NovelToon NovelToon
Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Popularitas:137
Nilai: 5
Nama Author: Ruang_Magenta

Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."

​Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.

​Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.

​Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Singa di Balik Jeruji

Pagi ini, aroma kopi di kantin kepolisian terasa lebih hambar dari biasanya. Aku duduk di salah satu kursi plastik yang sudah agak kusam, menatap ujung sepatuku sambil menunggu giliran masuk ke ruang kunjungan. Di sampingku, Bimo terus-menerus mengetuk-ngetukkan jemarinya ke meja—sebuah tanda bahwa pria yang biasanya sedingin es ini sebenarnya sedang gelisah setengah mati.

"Kamu beneran nggak mau aku ikut masuk?" tanya Bimo untuk yang kesepuluh kalinya dalam lima belas menit terakhir.

Aku menghela napas, lalu menggenggam tangannya agar dia berhenti mengetuk meja. "Bimo, kalau kamu ikut masuk, dia cuma akan melihat kamu sebagai musuhnya. Dia nggak akan bicara jujur. Dia butuh 'lawan' yang menurut dia lemah supaya dia mau membuka mulut. Dan itu aku."

Bimo menatapku ragu. "Dia itu manipulator ulung, Nara. Bahkan di balik jeruji besi pun, dia masih bisa menanamkan racun di pikiran orang. Aku nggak mau kamu keluar dari ruangan itu dengan perasaan hancur lagi."

Aku tersenyum tipis, mencoba meyakinkannya. "Aku sudah melewati dermaga, ledakan kapal, dan ibumu yang misterius. Aku rasa kata-kata seorang kakek tua nggak akan bisa lagi menghancurkanku. Aku cuma ingin tahu kenapa."

Seorang petugas kepolisian mendekat dan mengangguk ke arahku. "Mbak Nara, silakan. Waktunya lima belas menit."

Aku berdiri. Bimo ikut berdiri, menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan—campuran antara rasa bersalah, sayang, dan protektif. Dia membisikkan sesuatu di telingaku sebelum aku melangkah pergi. "Aku ada di balik pintu ini. Berteriaklah kalau dia mulai keterlaluan."

Ruang kunjungan itu kecil, lembap, dan hanya dibatasi oleh sebuah meja kayu panjang yang dipaku ke lantai. Di sana, duduk seorang pria yang seminggu lalu masih bisa menggetarkan bursa saham hanya dengan satu anggukan kepala.

Kakek Wijaya.

Dia tidak lagi memakai jas custom-made dari Italia. Dia mengenakan seragam oranye yang warnanya sangat kontras dengan kulitnya yang pucat dan keriput. Rambut putihnya yang biasanya tertata rapi kini tampak berantakan. Namun, saat dia mengangkat kepalanya, matanya masih menyimpan kilatan tajam yang sama. Kilatan seorang predator.

"Kamu datang juga, Penulis," suaranya parau, tapi masih membawa wibawa yang menyeramkan.

Aku duduk di depannya, meletakkan tas kecilku di atas meja. Aku tidak membawa rekaman, tidak membawa catatan. Aku hanya membawa diriku sendiri. "Anda bilang hanya mau bicara dengan saya. Jadi, saya di sini. Apa yang ingin Anda sampaikan?"

Kakek Wijaya menyeringai tipis, memperlihatkan deretan gigi yang masih lengkap meski sudah tua. "Kamu tahu, Nara... dari semua orang yang ada di sekitar Bimo, kamulah yang paling menarik. Bimo itu membosankan. Dia terlalu mirip ayahnya, penuh dengan idealisme sampah yang tidak berguna untuk membangun imperium. Tapi kamu? Kamu punya nyali untuk berdiri di depan singa tanpa gemetar."

"Saya nggak di sini untuk dengerin pujian Anda, Pak Wijaya," potongku dingin. "Kenapa Anda menjebak ayah saya? Kenapa Anda menghancurkan hidup seorang akuntan jujur dua puluh tahun lalu?"

Pria tua itu bersandar ke kursinya yang keras. "Jujur? Di dunia ini tidak ada yang benar-benar jujur, Nara. Ayahmu hanya berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Dia menemukan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur. Sesuatu yang jika terbongkar, akan meruntuhkan fondasi Wijaya Group yang saat itu baru saja tumbuh."

"Jadi Anda membunuhnya? Secara perlahan dalam penjara?"

Kakek Wijaya tertawa kecil, suara tawa yang kering dan hampa. "Aku tidak membunuhnya. Aku hanya memberinya 'istirahat'. Ayah Bimo-lah yang terlalu lembek dan mencoba menyelamatkannya. Jika saja Andra menuruti perintahku, masalah ini sudah selesai dua puluh tahun lalu. Tapi tidak, dia malah menyembunyikan Hendra, menciptakan benang kusut yang akhirnya ditarik oleh cucuku sendiri."

Aku mengepalkan tangan di bawah meja. "Dan sekarang semuanya sudah terbongkar. Anda di sini, perusahaan Anda berantakan, dan Bimo pergi. Apa Anda merasa menang sekarang?"

Mata Kakek Wijaya menyipit. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, jarak kami kini hanya terhalang oleh meja sempit itu. "Kamu pikir ini sudah berakhir? Kamu pikir Bimo adalah pahlawan dalam ceritamu?"

"Dia menyelamatkan saya. Itu sudah cukup."

"Dia menyelamatkanmu karena dia butuh rasa aman, Nara. Dia takut menjadi sepertiku, tapi ironisnya, dia menggunakan metode yang sama denganku untuk menjatuhkanku. Dia manipulatif, dia penuh rahasia, dan dia menggunakanmu sebagai perisai emosionalnya." Kakek Wijaya menjeda, suaranya kini berubah menjadi bisikan yang berbisa. "Tanyakan padanya tentang proyek 'Aethelred'. Tanyakan padanya apa yang dia lakukan dengan saham-saham yang seharusnya menjadi milik ayahmu sebagai kompensasi."

Aku terdiam. Proyek Aethelred? Aku belum pernah mendengar nama itu.

"Bimo mungkin mencintaimu, itu aku percaya. Tapi seorang Wijaya tetaplah seorang Wijaya. Kami tidak pernah memberikan sesuatu secara gratis. Dia membelikanmu kebebasan dengan uang yang sebenarnya adalah hak darahmu. Dia tidak memberitahumu, kan?"

"Anda cuma mencoba mengadu domba kami," kataku, meski ada keraguan kecil yang mulai merambat di hatiku.

"Mungkin iya, mungkin tidak," Kakek Wijaya kembali bersandar, tampak puas melihat reaksiku. "Waktumu hampir habis, Nara. Pergilah. Menulislah tentang bagaimana pahlawanmu menyelamatkanmu, tapi jangan terkejut jika suatu hari nanti, kamu menyadari bahwa kamu hanya berpindah dari satu sangkar emas ke sangkar emas yang lain."

Petugas mengetuk pintu, menandakan waktu kunjungan berakhir. Aku berdiri dengan lutut yang sedikit lemas. Aku menatap pria tua itu untuk terakhir kalinya. Dia tampak begitu kecil di ruangan itu, tapi auranya masih terasa mencekik.

"Terima kasih, Pak Wijaya," kataku sebelum berbalik. "Terima kasih sudah mengingatkan saya bahwa di dunia nyata, tidak ada pahlawan yang benar-benar suci. Tapi setidaknya, Bimo memilih untuk mencintai saya, sementara Anda hanya mencintai angka di atas kertas."

Aku keluar dari ruangan itu dengan langkah yang kupaksa untuk tetap tegak.

Begitu aku keluar, Bimo langsung berdiri dan menghampiriku. Dia memegang lenganku, menatap wajahku dengan cemas. "Nara? Kamu pucat banget. Apa yang dia katakan?"

Aku memaksakan sebuah senyuman. "Nggak ada yang penting. Cuma omongan orang tua yang nggak mau kalah."

Bimo menatapku curiga, tapi dia tidak mendesak. Dia membimbingku keluar dari gedung kantor polisi menuju mobilnya. Udara siang itu terasa panas menyengat, tapi hatiku terasa dingin.

Di dalam mobil, selama perjalanan pulang, kata-kata 'Aethelred' terus terngiang di kepalaku. Aku melirik Bimo yang sedang fokus menyetir. Wajahnya tampak tenang, profil sampingnya terlihat sangat tampan di bawah cahaya matahari. Aku ingin bertanya, tapi ada ketakutan besar bahwa pertanyaan itu akan merusak kedamaian yang baru saja kami raih.

"Bim," panggilku pelan.

"Iya, Sayang?"

"Apa ada sesuatu yang... yang masih belum kamu ceritain ke aku soal kompensasi untuk Ayah?"

Bimo sedikit mengerem mobilnya, lalu menoleh sekilas padaku sebelum kembali menatap jalan. Ekspresinya tidak berubah, tapi aku bisa melihat genggamannya pada setir sedikit mengencang. "Kenapa kamu tanya begitu? Kakek bilang sesuatu?"

"Dia cuma bilang... kalau aku harus tanya kamu soal proyek Aethelred."

Mobil itu mendadak melambat hingga akhirnya berhenti di tepi jalan yang agak sepi. Bimo mematikan mesin, suasana menjadi sunyi senyap seketika. Dia melepaskan sabuk pengamannya dan berbalik sepenuhnya menghadapku.

Dia menghela napas panjang, sebuah napas yang terdengar seperti beban berat yang akhirnya dilepaskan. "Aku sudah tahu dia bakal bilang begitu. Dia selalu punya cara untuk merusak momen, bahkan dari dalam penjara."

"Jadi itu benar? Apa itu Aethelred?"

"Aethelred adalah dana perwalian yang dibuat oleh Ayahku sebelum dia meninggal," jawab Bimo dengan nada rendah. "Isinya adalah saham-saham perusahaan yang sengaja dia sisihkan dari keuntungan pribadi Kakek. Ayahku tahu Kakek menjebak Hendra, dan dia ingin memberikan itu sebagai bentuk permohonan maaf yang suatu saat bisa diberikan pada ahli waris Hendra. Yaitu kamu."

"Lalu kenapa kamu nggak bilang?"

"Karena kalau aku bilang sejak awal, kamu akan melihatku sebagai orang yang mencoba 'membeli' maafmu dengan uang," Bimo memegang tanganku, matanya menatapku dengan kejujuran yang menyakitkan. "Aku ingin kamu mencintaiku karena aku adalah Bimo, bukan karena aku adalah orang yang memegang kunci kekayaanmu. Dana itu sudah aku cairkan minggu lalu, Nara. Semuanya sudah atas namamu. Kamu bukan lagi penulis miskin yang harus menerima kontrak gila dari siapa pun. Kamu adalah pemilik sebagian besar saham Wijaya Group yang sah secara moral."

Aku tertegun. Jadi, semua kemewahan ini, semua perlindungan ini... sebenarnya adalah milikku?

"Kakek ingin kamu merasa aku memanfaatkanmu, Nara. Dia ingin kamu berpikir aku hanya mengelola asetmu. Tapi kenyataannya, aku sudah menyiapkan semua dokumennya agar kamu bisa mengambil alih semuanya kapan pun kamu mau. Aku nggak butuh uang itu. Aku sudah punya cukup dari usahaku sendiri."

Aku menatap cincin di jariku. Rasa ragu yang tadi ditanamkan Kakek perlahan memudar, digantikan oleh rasa haru yang luar biasa. Pria di depanku ini benar-benar telah memikirkan segalanya. Dia tidak hanya menyelamatkanku, dia juga mengembalikan apa yang seharusnya menjadi hak keluargaku.

Aku memeluk Bimo erat-erat, menyembunyikan wajahku di dadanya. "Maafin aku karena sempat ragu, Bim."

Bimo membalas pelukanku, mencium puncak kepalaku. "Nggak apa-apa. Itu wajar. Menghadapi Kakek itu kayak masuk ke sarang ular. Sekarang, lupakan semua kata-katanya. Kita akan pulang, kita akan temui Ayahmu, dan kita akan mulai hidup yang baru."

Malam harinya, di rumah aman di Bogor, aku duduk di teras bersama Ayah. Kami menatap bintang-bintang yang terlihat sangat jelas di langit pegunungan. Ayah menyesap teh hangatnya, tampak jauh lebih sehat dan tenang.

"Nara," panggil Ayah pelan.

"Ya, Yah?"

"Bimo sudah menceritakan semuanya pada Ayah soal dana itu. Dia pria yang sangat bertanggung jawab. Ayah harap kamu bisa menjaganya, sebagaimana dia menjagamu."

Aku tersenyum, menyandarkan kepalaku di bahu Ayah. "Iya, Yah. Nara tahu."

"Tapi ada satu hal yang harus kamu ingat," lanjut Ayah. "Uang dan kekuasaan itu seperti api. Kalau kamu nggak hati-hati, kamu bisa terbakar. Jangan biarkan warisan itu mengubah siapa dirimu. Tetaplah menjadi Nara yang suka menulis, yang peduli pada hal-hal kecil."

"Pasti, Yah. Nara janji."

Aku mengambil ponselku, membuka aplikasi menulisku yang sudah lama tidak kusentuh dengan serius. Aku melihat judul-judul bab yang sudah kita lewati. Pengkhianatan, ledakan, pertemuan dengan ibu Bimo yang misterius, hingga konfrontasi dengan sang singa tua.

Aku mulai mengetik baris-baris baru untuk bab ini.

Seringkali kita mencari pahlawan dalam cerita fiksi, tanpa menyadari bahwa pahlawan yang sesungguhnya adalah mereka yang berani mengakui kegelapan masa lalunya demi membangun masa depan yang lebih terang. Kakek Wijaya mungkin masih merasa dia adalah pemain catur yang hebat, tapi dia lupa satu hal: dalam permainan hidup, hati yang tulus akan selalu menemukan jalan keluar dari labirin yang paling rumit sekalipun.

Aku menutup ponselku saat Bimo keluar membawa dua mangkuk mi instan panas—makanan mewah versi kami malam ini. Kami tertawa bersama, suara tawa yang tidak lagi tertahan oleh kontrak atau ancaman.

Badai mungkin belum sepenuhnya reda di luar sana, tim pengacara mungkin masih akan sibuk berbulan-bulan ke depan, dan media mungkin masih akan menggoreng berita tentang Wijaya Group. Tapi di sini, di teras kayu ini, cerita kami baru saja menemukan bab paling damainya.

Dan aku? Aku sudah siap untuk menulis bab selanjutnya—bab di mana aku tidak lagi dikejar oleh hantu masa lalu, melainkan berjalan beriringan dengan masa depan yang kupilih sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!