seorang anak yang harus menjadi korban perceraian orang tua nya,hidup dengan nenek dan kakek dengan begitu banyak cemoohan dari orang orang maupun teman-teman nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pena merpati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
Setelah membersihkan diri imam pun menghampiri nek Siti,kebetulan saat itu adakah waktu makan untuk nek Siti jadi imam menyuapi ibu nya meskipun awalnya nek Siti menolak namun karena bujukan dari imam akhir nya nek Siti mau memakan makanan nya meskipun hanya sedikit.
Setelah tiga hari imam menemani nek Siti, saat itu juga nek Siti bersikeras meminta untuk pulang ke rumah nya,karena nek Siti sudah tidak ingin berada di rumah sakit apalagi menyusahkan anak-anak nya yang pastinya juga akan semakin banyak untuk membayar rumah sakit nya. Akhir nya dengan usaha keras nek Siti anak-anak nya serta dokter pun mengijinkan nek Siti pulang dengan di antar kan mobil ambulance.
Di rumah Aira yang mendengar bahwa nenek nya akan di bawa kerumah ia pun merasa sangat senang bahwa ia akan segera bertemu dengan nenek kesayangan nya,ia pun membersihkan rumah dengan cepat berharap bisa menyambut kepulangan nenek nya,namun harapan nya Aira hanya sia-sia karena ia harus mendatangi undangan nikahan mewakili sang ibu bersama dengan kerabat nya,mau tak mau Aira pun pergi dan tidak bisa menyambut nenek nya saat tiba di rumah.
Aira yang menghadiri acara mewakili ibu nya pun setelah selesai ia pun bergegas untuk pulang,agar ia bisa melihat sang nenek meskipun tidak bisa menyambut nya. Saat Aira sampai di rumah ternyata nenek nya juga baru saja keluar dari mobil ambulance dengan di papah oleh anak-anak nya dan di baringkan di tempat tidur depan dekat denga. Televisi karena memang sudah di siapkan agar tidak terlalu sulit untuk membawanya ke dalam kamar, Aira pun yang melihat sang nenek sudah di baringka pun hanya mampu melihat sekilas bahwa sang nenek hanya mampu teridam bahkan sesekali menggerakkan tangan nya namun dengan perlahan,Aira tak dapat melihat dengan helas nenek nya karena nek Siti di kerumuni oleh paman dan bibi nya serta para tetangga yang menjenguk setelah melihat bahwa ada mobil ambulance berhenti tepat di depan rumah Aira.
Saat ada celah Aira pun mencoba untuk mendekat ke arah nenek nya namun saat sedang melihat sang nenek hendak berbicara kepada paman nya imam Aira pun di panggil oleh Eka untuk mengantarkan nya ke dokter memeriksa kan Amanda yang sedang demam,akhir nya Aira mengurungkan niat nya menghampiri nenek nya dan berlalu mengeluarkan motor nya dan menuju kerumah dokter,saat sudah berada di rumah sang dokter Aira pun harap-harap cemas karena di sana sedang sangat banyak antrian , Aira sebenar nya ingin segera pulang ke rumah agar bisa melihat sang nenek namun keran harus mengantri akhir nya aira hanya bisa pasrah berharap akan segera selesai antrian nya.
Setelah menunggu sekitar 20 menit kini giliran Amanda yang di periksa,setelah selesai Aira pun menyetir dengan cepat agar segera sampai di rumah untuk menemui nenek nya. Namun harapan Aira hanya sia-sia karena saat sampai di depan rumah ia melihat bahwa semua orang tengah berada di rumah nya dan sangat ramai jantung aira pun berdegup dengan kencang Aira pun segera memarkirkan motor nya dan melangkah memasuki rumah,saat sampai di depan pintu Aira melihat bahwa sang nenek sudah terbujur kaku dan seluruh tubuh nya sudah tertutup dengan kain. Aira pun hanya bisa mematung di tempat nya,ia menahan tangis nya dengan perlahan ia melangkah maju menuju tempat di mana nenek nya sudah terbujur kaku itu, Aira pun duduk di sebelah sang nenek,ya nenek Aira telah tiada ia telah menghembuskan nafas terakhirnya Aira sangat sedih karena saat-saat terakhir nenek nya aira tidak berada di dekat nya bahkan tidak bisa melihat nya, Aira sungguh menyesal karena tidak bisa sampai rumah dengan cepat .
Karena hari sudah menjelang malam akhir nya keluarga memutuskan untuk memakam nek Siti esok hari, seluruh sanak saudara datang memberikan bela sungkawa kepada keluarga Aira . Tengah malam tiba Aira yang sudah mengantuk akhir nya memutuskan untuk tidur di kamar bersama dengan sepupunya. Sedangkan kakek Aira ia tidur tepat di samping almarhum nek siti.
Pagi hari pun tiba ,semua warga desa yang mendengar bahwa nek Siti meninggal pun turut hadir. Setelah semua acara selesai kini nek Siti pun akan di shalatkan , anak nek Siti yang laki-laki pun ikut men shalati . Setelah di shalati nek Siti pun akan di makamkan Aira sebener nya ingin ikut mengantarkan nenek nya sampai tempat peristirahatan terakhir nya namun secara kebetulan Aira tengah berhalangan jadi Aira tidak bisa mengantarkan nenek nya untuk yang terakhir kali nya. Aira hanya bisa menatap sendu setelah semua orang membubarkan diri dan ada juga yang ikut mengantarkan jenazah nek Siti ke pemakaman dengan pandangan yang sulit di artikan.
Kini Aira benar-benar sendiri ia sudah tidak mempunyai siapa-siapa,karena nenek yang selalu mengerti Aira nenek yang selalu memeluk Aira dengan seluruh kasih sayang nya kini sudah tidak ada. Aira tidak tau apakah ia masih bisa bertahan berada di rumah yang di anggap nya sebagai neraka untuk nya, Aira hanya bisa bertahan demi sang kakek dan juga adik nya yang ia sayangi selain itu tidak ada lagi alasan Aira untuk bertahan di rumah itu.
.
.
.
.
Kini sudah tiga hari nenek Siti meninggal dan keluarga mengadakan acara untuk mendoakan nenek Siti, setelah acara selesai Aira pun melangkah menuju kamar ia masih tidak menyangka bahwa sang nenek kini sudah tiada, Aira pun hanya bisa mendoakan nenek nya agar tenang di sana setelah mendoakan sang nenek Aira pun memejamkan mata nya.
Namun di dalam mimpi nya Aira bingung ia berada di mana karena di sana hanya ada lahan yang luas dan tanaman bunga,Aira melihat sekeliling namun tak menemukan orang sama sekali hingga sebuah cahaya yang sangat silau datang ke arah nya. Aira pun yang sempat menutup tangan nya menggunakan telapak tangan nya pun membuka nya dan ia bisa melihat bahwa di depan nya ada sang nenek , Aira masih tak percaya bahwa nenek nya kini berada tepat di depan nya menggunakan pakaian putih bersih serta tersenyum lebar ke arah Aira.
Aira sebenar nya sangat ingin mengatakan sesuatu namun seakan-akan tenggorokan nya terasa kering dan tak dapat mengeluarkan suara sama sekali . Aira ingin mengampiri sang nenek namun saat ia melangkah Aira mendapati bahwa sang nenek akan menjauh sehingga aira hanya mampu berdiri di tempat nya . Ia bisa melihat bahwa sang nenek tersenyum ke arah nya dan di belakang nya terdapat cahaya yang sangat menyilaukan mata.