NovelToon NovelToon
The Broken Lens

The Broken Lens

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Vian's

Sinopsis: The Broken Lens

Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.

Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.

Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19: Naluri yang Mengusik Senja

Karya Vian's

Denting lonceng di atas pintu depan kedai Thalassa Coffee berbunyi untuk yang kesekian kalinya, mengantar sekelompok karyawan kantoran yang baru saja menyelesaikan makan siang mereka. Begitu pintu tertutup rapat, suasana di dalam kedai mendadak terasa lengang, menyisakan helaan napas lega dari orang-orang di balik meja bar. Jam sibuk yang menguras tenaga akhirnya resmi berlalu.

Aroma pekat dari biji kopi yang digiling halus masih menggantung tebal di udara, bercampur dengan sisa wangi kayu manis dari etalase kue yang kini sudah mulai kosong. Di sudut bar, Savya berdiri diam. Tangannya memegang sebuah cangkir keramik kosong, namun pikirannya melayang jauh. Tatapannya kosong menatap dasar cangkir, sebelum akhirnya sebuah helaan napas panjang yang berat lolos dari bibirnya. Ia meletakkan cangkir itu dengan ketukan yang sedikit tertahan di atas meja marmer.

"Sila, Arka, Farel, Mika... bisa ke sini sebentar? Ada yang mau aku bicarakan," panggil Savya. Suaranya tidak keras, namun ada nada serius yang langsung memotong gerakan anak-anak kedai.

Sila yang sedang menumpuk nampan kotor di dekat tempat cucian piring langsung menghentikan kegiatannya. Ia mengelap tangannya yang basah pada apron, lalu melangkah mendekat paling depan dengan kening berkerut. "Ada apa, Mbak? Mukanya kok mendadak tegang begitu? Bikin aku tiba-tiba deg-degan saja. Ada komplain dari pelanggan kah?"

Farel yang sedang sibuk membersihkan sisa bubuk kopi di porta filter mesin espresso juga ikut mendongak. Ia meletakkan alatnya, menyilangkan dada di depan dada, lalu menatap Savya dengan penuh perhatian. Sementara itu, Arka dan Mika yang baru saja selesai mengelap meja di area tengah ikut merapat, membuat barisan kecil di depan meja bar.

Savya membasahi bibirnya yang terasa kering. Sorot matanya bergerak, menatap mereka satu per satu dengan rasa sayang sekaligus kecemasan yang coba ia sembunyikan. "Ini bukan tentang komplain pelanggan, Sila. Ini... tentang kejadian kemarin di supermarket. Waktu Katya mendadak muncul dan membuat keributan."

Mendengar nama Katya disebut, atmosfer di balik meja bar seketika berubah kaku. Sila dan Farel, sebagai orang yang paling lama bekerja dengan Savya, langsung saling lempar pandang dengan raut wajah yang berubah drastis.

"Mbak, tadi pagi Mas Valerius kan juga sempat mengingatkan kita sebelum pergi ke kantor," sahut Farel dengan suara beratnya yang tenang namun tegas. "Dia bilang kita harus lebih waspada dan pastikan semua pintu terkunci. Apa ada hal lain lagi yang perlu kita khawatirkan?"

Savya menggeleng pelan, lalu menyandarkan kedua tangannya di pinggiran meja bar. "Valerius memang mengingatkan kita, Farel. Tapi jujur... tanpa peringatan dari dia pun, aku adalah orang yang paling tahu seberapa nekatnya sifat Katya. Aku yang menghadapi dia selama bertahun-tahun."

Savya mengambil jeda sejenak, meremas jemarinya sendiri untuk mengusir rasa dingin yang mendadak menyerang tangannya akibat ingatan masa lalu. "Katya bukan tipe orang yang bakal kapok atau mundur cuma karena digagalkan kemarin di supermarket. Justru sebaliknya. Dipermalukan di depan umum seperti itu pasti membuat harga dirinya terluka. Dan kalau dia sudah tahu aku ada di sekitar komplek pertokoan ini, dia tidak akan tinggal diam. Naluriku mengatakan kalau dia pasti sedang merencanakan sesuatu untuk mengacaukan tempat ini."

"Maksud Mbak Savya, perempuan itu bisa saja nekat datang langsung ke kedai kita?" tanya Sila, suaranya sedikit meninggi karena cemas. Ia memajukan tubuhnya. "Aduh, Mbak, kalau dia datang ke sini dan mengamuk saat kedai lagi ramai bagaimana? Bisa rusak reputasi Thalassa yang baru kita bangun susah payah."

"Kemungkinan itu pasti ada, Sila. Orang yang dikuasai kebencian dan dendam seperti Katya tidak akan pernah berpikir logis," jawab Savya dengan tatapan mata yang menyiratkan ketegaran, mencoba menenangkan Sila meskipun hatinya sendiri bergetar. "Karena itu, mulai hari ini, kita tidak boleh lengah sedikit pun. Kita harus memperketat semuanya. Farel, tolong pastikan pintu belakang selalu dikunci rapat setelah ada pasokan bahan kue atau kopi yang masuk. Jangan dibiarkan menganga tanpa pengawasan. Dan untuk pintu depan, begitu pelanggan terakhir keluar nanti malam, langsung kunci dari dalam."

Melihat suasana yang mendadak berubah mencekam dan berat, Arka yang sejak tadi diam langsung menegakkan punggungnya. Pria muda itu sengaja berdehem keras, mencoba mengusir kabut ketakutan yang mulai menyelimuti wajah teman-temannya.

"Siap laksanakan, Mbak Bos! Tenang, jangan panik, jangan risau!" seru Arka dengan nada menggebu-gebu sembari menepuk dadanya sendiri dengan sangat bangga, sampai menimbulkan suara puk-puk yang cukup keras. "Mulai detik ini, benteng pertahanan Thalassa Coffee akan dijaga ketat oleh dua ksatria tangguh bin perkasa, yaitu saya dan Mas Farel! Kalau si Mak Lampir berkepala batu itu berani menginjakkan kakinya ke sini, saya sudah merancang sebuah ide brilian nan taktis!"

Sila memutar bola matanya malas, namun pandangannya tetap tertuju pada Arka. "Ide taktis apa lagi dari otak jenius mu itu, Ka? Jangan yang aneh-aneh ya."

"Oh, tentu tidak aneh, Mbak Sila. Ini sangat ilmiah!" Arka mencondongkan tubuhnya ke depan meja bar, matanya berbinar jenaka. "Kita pasang jebakan di atas kusen pintu belakang. Kita pakai ember hitam besar, lalu diisi penuh sampai luber dengan bubuk kopi kedaluwarsa yang baunya ampun-ampunan itu. Begitu dia buka pintu belakang... BYUR! Langsung tumpah tepat di atas kepalanya. Dijamin dia bakal bersin-bersin semalaman sampai pingsan di tempat karena keharuman kopi kita! Gimana? Keren kan?"

Sila spontan melayangkan tabokan gemas ke bahu Arka, membuat pria itu mengaduh sambil memegangi lengannya. "Heh, Arka! Orang lagi bahas masalah keamanan nyawa dan keselamatan kedai, kamu malah mau bikin syuting film komedi! Lagian mana ada jebakan sekonyol itu di dunia nyata, emangnya kita lagi main film anak-anak!"

"Loh, efektif tahu, Mbak! Daripada pakai kekerasan, lebih baik pakai jalur aroma terapi," bela Arka sambil nyengir lebar, sukses membuat sudut bibir Farel sedikit terangkat menahan tawa.

Di tengah perdebatan kecil itu, Mika yang sejak tadi hanya menyimak dengan ritme gerakannya yang super lambat, tiba-tiba mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia menatap Arka dengan wajah polos tanpa dosa, mengedipkan matanya perlahan sebelum akhirnya membuka suara dengan temponya yang khas.

"Tapi Arka..." ucap Mika, membuat semua orang di barisan itu menoleh kepadanya, menanti kelanjutan kalimatnya. Mika menjeda kalimatnya selama tiga detik, membetulkan letak apronnya terlebih dahulu. "Kalau pintu belakang dikasih bubuk kopi banyak-banyak begitu... nanti bukan Mak Lampir yang pingsan..."

"Terus siapa dong, Mik?" pancing Arka gemas karena tempo bicara Mika yang lambat.

"...tapi semut-semut hitam satu komplek... yang datang berbaris buat pesta..." lanjut Mika dengan wajah yang sangat serius, seolah dia baru saja menyampaikan teori konspirasi tingkat tinggi.

Mendengar tanggapan Mika yang selalu telat beberapa detik namun sangat logis itu, tawa Sila langsung pecah seketika di balik meja bar. Farel hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah sambil menutup wajahnya dengan sebelah tangan demi menyembunyikan senyum lebarnya. Savya sendiri tidak bisa menahan diri; ia tertawa kecil, merasakan kehangatan yang luar biasa besar menjalar di dadanya.

Beban berat dan rasa takut yang sempat membayangi pundak Savya sejak kemarin perlahan-lahan mengikis habis. Ia menatap keempat karyawannya dengan rasa syukur yang mendalam. Di tengah ancaman masa lalu yang menakutkan, ia tahu ia tidak lagi sendirian. Ia memiliki tim—sebuah keluarga kecil—yang selalu tahu cara mengembalikan kekuatannya di saat-saat tersulit.

Waktu pun bergulir dengan cepat, membawa siang pergi dan mengundang senja yang perlahan meredup di langit barat. Langit di atas kota berubah menjadi semburat jingga keunguan yang indah namun terasa dingin. Suasana di dalam kedai sudah mulai sepi, hanya menyisakan satu meja pelanggan di area luar yang sedang sibuk merapikan barang-barang mereka, bersiap untuk pulang sebelum malam benar-benar jatuh.

Savya berjalan perlahan mendekati jendela kaca besar yang membatasi area dalam kedai dengan jalanan utama. Di tangannya, ada selembar kain lap bersih dan sebotol cairan pembersih. Ia menyemprotkan sedikit cairan itu ke permukaan kaca, lalu mulai menggerakkan tangannya dalam pola memutar, membersihkan sisa-sisa noda sidik jari yang tertinggal di sana sepanjang hari.

Tepat saat tangannya bergerak ke sudut atas kaca, gerakan Savya seketika terhenti. Kain lap di genggamannya tertahan di udara.

Tatapan mata Savya secara tidak sengaja terlempar menembus kaca, lurus ke seberang jalan komplek pertokoan yang kini mulai diselimuti bayang-bayang temaram senja. Di bawah naungan sebuah pohon rindang yang berdiri kokoh di trotoar seberang, tampak siluet seseorang berdiri diam di sana.

Jantung Savya mendadak berdegup kencang, memompa darah dengan ritme yang memburu hingga menimbulkan rasa ngilu di dadanya.

Siluet bertubuh ramping itu berdiri tegak, membelakangi lampu jalanan yang baru saja menyala, sehingga wajahnya tidak terlihat jelas. Namun, arah pandangannya sangat jelas; lurus terkunci menembus kaca kedai, tepat ke arah tempat Savya berdiri saat ini. Walaupun jarak mereka terpisahkan oleh dua jalur jalanan yang mulai dilewati kendaraan, naluri Savya yang sangat mengenal postur tubuh, gestur angkuh, dan aura penuh kebencian itu langsung meneriakkan satu nama yang sama dengan sangat lantang di dalam benaknya.

Katya.

Savya meremas kain lap di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya terasa memberat dan memburu di balik keheningan sudut kedai. Ia mencoba memberanikan diri, memajukan wajahnya satu senti lebih dekat ke permukaan kaca demi memastikan apakah penglihatannya salah akibat rasa cemas yang berlebihan.

Namun, seolah sadar bahwa keberadaannya telah tertangkap basah dan sepasang mata Savya telah mengunci posisinya, siluet di seberang jalan itu mendadak bergerak. Wanita itu berbalik dengan gerakan cepat yang anggun namun dingin, melangkah lebar, lalu dalam hitungan detik langsung melebur dan menghilang di balik kerumunan pejalan kaki yang memadati trotoar senja.

Savya perlahan menurunkan tangannya yang gemetar, membiarkan kain lap itu tergantung lemas di sisi tubuhnya. Ia menatap kosong ke arah bawah pohon yang kini sudah kosong. Nalurinya siang tadi sama sekali tidak salah. Katya... tidak sedang menggertak. Wanita itu benar-benar sudah kembali, berdiri di dalam kegelapan, dan siap mengintai setiap jengkal kehidupannya.

..."Story by Vian's"...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!