Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.
Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.
Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.
Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Kehidupan seketika berubah menjadi mimpi buruk bagi Aluna. Setelah mendengar pengakuan dan persetujuan Arka untuk menikahi wanita lain dan mengambil anaknya begitu saja, tubuh gadis itu tidak kuat menahan beban emosi yang begitu dahsyat.
Aluna pingsan dan ambruk di lantai ruang tamu yang dingin itu.
Segala keributan terjadi. Arka yang melihat tubuh gadis itu terkulai lemas, seketika panik bukan main. Ia melupakan segalanya, melupakan Nanda, melupakan ibunya, dan langsung menggendong tubuh Aluna dengan sangat cepat dan hati hati.
"ALUNA! Buka matamu Aluna! Jangan macam macam! Kau dengar aku! Jangan berani berani sakit!" teriak Arka panik wajahnya pucat pasi.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terbaik di kota itu. Sepanjang perjalanan Arka terus memeluk tubuh dingin gadis itu erat erat.
Di dalam hatinya muncul rasa takut yang sangat besar, rasa takut kehilangan yang jauh lebih menakutkan dari saat ia kehilangan Aira dulu.
Sesampainya di rumah sakit, Aluna langsung dibawa ke ruang UGD dan segera ditangani oleh tim dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang sudah standby.
Arka, Raka, Nyonya Soraya, dan Tuan Mahendra menunggu dengan cemas di luar ruangan. Suasana sangat hening dan mencekam.
Nyonya Soraya yang tadinya masih kesal dan angkuh pun kini ikut gelisah. "Dokter bilang apa sih sebenarnya? Kenapa bisa pingsan begitu parah?"
"Efek syok berlebihan Bu," jawab Raka dengan tatapan tajam ke arah kakaknya.
"Hati manusia itu ada batasnya Kak. Aluna itu bukan batu atau robot. Dia dengar calon ayah dari anaknya mau nikah sama orang lain dan anaknya mau diserahkan seenaknya... mana ada orang yang kuat dengar itu?" cecar Raka kesal sambil menatap Arka dengan raut marah.
Arka diam mematung menatap lantai dengan tangan yang saling mencengkeram kuat kuat. Ia merasa bersalah, namun gengsinya masih tinggi.
"Aku... aku hanya ingin yang terbaik untuk masa depan anakku..."
"Terbaik dengan cara menghancurkan hati ibunya?!" potong Raka tak terima.
"Coba lihat sekarang akibatnya Kak! Kalau sampai terjadi apa apa sama Aluna atau bayinya... Kakak yang bertanggung jawab!" pungkas Raka tegas.
Beberapa jam kemudian, pintu ruangan terbuka dan dokter keluar dengan wajah yang sangat serius dan berkeringat.
"Bagaimana keadaan mereka Dok?!" tanya Arka melompat berdiri mendekati dokter itu.
Dokter menghela napas panjang lalu menatap keluarga itu dengan tatapan menilai.
"Kondisi pasien sangat kritis Tuan. Tekanan darahnya naik turun tidak stabil, detak jantungnya lemah, dan yang paling parah... karena stres dan syok yang berlebihan itu memicu kontraksi dini dan plasenta mengalami pengurangan aliran darah."
"Janin di dalam kandungan juga ikut tertekan dan kondisinya memburuk drastis. Detak jantung bayinya melemah dan posisinya juga mulai tidak stabil," lanjut dokter menjelaskan dengan nada berat
"Kami harus melakukan tindakan cepat. Karena usia kandungan sudah masuk bulan kesembilan sebenarnya sudah cukup matang untuk dilahirkan. Tapi risikonya tetap besar karena kondisi ibunya yang sedang sangat lemah dan putus asa."
"Putus asa?" tanya Tuan Mahendra kaget.
"Iya Tuan. Pasien saat sadar sebentar tadi sempat bergumam dan berkata dia tidak mau hidup, dia tidak mau melahirkan karena merasa tidak dibutuhkan dan tidak diinginkan lagi," ucap dokter jujur.
"Kalau mental pasien hancur begini, sangat sulit untuk memaksanya bertahan. Dia seolah menyerah pada keadaan."
Kata kata dokter itu bagai tamparan keras bagi seluruh keluarga, terutama Arka. Pria itu terhuyung mundur seolah dipukul palu besar di dadanya.
"Dia merasa tidak diinginkan... Dia merasa tidak dibutuhkan..."
Arka menyandarkan punggungnya ke dinding dingin koridor rumah sakit itu. Matanya berkaca kaca untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Ia sadar, betapa kejam dan bodoh dirinya selama ini.
Ia pikir dengan memberikan uang dan perlindungan itu sudah cukup. Ia pikir Aluna akan senang hati menyerahkan anaknya dan pergi dengan senyum. Tapi ia lupa satu hal dasar... Aluna itu manusia biasa yang punya hati dan perasaan.
Cinta dan kasih sayang tidak bisa dibeli dengan uang. Dan luka yang diciptakan oleh kata kata itu sangat dalam dan mematikan.
"Bawa saya masuk! Saya mau bicara sama dia!" pinta Arka tegas pada dokter.
"Tapi Tuan..."
"Tolong saya Dok! Saya yang buat dia jadi begini. Biar saya yang memperbaikinya. Saya janji saya akan bikin dia mau bertahan hidup!"
Dokter akhirnya mengizinkan Arka masuk sebentar dengan syarat harus memakai baju pelindung dan tidak membuat pasien emosi lagi.
Di dalam ruang perawatan, Aluna terbaring lemah dengan selang infus yang menancap di tangannya. Wajahnya pucat pasi dan matanya terpejam lemah dengan air mata yang terus menetes meski tertutup.
Arka berjalan mendekat perlahan, lalu duduk di tepi ranjang. Ia menggenggam tangan dingin gadis itu dengan kedua tangannya sendiri.
"Aluna... dengar aku... Maafkan aku... maafkan aku yang bodoh dan kejam ini," bisik Arka pelan suaranya terdengar bergetar hebat
"Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku pikir itu semua demi kebaikan anakku. Tapi aku lupa... bahwa kebahagiaan anakku tidak akan pernah sempurna tanpa kehadiran dan senyuman ibunya."
"Jangan menyerah... tolong bertahanlah..." Arka mencium punggung tangan gadis itu dengan penuh penyesalan.
"Aku butuh kamu. Anakku butuh kamu. Kalau sampai kamu pergi atau anakku kenapa-napa nanti... aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri seumur hidupku. Tolong bangun Aluna... tolong lawan rasa sakitnya." Arka terus mencium punggung tangan Aluna dengan air mata yang sudah mengalir deras.
Aluna perlahan membuka matanya yang sayu dan lemas. Ia menatap Arka dengan tatapan kosong dan hampa.
"Untuk apa bertahan Tuan... Nanti kan anaknya tetap diambil... Aluna tetap dibuang... kenapa harus susah payah melahirkan kalau akhirnya Aluna tetap sendirian," jawab Aluna pelan, nyaris tak terdengar.
"Tidak! Tidak akan terjadi seperti itu!" potong Arka cepat dan tegas.
"Aku batalkan semuanya! Pernikahan dengan Nanda itu batal! Ibu dan aku sudah salah besar!" pungkasnya.
"Kamu adalah satu satunya wanita yang melahirkan anakku dan kamu adalah satu satunya yang berhak menjadi ibunya dan tinggal bersamanya selamanya!" ucap Arka berjanji dengan mata yang berkaca kaca.
"Jangan tinggalkan kami ya... Maafkan aku... maafkan aku yang buta dan bodoh ini..."
Mendengar janji itu dan melihat ketulusan di mata pria itu untuk pertama kalinya, hati Aluna yang beku dan hancur itu perlahan mencair. Ada sedikit harapan yang kembali muncul.
"Janji ya Tuan... jangan ambil anak Aluna... jangan pisahkan kami..." isak Aluna lemah.
"Janji. Demi nyawaku sendiri aku janji," jawab Arka tegas.
Kekuatan perlahan kembali merambat ke tubuh Aluna. Ia mengangguk pelan lalu memejamkan matanya kembali, kali ini dengan perasaan yang sedikit lebih tenang.
Dokter kembali masuk dan melihat perubahan aura pada pasien.
"Bagus Tuan. Kondisi mentalnya mulai stabil kembali. Sekarang kita akan persiapkan ruang operasi untuk melakukan operasi caesar segera mungkin sebelum kondisi memburuk lagi."
"Selamat Tuan. Anda akan segera menjadi Ayah. Berdoalah semoga semuanya berjalan lancar dan selamat," ujar Dokter.
Arka menghela napas panjang menatap wajah wanita yang sangat ia sakiti itu. Malam ini adalah titik balik bagi hidupnya.
Ia sadar bahwa Aluna bukan sekadar pengganti Aira. Aluna adalah nyawa baru yang Tuhan kirimkan untuk menyelamatkannya dari kegelapan.
Dan ia berjanji akan melakukan apa saja untuk menebus semua kesalahannya dan melindungi wanita ini sampai akhir hayatnya.