"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."
Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.
Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.
Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.
apakah sang penguasa akan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Empat Belas
Sinar mentari pagi merayap perlahan melintasi pematang sawah, menyinari bulir-bulir Padi Surgawi yang kini mulai mengeras dan memancarkan cahaya keemasan yang lebih pekat. Di bawah naungan Pohon Memori yang daunnya gemerisik ditiup angin sepoi-seperti suara bisikan masa lalu yang menenangkan—Desa Jinan tampak seperti sepotong surga yang terjatuh ke bumi fana. Aroma melati yang keluar dari bunga-bunga putih di pohon itu menyatu dengan aroma tanah basah dan wangi nasi hangat yang sedang dimasak oleh Chen Long di dapur restoran barunya yang baru setengah jadi.
Zhou Ji Ran berdiri di tepi parit irigasi yang kemarin baru saja dihaluskan oleh Zhang Tian. Ia menatap ke arah lahan kosong di sebelah selatan yang masih berupa padang rumput liar dan rawa-rawa kecil. Di tangannya terdapat sebuah gulungan denah yang digambar di atas selembar daun teratai lebar menggunakan tinta dari sari buah beri. Ia tidak membutuhkan alat ukur canggih; matanya yang pernah memetakan jutaan sistem bintang bisa melihat setiap kontur tanah dengan presisi milimeter.
"Tuan, apakah benar Anda ingin membangun kolam ikan di sana? Tanah di bagian selatan itu agak terlalu berawa, dan saya khawatir airnya akan menggenang dan menjadi sarang nyamuk," ucap Lin Xiaoqi yang berjalan mendekat sambil membawa sebuah keranjang berisi buah pir yang baru dipetik.
Zhou Ji Ran menunjuk ke titik tengah rawa tersebut dengan jarinya. "Justru karena berawa, Xiaoqi, tempat itu memiliki esensi air yang paling dalam. Aku tidak ingin membangun kolam ikan biasa. Aku ingin membangun 'Telaga Teratai Imortal'. Selain untuk ikan, teratai yang tumbuh di sana nanti bisa kita gunakan sebagai bahan obat dan juga untuk mempercantik pemandangan. Tapi kau benar, airnya butuh sirkulasi yang kuat. Kita butuh sesuatu yang lebih besar dari sekadar kincir naga perak."
Zhang Tian, yang baru saja selesai memberikan makan pagi untuk ayam-ayam, berjalan mendekat. Wajahnya tampak jauh lebih tenang hari ini, meskipun tangannya masih memegang sebuah sapu lidi. "Tuan Zhou, jika Anda membutuhkan sirkulasi air yang masif untuk telaga sebesar itu, naga-naga perak di sungai mungkin akan kewalahan. Tekanan air di rawa itu memiliki gravitasi bumi yang cukup berat."
"Itulah sebabnya aku sudah memikirkan solusinya," jawab Zhou Ji Ran dengan senyum tipis yang misterius. Ia menoleh ke arah timur, ke arah di mana langit bertemu dengan garis cakrawala laut yang jauh. "Ada seekor naga laut yang sudah terlalu lama bersembunyi di kedalaman Samudera Timur. Namanya Ao Kun. Dia sombong, suka pamer, dan yang paling penting, dia memiliki kemampuan untuk mengendalikan arus air dalam skala besar tanpa perlu banyak bergerak. Dia adalah kandidat terbaik untuk menjadi 'Pengelola Telaga' kita."
Ye Hua, yang sedang melatih gerakan menyapu di bawah Pohon Memori, seketika berhenti. "Ao Kun? Maksud Anda Raja Naga Biru dari Samudera Timur yang konon katanya bisa menelan seluruh armada kapal perang hanya dengan satu pusaran air?"
"Ya, si cacing biru besar itu," sahut Zhou Ji Ran santai. "Sepertinya dia sudah mencium aroma Padi Surgawi kita sejak kemarin. Dia sedang mengintai di batas perbatasan dimensi desa, menunggu saat yang tepat untuk mencuri esensi air di sini demi meningkatkan kultivasinya menjadi Naga Langit Sejati."
Tiba-tiba, udara di sekitar Desa Jinan menjadi sangat lembap. Awan-awan mulai berkumpul di langit selatan, namun bukan awan hitam badai, melainkan awan berwarna biru tua yang memancarkan aroma garam laut yang menyengat. Suara gemuruh ombak yang sangat keras terdengar dari arah langit, seolah-olah lautan sedang dipindahkan ke atas desa.
"Bicaralah tentang naga, maka sisiknya akan muncul," gumam Gu Lao yang baru saja bangun dari tidur siangnya di kursi goyang. "Ji Ran, sepertinya tamu barumu ini datang dengan niat untuk 'meminum' seluruh desamu."
Dari pusat awan biru tersebut, sesosok makhluk raksasa muncul. Panjangnya mencapai ratusan meter, dengan sisik berwarna biru safir yang berkilau tajam. Tanduknya bercabang seperti karang kristal, dan matanya yang besar berwarna kuning emas menatap ke arah gubuk Zhou Ji Ran dengan penuh keserakahan. Inilah Ao Kun, sang penguasa Samudera Timur.
"Siapa manusia fana yang berani menanam Padi Surgawi tanpa seizin penguasa air?!" suara Ao Kun menggelegar, diikuti oleh hujan deras yang seketika mengguyur Desa Jinan. Hujan ini bukan hujan biasa; setiap tetesnya mengandung energi air yang sangat padat yang bisa menekan basis kultivasi siapa pun yang menyentuhnya.
Para murid Sekte Matahari Terbit yang sedang bekerja di tebing utara seketika jatuh tersungkur, tubuh mereka terasa seberat timah karena guyuran hujan tersebut. Bahkan Jenderal Han dan Pangeran Long Wei harus mengerahkan energi mereka untuk tetap berdiri tegak.
Zhou Ji Ran mendongak, ia tidak menggunakan payung. Secara ajaib, setiap tetes hujan yang mendekati tubuhnya seketika membelok, seolah-olah ada dinding tak terlihat yang menolaknya. "Ao Kun, kau baru saja mencuci jemuran pakaianku yang baru saja dikeringkan oleh Xin Yan. Kau tahu betapa susahnya membuat rajawali itu mau mengepakkan sayapnya untuk menjemur?"
Ao Kun tertawa meremehkan, suaranya memicu gelombang kejut di udara. "Jemuran pakaian? Kau membicarakan kain kotor di depan seorang raja naga? Manusia, serahkan benih Padi Surgawi itu dan biarkan aku membawa seluruh bukit ini ke istanaku di dasar laut. Jika kau patuh, aku akan menjadikanku sebagai pengurus kebun bawah lautku!"
Zhou Ji Ran menghela napas panjang, ia mengambil sebuah bambu panjang yang biasanya ia gunakan untuk menjemur ikan. "Dasar naga air, selalu saja merasa dunia ini adalah bak mandi milik mereka sendiri. Baikah, karena kau datang membawa air yang begitu banyak, kau telah memberikan modal awal untuk kolam ikanku. Tapi perilakumu sangat buruk."
Zhou Ji Ran melakukan gerakan sederhana. Ia tidak melompat ke langit, ia hanya mengayunkan bambu panjangnya ke arah Ao Kun seolah-olah ia sedang memancing di sungai kecil.
"Kemarilah, cacing biru. Mari kita lihat seberapa baik kau bisa berenang di daratan," ucap Zhou Ji Ran.
Sebuah benang energi transparan melesat dari ujung bambu, menembus lapisan awan biru dan melilit leher Ao Kun dalam sekejap. Sang naga laut itu terkejut, ia mencoba melepaskan diri dengan mengeluarkan semburan air bertekanan tinggi yang bisa memotong logam abadi. Namun, benang transparan itu bahkan tidak bergetar.
Dengan satu sentakan kuat dari tangan kanan Zhou Ji Ran, naga raksasa sepanjang ratusan meter itu ditarik turun dari langit dengan kecepatan yang menghancurkan hukum gravitasi.
*BUMMM!*
Ao Kun menghantam area rawa di sebelah selatan dengan sangat keras. Lumpur dan air rawa terpental ke segala arah, namun secara ajaib tidak ada satu pun tetes lumpur yang mengenai ladang padi atau rumah Zhou Ji Ran. Kawah besar terbentuk di tengah rawa tersebut, dan di tengahnya, sang penguasa Samudera Timur tergeletak lemas dengan mata yang berputar-putar karena pusing.
Zhou Ji Ran berjalan mendekati kawah tersebut, menyeret bambunya dengan santai. "Nah, posisimu sudah pas di tengah-tengah calon telagaku. Sekarang, menyusutlah. Aku tidak punya lahan seluas samudera untuk menampung ukuran tubuhmu yang berlebihan itu."
Ao Kun, yang masih merasa dunianya berputar, mencoba menggerakkan energinya untuk melawan. "Kau... makhluk macam apa kau... kekuatan ini... ini bukan dari dunia ini..."
"Aku adalah orang yang baru saja kehilangan jemuran kering karena ulahmu," jawab Zhou Ji Ran dingin. Ia menjentikkan jarinya ke arah dahi naga tersebut.
Seketika, tubuh raksasa Ao Kun menyusut secara drastis hingga ukurannya hanya sepanjang sepuluh meter—masih besar untuk ukuran naga, namun pas untuk menghuni sebuah telaga luas. Energi biru safirnya yang liar seketika dijinakkan, dan sebuah segel berbentuk bunga teratai muncul di atas kepalanya.
"Mulai hari ini, kau adalah Kepala Pengairan Telaga Selatan. Tugasmu adalah memastikan air di telaga ini selalu segar, jernih, dan mengandung esensi air yang cukup untuk menumbuhkan teratai imortal. Dan setiap pagi, kau harus menggunakan kemampuan kendali arumu untuk menyaring lumpur tanpa merusak ekosistem ikan yang akan kutanam nanti," perintah Zhou Ji Ran.
Ao Kun menatap Zhou Ji Ran dengan ketakutan yang luar biasa. Ia menyadari bahwa pria di depannya ini memiliki otoritas yang jauh melampaui 'Sistem Surga' yang pernah ia dengar dalam legenda. Di depan pria ini, dia hanyalah seekor ikan mas koki yang berada di dalam akuarium.
"Saya... saya mengerti, Guru," ucap Ao Kun dengan suara yang kini jauh lebih sopan dan kecil.
"Jangan panggil aku Guru. Panggil aku Tuan Zhou. Dan satu lagi, karena kau tadi sudah membuat hujan yang sangat berisik, kau harus membantu Xin Yan mengeringkan seluruh pakaian penduduk desa sebagai ganti rugi," tambah Zhou Ji Ran.
Keadaan kembali tenang. Awan biru di langit menghilang, digantikan kembali oleh sinar matahari yang hangat. Xin Yan, yang tadi tampak marah karena jemurannya basah, kini tersenyum puas sambil melihat naga biru itu merayap dengan lesu menuju jemuran pakaian.
Di dapur restoran yang hampir selesai, Chen Long keluar sambil membawa sebuah piring berisi camilan baru. "Tuan Zhou, saya baru saja mencoba membuat 'Kue Esensi Bumi' menggunakan sisa energi dari Penelan Harapan yang tertanam di ladang jagung semalam. Rasanya sangat unik, memiliki tekstur yang keras di luar namun melelehkan energi hangat di dalam."
Zhou Ji Ran mengambil satu kue dan mencicipinya. "Lumayan, Chen Long. Tapi tambahkan sedikit madu dari Pohon Memori untuk menyeimbangkan rasa pahit dari esensi kegelapan yang masih tersisa. Kita ingin orang yang memakannya merasa damai, bukan merasa seperti sedang berperang."
"Saran yang luar biasa, Tuan! Saya akan segera memperbaikinya," jawab Chen Long dengan penuh semangat. Ia merasa bahwa setiap kali ia menerima saran dari Zhou Ji Ran, pemahamannya tentang "Jalan Rasa" meningkat secara drastis.
Sore harinya, pemandangan di selatan Desa Jinan berubah total. Ao Kun, sang naga laut, kini terlihat sibuk menyedot air rawa yang kotor dan menyemburkannya kembali ke udara setelah disaring melalui energinya, menciptakan air jernih yang mulai mengisi kawah telaga yang baru dibuat. Pangeran Long Wei membantu membangun tepian telaga menggunakan batu-batu yang dihaluskan oleh Zhang Tian, sementara Su Ruo memainkan melodi yang lebih 'berair' untuk membantu menenangkan energi naga laut tersebut.
Ye Hua duduk di pinggir telaga, memperhatikan bagaimana naga biru itu bekerja. "Tuan Zhou, sepertinya desa ini mulai berubah menjadi tempat berkumpulnya makhluk-makhluk paling legendaris di dunia. Jika kita terus begini, mungkin sebentar lagi Phoenix dari Pegunungan Merah juga akan datang meminta jatah makan."
Zhou Ji Ran terkekeh sambil duduk di bawah Pohon Memori. "Jika Phoenix itu datang, aku akan memintanya untuk menjadi penghangat ruangan di musim dingin. Kita butuh variasi suhu untuk tanaman yang berbeda."
Gu Lao berjalan mendekati Zhou Ji Ran, ia membawa sebuah papan catur kuno. "Ji Ran, kau tahu bahwa dengan menangkap Ao Kun, kau baru saja memutus urat nadi energi air di wilayah Timur. Raja-Raja Naga lainnya di Samudera tidak akan diam. Mereka sangat bangga dengan silsilah mereka."
"Biarkan mereka datang, Gu Lao. Telaga ini masih cukup luas untuk menampung beberapa naga lagi. Dan aku rasa, kita butuh sistem pemurnian air yang lebih kompleks jika kita ingin menanam Teratai Pelangi," jawab Zhou Ji Ran sambil memindahkan salah satu bidak catur.
Malam mulai turun, menyelimuti Desa Jinan dengan keindahan yang surreal. Padi Surgawi di lereng bukit memancarkan cahaya emas, Jagung Perak di ladang memancarkan cahaya perak, dan kini telaga di selatan memancarkan cahaya biru safir dari keberadaan Ao Kun di dalamnya. Desa Jinan tidak lagi terlihat seperti desa petani biasa, melainkan sebuah domain ilahi yang bersinar di tengah kegelapan dunia.
Di dalam rumah, Lin Xiaoqi sedang menyisir rambutnya di depan cermin kecil. Ia menatap pantulan dirinya, menyadari betapa kulitnya kini jauh lebih sehat dan matanya lebih bersinar sejak tinggal di sini. "Hidup tanpa dikejar-kejar sekte... siapa yang menyangka itu akan seindah ini," bisiknya.
Tiba-tiba, ia mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Ia membukanya dan menemukan Ye Hua berdiri di sana dengan ekspresi yang sedikit ragu.
"Xiaoqi... bolehkah aku bertanya? Menurutmu, apakah Tuan Zhou... apakah dia merasa terbebani dengan kehadiran kita semua di sini? Dia selalu tampak sangat santai, tapi masalah yang kita bawa ke rumahnya semakin besar setiap harinya," tanya Ye Hua dengan suara rendah.
Lin Xiaoqi tersenyum lembut, menarik tangan Ye Hua untuk duduk di tepi tempat tidurnya. "Kakak Senior Ye, saya juga sering memikirkan hal itu. Tapi lihatlah Tuan. Dia tidak pernah benar-benar marah karena masalah yang datang. Dia justru tampak senang karena setiap masalah memberinya solusi untuk ladangnya. Menurut saya, Tuan adalah seseorang yang sudah melampaui konsep 'beban'. Baginya, kita bukan beban, kita adalah bagian dari ekosistem yang ia cintai."
Ye Hua mengangguk perlahan. "Kau benar. Dia selalu melihat sisi kegunaan dari segala sesuatu. Bahkan dari musuh yang paling jahat sekalipun."
Sementara itu, di teras luar, Zhou Ji Ran sedang menatap bulan yang bersinar terang. Ia merasakan adanya kehadiran yang sangat halus di batas desa. Bukan naga, bukan dewa, melainkan sebuah kesadaran yang sangat mirip dengan dirinya di masa lalu.
"Sistem... kau sudah hancur, tapi bayanganmu masih menghantui dunia ini melalui orang lain," gumam Zhou Ji Ran.
Seorang pemuda dengan pakaian yang sangat modern—tampak aneh untuk dunia kultivasi ini—berdiri di jalan masuk desa. Di atas kepalanya, sebuah layar transparan yang hanya bisa dilihat oleh pemuda itu sedang berkedip-kedip dengan warna merah menyala.
*[Peringatan: Keberadaan Anomali Terdeteksi. Target: Zhou Ji Ran. Level Ancaman: Tidak Terhitung. Misi Baru: Selidiki dan Ambil Esensi Padi Surgawi.]*
Pemuda itu, namanya Lu Han, adalah seorang 'Transmigran' baru yang baru saja mendapatkan sistem sebulan yang lalu. Ia merasa sangat percaya diri dengan kemampuannya yang bisa meningkatkan level dengan cepat melalui tugas-tugas sistem. Namun, saat ia melangkah memasuki batas Desa Jinan, layar sistemnya tiba-tiba bergetar hebat dan mengeluarkan suara statis yang menyakitkan.
*[Error... Error... Otoritas Utama Ditemukan... Memulai Protokol Perlindungan... Menghapus Data...]*
Lu Han terhuyung-huyung, wajahnya pucat pasi. "Apa yang terjadi? Sistem! Jawab aku!"
Zhou Ji Ran berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan menuju gerbang desa. Ia menatap Lu Han dengan tatapan yang penuh dengan rasa kasihan sekaligus nostalgia. "Nak, sistem yang kau bawa itu adalah model lama yang masih menggunakan kode-kode yang aku buat sepuluh ribu tahun yang lalu. Kau baru saja masuk ke wilayah di mana pemilik asli dari kode-kode itu tinggal. Berhenti berteriak pada kepalamu sendiri, itu hanya akan membuatnya semakin sakit."
Lu Han menatap Zhou Ji Ran dengan mata terbelalak. "Kau... kau bisa melihat sistemku?! Siapa kau sebenarnya?!"
"Aku? Aku adalah orang yang menghancurkan server pusat dari sistemmu karena aku bosan mendengarkan suaranya yang cerewet," jawab Zhou Ji Ran santai. "Sekarang, karena kau sudah ada di sini, dan karena sistemmu sudah lumpuh total... kau punya dua pilihan. Pertama, kau bisa menjadi asisten administrasi Feng Mian untuk mengurus logistik restoran. Kedua, kau bisa pergi dari sini dan kehilangan seluruh kekuatan sistemmu selamanya."
Lu Han menelan ludah. Ia merasakan seluruh kekuatannya menghilang saat ia berdiri di depan Zhou Ji Ran. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di dalam sebuah permainan; ia berada di hadapan Sang Pencipta permainan itu sendiri.
"Saya... saya akan tinggal, Tuan," bisik Lu Han dengan suara rendah.
"Bagus. Feng Mian sedang butuh seseorang yang mengerti sistem inventaris digital. Besok pagi kau akan belajar cara mencatat stok gandum menggunakan metode tradisional karena di sini tidak ada listrik," ucap Zhou Ji Ran sambil menepuk pundak Lu Han.
Malam itu, Desa Jinan kembali menambah satu lagi penghuni uniknya. Seorang transmigran yang kehilangan sistemnya, kini harus belajar arti dari kehidupan nyata tanpa bantuan layar panduan. Bagi Zhou Ji Ran, ini adalah satu lagi cara untuk menebus dosa masa lalunya—memberikan kehidupan nyata bagi mereka yang selama ini hanya hidup di bawah kendali data.
"Besok kita akan mulai menanam teratai," gumam Zhou Ji Ran sebelum kembali ke gubuknya. "Dan aku rasa, Lu Han bisa membantu Ao Kun untuk mengatur suhu air dengan pengetahuannya tentang termodinamika. Masa pensiun ini benar-benar semakin produktif."
Di bawah sinar rembulan, Desa Jinan terus bersinar, menjadi satu-satunya tempat di multisemesta di mana takdir tidak lagi ditulis oleh angka-angka, melainkan oleh ketulusan tangan seorang petani. Perjalanan panjang ini baru saja melewati satu lagi persimpangan, dan setiap detiknya adalah kebebasan yang paling murni bagi mereka yang berada di dalamnya.
Semuanya berjalan sesuai rencana, satu kehidupan pada satu waktu, di atas tanah yang kini menjadi perlindungan terakhir bagi kemanusiaan. Zhou Ji Ran memejamkan matanya, merasakan kedamaian yang mendalam, tahu bahwa esok pagi akan ada lebih banyak keajaiban yang menanti untuk ditanam. Kehidupan ini memang benar-benar luar biasa.