Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang penghianat
Suatu hari... Mbah Sidik duduk di amben bambu, tangannya sibuk mengelus kepala Ahmad yang sedang asyik mendengarkan. Wajah sang veteran mendadak berubah serius, matanya menerawang jauh ke arah hutan di belakang rumah.
"Ahmad, dengarkan Bapak. Di dunia ini, musuh yang paling berbahaya bukanlah mereka yang membawa bedil di depan matamu. Tapi mereka yang makan bersamamu, tertawa bersamamu, namun menjual lehermu demi kepingan perak," suara Mbah Sidik rendah dan bergetar.
"Kejadiannya di pedalaman Kalimantan, Ahmad. Waktu itu Bapak belum punya ilmu apa-apa. Bapak cuma modal otak, peta, dan kompas. Tugas kami satu: usir tentara Inggris yang mencoba merayap masuk dari perbatasan utara."
Pasukan dibagi menjadi tiga kompi.
Kompi 1 dipimpin oleh seorang Jenderal veteran senior yang sangat dihormati.
Kompi 2 dan Kompi 3 (tempat bapak berada) adalah pasukan pemukul yang berisi anak-anak muda pemberani.
Medannya sangat ganas. Mereka harus menebas hutan belantara yang pohonnya setinggi langit, mendaki pegunungan yang puncaknya selalu tertutup kabut tebal, hingga bertaruh nyawa saat menyeberangi sungai-sungai yang dipenuhi buaya muara.
Malam hari adalah siksaan; nyamuk sebesar jempol dan suara macan dahan yang mengintai membuat nyali siapa pun ciut.
Namun, bencana sesungguhnya bukan datang dari alam. Di balik tenda komando, Sang Jenderal dari Kompi 1 ternyata sudah luluh oleh sogokan pihak Inggris. Ia dijanjikan peti-peti berisi uang dan wanita-wanita cantik dari luar negeri.
Sang Jenderal mulai menyebar fitnah. Ia membisiki Kompi 2 bahwa Kompi 3 adalah penyusup Inggris, dan sebaliknya.
Adu domba itu berhasil. Di tengah rimbunnya hutan yang lembap, pecahlah perang saudara. Saudara sebangsa saling bidik di balik pohon meranti, sementara Kompi 1 justru diam-diam bergabung ke barisan Inggris di balik bukit.
"Bapak melihat kawan bapak sendiri roboh bukan oleh peluru musuh, tapi oleh peluru kawan sendiri karena fitnah itu, Ahmad. Itu pedihnya luar biasa," kenang Sidik dengan raut muka mengeras.
Sebagai ahli strategi di Kompi 3, Bapak sadar ada yang tidak beres. Ia melihat pola serangan Kompi 2 yang terlalu frontal, seolah mereka benar-benar yakin sedang menyerang musuh. Bapak segera mengambil tindakan nekat tanpa menggunakan kekerasan.
Bapak memerintahkan seluruh Kompi 3 untuk berhenti menembak dan hanya berlindung di balik pohon-pohon besar.
Bapak menggunakan bambu runcing yang ujungnya diselipkan pesan tertulis. Lalu melemparkannya ke area Kompi 2. Isinya singkat: "Kita sedang ditipu. Musuh asli sedang menonton kita dari bukit sebelah timur."
Bapak memimpin sisa pasukannya memutar jauh melewati rawa-rawa untuk menyergap posisi Kompi 1 yang sedang bersantai bersama tentara Inggris.
Saat Kompi 2 sadar mereka ditipu, mereka segera bergabung dengan Bapak. Dua kompi yang sempat bertikai itu kini bersatu kembali, menyerbu ke arah bukit dengan amarah yang meluap. Sang Jenderal pengkhianat kaget bukan main melihat dua pasukan yang harusnya sudah saling tumpas justru datang menyerangnya bersama-sama.
Hutan Borneo menjadi saksi bisu,
Tentang janji yang dikhianati demi nafsu.
Emas dan wanita membutakan mata sang perwira,
Hingga tega menjual nyawa saudara dalam sengsara.
Ahmad, jangan kau biarkan hatimu terbeli,
Sebab kehormatan jauh lebih mahal dari peti-peti mati.
Bapak bertaruh nyawa di tengah rawa dan binatang buas,
Agar kau paham bahwa pengkhianatan takkan pernah membuatmu puas.
Strategi bukan hanya soal menang dan kalah,
Tapi tentang menjaga kebenaran agar tak berubah.
Jadilah setia pada janji dan pada tanah airmu,
Agar langkahmu tak pernah dihantui rasa malu.
"Pengkhianat itu akhirnya lari kocar-kacir ke dalam hutan, ditinggalkan oleh Inggris yang hanya menjadikannya alat," Sidik menutup ceritanya. "Jangan pernah kau tanyakan lagi kenapa Bapak sangat benci pada orang yang 'bermuka dua', Ahmad. Luka di kaki bapak karena duri hutan sudah sembuh, tapi luka di hati melihat kawan dikhianati... itu tidak akan pernah hilang."
Ahmad terdiam, menatap tangan bapaknya yang kekar. Ia mulai paham bahwa menjadi pahlawan bukan soal seberapa pintar dirimu, tapi seberapa teguh kau memegang kesetiaan.
"Ingat ini baik-baik, Ahmad," suara Mbah Sidik semakin merendah, urat di pelipisnya menegang seiring memori pahit itu kembali muncul. "Fitnah itu lebih tajam dari bayonet Inggris.
Sang Jenderal pengkhianat itu, setelah berhasil melarikan diri ke Jakarta, malah memutar balik kenyataan. Dia punya pangkat, dia punya suara di pusat. Dia bilang bapaklah yang memberontak dan menjadi kaki tangan Inggris."
Mbah Sidik mengepalkan tangannya. Kejadian hari itu seolah terulang kembali di depan matanya.
Akibat laporan palsu itu, markas pusat mengirim pasukan besar untuk memburu Mbah Sidik. Bapakmu yang baru saja pulang dengan letih dari Kalimantan, bukannya disambut kalungan bunga, malah disambut desing peluru dari saudara sendiri.
Perang pecah di Semarang. Desing peluru merembet cepat menyusuri jalanan hingga ke Mranggen, Demak. Mbah Sidik dan pasukannya terpojok. Mereka kalah jumlah, kalah persenjataan, dan yang paling menyakitkan, mereka harus melawan rekan sejawat yang terhasut fitnah.
"Kami lari melintasi sawah-sawah di Mranggen, Ahmad. Peluru berseliweran di atas kepala. Bapak tidak mau balas menembak, karena bapak tahu mereka itu saudara kita yang tertipu. Kami terus dikejar hingga masuk ke wilayah Sayung," kenang Mbah Sidik.
Saat posisi sudah terjepit di sekitar Pasar Sayung, Mbah Sidik melihat kerumunan orang pasar yang riuh. Otak strateginya langsung bekerja kilat.
"Cepat! Lepas seragam kalian! Balik baju, pakai sarung, cari caping!" perintah Sidik kepada anak buahnya yang tersisa.
Dalam hitungan menit, kompi tempur itu berubah wujud. Ada yang menyamar jadi kuli panggul, ada yang pura-pura berjualan sayur, dan Mbah Sidik sendiri menyamar menjadi preman pasar yang sangar dengan kumis baplang dan ikat kepala.
Saat pasukan pusat masuk ke pasar dengan senjata lengkap dan wajah tegang mencari "pemberontak", Mbah Sidik justru melangkah maju menghampiri komandan pengejar.
"Cari Sidik ya, Pak? Tadi saya lihat gerombolannya lari ke arah rawa-rawa sana! Ayo, saya dan kawan-kawan preman sini ikut bantu buru mereka, biar cepat ketangkap!" ucap Sidik dengan logat kasar yang meyakinkan.
Para veteran pusat yang kelelahan dan bingung itu percaya begitu saja. Mereka justru merasa terbantu dengan bantuan "warga lokal" gadungan ini. Saat pasukan pusat sibuk menggeledah rawa-rawa dan hutan bakau di pesisir Sayung, Mbah Sidik memberi kode rahasia kepada anak buahnya.
Satu per satu mereka menyelinap keluar dari kerumunan, mengambil jalur tikus melewati pematang sawah yang sunyi, dan melarikan diri sejauh mungkin menuju Kudus.
Fitnah terbang lebih cepat dari peluru perak,
Membuat saudara kandung menjadi musuh yang galak.
Di Pasar Sayung, seragam kulepas dan kubuang,
Menukar senjata dengan akal agar nyawa tak melayang.
Menyamar jadi debu di tengah keramaian,
Membantu pengejar dalam sandiwara kesetiaan.
Biarlah namaku tercoreng di lembar kertas negara,
Asalkan pengikutku selamat dari angkara yang membara.
Ahmad, lihatlah bagaimana dunia bisa terbalik,
Yang benar dianggap jahat, yang khianat dianggap cerdik.
Namun kebenaran tak butuh pengakuan dari atas meja,
Ia akan tetap tegak, meski sang pahlawan dianggap jelata.
Mbah Sidik menarik napas dalam. "Di Kudus itulah, Ahmad, Bapak mulai hidup berpindah-pindah, menyembunyikan identitas asli sampai keadaan benar-benar tenang. Jenderal itu mungkin menang di Jakarta, tapi dia kalah di hadapan sejarah yang jujur."
Ahmad mendengarkan dengan penuh kekaguman. Ia baru sadar bahwa bapaknya bukan hanya kuat secara fisik, tapi memiliki kecerdikan yang melampaui para pengejarnya.
"Lalu Jenderal itu bagaimana nasibnya, Pak?" tanya Ahmad penasaran.
Mbah Sidik tersenyum misterius. "Gusti Allah mboten sare (Allah tidak tidur), Ahmad. Kebohongan setinggi gunung pun akan runtuh oleh satu butir kebenaran. Sekarang, ayo bantu Ibu di dapur, jangan cuma bengong dengar cerita Bapak."
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
q berasa kaya lagi ngaji thor
siapa kah sebenarnya kang sidik ?