"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: (POV DIKA)
Suara mesin motorku baru saja mati di depan rumah Aira. Aku menatap punggungnya yang perlahan menghilang di balik pintu rumah yang tertutup rapat. Ada rasa sesak yang tertinggal di dadaku saat melihat betapa rapuh bahunya malam ini. Aku tahu, Aira sedang ketakutan setengah mati. Dan akulah penyebab utamanya. Akulah pria yang memberinya janji, namun juga pria yang membawanya ke dalam pusaran penderitaan ini.
Aku menghela napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa sesak yang menghimpit. "Sabar, Ra. Mas nggak akan ke mana-mana," bisikku pada angin malam yang dingin.
Perjalanan pulang ke rumahku terasa jauh lebih lama dari biasanya. Padahal hanya butuh waktu dua puluh menit, namun pikiranku yang bercabang membuat setiap meter jalanan terasa seperti ujian. Pikiranku terus berputar pada kejadian di ruang tamu tadi. Bayangan Ibu yang tiba-tiba ambruk, wajah Bapak yang kecewa, dan tatapan hancur mereka adalah hantaman paling keras yang pernah kuterima seumur hidupku. Aku adalah anak laki-laki kebanggaan mereka, dan malam ini, aku baru saja mengumumkan bahwa aku telah gagal menjaga amanah mereka.
Sesampainya di rumah, suasana sunyi mencekam menyambutku. Lampu ruang tamu masih menyala, namun tidak ada siapa pun di sana. Aku melangkah pelan menuju kamar Ibu. Pintu kamar sedikit terbuka, aku melihat Bapak sedang duduk di tepi ranjang, mengusap kening Ibu dengan handuk basah.
"Pak..." panggilku pelan. Suaraku terasa serak, seolah ada pasir yang menyumbat tenggorokanku.
Bapak menoleh. Gurat lelah dan amarah yang diredam tampak jelas di wajahnya yang mulai menua. Beliau meletakkan handuk itu, lalu memberi isyarat agar aku mengikutinya ke dapur. Aku berjalan di belakangnya dengan kepala tertunduk, seperti terpidana mati yang sedang menuju tiang gantungan.
Kami duduk di meja makan yang biasanya menjadi tempat kami bercengkerama hangat. Namun malam ini, meja itu terasa seperti meja pengadilan.
"Kamu sudah antar dia pulang?" tanya Bapak. Suaranya rendah, namun penuh penekanan.
"Sudah, Pak," jawabku singkat.
"Dika... Bapak nggak pernah mendidik kamu jadi pengecut. Bapak juga nggak pernah mengajari kamu untuk merusak anak orang," Bapak menatapku lekat-lekat. "Kamu tahu betapa hancurnya Ibu saat dengar kamu menghamili perempuan yang selama ini dia larang untuk kamu dekati?"
Aku hanya bisa terdiam. Setiap kata-kata Bapak terasa seperti sabetan pecut di hatiku. "Dika salah, Pak. Dika benar-benar minta maaf. Dika khilaf."
"Khilaf itu satu kali, Dika! Ini sudah enam bulan! Kenapa baru sekarang kamu bicara?" suara Bapak mulai meninggi, meski beliau tetap berusaha menahannya agar tidak membangunkan Ibu. "Kamu pikir tanggung jawab itu cuma soal menikahi? Ada nama baik keluarga yang kamu pertaruhkan. Ada hati Ibu yang kamu lukai sampai dia jatuh sakit seperti itu!"
Aku meremas jemariku sendiri di bawah meja. "Dika akan tanggung jawab, Pak. Dika mencintai Aira. Dika mau menikahi dia dan merawat anak itu."
Bapak mendengus sinis. "Cinta? Kamu sebut ini cinta? Kamu membiarkan dia menanggung beban itu sendirian selama enam bulan karena kamu takut bicara sama Bapak dan Ibu. Itu bukan cinta, Dika. Itu keegoisan."
Kata-kata Bapak telak menghantam batinku. Beliau benar. Selama ini aku merasa sudah melindunginya dengan menyuruhnya ngekos dan menjaganya secara diam-diam. Tapi kenyataannya, aku justru membiarkan Aira hidup dalam ketakutan setiap hari. Aku membiarkannya bekerja di toko dengan perut yang kian membesar, mengarang seribu satu kebohongan kepada Ibunya, sementara aku hanya bisa menjanjikan "nanti".
"Besok pagi kita ke sana. Bapak akan bicara sama Ibunya Aira. Bapak nggak mau masalah ini berlarut-larut sampai tetangga tahu duluan," putus Bapak sembari bangkit dari duduknya. "Tapi ingat satu hal, Dika. Jangan harap Ibu akan menerima Aira dengan tangan terbuka setelah ini. Kamu harus siap menghadapi neraka di rumah ini kalau kamu tetap mau membawa dia masuk."
Bapak berlalu, meninggalkanku sendirian di dapur yang dingin. Aku menyandarkan kepalaku di atas meja, memejamkan mata rapat-rapat. Rasa bersalah ini hampir membunuhku. Aku teringat gejala mual dan ingin muntah yang kualami belakangan ini. Ternyata itu bukan sekadar masuk angin, tapi ikatan batin dengan janin yang dikandung Aira. Bahkan alam pun sudah memberi isyarat, namun aku terlalu pengecut untuk bertindak lebih awal.
Aku masuk ke kamarku, merebahkan tubuh yang rasanya hancur berantakan. Aku mengambil ponsel, melihat foto Aira yang menjadi wallpaper-ku. Wajahnya yang cantik dan selalu terlihat tenang, namun sebenarnya menyimpan luka yang aku ciptakan. Aku tahu, besok akan menjadi hari yang paling berat dalam hidup kami berdua. Menghadapi Ibunya Aira adalah tantangan besar lainnya. Aku harus bisa meyakinkan beliau bahwa meskipun aku telah melakukan kesalahan fatal, aku tidak akan pernah meninggalkan anaknya.
"Maafin Mas, Ra. Mas akan perjuangkan kamu, meskipun satu dunia harus membenci Mas," batin daku.
Malam itu, aku tidak bisa memejamkan mata sedikit pun. Di setiap hembusan napas, aku merapalkan doa agar Ibu lekas sembuh dari syoknya, dan agar Ibunya Aira memiliki hati seluas samudra untuk memaafkan kami. Aku harus kuat. Pundakku tidak boleh retak sekarang, karena mulai besok, akulah yang harus menjadi pelindung utama bagi Aira dan calon anak kami dari badai yang akan menghantam dari segala arah.
Menjadi menantu tanpa restu adalah jalan yang sangat sulit, tapi itu adalah konsekuensi yang harus kupikul seumur hidupku.