NovelToon NovelToon
KEMBANG DESA SANG CEO

KEMBANG DESA SANG CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Persaingan Mafia / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Rumah Tangga
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lada Jingga

Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.

Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.

Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.

Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.

Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 - Jangan Ambil Kakakku

Agam masih menangis histeris di pelukan Kemuning sambil memeluk leher kakaknya sangat erat. Tubuh kecil anak itu gemetar tanpa henti seolah benar-benar ketakutan. Sedangkan wajah Kemuning langsung pucat melihat kondisi adiknya. Dan suasana mansion mendadak berubah sangat sunyi.

“Jangan biarkan mereka ambil Kak Ning juga.” Suara tangis Agam terdengar pecah dan penuh ketakutan. Kalimat polos itu langsung menghantam seluruh ruangan tanpa ampun. Sampai bahkan para pelayan ikut menahan napas.

“Tidak.” Kemuning langsung memeluk Agam lebih erat sambil menangis. “Kakak di sini. Kakak tidak akan membiarkan siapa pun membawa Agam pergi.”

Kemuning mencium rambut Agam berkali-kali dengan tangan gemetar. Tubuh kecil anak itu panas karena demam dan terus bergetar di pelukannya. Setiap kali melihat pengawal mansion, Agam langsung menangis lebih keras. Dan hal itu membuat dada Kemuning terasa hancur perlahan.

“Ada apa?” Kemuning berbisik panik sambil mengusap punggung Agam. “Siapa yang membuat Agam takut seperti ini?” Namun Agam justru makin sesenggukan di pelukannya.

“Bibi bilang...” Agam menangis terbata-bata sambil memeluk leher Kemuning semakin erat.

“Agam mau dibawa pergi.Agam takut.”

Air mata kecil terus jatuh di pipi pucat anak itu. “Agam cari Kakak, tapi Kakak nggak ada.”

Kalimat sederhana itu langsung menghancurkan hati Kemuning.

Kemuning langsung memejamkan mata menahan tangis yang semakin pecah. Rasa bersalah menghantamnya begitu keras sampai tubuhnya ikut gemetar. Agam pasti sangat ketakutan sendirian di rumah Miranti. Dan dirinya tidak ada di sana untuk melindungi adiknya.

Arkana berdiri tidak jauh dari mereka dengan rahang mengeras. Tatapan pria itu berubah semakin dingin setiap mendengar ucapan Agam. Untuk pertama kalinya, Arkana merasakan kemarahan yang sangat personal terhadap Miranti. Dan aura pria itu langsung menekan seluruh ruangan.

Mahardika mengembuskan napas berat sebelum akhirnya bicara pelan. “Orang-orangku menemukan Miranti sedang bertemu pria asing. Beberapa jam sebelum Agam dibawa pergi.”

Kalimat itu langsung membuat suasana berubah lebih gelap.

Kemuning perlahan mengangkat wajah dengan mata membesar tidak percaya. Sedangkan Mahardika terlihat semakin serius sekarang. “Aku curiga anak itu hampir dijual. Untuk melunasi hutang.”

Tubuh Kemuning langsung melemas. Air matanya jatuh tanpa suara saat mendengar kemungkinan mengerikan itu. Refleks, ia langsung memeluk Agam semakin erat seolah takut kehilangan adiknya sekarang juga. Dan Agam ikut menangis lebih keras di dadanya.

“Tidak.” Suara Kemuning terdengar pecah penuh syok. Miranti memang kejam, tetapi ia tidak pernah membayangkan bibinya akan sejauh itu. Menjual Agam.

Kemuning mulai merasa dirinya gagal sebagai kakak. Ia seharusnya menjaga Agam. Seharusnya melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa baginya. Namun sekarang Agam justru trauma karena dirinya.

“Aku harusnya bawa Agam pergi dari rumah itu sejak dulu.” Kemuning menangis lirih sambil memeluk tubuh kecil adiknya. “Ini salah Kakak.” Dan kalimat itu membuat Arkana langsung menatapnya tajam.

Arkana melihat tubuh Kemuning mulai gemetar hebat sambil terus menangis. Gadis itu tampak begitu rapuh sekarang. Dan sesuatu dalam diri Arkana bergerak sebelum ia sempat berpikir lebih jauh. Pria itu melangkah mendekat perlahan.

Arkana akhirnya berjongkok di depan Kemuning dan Agam. Gerakannya tenang dan hati-hati.

Namun begitu melihat pria dewasa asing mendekat, Agam langsung menegang ketakutan. Anak kecil itu buru-buru memeluk Kemuning semakin erat.

“Jangan ambil Kakakku.” Tangis Agam kembali pecah histeris. Tubuh mungilnya gemetar hebat dalam pelukan Kemuning. Dan kalimat itu membuat Arkana membeku sesaat.

Arkana tidak pernah dipandang seperti monster sebelumnya. Orang selalu takut karena kekuasaan atau aura dinginnya. Namun ketakutan polos dari adik Kemuning terasa berbeda. Dan anehnya, hal itu menusuk dada Arkana cukup dalam.

Tetapi Arkana menahan semua emosinya. Pria itu tetap menatap Agam dengan tenang tanpa memaksa mendekat. Lalu untuk pertama kalinya, Arkana bicara dengan nada jauh lebih lembut dari biasanya. “Aku tidak akan mengambil kakakmu.”

Kalimat itu sederhana. Namun suara Arkana terdengar begitu tenang sampai Kemuning langsung menoleh kaget. Ia belum pernah mendengar pria itu bicara selembut itu sebelumnya.

Bahkan pada dirinya sendiri.

Agam masih terisak kecil sambil memeluk Kemuning erat. Namun tangisnya perlahan mulai mereda sedikit demi sedikit. Sedangkan Arkana perlahan mengambil selimut kecil dari tangan pelayan di dekatnya. Lalu membantu menyelimuti tubuh Agam tanpa memaksa mendekat lebih jauh.

Kemuning memperhatikan semua itu dalam diam. Dan dadanya kembali terasa hangat sekaligus sesak. Karena pria sedingin Arkana ternyata bisa selembut ini pada Agam. Dan itu membuat dirinya semakin sulit menjaga hati.

Beberapa menit kemudian, mereka pindah ke ruang tengah mansion. Kemuning duduk di sofa besar sambil memangku Agam yang masih demam. Anak kecil itu terus menempel pada kakaknya seperti takut dipisahkan lagi. Sedangkan Arkana duduk tidak jauh dari mereka.

Untuk pertama kalinya, suasana mereka terasa aneh tetapi hangat. Seperti keluarga kecil yang belum sempurna tetapi saling menjaga. Mahardika memperhatikan semuanya dari kejauhan dengan tatapan rumit. Sedangkan para pelayan mulai saling melirik diam-diam.

Seorang pelayan akhirnya datang membawa obat dan termometer digital. “Non, suhu tubuhnya harus dicek dulu.” Kemuning langsung menerimanya dengan gugup. Karena ia belum pernah memakai alat seperti itu sebelumnya.

Kemuning menatap termometer digital itu bingung beberapa detik. Lalu tanpa sadar menempelkan alat tersebut ke pipi Agam. Beberapa pelayan langsung membeku melihatnya, sedangkan Arkana perlahan mengangkat sebelah alis.

“Kenapa tidak bunyi?” Kemuning bertanya polos sambil menatap alat itu bingung. Wajah gadis itu benar-benar serius sekarang. Dan suasana ruang tengah langsung menjadi aneh beberapa detik.

Salah satu pelayan hampir membuka mulut untuk menjelaskan. Namun Arkana justru lebih dulu berdiri dan berjalan mendekat. Pria itu berhenti tepat di belakang sofa tempat Kemuning duduk. Dan jantung Kemuning langsung berdetak tidak normal.

Arkana sedikit membungkuk dari belakang tubuh Kemuning. Posisi mereka langsung menjadi terlalu dekat. Tubuh tinggi pria itu nyaris menyentuh punggung Kemuning sepenuhnya dan napas gadis itu langsung kacau.

“Bukan begitu cara pakainya.” Suara rendah Arkana terdengar dekat sekali di telinga Kemuning.

Membuat bulu kuduk gadis itu langsung meremang halus. Sedangkan wajahnya mulai memanas perlahan.

Arkana perlahan memegang jemari Kemuning untuk mengarahkan termometer. Tangan pria itu besar dan hangat di atas tangannya. Sentuhan sederhana tersebut justru membuat Kemuning langsung membeku. Karena Arkana terlalu dekat sekarang.

Kemuning bisa mencium aroma parfum Arkana yang bercampur sisa aroma hujan malam. Hangat tubuh pria itu terasa jelas di punggungnya. Sedangkan napas Arkana sesekali menyentuh pelipisnya samar. Dan itu membuat Kemuning semakin sulit berpikir.

Arkana menempelkan termometer ke dahi Agam dengan tenang sambil masih memegang tangan Kemuning. “Diam beberapa detik.” Nada suara pria itu terdengar rendah dan stabil.

Namun justru membuat jantung Kemuning semakin tidak tenang.

Kemuning buru-buru menunduk agar Arkana tidak melihat wajahnya yang memerah. Sedangkan Arkana diam-diam memperhatikan reaksi gugup gadis tersebut. Dan untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir pria itu hampir terangkat tipis. Karena kepolosan Kemuning terasa terlalu menggemaskan.

Agam akhirnya mulai tertidur setelah minum obat dan menangis cukup lama. Tubuh kecilnya bersandar lemah di pangkuan Kemuning. Sedangkan suasana mansion perlahan menjadi lebih tenang. Hanya suara hujan kecil di luar yang masih terdengar samar.

Kemuning mengusap rambut Agam perlahan sambil menahan kantuk dan lelahnya sendiri. Namun ia tidak berani bergerak banyak karena takut membangunkan adiknya. Sedangkan Arkana masih duduk tidak jauh dari sofa sambil memperhatikan mereka diam-diam. Dan pria itu mulai terbiasa dengan keberadaan mereka di dekatnya.

Dalam keadaan setengah sadar karena demam, Agam bergerak pelan. Tangannya yang kecil meraih sesuatu di dekat sofa tanpa membuka mata sepenuhnya. Dan detik berikutnya, jemari kecil itu menggenggam tangan Arkana erat. Semua orang langsung terdiam.

Kemuning membeku melihatnya. Mahardika yang berdiri di dekat tangga ikut menghentikan langkahnya. Bahkan Arkana sendiri terlihat tidak bergerak beberapa detik. Karena Agam yang sebelumnya sangat takut padanya kini justru memegang tangannya erat.

Agam masih tertidur lemah sambil menggenggam jari Arkana seperti mencari rasa aman. Sedangkan Arkana hanya menatap tangan kecil itu tanpa berkedip. Sesuatu yang aneh perlahan terasa memenuhi dada pria tersebut. Hangat. Pelan. Dan asing.

Mahardika memperhatikan dari jauh dengan tatapan dalam. Lalu pria tua itu berkata pelan di tengah sunyi mansion. “Anak itu jarang percaya pada orang.”

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arkana Mahendra mulai merasakan sesuatu yang menyerupai keluarga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!