Sinopsis:
Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.
Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.
"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."
Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Aku menghabiskan sisa jus strawberry terakhir dengan satu tarikan napas panjang, mencoba memantapkan hati sebelum kembali berhadapan dengan angin malam. Perlahan, aku mengangkat Mili dari pangkuanku dan menurunkannya ke atas kursi kayu. Kucing itu mengeong kecil, memprotes karena tidur nyenyaknya terganggu, namun ia tetap melingkarkan ekornya seolah memberi salam perpisahan.
Aku merogoh dompet di dalam tas, mengeluarkan selembar uang untuk membayar minuman tadi.
"Ini, Tah. Makasih banyak ya," ucapku sambil meletakkan uang itu di atas meja kasir.
Fattah menerima uang itu dan memberikan kembalian, namun matanya masih menatapku penuh selidik. "Zal, lo yakin mau balik sekarang? Ini udah jam sepuluh lewat. Jalanan depan kelihatannya mulai sepi."
"Nggak apa-apa, Tah. Gue udah biasa," jawabku sambil memaksakan senyum tipis yang tampak kaku. "Makasih udah mau dengerin ocehan nggak jelas gue dan nampung gue sebentar."
"Santai aja. Hati-hati di jalan ya. Jangan lupa nyalain lampu motor lo, tadi gue lihat agak redup," pesannya sambil mengantarku sampai ke pintu depan.
Begitu pintu kaca berdering pelan saat kubuka, udara dingin Kota J langsung menyergap kulitku yang hanya dibalut kemeja kantor tipis. Aku melangkah menuju tempat parkir motor di samping kafe, namun mataku refleks melirik ke seberang jalan. Mobil hitam itu masih di sana. Mesinnya tampak mati, namun sorot lampu jalan memantul di kacanya yang gelap, menciptakan siluet yang membuat dadaku kembali berdenyut nyeri.
Dia benar-benar tidak pergi.
Aku menghidupkan mesin motor dengan tangan yang sedikit gemetar. Tanpa menoleh ke arah mobil itu, aku segera memacu motorku meninggalkan area kafe Fattah. Aku memacu kendaraanku sedikit lebih kencang dari biasanya, berharap angin kencang ini bisa menyapu sisa-sisa aroma wood-scent yang seolah-olah masih membuntutiku.
Aku menarik rem tangan dengan sentakan kasar, membiarkan motorku terhenti tepat di bawah remang lampu jalan yang berkedip. Di belakangku, mobil hitam itu ikut melambat dan berhenti beberapa meter di jarak yang aman. Aku turun dari motor tanpa melepaskan helm, hanya membuka kaca depannya, lalu melangkah lebar menghampiri mobil itu.
Danendra mematikan mesin. Tak lama, pintu kemudi terbuka dan ia keluar. Ia berdiri tegak, membetulkan letak kemejanya yang sedikit kusut, lalu menatapku dengan raut wajah yang sulit ditebak.
"Kenapa berhenti?" tanyanya datar, seolah ia tidak sedang tertangkap basah membuntutiku.
"Stop ngikutin motor aku dari belakang!" seruku, suaranya sedikit meninggi karena amarah yang sejak di kantor tadi tertahan kini meledak. "Sebelum ketemu kamu seminggu yang lalu, hidupku selama enam tahun ini tenang. Sangat tenang! Dan sekarang kamu datang lagi mengusik ketenangan aku. Kamu tahu aku nggak nyaman, kamu tahu aku terganggu, tapi kamu terus melakukannya. Apa sebenarnya mau kamu, Danendra?"
Aku berdiri tepat di hadapannya. Jarak kami hanya terpisah oleh aspal dingin malam ini. Nafasku memburu, uap tipis keluar dari sela bibirku karena udara malam yang semakin menggigit.
Danendra terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang, lalu melangkah satu tindak mendekatiku. "Tenang?" ia mengulang kata itu dengan nada getir. "Kamu sebut hidup lari sana-sini, menyembunyikan identitas, dan menutup diri dari semua orang yang sayang sama kamu itu sebagai 'tenang', Zal?"
"Itu urusanku! Bukan urusan kamu!" balasku sengit.
"Jadi urusanku saat aku melihat kamu nyaris pingsan karena tumpukan berkas yang sengaja aku berikan tadi! Jadi urusanku saat aku tahu kamu sendirian di kafe itu sampai jam sepuluh malam!" suaranya kini mulai naik, membalas intensitas amarahku. "Aku nggak ngikutin kamu buat jadi penguntit, Azzalia. Aku cuma mau mastikan kamu nggak jatuh di jalan karena kelelahan."
"Aku nggak butuh kamu jaga!"
"Tapi aku butuh!" potongnya cepat. Ia menatapku lekat, binar matanya yang biasanya dingin kini memancarkan keputusasaan yang nyata. "Aku butuh tahu kalau kamu aman. Karena kalau terjadi apa-apa sama kamu di jalan ini dan aku nggak ada di sana... aku nggak akan pernah bisa maafkan diriku sendiri untuk yang kedua kalinya."
Aku tertegun. Kata-katanya selalu punya cara untuk memukul telak tepat di ulu hati. Zirah besiku yang sudah retak terasa semakin berat untuk dipertahankan di bawah tatapannya yang penuh tuntutan namun sekaligus memohon itu.
" Kenapa kamu masih di sini, Danendra?" suaraku bergetar, kali ini bukan karena marah, tapi karena pertahananku yang nyaris runtuh. "Padahal berulang kali aku udah nyuruh kamu pergi. Aku udah dorong kamu sekuat tenaga buat menjauh. Kenapa kamu nggak pernah dengar?!"
Danendra bergeming. Ia menatapku dengan sorot mata yang meluruhkan keberanianku. Ada luka lama yang kembali terbuka di sana, lebih perih dari apa pun yang pernah kubayangkan.
"Dan karena kamu lelah mendorongku pergi, akhirnya kamu yang memilih pergi ninggalin aku di sana, Zal," sahutnya lirih. Suaranya serak, membawa gema kesedihan yang terkumpul selama enam tahun. "Kamu lari tanpa pamit, tanpa penjelasan. Kamu biarkan aku mati rasa di tengah pertanyaan yang nggak pernah ada jawabannya."
Aku memalingkan wajah, tak sanggup melihat matanya yang memerah di bawah lampu jalan. "Aku nggak punya pilihan, Nen. Memang itu yang terbaik."
"Terbaik buat siapa? Buat kamu, atau buat rasa bersalah yang kamu pelihara sendiri?" Danendra melangkah maju, memperpendek jarak hingga aku bisa mencium aroma wood-scent yang bercampur dengan udara malam yang lembap. "Selama enam tahun aku hidup seperti robot, Zal. Aku kerja sampai lupa waktu cuma supaya bayangan kamu nggak muncul tiap aku nutup mata. Tapi sekarang, saat semesta bawa kamu balik ke depan aku, apa kamu pikir aku bakal segegabah dulu buat ngelepasin kamu lagi?"
"Jangan gila, Danendra! Kita bukan lagi anak SMA yang bisa hidup cuma pakai perasaan!" teriakku frustrasi.
"Aku emang udah gila, Zal! Gila karena terus-terusan nyari satu orang yang nggak mau ditemukan!" napasnya menderu, bahunya yang tegap tampak gemetar. "Malam ini, aku nggak peduli seberapa kaku zirah yang kamu pakai. Aku nggak akan berhenti ngikutin kamu sampai kamu benar-benar masuk ke gerbang kost kamu dengan selamat. Kamu boleh benci aku, kamu boleh maki aku besok di kantor, tapi malam ini... biarkan aku jadi satu-satunya orang yang jagain kamu di jalan yang sepi ini."
Aku terdiam seribu bahasa. Amarah yang tadi membakar kini padam, digantikan oleh rasa sesak yang luar biasa di dada. Aku kembali ke motorku dengan langkah gontai, mengenakan helm, dan menyalakan mesin tanpa berani menoleh lagi padanya.
Saat motorku melaju, sorot lampu mobil hitamnya kembali muncul di spionku. Menjaga jarak, namun tetap setia membuntuti. Di sepanjang jalan menuju kost, air mataku luruh tanpa suara di balik kaca helm. Aku menyadari satu hal yang paling menakutkan; aku tidak benar-benar membencinya karena mengikutiku. Aku justru ketakutan karena diam-diam, jiwaku yang kedinginan ini merasa hangat saat tahu dia masih ada di sana.