Tujuh tahun pernikahan, tak pernah terbayangkan dirinya akan menjumpai hal yang paling menyakitkan dalam perjalanan hidupnya.
Arimbi, ia menemukan jejak wanita lain dalam biduk rumah tangganya. Bahkan wanita tersebut telah memiliki anak yang usianya sudah lebih dari setahun.
"Kita masih merintis usaha, jadi kita jangan punya anak dulu ya."
Ucapan sang suami terngiang begitu jelas di telinganya. Arimbi yang naif menyetujui. Namun itu jadi bumerang bagi dirinya karena oleh keluarga suami Arimbi di cap mandul.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, nama perusahaan yang didirikan suaminya ternyata ada unsur dari nama wanita itu.
Apakah Arimbi akan terpuruk? Atau dia akan bangkit dan membalas rasa sakit hatinya dan menemukan cinta lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mau Apa? 28
"Itu bukannya Mbak Arimbi ya?"
Ketika mendengar nama Arimbi disebut, Farrah yang kepalanya sedari tadi menunduk langsung tegap. Dia mengarahkan pandangannya lurus ke depan.
Tak hanya sekedar memandang namun tatapan wanita itu sangat tajam terhadap istri sah suaminya.
Pun dengan Amar. Akan tetapi ekspresi wajah Amar berbeda dengan Farrah. Amar lebih terkejut melihat istri yang mungkin tak lama lagi jadi mantan itu berdiri di tanah pemakaman dan bahkan memberikan ucapan duka.
Mulut Amar terkunci, dia tak mampu menjawab apapun. Karena sebenarnya Amar bingung harus bereaksi seperti apa.
Namun sepetinya Farrah tidak demikian. Wajah wanita itu nampak mengeras dan tangannya juga mengepal dengan erat.
"SEMUA GARA-GARA KAMU. GARA-GARA KAMU AFIRA PERGI!!"
Farrah memekik keras ke arah Arimbi. Sungguh membuat semua orang yang ada di sana terkejut bukan main termasuk Arimbi dan Amar.
"Farrah, apa yang kamu katakan hah!" ucap Amar terhadap istrinya tersebut.
"Apa aku salah hmmm? Afira, anak kita pergi gara-gara dia. Kalau dia diem aja, dan nggak bikin heboh, Afira saat ini pasti masih ada di pelukanku. Afira pasti masih tertawa bersamaku. Semua itu karena dia,"ucap Farrah sambil menunjuk ke Arimbi.
Sontak ucapan Farrah membuat semua orang menatap ke arahnya. Bahkan kamera wartawan yang masih menyala pun langsung merekam kejadian tersebut.
Sedangkan para pelayat, mereka tertegun atau lebih tepatnya terkejut. Semua orang sudah tahu kalau Farrah adalah pasangan selingkuhan Amar. Tapi wanita itu dengan lantang menyalahkan Arimbi atas meninggalnya sang anak.
Arimbi sendiri hanya diam. Dia tak ingin membuat keributan di tempat yang seharusnya berisi ketenangan.
Bukan berarti Arimbi kalah, tidak demikian. Arimbi hanya menghormati Afira yang telah pergi ke peristirahatan terakhir.
Tanpa berkata apapun, Arimbi membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan tempat tersebut. Para wartawan yang tidak ingin kehilangan momen langsung mengejar Arimbi hingga ke tempat parkir.
"Mbak kenapa Mbak Arimbi diem aja dikatain begitu,?" tanya salah satu wartawan.
"Iya lho, kenapa Mbak diem aja. Seharusnya Mbak Arimbi lawan lah," imbuh yang lain.
Agaknya para wartawan gemas dengan sikap Farrah. Bisa-bisanya wanita itu malah playing victim kepada Arimbi.
"Aku harus ngomong apa ke ibu yang baru saja ditinggal anaknya hmm? Udah paling bener aku diem aja. Karena sekarang bukan waktunya aku menanggapi dia. Saat ini dia sedang larut dalam kesedihan jadi kata-katanya ngawur. Jadi biarkan saja. Aku harap kalian juga jangan mengganggunya dulu. Kehilangan orang yang sangat penting dalam hidup itu sangat sakit rasanya terlebih itu darah daging yang ia kandung dan lahirkan. Ya udah aku permisi ya. Aku udah nggak ada urusan lagi di sini karena tujuanku mengucapkan bela sungkawa sudah terlaksana. Assalamualaikum."
Arimbi yang mengenakan pakaian serba hitam itu yakni gamis hitam dan juga kerudung hitam, masuk ke mobil dan bergegas untuk pergi.
Sekali lagi, dia bukannya kalah. Dia bukannya pengecut karena memilih diam, Arimbi hanya merasa bahwa diam adalah sikap yang sangat bijak dalam situasi saat ini.
"Bisa-bisanya dia bilang kayak gitu,"gumamnya pelan sambil mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat pemakaman umum.
***
"Farrah, kamu apa-apaan sih tadi? Kenapa ngomong kayak gitu ke Arimbi. Anak kita meninggal itu bukan salah dia!"
Sesampainya di rumah, Amar terlihat sedikit kesal dengan Farrah. Dia tahu istrinya itu sangat kehilangan putri mereka, akan tetapi cara Farrah yang menyalahkan Arimbi di depan umum sungguh sangat keterlaluan.
Farrah tidak seharusnya berkata demikian. Dia tidak harus meluapkan kesedihannya dengan menuntut orang lain.
"Oh kamu sekarang belain dia. Anak kita baru aja meninggal, Mas. Kuburan anak kita bahkan masih basah tapi kamu malah belain wanita itu!"sahut Farrah tidak mau kalah.
Amar membuang nafasnya kasar. Emosinya sungguh meluap-luap akan tetapi dia sebisa mungkin mengontrolnya. Dia tahu Farrah tengah sangat tidak stabil saat ini.
"Farrah, sayang ... ."
Amar merengkuh kedua bahu Farrah, ia mengajak istrinya itu untuk duduk.
"Aku bukannya membela Arimbi. Akan tetapi Arimbi emang nggak salah. Dia sama sekali nggak ada sangkut pautnya dengan kepergian Afira. Afira pergi karena memang sudah takdir Allah, sayang."
Amar berusaha menenangkan Farrah. Hubungannya dengan Arimbi memang dingin, akan tetapi akal Amar masih sedikit waras sehingga tidak membenarkan apa yang dikatakan Farrah.
"Tapi gara-gara dia nyebarin foto kita, baik aku sama kamu jadi stress. Terus semua itu jadi ngefek ke Afira. Gimana bukan jadi salah dia?" Farrah masih bersikukuh dengan alibinya.
"Nggak sayang, nggak begitu. Apa yang terjadi sama Afira sudah jadi ketentuan Allah. Kita harus ikhlas ya. Kita harus ikhlas melepaskan Afira, agar jalan putri kita menjadi lapang."
"Haaah, kamu kayaknya tenang banget Mas. Kayaknya kamu nggak ada sedih-sedihnya Afira meninggal. Oh aku tahu, ini kesempatan kamu buat balik ya sama Arimbi."
"FARRAH!! jangan ngelantur kemana-mana!"
Kali ini Amar sudah tidak bisa menahan emosinya. Farrah benar-benar tidak terkendali dan bicara secara sembarangan.
Bagaimana bisa dia berkata demikian, padahal wanita itu sangat tahu betapa Amar mencintai dirinya.
"Pergilah istirahat. Dan jangan lagi bicara yang enggak-enggak. Udah cukup pikiran liar mu itu, Far. Aku nggak akan toleran lagi kalau kamu sampai ngomong macem-macem. Kamu capek, jadi istirahatlah dan tidur. Aku yang akan ngurus kalau ada tamu datang."
Blak!
Amar menutup pintu kamar dengan sedikit lebih keras. Dia segera pergi meninggalkan Farrah karena tidak ingin dirinya semakin tersulut emosi yang mungkin bisa mengakibatkan amarahnya meledak kepada istrinya itu.
Hiks
Sedangkan Farrah, dia menangis tergugu sendiri di kamarnya. Ia meraih foto putrinya dan memeluknya dengan erat.
"Huaaaaa, Bunda kangen kamu sayang. Kenapa kamu ninggalin Bunda kayak gini. Kenapa??? Aaaaah."
Farrah berteriak dengan keras. Kesedihan yang luar bisa saat ini tengah dirasakannya.
Sungguh Farrah sama sekali tidak mengira bahwasannya dia akan kehilangan Afira secepat ini. Putri yang sangat dia cintai, kini tak ada lagi di pelukannya.
Amar yang berada di depan kamar tentu bisa mendengar suara tangis kehilangan dari Farrah. Meski tak menangis seperti Farrah, Amar juga sangat kehilangan sang anak. Dan rasanya sangat sakit sekali.
"Kenapa Engkau harus mengambil putri kami, Ya Allah?" ucap Amar lirih disertai dengan air matanya menetes di pipi.
TBC
Halo hehehe aku yakin kalian gemes ya sama sikap Arimbi. Pokoknya semua orang bebas berpendapat, oke. Asalkan sopan ya. Pokoknya monggo aku persilakan kalian berkomentar apapun. Selamat membaca saudaraku semua .... ^_^
mbak mbi yg sabar ....mak lakor tu anggap j angin kentut ...bau..jd lebih baik menjauh..
datang tp di maki diam saja buat apa, ya maki balik lah. sekalian viral nya kl mbales jng setengh setengh.
mampus si amar nyesel ternyata bukan ibu peri yg didapat mak Lampir 🤭🤭🤭
kasian JD korban dari orang tua tapi hati hati Arimbi mnt km mlh disalahkan m orang picik
ngapain kamu datang
asal kamu tau bentar lagi juga amar jadi gembel🤣🤣