NovelToon NovelToon
Terimakasih Cinta

Terimakasih Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / CEO Amnesia
Popularitas:798
Nilai: 5
Nama Author: Erny Su

"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.

Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.

Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.

"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

"Terus terang Dian pun belum siap untuk menjalani semua ini bu, apalagi Fandi baru saja pergi empat puluh hari yang lalu, tapi Dian tidak mungkin terus mengabaikan tuan Alex yang terus menunjukkan keseriusannya untuk menjalani hubungan ini. satu lagi, Dian tidak ingin ibu tersakiti dengan ini semua" ujar Dian lirih.

"Nak, seperti yang kamu katakan dua hari yang lalu, kita tidak boleh terus larut dalam kesedihan. Tapi itu juga bukan berarti kita tidak sayang pada Fandi, mulai sekarang jalani hidup mu dengan baik. Masa depan mu masih panjang nak, walau ibu tau semua itu tidaklah mudah tapi yakinlah bahwa Fandi juga akan bahagia saat melihat mu bahagia"ujar ibu Dini yang kini dipeluk erat oleh Dian yang akhirnya menangis sesenggukan.

"Afifah juga mendoakan yang terbaik untuk kakak, semoga kak Fandi juga bahagia di surga nanti karena memiliki istri yang begitu menyayangi keluarganya. Jangan lupakan kami ya kak, aku akan tetap menganggap kakak sebagai kakak ku"ujar Afifah yang kini ikut memeluk keduanya.

"Kakak tidak akan pernah melupakan mu sayang, saat ini dan selamanya ibu dan kamu adalah keluarga kakak dan kakak akan terus ada untuk kalian berdua"ujar Dian yang kini kembali memeluk erat keduanya.

"Kak Dian aku datang!"teriak seorang gadis yang kini berlari memasuki rumah Dian.

"Renata kamu beneran mau nginap disini?"ujar Dian yang kini bangkit dari duduknya.

"Tentu saja, untuk satu minggu kedepan karena ibu dan ayah pergi ke luar kota untuk pengobatan keponakan ku"ujar gadis cantik yang terlihat begitu senang saat ini.

"Oh my God, satu minggu. Rena kau pikir rumah kakak ku ini panti asuhan apa?"ujar Afifah yang kini ikut menyela pembicaraan mereka.

"Aku tidak tanya kamu, kak bantu aku bawakan koper ku di depan rumah, kopernya berat"ujar Renata yang tidak menyadari bahwa dia sedang ditatap oleh tiga orang asing yang kini ada di belakang nya.

"Ya ampun Rena,"ujar Dian yang kini melirik kearah pintu yang lurus dari ruang keluarga ke pintu utama.

"Waw nona muda, apa kau pikir ada tempat untuk mu disini?"ujar Afifah lagi.

" Syirik bilang bos"ujar Renata yang kini mengikuti langkah Dian yang hendak mengambil koper berisi barang-barang pribadi Renata.

"Oh iya kakak ipar, kak Reno titip salam"ujar Renata yang kini membuat langkah Dian terhenti, karena bukan hanya dirinya yang mendengar perkataan Rena, tapi juga Alex yang kini ada di hadapannya.

"Pak guru disini?!"ujar Renata kaget, kemudian melirik kearah Darel asisten pribadi Alex.

"Wow, aku rasa tidak hanya beruntung bisa menginap disini, tapi juga bisa melihat malaikat tampan yang tidak hanya satu orang"ujar Renata yang kini membuat Miranda geleng-geleng kepala melihat gadis yang kini tidak melepaskan boneka Minion nya itu.

"Renata, masuklah dan jangan berisik, nanti anak kakak bangun"ujar Afifah.

" What's anak!"ujar gadis cantik yang kini terlihat sangat shock.

"Sudah nanti kakak jelaskan didalam, Rena tidur sama kakak di kamar kakak,"ujar Dian yang kini membuat Alex tidak setuju.

"Honey, bukankah masih ada satu kamar lagi?"ujar Alex.

"Kamar itu akan ditempati nona Miranda bukan?"ujar Diandra.

" Tidak, aku tidak bisa tidur di kamar yang sempit dan tidak memiliki AC "ujar wanita itu menolak.

"Lalu kami mau tidur diluar?"ujar Alex yang kini membuat wanita cantik itu terdiam.

"Aku pulang ke rumah mu yang ada di kota setelah acara selesai"ujar Miranda.

" Maaf nona saya tidak bisa antar karena harus pergi lebih pagi untuk kembali ke perusahaan, saya menginap disini"ujar Darel yang kini membuat Miranda terpaksa menginap di rumah Dian.

"Nak bukankah acaranya akan segera digelar, biar ibu bantu menyiapkan semuanya."ujar bu Dini.

"Acara apa kak?"tanya Renata.

"Sudah kamu bereskan barang-barang mu di kamar kakak, tapi ingat jangan berisik Aline masih bobo"ujar Dian yang kini tidak ingin membuat Renata sedih karena gadis cantik itu menginginkan dirinya untuk menjadi kakak ipar nya.

"Hm... baiklah"ujar Renata.

Sementara Alex kini mengikuti Dian ke dapur diikuti oleh Bu dini dan Afifah, Dian hendak membereskan bahan makanan yang tadi dibawa oleh asisten Alex tapi perkataan Alex membuat dia menghentikan pergerakannya.

"Sepertinya dia masih sangat berharap pada mu honey, apa kamu senang mendapat salam darinya?"ujar Alex yang masih sangat cemburu pada masalalu Dian.

"Tuan jika anda ragu sebaiknya batalkan saja semuanya. Saya tidak ingin terus memiliki masalah seperti ini"ujar Dian yang kini membuat bu Dini merasa tidak enak hati karena ada di tengah-tengah mereka.

"Jangan pernah berfikir bahwa aku akan melepaskan mu honey"ujar Alex yang kini meninggalkan Dian yang hanya bisa menghela nafas berat.

"Sabar nak, ujian"lirih bu Dini.

"Dian tidak tahu harus bagaimana bu, sejak lama Dian sudah berusaha untuk menghentikan hubungan ini karena perbedaan diantara kami terlalu jauh, ditambah lagi Alex selalu mengungkit masa lalu Dian" ujar Dian yang kini menatap keatas plafon agar air matanya tidak jatuh.

Terus terang rasanya sakit dituduh oleh orang yang dia cintai, meskipun masalalunya itu juga masih menyisakan kenangan indah dalam memori Dian, tapi dengan kepergian Reno, dulu, Dian sudah melupakan mantan nya itu meskipun butuh waktu lama untuk bisa move on.

"Tuan Alex cemburu karena dia terlalu mencintaimu nak, ibu berdoa semoga kalian selalu bahagia"ujar bu Dini yang kini mengusap lembut lengan Dian.

"Kak, apa butuh bantuan kak ari dan yang lainnya?"ujar Afifah yang kini menghampiri mereka.

"Tentu saja jika kamu bersedia untuk menemui memanggil mereka"ujar Dian.

"Oh ya ampun kakak ku yang cantik, kan ada handphone kenapa tidak digunakan?"ujar Afifah.

"Tapi kakak juga butuh kamu minta kak Tio untuk ambil ikan yang banyak dan yang paling besar untuk tambahan lauk nanti, dari Empang miliknya. Jangan lupa bawa uang nya oke, gunakan motor jika kamu malas jalan" ujar Dian yang kini bergegas mengambil uang dari saku kain penutup kulkas.

"ini untuk sepuluh kilo ikan mas dan nila oke"ujar Dian yang kini dibalas anggukan kepala oleh Afifah.

"Kak, bayi kakak nangis"ucap Renata yang kini berlari menghampiri Dian.

"Oh ya ampun,"ucap Dian yang kini bergegas menuju kamar utama.

"Kau ikut dengan ku temui kak Tio"ujar Afifah yang kini menarik tangan Renata.

"Hati-hati nak"ujar Bu dini.

Sementara Darel kini menghampiri bu Dini dan memberikan sejumlah uang pada wanita paruh baya yang kini terlihat sangat bimbang dan ragu untuk menerima nya.

"Ambillah bu, ini sedikit uang untuk ibu,"ujar Darel yang kini menaruh uang diatas meja makan, kemudian ia kembali ke ruang keluarga.

...*****...

"Sayang kamu mau minum susu, sebentar ya aku buat dulu"ujar Dian yang kini mencoba menenangkan bayi perempuan itu.

"Dia tau kalau saat ini mommy nya sedang memikirkan pria lain,"ujar Alex.

"Cukup tuan! Saya sudah bilang berulang kali jika anda ragu silahkan tinggalkan saya, saya lelah menghadapi sikap anda yang seperti ini"ujar Dian yang kini justru malah di dorong oleh Alex keatas ranjang dan hampir menimpa Aline, jika saja Dian tidak bergerak cepat untuk menghindar.

"Tuan!"ujar Dian yang kini tidak dipedulikan oleh Alex yang justru malah mengunci pergerakan nya, tanpa peduli dengan tangis Aline, Alex mencium bibir Dian dengan sangat brutal, hingga bibir bawah Dian terluka karena gigitan Alex.

Penyebab nya adalah kehadiran Renata yang bahkan disambut dengan sangat baik oleh Dian seakan dia masih memiliki rasa pada Reno hingga memperlakukan Renata seperti Dian saat Afifah.

"Pertunangan ini batal tuan, saya tidak ingin hidup dengan pria pencemburu seperti anda"ujar Dian yang kini tidak mendapatkan persetujuan dari Alex yang justru malah semakin menekan Dian.

"Lakukan apa yang kamu inginkan jika kamu ingin melihat mereka semua sengsara termasuk teman-teman mu itu honey"ujar Alex yang kini menatap lekat wajah Dian yang akhirnya terdiam tanpa kata dengan tetes air mata.

"Mommy,"ujar Aline yang kini memeluk tangan Dian.

"Ayo sayang kita buat susu untuk mu*ujar Dian yang langsung mengusap kasar air matanya itu.

Alex masih terduduk di tepi ranjang dan membiarkan Dian pergi sambil membawa Aline.

"Nak, kamu bawa bayi siapa cantik sekali?"ujar bu Dini yang tidak menyimak perkataan Alex tentang anaknya.

"Anak tuan Alex bu,"ujar Dian yang kini mengambil air panas untuk susu Aline.

"Biar ibu gendong dulu, bahaya jika kamu sedang buat susu, takut terkena air panas"ujar Bu dini.

"Terimakasih bu, tapi sebelum itu ibu sebaiknya cuci tangan dulu, dia anak orang kaya bu, dia tidak terbiasa dengan tangan kita yang kotor"ujar Dian yang kini membuat Miranda terdiam saat akan mengambil alih Aline, karena untuk beberapa hari kedepan Aline adalah tanggung jawabnya.

"Baiklah nak, anak orang kaya memang beda dengan kita"ujar wanita paruh baya yang kini pergi menuju wastafel untuk cuci tangan terlebih dahulu sebelum menggendong Aline.

Sementara Miranda pun kembali ke ruang keluarga karena tidak ingin berbincang dengan kedua wanita yang tidak ia sukai.

Sementara Alex saat ini masih dalam keadaan marah saat perkataan Dian terus terngiang-ngiang di pikirannya.

" Aku tidak akan pernah melepaskan mu lagi honey, meskipun aku harus menghalalkan segala cara untuk membuat mu tetap berada disamping ku"ujar Alex sambil mengacak rambutnya karena frustasi.

Sementara Dian setelah dia selesai membuat susu, dia menempatkan Aline di stroller baby miliknya dan memberikan botol susu pada bayi perempuan yang kini sudah bisa memegang botol sendiri, dari jarak yang cukup jauh, Dian pun mulai berkutat dengan pekerjaannya yaitu memasak menu khusus untuk jamuan para tamu yang hadir, termasuk aparat setempat.

Dian dibantu bu Dini mencuci beras terlebih dahulu, sementara dia sedang menyiapkan sayuran dan daging yang akan dia masak.

Dian memotong ayam dengan cekatan, mengiris daging merah yang akan dijadikan sate, sebelum itu dia marinasi dengan bumbu yang dia haluskan dan juga jus nanas agar daging cepat empuk dan tidak memerlukan waktu lama saat dibakar.

Dian juga akan membuat capcay goreng dan sambal goreng juga ikan balado yang masih diangkat oleh Tio dari jala nya.

"Nak kamu begitu sibuk, sebaiknya minta bantuan tetangga saja"ujar bu dini yang tidak tega melihat Dian sibuk dengan pekerjaannya untuk acaranya sendiri.

"Tidak apa-apa bu, sebentar lagi pasukan perang akan tiba"ujar Dian yang kini sibuk memotong dadu daging merah yang tadi dibawa oleh Darel.

"Honey aku bantu"ujar Alex yang kini seakan tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.

"Jika ingin bantu, tolong temani Aline, dan bawa dia menjauh"ujar Dian yang kini membuat Alex melirik kearah Miranda yang langsung mengambil alih putrinya itu.

"Tuan butuh bantuan?"ujar Darel.

"Kau potong daging itu sesuai potongan yang telah selesai, biar istriku kerjakan yang lain"ujar Alex yang kini ditolak oleh Dian.

"Tidak tuan Darel sebaiknya anda tolong saya siapkan tempat untuk wadah daging nya disana"ujar Dian yang kini menunjuk kearah tumpukan baskom besar yang tersusun rapi.

Sementara Alex membantu Dian membersihkan sayuran dan memilah jenis sayuran yang akan digunakan oleh Dian untuk memasak, dan yang paling dia tidak suka adalah dia harus mengupas bawang yang kini membuat matanya pedih.

"Honey mataku pedih, tolong berikan tissue basah nya"ujar Alex yang kini bangkit dari duduknya.

" Tangan saya kotor tuan, sebaiknya cuci tangan dan menjauh saja"ujar Dian tegas.

Gadis cantik itu tetap berkutat dengan daging yang tengah dia potong, hingga Bu dini mengambil alih pekerjaan Dian setelah wanita itu kembali dari belakang, karena saat ini dia sedang menanak nasi dengan dikukus.

"Perlu bantuan?"ujar Ari dan Tio yang kini membawa boks ikan.

"Mas Dito dan mbak Gesya mana?"ujar Dian.

"Sepertinya dibelakang bersama Dion, mereka membawa alat untuk panggang ikan"ujar Ari.

"Oh terimakasih,"ujar Dian yang kini terharu dengan kebaikan mereka yang selama ini selalu ada untuk dirinya.

Air matanya kembali menetes kala melihat tidak ada lagi Fandi yang biasanya selalu datang lebih awal.

"Maaf," lirih Dian yang kini meminta maaf pada Fandi.

"Kakak lihat aku dapat ikan besar di Empang ah seru banget"ujar Renata yang kini datang dengan pakaian basah dan sedikit berlumpur dengan ikan yang ia tenteng di ambang pintu belakang.

"Oh ya ampun kalian berdua!"ujar Dian yang merasa tidak habis pikir dengan kedua gadis cantik itu.

"Pergi mandi di rumah ibu, dan Rena pinjam dulu baju Afifah, jangan sampai kamu mengotori rumah dan kamar kakak dengan keadaan mu saat ini"ujar Dian yang kini dibalas anggukan pelan oleh keduanya.

"Kamu bisa kena darah tinggi Diandra jika memiliki anak seperti mereka, lagian ya, aku heran tumben tumbenan keluarga kaya raya yang sombong itu mengijinkan putrinya untuk menginap disini?"ujar Tio.

"Hmm.. aku juga tidak tau.

1
Wati Anja
semoga Dian dan Alek bisa bersatu❤❤❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!