Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
Sore itu, penthouse mewah yang biasanya bising oleh dentum musik dan tawa riuh para mahasiswa elit terasa sunyi, seperti sebuah makam berlapis emas.
Kensington terbaring telentang di ranjangnya yang luas, menatap langit-langit kamar yang tinggi. Sinar matahari senja menyelinap masuk, menciptakan bayangan panjang yang seolah-olah mengurungnya dalam keraguan.
Ia melamun jauh. Pikirannya melayang pada kediaman utama keluarga Valerio.
Dalam ingatan Kensington, cinta bukanlah sesuatu yang mengerikan. Daddy-nya, Felix Valerio, dan Mommy-nya, Kimberly, adalah definisi dari pengabdian. Sejak kecil, Kensington sering melihat bagaimana Daddy Felix menatap mommy Kimberly dengan binar mata yang tidak pernah pudar.
Sang ayah sering kali tertawa kecil melihat tingkah bodoh ibunya, lalu berbisik bahwa ia mencintai wanita itu berkali-kali lipat lebih besar setiap harinya setelah pernikahan mereka. Rumah tangga mereka harmonis, penuh kehangatan, dan—yang paling penting—penuh kepercayaan.
Namun, di sanalah letak masalahnya. Kensington merasa ia adalah sebuah anomali di tengah genetik Valerio yang setia.
Lihatlah Lexington, saudara kembarannya. Pria itu adalah cerminan disiplin.
Di usia yang sama, Lexington sudah menjadi dosen muda, sibuk dengan buku-buku mekanik dan melanjutkan studi lanjutnya. Lexington bergerak maju dengan tujuan yang jelas, Seorang Dosen. sementara Kensington? Ia masih duduk di bangku kuliah, sengaja memperlambat studinya untuk menikmati kebebasan yang semu, mengejar mata kuliah yang belum selesai, dan sekarang...
"Aku meniduri seorang perempuan tanpa tanggung jawab," gumam Kensington lirih. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
Itu bukan mencerminkan dirinya sebagai seorang Valerio. Nama belakangnya adalah simbol kehormatan, namun semalam ia telah menyeret nama itu ke dalam lumpur nafsu yang dipicu oleh zat kimia.
Memori tentang malam panas bersama Audrey terus berputar di kepalanya. Namun, karena dorongan obat sialan itu, semuanya terasa buram. Tidak ada koneksi emosional, hanya ledakan impuls yang kini meninggalkan rasa hampa yang luar biasa di dadanya.
"Audrey..."
Nama itu terasa berat di lidahnya. Ia teringat tamparan gadis itu, umpatan "munafik", dan kekecewaan yang terpancar dari mata cokelatnya.
Merasa muak dengan kesunyian penthouse-nya, Kensington bangkit. Ia memutuskan malam ini ia tidak akan tinggal di sini. Ia butuh sesuatu yang nyata. Ia memutuskan untuk pulang ke Mansion Valerio.
Mansion Valerio berdiri megah di atas bukit, dikelilingi oleh taman yang tertata rapi. Aroma pinus dan kemewahan yang tenang menyambut Kensington saat ia melangkah masuk. Di meja makan panjang yang terbuat dari kayu mahoni, makan malam sedang disiapkan.
"Bagaimana kuliahmu, Kensington? Lancar?" tanya Felix Valerio dari balik koran sorenya. Suaranya berat dan berwibawa, namun selalu terselip nada hangat untuk putra-putranya.
Sang ibu, Kimberly, muncul dari arah dapur dengan senyum yang selalu bisa menenangkan badai paling hebat sekalipun. Ia menghampiri Kensington dan mencium pipinya.
"Ingat kata Mommy, sayang. No drugs, tidak ada obat-obatan, dan yang paling penting... tidak ada perempuan di ranjangmu sebelum kau benar-benar berkomitmen."
Kensington merasa jantungnya mencelos. Ia duduk di kursinya dengan gerakan yang agak kaku. "Iya, Mommy..." jawabnya pendek, mencoba menghindari kontak mata.
"Wah, tuan muda Kensington kita akhirnya memutuskan untuk kembali ke mansion," sebuah suara bariton yang sangat mirip dengan suaranya sendiri terdengar dari arah tangga.
Lexington Valerio turun dengan kemeja rapi yang lengannya digulung hingga siku. Wajahnya adalah cermin dari wajah Kensington, namun dengan ekspresi yang jauh lebih tenang dan teratur. Ia duduk di seberang kembarannya, menatap Kensington dengan tatapan menyelidik yang khas seorang akademisi.
"Siapa lagi perempuan yang kau antar ke asramanya pagi tadi, Ken? Aku melihat sesuatu di forum kampus. Tampaknya kau sedang menjadi pusat perhatian lagi," ucap Lexington sambil menyendok supnya.
Kensington mendongak, rahangnya mengeras. "Audrey... namanya Audrey."
Kimberly yang sedang menuangkan air ke gelas tiba-tiba berhenti. "Audrey? Nama yang cantik," ucap sang ibu. Matanya berbinar, namun sedetik kemudian berubah menjadi tatapan penuh selidik. "Tapi, Ken... apa ini lagi-lagi gandengan sementara, sayang? Kapan kau akan serius dengan satu wanita? Mommy lelah melihat namamu bersanding dengan nama yang berbeda setiap bulannya di gosip kampus."
Kensington terdiam. Ia menatap piringnya yang masih kosong. Di meja makan ini, di antara cinta orang tuanya yang begitu murni dan keberhasilan Lexington yang begitu nyata, Kensington merasa seperti seorang penipu.
"Aku serius padanya, Mom," ucap Kensington tiba-tiba. Kalimat itu meluncur begitu saja, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri daripada ibunya.
Felix meletakkan korannya, menatap putra nakalnya itu dengan saksama. "Serius? Serius dalam kamusmu biasanya berarti kau tidak akan mencampakkan gadis itu dalam dua minggu ke depan. Apa ini berbeda?"
"Sangat berbeda," jawab Kensington. Ia teringat bagaimana Audrey menatapnya dengan benci. Rasa sakit di pipinya akibat tamparan itu seolah kembali berdenyut. "Dia tidak menyukaiku. Dan entah kenapa, itu membuatku ingin dia tetap di sampingku."
Lexington terkekeh, suara tawa yang kering. "Terdengar seperti obsesi, bukan cinta, Brother. Hati-hati, Ken. Nama Valerio tidak dibangun di atas obsesi yang merusak, tapi di atas pengorbanan yang tulus."
Kensington mengepalkan tangannya di bawah meja. Pengorbanan? Ia sudah mengorbankan martabat Bianca, ia sudah mengorbankan kesucian Audrey. Apa lagi yang harus ia korbankan untuk membuktikan bahwa ia serius?
"Aku akan bertanggung jawab padanya," ucap Kensington lagi, kali ini lebih tegas.
Kimberly mendekat, mengelus bahu Kensington. "Bertanggung jawab itu luas, Ken. Jangan sampai kau merusak masa depannya hanya karena rasa penasaranmu yang egois Sayang. Jika kau memang ingin dia ada di hidupmu, perlakukan dia sebagaimana Daddy-mu memperlakukan Mommy. Jika tidak bisa, lebih baik lepaskan dia sebelum kau menghancurkannya lebih jauh."
Makan malam berlanjut dengan percakapan ringan, namun Kensington tidak lagi bisa menikmati hidangannya. Setiap kata ibunya tentang "tanggung jawab" dan "merusak masa depan" terasa seperti belati yang menusuk nuraninya.
Ia menyadari satu hal: di dunia luar, ia adalah Kensington Valerio yang tak terkalahkan, sang Raja Pesta yang bisa mendapatkan apa saja. Namun di dalam rumah ini, ia hanyalah seorang pria yang baru saja melakukan kesalahan besar, dan ia mulai takut bahwa ia tidak akan pernah bisa menjadi seperti ayahnya.
Setelah makan malam, Kensington berdiri di balkon kamarnya di mansion. Ia menatap ke arah cahaya kota Los Angeles di kejauhan. Di sana, di salah satu sudut asrama yang sempit, ada Audrey.
"Aku akan membuatmu Hanya menatap padaku, Audrey," bisik Kensington pada kegelapan malam. "Bukan karena obat, bukan karena tantangan... tapi karena aku tidak punya pilihan lain selain memilikimu."
Egonya masih memimpin, namun di tengah keegoisan itu, benih ketakutan mulai tumbuh. Ketakutan bahwa ia akan menjadi orang pertama di keluarga Valerio yang membangun hubungan di atas kehancuran, bukan kebahagiaan. Dan jauh di lubuk hatinya, ia bertanya-tanya: apakah Lexington benar? Apakah ini hanya obsesi yang merusak?
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭