NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ratna

Dokter Handoko menatap Yuni sejenak, lalu tersenyum bijak.

“Bu, cobalah mulai fokus pada hal-hal baik dari menantu Ibu.”

Yuni terdiam.

“Jarang sekali ada menantu seperti Bu Nadia,” lanjut dokter. “Setiap kali kontrol, beliau selalu datang mendampingi. Tidak pernah absen.”

“Ah, itu hanya hal kecil, Dok. Tidak ada yang istimewa.”

Dokter Handoko menggeleng pelan.

“Justru hal-hal kecil seperti inilah yang sering dilupakan orang.”

Ia menatap Yuni dengan lembut.

“Mengurus suami, anak, rumah, lalu masih telaten merawat ibu mertua—itu bukan perkara mudah.”

Yuni tak menjawab.

“Banyak anak zaman sekarang sibuk dengan urusannya masing-masing,” kata dokter lagi. “Sudah pandai mencari uang, tetapi tidak punya waktu untuk orang tua. Bahkan ada yang lebih memilih membayar orang lain untuk merawat ayah ibunya.”

Ruangan mendadak hening.

Dokter Handoko menutup map hasil pemeriksaan.

“Tanyakan pada hati kecil Ibu, apakah perhatian seperti ini tidak berarti?”

Yuni menunduk.

Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak setegas biasanya.

“Terima kasih, Dok,” ucapnya singkat.

Nadia hanya tersenyum tipis.

Ia tahu, ucapan terima kasih itu bukan tulus, hanya karena ingin segera pergi dari ruangan dokter, karena dokter handoko memuji dirinya, dan sebenarnya Nadia tak butuh pujian dia adalah tipikal tak butuh validasi.

Dokter Handoko tersenyum.

“Baik, Bu Yuni. Semoga cepat sembuh.”

Ia lalu menambahkan dengan suara hangat.

“Dan jangan lupa bahagia.”

“Baik, Dok.”

Nadia membantu Yuni berdiri, lalu menggandengnya keluar dari ruang praktik.

Baru beberapa langkah, Yuni mendengus.

“Dokter itu selalu membelamu. Jangan-jangan dia suka padamu.”

Nadia memilih diam.

Ia sudah terlalu sering mendengar ucapan yang lebih tajam dari itu.

“Aku mau jalan-jalan dulu ke mal,” kata Yuni.

Nadia menoleh.

“Mending kita pulang saja, Bu. Sebentar lagi Nanda pulang dan harus makan siang.”

“Ada Mbak Tari di rumah,” potong Yuni. “Kalau kamu tidak mau menemani, ya sudah. Padahal Raka baru gajian. Masa mengajak ibu mertua belanja saja pelit sekali.”

Nadia menghela napas panjang.

“Kalau begitu, saya telepon Mbak Tari dulu supaya menyiapkan makan siang Nanda.”

Yuni hanya menjawab dengan dengusan pendek.

Nadia segera menelepon Mbak Tari.

Ia menjelaskan menu makan siang yang sudah disiapkan di kulkas, cara memasaknya, meminta Mbak Tari menemani Nanda makan, membantu mengerjakan tugas jika ada, dan memastikan anak itu tidur siang.

“Banyak sekali aturannya,” komentar Yuni sinis setelah Nadia menutup telepon. “Kasihan Nanda.”

Nadia tersenyum tipis.

“Saya sayang pada Nanda, Bu. Saya hanya ingin dia tumbuh sehat dan pintar.”

“Anak-anak yang terlalu banyak aturan nanti stres.”

Nadia tidak sempat menjawab.

Taksi online yang mereka pesan sudah berhenti di depan pintu rumah sakit.

Tak lama kemudian, mereka tiba di mal.

Tempat yang sebenarnya tidak terlalu disukai Nadia.

Baginya, berjalan berjam-jam dari satu toko ke toko lain adalah kegiatan yang melelahkan.

Namun demi Yuni, ia tetap menemani.

Mereka baru beberapa langkah ketika terdengar tangisan keras.

Seorang anak laki-laki bertubuh gemuk menjatuhkan dirinya ke lantai.

Ia menendang-nendang sambil menangis.

“Fino, kemarin Mama sudah belikan mobil-mobilan besar,” bujuk ibunya yang tampak kewalahan. “Sekarang jangan beli motor lagi, ya.”

Namun tangisan anak itu justru semakin keras.

Yuni menggeleng sambil berdecak.

“Itu akibat terlalu memanjakan anak. Harusnya sejak kecil diajari disiplin.”

Nadia menoleh.

Ucapan itu bertolak belakang dengan apa yang tadi Yuni katakan tentang Nanda.

Namun Nadia memilih tidak menyinggungnya.

Yuni melanjutkan, “Untung Nanda tidak pernah tantrum seperti itu.”

Senyum tipis muncul di bibir Nadia.

“Karena Nanda terbiasa dengan aturan, Bu.”

Kalimat itu sebenarnya sederhana.

Namun wajah Yuni langsung berubah.

“Ucapanmu itu bikin hati Ibu dongkol.”

Nadia terdiam.

Ia memandang deretan toko di hadapannya, lalu menelan semua yang ingin ia katakan.

Mungkin benar.

Apa pun yang keluar dari mulutnya, akan tetap terdengar salah di telinga ibu mertuanya.

Yuni terus berkeliling dari satu toko ke toko lain.

Untuk memilih satu potong baju saja, perempuan itu bisa masuk ke lima toko berbeda.

Nadia sebenarnya mulai lelah.

Telapak kakinya terasa pegal.

Namun ia menahan diri.

Ia tidak ingin kembali memicu pertengkaran.

Yang paling Nadia khawatirkan adalah Yuni tersinggung, lalu mogok minum obat.

Sudah tiga jam mereka berkeliling.

Dan hasilnya, Yuni baru membeli tiga potong pakaian.

Nadia berkali-kali melirik jam di ponselnya.

Hatinya mulai gelisah.

Ia pun menelepon Mbak Tari.

“Mbak, Nanda sudah pulang?”

“Belum, Bu,” jawab Mbak Tari dari seberang sana.

“Belum?” Nadia langsung menegakkan tubuh. “Kenapa?”

“Nggak tahu, Bu. Dari tadi saya tunggu di teras, kok belum sampai. Padahal makan siangnya sudah saya siapkan.”

Dada Nadia mendadak berdebar.

Tangannya terasa dingin.

Ia segera menghubungi pihak sekolah.

“Selamat siang, Bu Rosidah. Anak-anak sudah pulang?”

“Sudah, Bu. Dari dua jam yang lalu.”

Nadia menelan ludah.

“Kalau begitu… kenapa anak saya belum sampai rumah?”

“Nanda, ya, Bu?”

“Iya.”

“Oh, Nanda tadi dijemput papanya.”

Nadia memejamkan mata.

Rasa tegang yang sempat mencengkeram dadanya perlahan mengendur.

Syukurlah.

Berarti Nanda baik-baik saja.

Meski tetap terasa aneh.

Raka tidak memberi kabar apa pun, tetapi sempat menjemput Nanda.

Nadia memilih mengembuskan napas lega.

Setidaknya anak itu bersama ayahnya.

Di sampingnya, Yuni tampak mulai kelelahan.

Perempuan itu menyerahkan tiga kantong belanja berisi baju dan sweter kepada Nadia.

Nadia menerimanya sambil tersenyum tipis.

Kadang ia heran.

Mengapa orang bisa begitu senang membeli pakaian baru, padahal beberapa baju yang dibeli bulan lalu pun belum sempat dipakai Yuni.

“Nadia, ayo pulang,” kata Yuni ketus. “Kamu nggak seperti Ratna. Kalau belanja, dia tahu mode. Dari tadi kamu nggak memberi masukan apa-apa.”

Lagi.

Ratna.

Nama itu kembali disebut.

Nadia menahan napas.

Masukan?

Masukan seperti apa?

Apa pun yang keluar dari mulutnya selalu terdengar salah.

Bicara salah.

Diam pun salah.

“Sudahlah, jangan melamun terus. Ayo.”

Yuni melangkah lebih dulu.

Nadia mengikuti di belakang sambil membawa kantong-kantong belanja.

Namun ketika mereka melewati area kuliner, langkah Nadia mendadak terhenti.

Jantungnya seperti berhenti berdetak.

Di salah satu kedai seblak, ia melihat sosok yang sangat dikenalnya.

Nanda.

Anak itu duduk sambil tertawa riang.

Di tangan mungilnya tergenggam gelas besar berisi minuman bersoda.

Di depannya mengepul semangkuk seblak merah menyala.

Makanan yang selama ini selalu Nadia larang karena terlalu pedas, tinggi sodium, dan penuh penyedap.

Namun bukan itu yang paling membuat darah Nadia berdesir.

Di samping Nanda duduk Ratna.

Sepupunya sendiri.

Perempuan yang akhir-akhir ini terlalu sering dibanding-bandingkan dengannya.

Ratna menyuapi Nanda dengan sendok kecil, sesekali menyeka bibir anak itu dengan tisu.

Nanda tertawa lepas.

Wajahnya berbinar.

Tatapan matanya penuh kekaguman.

Tatapan yang jarang Nadia lihat ketika anak itu bersamanya.

Wajah Nadia memanas.

Selama ini ia menjaga pola makan Nanda dengan hati-hati.

Menolak makanan instan.

Menghindari minuman bersoda.

Membatasi gula.

Membacai label nutrisi satu per satu.

Semua ia lakukan demi kesehatan anak yang begitu dicintainya.

Dan kini, hanya dalam satu pemandangan, semua aturan yang ia bangun seolah runtuh begitu saja.

Tangan Nadia mengepal.

Rahangnya mengeras.

Ada marah, kecewa, dan luka yang bercampur menjadi satu.

Tanpa sadar, langkahnya membesar.

Ia berjalan lurus menuju meja tempat Nanda dan Ratna duduk.

1
falea sezi
🤣🤣 goblok aja klo. masih sayang anak haram
Anonim
Lanjut up thor seru
Anonim
Tobat lah sama kebegoan si nadia
Anonim
Yeay emang enak di jadikan pengasuh gretongan,jadi cewe ko oon sih gampang di boongin
Listiyawati Rinda
lanjut kak
Suanti
nadia prgi dri rmh tinggal gugat cerai raka
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭
Anonim
Sumpah nadia bloon nya kebangetan thor,jangan buat perempuan jadi bodoh thor buat pinteran dikit gitu🤭
Suanti
mungkin isi flashdisk tentang ratna melahirkan nanda 🤭 ayok nadia nonton flashdisk nya biar tau apa isi nya 🤣
Inarrr Ulfah
KLO benr percuma kamu mati2an bertahan demi Nanda,,jgn bodoh nadia
Inarrr Ulfah
bukti Nanda anak nya Ratna dan Raka...
Adinda
mungkin bukti kalau nanda anaknya ratna
falea sezi
cepet urus cerai😒 jangan bego klo Nanda anak Ratna g usa di bawa ngapain ngurus anak jalang
Suanti
nadia klu mau prgi dari rmh sendri aja klu bawa nanda pasti di cari sama raka karna bawa ank nya 🤭
lLy trililly
udh nadia bruan pergi
falea sezi
🤣🤣 goblok mau pergi ya pergi cerai dlu ngapain ngajak anak angkat goblok nya🤣
Anonim
Ampun deh gemes banget sama si nadia bloon nya belum ilang,biarin aja nanda sama bapak nya biar si nanda tau beda nya ibu sama bapak kek mana kalau ngurusin anak
Adinda
tes DNA Makanya biar tau
Suanti
nadia mau prgi. prgi aja sendri ngapain bawa nanda yg ada nanti kamu di lapor kan sm keluarga toxin menculik ank 🤭
Machmudah: setuju, toh kl Nanda ditinggal sm mereka aman2 saja, mereka sayang Nanda cm caranya didiknya sj yg gak banget.....udah pergi aja Nadia lepasin aja para toxic itu
total 1 replies
siswati etty
tunggu apa lagi Nadia .....polos apa bodoh sih ....keluar rumah gak akan dianggap kalah klo kamu punya rumah sendiri dah cepet pindah dah gak diinginkan jd gk perlu maksa tinggal meski ada alasan krn Nanda
Suanti
segera keluar dri rmh nadia kalau lama2 di rmh raka yg ada kamu lihat ratna bermesraan sm raka pasti kamu sakit hati 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!