Di dunia di mana energi gaib dan iblis berkeliaran, Nam Ling adalah pemburu iblis yang telah hidup lebih dari seratus tahun berkat kekuatan pedang abadi yang menyatu dengan dirinya. Dulu seorang prajurit kerajaan yang terhormat, dia kehilangan segalanya ketika iblis membanjiri daratan dan membunuh orang tersayangnya.
Setelah menghabiskan abad untuk memburu makhluk kegelapan, Nam Ling tiba di Desa Hua—tempat yang dikabarkan menjadi sarang energi jahat baru yang lebih kuat dari iblis biasa. Di sana, dia bertemu dengan Yue Xin, seorang gadis muda yang memiliki kemampuan melihat jalur energi gaib dan menyimpan rahasia besar tentang asal-usul kekuatan pedang Nam Ling.
Saat makhluk kegelapan yang lebih kuat mulai muncul dan mengancam keselamatan seluruh daratan, Nam Ling harus memilih antara melanjutkan dendam pribadi atau bekerja sama dengan Yue Xin dan penduduk desa untuk menghentikan bahaya yang akan menghancurkan dunia. Di balik pertempuran yang tak berkesudahan, tersembunyi rahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keiro_ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 – AKAR KEHANCURAN DI HUTAN PURBA
Jika gurun adalah panas yang membakar dan laut adalah gelombang yang menelan, maka Wilayah Tengah adalah tempat di mana kehidupan dan kematian berdampingan dalam keheningan yang mematikan. Di sini terbentang Hutan Hitam Purba, sebuah hutan lebat yang pohon-pohonnya setinggi gunung dan akarnya menjalar hingga ke pusat bumi.
Di tempat inilah Tim Inti dipimpin oleh Serena bertugas. Wilayah ini sangat krusial karena dipercaya sebagai pusat aliran energi dunia. Jika energi di sini terkontaminasi, maka seluruh penjuru dunia akan melemah. Dan di kedalaman hutan ini, tersembunyi makam Iblis Tanah – Gaius, raksasa purba yang konon bisa mengguncang dunia hingga hancur berkeping-keping.
Serena berdiri di atas dahan pohon raksasa. Ia mengenakan jubah hijau alami yang menyatu dengan lingkungan. Di tangannya terdapat tongkat yang terbuat dari kayu pohon kehidupan. Matanya yang biasanya lembut kini menyala waspada. Udara di hutan ini terasa berat, penuh dengan bau tanah basah dan bau busuk yang menyengat.
“Semua unit, waspada,” bisik Serena melalui komunikasi pikiran kepada pasukannya yang tersebar di pepohonan. “Energi jahat sudah sangat dekat. Mereka tidak akan menyerang dengan terang-terangan. Mereka akan menggunakan tipu daya dan lingkungan ini untuk melawan kita.”
Benar saja, baru saja ia mengucapkan itu, tanah di bawah kaki mereka bergetar pelan. Getaran itu bukan gempa biasa, melainkan langkah kaki ribuan makhluk yang bergerak dari bawah tanah.
SERANGAN DARI DALAM BUMI
Tiba-tiba, tanah pecah! Ribuan makhluk iblis berwujud semut raksasa, cacing tanah berduri, dan golem batu melompat keluar. Mereka bukan hanya menyerang, tapi juga mulai menggerogoti akar pohon-pohon besar, membuat hutan ini kehilangan nyawanya.
Di tengah hutan, puluhan penyihir kultus telah mendirikan altar hitam. Mereka menuangkan cairan hitam ke tanah, memanggil kekuatan Iblis Tanah.
“BANGKITLAH, GAIUS!” teriak mereka serempak. “GUNCANGLAH DUNIA INI SAMPAI SEMUA PERADABAN HILANG!”
Pohon-pohon purba mulai layu dan berubah menjadi hitam. Akar-akar yang tadinya menjadi penyeimbang energi kini berubah menjadi tentakel raksasa yang menyerang siapa saja yang lewat.
“JANGAN BIARKAN MEREKA MERACUNI AKAR HIDUP!” seru Serena. Ia melompat turun, dan saat kakinya menyentuh tanah, cahaya hijau menyebar keluar. Tanah yang disentuhnya menjadi hijau kembali dan tumbuhan liar muncul untuk mengikat kaki musuh-musuhnya.
Pertempuran pun meletus. Serena bertarung dengan anggun namun mematikan. Ia tidak menggunakan pedang atau tombak, melainkan mengendalikan alam itu sendiri. Duri-duri tajam muncul dari tanah untuk menusuk musuh, dan akar pohon menjadi perisai yang tak tertembus.
Namun musuh kali ini licik. Pemimpin Kultus Tanah, seorang pria besar dengan kulit seperti batu bara, tertawa melihat usaha Serena.
“Kau mengendalikan tanaman, gadis kecil? Tapi kau lupa, di wilayah ini, AKU ADALAH RAJANYA TANAH!”
Pria itu menghentakkan kakinya ke tanah. DUM! Tiba-tiba duri-duri hitam keluar dari mana-mana, menusuk pasukan Serena. Tanah menjadi rawa-rawa dan lengket seperti lumpur aktif, membuat gerakan pasukan Serena menjadi sangat lambat.
Satu per satu prajurit mulai terjatuh, terperangkap dalam lumpur hidup itu. Serena mencoba menyembuhkan mereka dan membebaskan, tapi serangan datang dari segala arah.
“Pemimpin Serena! Kami tidak bisa bergerak! Tanah ini menahan kami!” teriak salah satu prajurit panik.
Serena mulai terdesak. Dadanya terasa sesak. Ia melihat altar di tengah sudah mulai berwarna merah gelap. Iblis Tanah hampir bangkit.
PANGGILAN YANG HAMPIR PUTUS
Di markas utama, Nam Ling sedang memantau kondisi semua lini. Tiba-tiba wajahnya berubah pucat. Ia merasakan sensasi tercekik, seolah tanah menutupi mulut dan hidungnya. Gambar-gambar hutan yang mati dan Serena yang kesulitan bernapas muncul di benaknya.
“Serena!” seru Nam Ling terbangun dari meditasinya. “Wilayah Tengah diserang! Situasinya sangat buruk! Mereka meracuni sumber energi utama!”
Yue Xin segera memeriksa gelang komunikasinya. “Sinyalnya sangat buruk, Nam Ling! Gangguan energinya tebal sekali seperti dinding! Aku hampir tidak bisa menembusnya!”
“Kita harus mencoba!” mata Nam Ling membulat tegas. “Jika Wilayah Tengah jatuh, semua lini lainnya akan putus koneksinya! Serena membutuhkan kita SEKARANG!”
Mereka berdua segera duduk bersila, menggenggam tangan erat-erat. Kali ini lebih sulit dari sebelumnya. Energi gelap di sana sangat pekat, seperti menolak bantuan dari luar.
“YUE XIN! GUNAKAN SELURUH KEKUATANMU! BUKA JALURNYA!” teriak Nam Ling.
“YA!”
Energi Merah dari Nam Ling dan Emas dari Yue Xin menyatu menjadi cahaya Ungu yang menyilaukan. Mereka memaksanya menembus penghalang energi jahat itu sekeras-kerasnya.
CAHAYA KEHIDUPAN
Kembali di Hutan Purba, Serena sudah terduduk lemas di tengah lumpur. Pemimpin Kultus sudah berdiri di depannya, siap memberikan serangan mematikan.
“Berakhirlah sudah, Penjaga Hutan. Dunia ini akan kembali menjadi tanah kosong seperti asalnya!”
Tangan besar pria itu berubah menjadi batu dan diayunkan ke arah kepala Serena.
TRANG!!!
Tiba-tiba sebuah cahaya Ungu yang sangat terang meledak tepat di depan Serena. Pukulan pemimpin kultus itu terpental balik, membuatnya terlempar beberapa meter.
Serena terkejut saat merasakan aliran energi yang hangat dan murni mengalir deras masuk ke dalam tubuhnya. Rasa lelah hilang seketika. Bahkan luka-luka di tubuhnya menutup dengan cepat karena pertumbuhan kulit yang dipercepat oleh energi baru itu.
“Ini… energi kehidupan murni…” bisik Serena. Ia menengadah ke langit. “Terima kasih, Nam Ling… Terima kasih, Yue Xin…”
TRANSFORMASI: IBU PERTIWI
Serena berdiri perlahan. Cahaya hijau menyelimuti tubuhnya, bercampur dengan cahaya ungu dari bantuan Nam Ling. Rambutnya melayang-layang seolah ditiup angin gaib. Matanya berubah menjadi warna zamrud yang bersinar terang. Di sekelilingnya, bunga-bunga bermekaran dengan cepat, bahkan di atas tanah yang tadinya hitam dan mati.
“Kalian salah jika mengira alam ini bisa kalian kuasai dengan kekerasan,” ucap Serena dengan suara yang bergema, bukan hanya lewat telinga tapi langsung ke dalam pikiran musuh. “Alam memberi kehidupan, tapi alam juga bisa mengambilnya kembali dengan sangat cepat.”
Ia mengangkat tongkat kayunya tinggi-tinggi. “TEKNIK RAHASIA: HUTAN PENAHAN DUNIA!”
WUSH!
Dari dalam tanah, ribuan akar raksasa tumbuh dalam sekejap mata. Akar-akar itu tidak menyerang, melainkan membentuk jaring-jaring raksasa yang menahan seluruh tanah yang hendak runtuh. Mereka memotong aliran energi hitam yang menuju ke altar, dan membalikkannya kembali ke arah para penyihir.
“TIDAK MUNGKIN!” teriak Pemimpin Kultus dengan panik. “BAGAIMANA BISA TANAH INI MENOLAK KITA?!”
“Karena hati kalian yang gelap tidak pantas memerintah alam,” jawab Serena dingin. Ia mengayunkan tangannya ke bawah. Akar-akar raksasa itu bergerak cepat, mengikat seluruh anggota kultus dan menghancurkan altar hitam mereka menjadi debu.
BRAAK!
Altar hancur. Getaran tanah berhenti. Iblis Tanah yang hampir keluar kembali tertidur pulas di dalam perut bumi, terkunci lebih rapat dari sebelumnya. Hutan yang tadinya layu kini kembali hijau rimbun, bahkan lebih indah dari sebelumnya.
RAHASIA DI BALIK SERANGAN
Pemimpin Kultus yang terikat akar menatap Serena dengan mata penuh kebencian dan keputusasaan.
“Kalian menang kali ini… tapi ketahuilah… semakin kuat energi yang kalian keluarkan… semakin jelas aroma kalian tercium oleh TUHAN KITA…”
Ia tersenyum sinis. “Kalian pikir kami hanya ingin membangunkan lima iblis itu? Salah besar. Mereka hanyalah pengalihan perhatian. Tujuan sesungguhnya kami… adalah menangkap kalian para ‘Wadah Energi’ ini untuk membangkitkan SATU TUHAN YANG SEBENARNYA!”
Serena terkejut mendengarnya. “Apa maksudmu? Satu Tuhan yang sebenarnya?”
“Cari saja tahu sendiri,” ejek pria itu. Tubuhnya tiba-tiba menghitam dan meledak menjadi asap, lolos dari ikatan akar. “Tunggu saja, Pemimpin Nam Ling… para wanitanya… semuanya akan menjadi persembahan bagi Yang Maha Kuasa!”
KEBENARAN YANG MENGERIKAN
Beberapa jam kemudian, di markas utama, suasana sangat hening dan mencekam. Serena sudah kembali dan menceritakan semua yang dikatakan musuh.
Nam Ling, Liya, Elara, Lira, Marina, dan yang lainnya duduk melingkar. Wajah mereka semua tampak serius.
“Jadi… selama ini kita melawan cabang-cabang saja…” ucap Elara pelan, keningnya berkerut dalam. “Membangunkan lima Iblis Elemen hanyalah cara mereka untuk menguras tenaga kita dan mengumpulkan data. Target utamanya… adalah kita bertujuh.”
“Dan tujuan akhirnya?” tanya Liya dengan nada dingin. “Membangkitkan satu entitas yang lebih kuat dari gabungan kelima iblis itu?”
Serena mengangguk lemah. “Mereka menyebutnya… ‘Yang Maha Kuasa’. Mereka membutuhkan energi murni dari kita tujuh untuk ritual itu.”
Nam Ling mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Api kemarahan membara di dadanya. Mereka berniat menjadikan orang-orang yang ia sayangi sebagai korban?
“Berani mereka…” geram Nam Ling. “Selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkan satu pun rambut kalian terkulai lepas karena mereka.”
Ia berdiri dan menatap rekan-rekannya.
“Tapi ucapan musuh tadi mengubah segalanya. Mereka licik dan mereka bermain curang. Mulai sekarang, kita tidak hanya bertarung untuk menghentikan ritual. Kita bertarung untuk menyelamatkan nyawa kita sendiri dan melindungi masa depan.”
Ia menatap satu per satu wajah wanita-wanita hebat di depannya.
“Tinggal dua wilayah lagi: Utara dan Barat. Liya dan Elara, kalian yang akan menjaganya. Tapi ingat pesan ini: Jangan pernah memisahkan diri. Jangan pernah sendirian. Musuh tidak ingin membunuh kalian, mereka ingin menangkap kalian hidup-hidup.”
“Kami mengerti,” jawab Liya dan Elara serempak.
“Dan untukku,” lanjut Nam Ling sambil mencengkeram gagang pedangnya, “Aku akan mulai bergerak. Aku tidak akan lagi duduk diam di markas menunggu laporan. Aku akan pergi ke medan perang dan memotong kepala ular ini sebelum sempat menggigit.”
Badai semakin mendekat. Dan kali ini, badai itu tidak hanya ingin menghancurkan dunia, tapi juga ingin merenggut hal paling berharga yang dimiliki oleh Nam Ling.