mandi dulu ya. Gerah banget," ucapku sambil berhenti tepat di depan Gavin, membelakanginya, memperlihatkan lekukan punggungku yang sengaja aku tonjolkan.

​Gavin hanya berdehem. "Siska, besok kita ke dokter lagi ya buat cek terakhir. Aku sudah kosongkan jadwal."

​"Iya, Mas. Makasih ya udah perhatian banget," jawab Siska sambil mencium pipi Gavin.

​Aku berdiri mematung di sana selama lima detik. Menunggu Gavin berkomentar. Menunggu dia setidaknya melirik pinggangku yang sudah sekecil tawon ini.

​Nihil. Dia bahkan nggak ngeliat arah kakiku.

​Aku menghentakkan kaki dan lari ke atas. Di dalam kamar, aku langsung melepas korset itu dengan emosi. "AAAAARGH! GUE BENCI GAVIN PRATAMA!"

​Aku melempar korset itu ke pojok ruangan. Rasanya mau nangis. Usahaku, minyak bulusnya, korsetnya, semua sia-sia di depan sikap cueknya yang luar biasa.

​Tiba-tiba ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

​"Jangan buang-buang waktu pake minyak amis itu, Arum. Pakai baju yang benar dan berhenti bertingkah konyol di depan istrimu. Kamu terlihat menyedihkan."

​Aku terbelalak. Itu dari Gavin! Dia tahu! Dia memperhatikan tapi dia sengaja mempermalukanku lewat pesan teks!

​Aku langsung membalas dengan emosi: "MAS LIAT KAN?! BERARTI MAS PERHATIIN AKU DONG?!"

​Tidak ada balasan. Centang dua biru, tapi hanya dibaca.

​Aku menjatuhkan diriku ke kasur, menatap langit-langit kamar dengan perasaan gemas yang mau meledak. Dia tahu aku berusaha menarik perhatiannya, tapi dia justru memilih untuk menontonku sebagai hiburan komedi sambil tetap mesra dengan Mbak Siska.

​"Lihat aja, Mas Gavin. Kalau minyak bulus nggak mempan, gue bakal cari cara yang lebih gila lagi!" gumamku sambil meremas bantal.

​Sementara itu di bawah, aku bisa mendengar suara tawa Gavin dan Siska yang sangat harmonis. Sebuah simfoni yang sangat indah untuk mereka, tapi seperti suara neraka untukku.

1
gendiz
aseek, makasih ya, Akhirnya Arumi ada yang mau kawal juga 😊
Moms Shinbi
q kawal sampai semua happy end thor
Moms Shinbi
cerita akhirnya siska end so pasti.psangn selingkuh happy dong..


jngan y thor
gendiz: hmmm belum tentu🤭, lihat bab selanjutnya, sudah up tapi belum lolos review nih kayaknya, jadi belum bisa terbit
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!