"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Cahaya matahari pagi mulai merayap masuk melalui celah gorden kamarku, namun bagiku, sinar itu terasa seperti lampu interogasi yang menyilaukan. Aku masih berbaring di atas ranjang, memeluk guling erat-erat dengan posisi meringkuk. Mataku terpejam, tapi aku tidak benar-benar tidur. Bagaimana mungkin aku bisa terlelap saat hari penghakiman sudah berdiri tepat di depan mataku?
Ponselku yang tergeletak di atas bantal bergetar berkali-kali. Layarnya menyala, menampilkan rentetan notifikasi yang seolah berlomba menarik perhatianku. Ada pesan dari Alina yang menanyakan kabar karena aku tidak biasanya sesunyi ini, ada pula celetukan Ali di grup toko yang menanyakan apakah aku sudah sampai di tempat kerja ia lupa kalau hari ini aku libur. Namun, yang paling membuat dadaku sesak adalah rentetan pesan dari Mas Dika.
Aku enggan menyentuh ponsel itu. Aku enggan melihat dunia luar. Rasanya aku ingin menghilang saja, tenggelam ke dalam bumi agar tidak perlu menghadapi kenyataan pahit ini. Setiap getaran ponsel itu terasa seperti detak jantung yang terpacu paksa. Aku memikirkan nasibku setelah jam ini berlalu. Bagaimana reaksi Ibu nanti? Bagaimana jika kabar ini sampai ke telinga Bapak di perantauan? Bapak yang selama ini bekerja keras demi aku, bapak yang sangat keras dan tempramen. Aku telah membuat kesalahan besar, dosa yang tidak hanya menghancurkan masa depanku, tapi juga harga diri kedua orang tuaku.
"Aira... sudah bangun, Nak? Itu ada tamu di depan," suara Ibu terdengar dari balik pintu, suaranya terdengar tenang namun mengandung nada tanya.
Jantungku rasanya berhenti berdetak saat itu juga. Tamu? Apakah itu mereka? Apakah Mas Dika benar-benar menepati janjinya sepagi ini?
Aku bangkit dengan kaki yang terasa sangat lemas. Aku menatap cermin sekilas; wajahku pucat, mataku sembap, dan rahasia di perutku terasa semakin berat untuk dipikul. Aku membasuh muka seadanya, memakai hijab dengan tangan gemetar, lalu melangkah keluar kamar.
Di ruang tamu yang sempit itu, suasananya terasa sangat asing. Ibu berdiri di dekat pintu dengan wajah bingung, sementara di hadapannya sudah berdiri Mas Dika, Bapaknya, dan seorang wanita yang aku kenali sebagai Mbak Diana kakak Mas Dika. Namun, yang paling membuatku menggigil adalah sosok Ibu Mas Dika yang duduk di kursi kayu dengan wajah pucat dan mata merah, didampingi Mbak Diana yang menatapku dengan sorot mata penuh kebencian.
"Lho, ini ada apa ya Pak, Bu? Kok rombongan begini?" tanya Ibuku dengan sopan, meski ia mulai menyadari ada ketegangan yang tidak biasa. Ibuku belum tahu. Ibuku masih menganggap mereka hanya tamu biasa.
Mas Dika menatapku. Matanya menunjukkan rasa bersalah yang amat dalam, namun ia berusaha memberikan senyum tipis yang dipaksakan sebuah isyarat bahwa aku harus kuat.
"Bu... perkenalkan, saya Bapaknya Dika. Kedatangan kami ke sini... ada hal sangat berat yang harus kami sampaikan kepada Ibu," ucap Bapak Mas Dika dengan nada suara yang rendah namun berwibawa.
Ibuku mempersilakan mereka duduk. Aku berdiri di sudut ruangan, meremas ujung hijabku hingga kusut. Dunia seolah melambat. Aku melihat Ibu mulai menatapku, lalu menatap perutku, lalu menatap keluarga Mas Dika bergantian. Kesunyian di ruangan itu terasa begitu mencekam, seolah oksigen di dalam sana baru saja disedot habis.
"Ada apa, Mas Dika? Aira?" suara Ibu mulai bergetar, firasat seorang ibu mulai bekerja.
Inilah saatnya. Rahasia yang kusimpan selama enam bulan ini akan segera meledak, menghancurkan kedamaian rumah ini, dan mengubah hidupku selamanya. Aku hanya bisa menunduk, menunggu kata pertama yang akan meluncur dari mulut Mas Dika atau Bapaknya, yang akan menjadi awal dari kehancuranku di mata Ibu.
"Bukannya kalian sudah putus? Beberapa bulan yang lalu Ibu sempat tanya hubungan kalian dan Aira bilang kalian sudah putus. Lalu ada masalah apa sampai ramai-ramai begini?" tanya Ibu. Suaranya terdengar sangat tulus, namun ada nada kecemasan yang mulai merayap di sana.
Mendengar pertanyaan Ibu, lidahku terasa seperti disengat listrik. Aku menunduk semakin dalam, tak berani melihat wajah Ibu yang selama ini aku bohongi. Kebohongan tentang hubungan kami yang berakhir itu hanyalah tameng agar Ibu tidak lagi bertanya-tanya mengapa Mas Dika sering muncul, tanpa aku sadari bahwa tameng itu justru akan menjadi belati yang menusuk Ibu lebih dalam hari ini.
Mas Dika berdehem pelan. Ia menoleh ke arah Bapaknya, lalu kembali menatap Ibuku dengan sorot mata penuh sesal.
"Bu... Dika mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dika dan Aira selama ini tidak benar-benar putus. Kami berbohong karena... karena kami takut hubungan kami tidak direstui," suara Mas Dika bergetar. Ia menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan sisa keberaniannya untuk menjatuhkan bom yang paling mematikan. "Dan alasan kami datang ke sini bersama Bapak dan Ibu saya adalah... untuk menyampaikan bahwa Aira sedang mengandung, Bu. Aira sedang hamil anak saya."
Prang!
Ibu yang tadinya hendak meletakkan nampan berisi air putih di atas meja, mendadak kaku. Gelas di atas nampan itu bergeser dan jatuh, pecah berkeping-keping di atas lantai tegel, sama seperti hati Ibu yang mungkin hancur berkeping-keping saat itu juga.
Ibu terdiam. Ruangan itu mendadak sunyi sesunyi kuburan. Mata Ibu yang tadi menatap Mas Dika, perlahan-lahan beralih ke arahku. Aku bisa merasakan tatapan itu—tatapan yang penuh dengan ketidakpercayaan, luka, dan kehancuran. Ibu perlahan mendekat ke arahku, langkahnya gontai seolah kakinya tak lagi sanggup menopang berat tubuhnya sendiri.
"Ra... Mas Dika bicara apa, Nak?" suara Ibu sangat pelan, hampir menyerupai bisikan. "Hamil? Kamu... kamu bohongi Ibu soal putus itu supaya kamu bisa menutupi ini?"
Aku hanya bisa menangis sesenggukan, menutup wajahku dengan kedua tangan. "Maafin Aira, Bu... maafin Aira..."
Ibu menatap perutku yang selama ini aku tutupi dengan jaket atau baju longgar. Dengan tangan gemetar, Ibu meraih ujung jaketku, seolah ingin memastikan sendiri kenyataan pahit itu. Saat ia melihat lekuk perutku yang sudah membuncit enam bulan, Ibu mundur satu langkah. Napasnya tersengal-sengal.
"Enam bulan, Bu... sudah enam bulan," celetuk Mbak Diana tiba-tiba dengan nada ketus. "Anak Ibu dan adik saya sudah melakukannya sejauh itu di belakang kita semua. Kami juga baru tahu semalam."
"Diana, jaga bicaramu!" tegur Bapak Mas Dika tegas, namun Mbak Diana hanya membuang muka dengan tatapan jijik ke arahku.
Ibu kembali menatapku, matanya kini berkaca-kaca hebat. "Enam bulan kamu simpan ini dari Ibu, Ra? Kamu biarkan Ibu terlihat seperti orang bodoh di rumah ini? Kamu biarkan Ibu membanggakan kamu di depan tetangga, sementara kamu..." kalimat Ibu terputus oleh isak tangis yang meledak.
Ibu jatuh terduduk di lantai, tepat di samping pecahan gelas yang berserakan. Ia menangis tersedu-sedu, memukuli dadanya sendiri seolah ingin menghilangkan rasa sesak yang luar biasa. Melihat Ibu hancur seperti itu, aku merasa seperti monster paling jahat di dunia.
"Mas Dika tanggung jawab, Bu! Dika akan nikahi Aira secepatnya!" seru Mas Dika sembari berlutut di depan Ibuku, berusaha memohon maaf.
"Nikahi?" Ibu tertawa dalam tangisnya, sebuah tawa pahit yang menyakitkan telinga. "Lalu bagaimana dengan Bapaknya? Bagaimana aku harus bicara dengan suamiku yang bekerja keras di sana kalau anak perempuan yang dia jaga baik-baik sudah dirusak?"
Suasana di ruang tamu itu benar-benar kacau. Tangisan Ibu Aira bersahutan dengan isak tangis Ibu Dika yang sedari tadi hanya diam menunduk lemas. Inilah pagi yang paling aku takuti, pagi di mana semua topeng ketenanganku dilepas paksa, menyisakan luka yang mungkin takkan pernah bisa sembuh bagi kedua keluarga.