Berlatar di sebuah desa bernama Desa Suka Makmur. Anggap saja salah satu desa di Jawa Barat. Desa dengan beberapa fasilitas yang tersedia, seperti bangunan sekolah dasar, balas desa, puskemas pembantu, posyandu , lapangan sepak bola dan lainnya. Namun dibalik itu desa tersebut menyimpan kisah misteri dan terkenal dengan kemistisan nya. Desa pocong sebutan lain dari nama desa itu. Terdapat pantangan untuk tidak membuka pintu dan jendela di malam hari. Lebih-lebih keluar di waktu malam , apapun alasan nya. Jika melanggar maka siapapun akan terkena musibah. Sebuah teror, celaka , jatuh sakit , bahkan hingga kematian. Namun tak hanya itu , teror lain turut membayangi warga desa. Hingga seorang gadis pendatang baru yang tinggal di salah satu rumah yang terkenal angker berusaha mencari tahu tentang desa itu. Fitri namanya, gadis dengan kemampuan spiritual yang akan membantu warga desa terbebas dari ketakutan nyata teror pocong yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon qsk sri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kuntilanak bau
Temuan dua tas dan KTP di dalam dompet membuat petugas kepolisian menyimpulkan korban bernama Fitri usia 23 tahun. Di dalam dompet juga tertera alamat Desa Suka Makmur serta nomor ponsel yang belum sempat di save ke dalam ponsel. Tanpa pikir panjang polisi segera menghubungi nomor tersebut.
Nina yang tengah menyiangi kangkung di teras rumah nya terkejut setelah mendapat telpon dari kepolisian.
"APA ? TEWAS TERTABRAK KERETA...?! "
Tubuh wanita itu seketika terguncang, air matanya meluncur tanpa permisi. Wanita itu menangisi keponakan nya yang baru ia temui itu,merasa tak menyangka jika ajal telah menjemput nya dengan cara yang begitu tragis.
Kala itu, Daryo baru pulang dari kebun merasa bingung melihat istrinya menangis meraung-raung sambil memanggil-manggil nama Fitri.
"Fitriiiii.....huuuuuhhhuuu....Ya Tuhan Fitriiiii......!" Raung nya histeris.
Para tetangga berdatangan mendengar suara nya,Daryo mendekat menyentuh pundak Nina. Saat ini perasaan nya tiba-tiba tidak enak. Ia merasa ada yang tidak beres.
"Ada apa ? Kenapa kamu nangis manggil Fitri ? Kenapa dengan dia ?" Tanya nya penasaran.
"Huuuuhhhuuu....Fitri bang ... Fitri.....!"
"Iya,... Fitri kenapa ?" Tanya Daryo memegangi kedua pundak Nina. Para tetangga sudah saling berbisik namun ada juga yang bertanya tetapi Nina yang masih shok nampak nya tidak bisa berbicara dengan benar,hanya tangisan dan raungan dari mulut nya.
Daryo melihat ponsel yang tergeletak masih menampilkan nomor kontak yang ternyata masih terhubung. Pria itu segera meraih nya lalu menempelkan ponsel di telinga nya. Dia kemudian berjalan menjauh karena istrinya yang terus menangis membuat nya tak dapat mendengar dengan jelas.
" Halo...."
"Iya pak ,maaf saya belum selesai berbicara. Maaf jika kabar yang saya sampaikan membuat anda dan keluarga shock,tetapi saya memang harus menyampaikan nya. Keluarga anda bernama Fitri baru saja terkena musibah,dia tertabrak kereta dan kondisinya sangat mengenaskan. Korban saat ini sudah berada di ruang pemulasaraan jenazah rumah sakit umum......." Polisi lalu menjelaskan detik kejadian nya menurut cerita para saksi di lokasi.
Daryo merasa tubuhnya lemas tak bertulang, tubuhnya luruh ke lantai dengan tatapan kosong. Namun air mata segera menggenang dan siap meluncur kapan saja.
" Innalilahi wa innailaihi rojiun....." Lirih nya.
Tak menunggu lama kabar kematian Fitri pun langsung menyebar di desa. Mereka yang sudah bertemu dengan Fitri merasa menyayangkan kejadian yang menimpa Fitri. Namun ada juga yang mengira apa yang terjadi pada Fitri itu karena tindakan nya yang telah melanggar peraturan desa. Yaitu membuka jendela di malam hari.
"Sayang ya,mana masih muda cantik lagi "
"Namanya juga umur gak ada yang tahu "
"Eh tapi denger-denger nih ya,katanya si Fitri itu udah buka jendela kamar malam-malam, seperti nya dia kena tula tuh"
"Benarkah ? Ya ampun kasihan sekali"
Hari itu juga di sore menjelang Maghrib korban yang dikira Fitri itu segera dikebumikan di desa,setelah Daryo datang ke rumah sakit untuk memastikan kebenarannya. Darto begitu shock melihat tubuh Fitri yang sudah hancur dari bagian tubuh ke atas dengan kepala yang hancur. Namun yang bikin merinding sekaligus mual,isi kepala yang hancur ,kedua mata ikut hancur dan hilang. Banyak yang mengatakan mungkin sudah dimakan tikus got.
Daryo dan Nina menatap nanar gundukan tanah merah yang dipenuhi taburan bunga warna warni.
"Sudah ,yuk ! Kita pulang,sebentar lagi gelap. Bahaya buat kita " Ucap Daryo menyentuh pundak Nina.
Nina mengangguk lalu beranjak pergi,namun baru beberapa langkah kakinya, wanita itu menoleh. Dia menghela nafas, lalu kembali berjalan meninggalkan gundukan tanah merah yang didalam nya terkubur jenazah orang lain yang dikira keponakan nya.
Sementara itu, Fitri yang dianggap telah meninggal nyata nya saat ini tengah makan dengan begitu lahap nya. Bu Endar yang merasa bersalah itu,sengaja memasakkan makanan buat Fitri.
"Eeeuuugggghhhh......" Fitri bersendawa keras sambil mengusap perutnya yang membuncit.
Anak sulung Bu Endar lebih tua dua tahun dari Fitri menatap dengan ekspresi jijik. Fitri sadar tatapan itu,tapi dia tidak memperdulikan nya.
"Alhamdulillah....makasih Bu,malam ini aku pasti akan tidur nyenyak" Ucap Fitri lalu menjilati jari-jari tangan nya.
"Iuuuhhhh....." Kening anak Bu Endar mengernyit, ekspresi nya benar-benar menunjukan ketidak sukaan nya.
"Nih cewek cakep-cakep jorok " Batin nya bergidik geli. "Amit-amit punya cewek modelan begitu " tambah nya membatin.
Selesai makan,Bu Endar lalu mulai membicarakan tentang barang-barang keluarga Fitri.
"Aku sih terserah ibu saja,yang penting uang nya cukup buat bekal hidup aku sampai nanti mendapatkan pekerjaan " Ucap Fitri yang benar-benar tidak menuntut banyak.
"Segini cukup gak ?" Tanya Bu Endar seraya meletakkan beberapa gepokan uang di depan Fitri.
Seketika gadis itu melotot," Berapa ini Bu,banyak banget ?" Tanya nya.
"15 juta "
"Waw...tapi sebenar nya kalau ditotal semua,harga barang-barangnya lebih dari 15 juta. Tapi gak apa-apa deh" Fitri menerima uang itu dengan lapang dada ,mengingat barang yang dijual nya itu merupakan barang bekas pakai.
Keesokan harinya ,setelah berpamitan pada bu Endar ,Fitri segera meluncur ke rumah Lita. Semalam mereka saling bertukar kabar,Lita meminta Fitri untuk tinggal sementara di rumah nya sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan. Orangtua Lita juga tidak masalah ,justru mereka merasa senang dengan adanya Fitri di rumah mereka ,rumah jadi semakin hidup. Begitu kata orangtua Lita.
"Ayo masuk Fit,maaf berantakan " Ucap ibu nya Lita.
" Gak apa-apa Tante,namanya ada anak kecil pasti gak pernah rapih. Di rumah dulu juga begitu. Dalam seminggu rapih nya cuman satu hari,sisa nya seperti kapal jatuh " Ucap Fitri yang seketika kembali mengingat keluarga nya ,terutama kedua adiknya yang dulu sering membuatnya mengomel karena rumah yang gak pernah bisa rapih karena ulah dua adiknya itu.
Lia ,ibunya Lita melihat raut wajah Fitri yang berubah segera mengajak nya untuk beristirahat.
"Ya sudah , kamu istirahat saja dulu. Kalau mau makan di meja makan ada makanan. Tadi pagi Tante sengaja masak banyak ,kan kamu mau datang " Ucap nya
"Iya,Tante makasih " Ucap Fitri lalu pergi ke kamar Lita. Lita sendiri sudah berangkat bekerja satu jam yang lalu.
"Kasihan anak itu " lirih Lia.
Akan tetapi saat Fitri membuka pintu kamar sahabat nya,sosok wanita berdaster lusuh tengah duduk di ranjang. Rambutnya yang panjang dan kusut menjuntai sampai ke lantai.
"Heh...kamu ngapain di sini ? Jangan duduk di situ ! " Seru Fitri yang masih memegang gagang pintu.
Dari belakang nya,suara Lia terdengar " Kenapa Fit ?" Tanya nya.
"Euuhhh....! Enggak kok ,Tante. Bukan apa-apa "
Fitri menghela nafasnya setelah Lia pergi. Dia melirik kuntilanak itu lalu mulai mengendus-endus udara.
"Kamu belum mandi ya ? Bau banget ,rambut kusut pula. Sana mandi dulu! Nanti aku semprot minyak wangi biar gak bau lagi " Ucap Fitri sambil mencapit hidungnya dengan jari telunjuk dan jempolnya.
Kuntilanak itu mengangguk,lalu berjalan ke arah kamar mandi.
"Hehehe....nurut ternyata " Fitri terkekeh kecil.
Di dalam kamar mandi, kuntilanak itu nampak tercenung menatap pantulan dirinya yang kotor dan berantakan.
"Kenapa aku nurut saja ? "
.....