NovelToon NovelToon
Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
​Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
​Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Sisa Kehangatan dan Isyarat yang Terbelah

Cahaya fajar menyelinap malu-malu menembus tirai tipis apartemen Kebayoran Baru, melukis garis-garis keemasan di atas ranjang berbalut seprai katun Mesir yang berantakan. Udara dingin dari pendingin ruangan masih berembus pelan, membawa sisa-sisa aroma lilin melati yang telah meredup sejak beberapa jam lalu.

Andra Bayu terbangun ketika jam digital di atas nakas menunjukkan pukul lima pagi. Rasa hangat dari tubuh Nadia yang tidur melingkar di sampingnya, dengan satu tangan wanita itu memeluk erat pinggang tegapnya, sempat membuat Andra enggan bergerak. Wajah Nadia tampak begitu polos tanpa beban di bawah temaram fajar, jauh dari kesan wanita besi yang ditakuti di lantai 17.

Namun, Andra tahu batas waktu permainan ini. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, ia memindahkan tangan halus Nadia dari perutnya, lalu bangkit dari tempat tidur. Ia memungut kemeja abu-abu gelapnya yang tergeletak di lantai, memakainya kembali sembari berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke lanskap kota Jakarta yang mulai terjaga.

Pikiran Andra mendadak kembali dingin. Kehangatan intim yang baru saja ia lalui bersama Nadia terasa seperti candu yang memabukkan, sekaligus alarm yang terus berdering di kepalanya. Kata-kata Diana tentang aliansi saham dan status hukum seolah menjadi bayang-bayang hitam yang berdiri di sudut kamar mewah ini, mengintai setiap embus napas mereka.

(Kenapa sudah bangun, Andra?) suara serak khas bangun tidur milik Nadia memecah keheningan.

Andra menoleh, mendapati Nadia sudah duduk bersandarkan bantal, menarik selimut putih gading untuk menutupi dadanya. Rambutnya yang sedikit acak-acakan justru menambah kesan seksi dan matang pada penampilannya pagi ini.

(Saya harus segera pulang ke kontrakan untuk bersiap-siap, Mbak Nadia. Kurang baik jika ada staf apartemen atau tetangga yang melihat saya keluar dari unit ini terlalu siang,) jawab Andra dengan suara baritonnya yang tenang namun tegas.

Nadia mengembuskan napas panjang, ada gurat kekecewaan yang samar di wajah cantiknya, namun ia tidak bisa membantah logika Andra. (Kamu selalu memikirkan hal-hal detail seperti itu. Kemarilah sebentar sebelum kamu pergi.)

Andra melangkah kembali ke tepi ranjang. Nadia meraih tangan kanan Andra yang besar dan kapalan, menggenggamnya erat lalu mengecup punggung tangan pemuda desa itu dengan penuh perasaan.

(Ingat, sore ini ada rapat pleno direksi bersama perwakilan investor dari Bali terkait laporan kuartal pertama. Kemungkinan besar Mas Gunawan akan hadir secara virtual atau bahkan datang langsung. Kamu harus mendampingi saya sebagai Account Executive baru yang memegang proyek SCBD. Tunjukkan pada mereka bahwa pilihan saya tidak salah,) ujar Nadia, matanya menatap Andra dengan binar penuh harap dan kepemilikan.

(Nggih, Mbak. Saya akan mempersiapkan seluruh datanya dengan matang,) jawab Andra patuh.

Setelah berpamitan dengan sebuah kecupan singkat di kening Nadia, Andra meninggalkan apartemen mewah itu. Motor bebek tuanya kembali membelah aspal Jakarta yang masih basah oleh embun pagi, menuju kontrakan sederhananya di daerah Palmerah untuk berganti pakaian.

Pukul sepuluh siang, suasana di lantai 17 Apex Media sudah terasa sangat tegang. Para staf dari divisi kreatif dan pemasaran tampak berlarian kecil membawa tumpukan dokumen. Rapat pleno direksi yang dijadwalkan pukul dua siang nanti adalah penentu masa depan beberapa proyek besar, termasuk proyek kosmetik dengan Diana yang baru saja ditandatangani kemarin.

Andra duduk di balik meja kerja barunya, menatap tajam barisan angka grafik performa di layar laptop korporatnya. Ia memakai kemeja biru navy baru dengan potongan slim-fit yang mempertegas bahu bidangnya—pakaian yang ia beli sendiri dengan saku pertamanya, sebagai bentuk usaha untuk mulai membangun identitasnya sendiri tanpa terus-menerus bergantung pada pemberian Nadia.

Pintu ruangannya diketuk dengan tergesa-gesa. Citra melangkah masuk dengan wajah yang sedikit memucat.

(Andra, gawat. Barusan ada instruksi dari sekretaris utama direksi. Pak Gunawan ternyata tidak jadi hadir lewat Zoom. Beliau sudah mendarat di Jakarta sejak subuh tadi dan sekarang sedang dalam perjalanan menuju kantor bersama tim audit pribadinya,) bisik Citra dengan nada panik. (Mereka minta seluruh berkas kontrak fisik proyek SCBD yang kamu bawa kemarin disiapkan di meja rapat sekarang juga untuk diperiksa ulang.)

Jantung Andra berdegup kencang sesaat, namun ia langsung memaksakan dirinya untuk tetap tenang. Pengalamannya menghadapi kerasnya hidup membuat mental Andra tidak mudah ambruk. Ini adalah konfrontasi pertama yang sesungguhnya di area formal kantor. Gunawan jelas sengaja datang langsung untuk mencari celah kesalahannya dan menjatuhkan harga dirinya lagi di depan seluruh dewan direksi.

(Tenang, Mbak Citra. Semua berkas sudah lengkap, sah, dan tidak ada cacat hukum sedikit pun. Saya akan bawa dokumennya sendiri ke ruang rapat utama sekarang,) jawab Andra dengan suara yang sangat stabil dan berwibawa, membuat Citra sedikit merasa tenang melihat ketegasan sang Account Executive muda.

Saat Andra mengambil map tebal dari lacinya, layar telepon genggam jadul di saku celananya kembali bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun gaya bahasanya sangat ia kenali. Kali ini, pesan itu datang dari menara kaca seberang.

(Aku dengar si pengecut Gunawan pulang untuk mencarimu siang ini, Andra Bayu. Ingat apa yang kukatakan kemarin di kafe lobi. Jika kamu butuh dinding hukum yang kokoh untuk menghantam balik auditnya, gunakan pasal pengecualian di halaman dua belas kontrak yang sudah kutandatangani. Jangan biarkan mereka menginjak permata yang sudah mulai berkilau. – Diana)

Andra menatap layar HP-nya dengan senyuman tipis yang dingin di sudut bibirnya. Di tangan kanannya ada dokumen dari Nadia yang harus ia pertahankan, dan di tangan kirinya ada peluru rahasia yang diberikan oleh Diana. Langkah kakinya yang dibungkus sepatu kulit hitam kini melangkah mantap keluar dari ruangan privatnya menuju ruang rapat utama di ujung lantai 17. Babak pertempuran intrik, harga diri, dan kekuasaan di antara dua wanita sukses dan satu penguasa lama kini resmi dimulai di atas meja hijau direksi.

1
Master Haki
terbaik dan bikin penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!