Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Motor tua itu membelah jalanan yang mulai temaram oleh cahaya lampu merkuri.
Angin malam yang berembus pelan menerpa wajah Gayuh, namun dinginnya tak sebanding dengan rasa sesak yang masih menggumpal di dadanya.
Sepanjang jalan, Gayuh hanya terdiam, menyandarkan keningnya di punggung kokoh Jati.
Tanpa sadar, air matanya kembali mengalir, jatuh perlahan dan membasahi jaket ojek yang dikenakan pria itu.
Ia merasa sangat berdosa; ia berbohong kepada Jati tentang identitasnya, sementara Tryas—pemilik asli identitas itu—justru menghina Jati dengan begitu keji.
Jati merasakan kelembapan yang merembes di punggungnya.
Ia tahu Gayuh sedang menangis. Meskipun tangannya tetap stabil memegang kemudi, rahangnya mengeras menahan amarah terhadap Tryas. Namun, di depan Gayuh, ia tetaplah "Jati sang tukang ojek" yang sederhana.
Ia sengaja menurunkan kecepatan motornya, membiarkan kendaraan lain mendahului mereka.
Ia ingin memberi waktu bagi Gayuh untuk menenangkan diri di balik punggungnya.
Ckiiit!
Sesekali, Jati sengaja menginjak rem sedikit mendadak saat melewati polisi tidur atau kendaraan di depannya.
Hal itu membuat tubuh Gayuh terdorong ke depan dan secara refleks mempererat pelukannya pada pinggang Jati.
"Eh, maaf ya, Tryas. Jalannya agak bergelombang, kamu pegangan yang erat ya supaya tidak jatuh," ucap Jati dengan suara lembut yang menenangkan.
Gayuh tidak menjawab, ia hanya mengangguk kecil dan semakin membenamkan wajahnya di punggung Jati.
Pelukan itu bukan lagi sekadar agar tidak jatuh, melainkan cara Gayuh mencari perlindungan.
Di mata Gayuh, pria yang dihina "bau keringat" oleh Tryas ini justru adalah tempat paling nyaman dan wangi yang pernah ia temukan—wangi kejujuran dan kerja keras.
Jati tersenyum di balik maskernya. Ia membiarkan tangan mungil itu melingkar erat di tubuhnya.
Ia tidak butuh kata-kata untuk menghibur; ia hanya ingin Gayuh tahu bahwa saat ini, ada seseorang yang bisa ia jadikan sandaran.
"Jangan menangis lagi, Gadis Penulis," bisik Jati dalam hati, sangat pelan hingga hanya angin yang mendengarnya.
"Dunia mungkin melihatku sebagai sampah, tapi selama kamu melihatku sebagai manusia, itu sudah lebih dari cukup."
Saat mereka semakin dekat dengan gang rumah kontrakan Gayuh, Jati mulai mempersiapkan diri.
Ia tahu, kejutan besar sudah menunggu Gayuh di sana—sebuah hadiah untuk menghapus air mata yang jatuh malam ini.
Begitu motor Jati berhenti di depan rumah, Gayuh terpaku di atas boncengan.
Ia hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Rumah kontrakan kecil yang tadinya kusam dan atapnya nyaris ambruk, kini berdiri tegak dengan dinding berwarna krem yang bersih dan elegan.
Pagar kayunya yang reyot pun sudah berganti menjadi pagar besi minimalis yang kokoh.
"Jati, ini benar rumahku?" tanya Gayuh terbata-bata sambil turun dari motor.
Belum sempat Jati menjawab, Pak RT muncul dari balik pagar dengan senyum lebar, memegang sebuah map besar dan gantungan kunci baru.
"Wah, selamat ya, Mbak Tryas!" sapa Pak RT dengan suara lantang, sengaja menekankan nama "Tryas" sesuai instruksi rahasia yang ia terima.
"Beruntung sekali Mbak ini. Hasil renovasi hadiah undian dari Bank kemarin sudah selesai. Pengerjaannya pakai sistem kilat, tukangnya seratus orang lebih tadi!"
Gayuh memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pening.
"Tapi Pak RT, saya tadi di butik sudah dapat baju gratis, sekarang renovasi rumah? Lagipula ini kan rumah kontrakan, Pak. Kenapa direnovasi total begini?"
Pak RT terkekeh sambil menyodorkan map besar itu ke tangan Gayuh.
"Bukan kontrakan lagi, Mbak. Ini, ada sertifikatnya. Katanya pihak Bank sudah melunasi sisa pembayarannya ke pemilik lama, jadi sekarang rumah ini resmi milik Mbak Tryas."
Gayuh menerima map itu dengan tangan gemetar. Pikirannya kalut.
Logikanya sebagai penulis mulai bekerja mencari alasan yang masuk akal.
"Apa, ini kejutan dari sutradara film hororku ya, Pak? Supaya aku lebih totalitas tinggal di sini?" tanya Gayuh, mencoba meyakinkan dirinya sendiri sekaligus berpura-pura di depan Jati.
Jati yang sejak tadi hanya memperhatikan, segera memotong pembicaraan sebelum Pak RT salah bicara.
Ia melangkah maju dan merangkul pundak Gayuh dengan santai.
"Wah, hebat sekali Tryas! Sepertinya keberuntungan memang sedang berpihak padamu hari ini. Dari baju gratis sampai dapat rumah," ucap Jati dengan nada santai seolah itu hal yang biasa.
"Mungkin sutradaramu memang sangat kaya, atau Bank itu benar-benar royal. Yang penting sekarang kamu tidak perlu takut atapnya bocor lagi kalau hujan."
Jati menatap Pak RT dengan tatapan penuh isyarat, memberi tanda agar pria tua itu segera pamit.
"Iya, iya, betul itu kata Mas Ojek ini! Sudah ya Mbak, saya mau lanjut keliling kampung dulu. Selamat menikmati rumah barunya, Mbak Tryas!" ucap Pak RT sambil buru-buru melangkah pergi.
Gayuh masih mematung di depan pintu, memandangi sertifikat di tangannya dan martabak di tangan satunya.
Ia merasa dunia sedang berputar dengan sangat aneh.
Di balik rasa bingungnya, ada setitik rasa curiga yang mulai muncul, namun melihat wajah Jati yang tampak polos dan ikut senang, kecurigaan itu kembali tertutup oleh rasa haru.
"Jati, kamu mau masuk dulu? Lihat-lihat dalamnya?" tawar Gayuh dengan suara pelan.
"Boleh, ayo kita lihat apakah martabak ini rasanya lebih enak dimakan di rumah yang sudah jadi milik sendiri," jawab Jati sambil tersenyum misterius.
Gayuh meletakkan kotak martabak yang masih hangat di atas meja tamu yang baru.
Wangi ayam dan telur memenuhi ruangan yang kini terasa jauh lebih nyaman.
Pikirannya masih berputar hebat; ia harus segera melegitimasi situasi "rumah hadiah" ini agar Jati tidak bertanya-tanya lebih jauh.
"Jati, sebentar ya. Sepertinya aku harus menghubungi sutradaraku. Aku ingin memastikan apakah semua ini memang bagian dari fasilitas kontrak filmku," ucap Gayuh sambil meraih ponselnya yang tadi sempat ia matikan.
Gayuh menjauh beberapa langkah ke sudut ruangan.
Dengan jantung yang berdebar, ia menyalakan ponselnya namun tidak melakukan panggilan apa pun.
Ia hanya menempelkan layar gelap itu ke telinganya dan mulai bersandiwara.
"Halo? Ah, iya Pak Sutradara, terima kasih banyak ya untuk kejutan renovasinya. Saya kaget sekali. Oh, jadi benar ini hadiah untuk menunjang riset saya? Baik, Pak. Terima kasih banyak!"
Gayuh bicara dengan nada yang dibuat-buat, sesekali mengangguk meski lawan bicaranya hanyalah layar ponsel yang mati.
Ia tidak tahu bahwa Jati, yang memiliki pendengaran sangat tajam, bisa mendengar kesunyian total dari arah ponsel Gayuh.
Jati terdiam sejenak. Ia menatap punggung Gayuh yang tampak rapuh di balik gaun pink yang sedikit kusut.
Ada rasa sesak yang aneh di dadanya. Ia tahu wanita ini sedang berbohong demi menjaga martabatnya, demi menutupi rasa takutnya jika identitas aslinya terbongkar.
Tiba-tiba, Jati bangkit dari duduknya. Ia melangkah mendekat dan secara mengejutkan melingkarkan lengannya, memeluk tubuh Gayuh dari belakang.
Gayuh tersentak, suaranya yang sedang berpura-pura di telepon seketika terhenti.
"J-jati?" bisik Gayuh kaget.
Jati tidak segera melepaskannya. Ia membenamkan wajahnya sejenak di bahu Gayuh, menghirup aroma sabun bercampur keringat tipis yang justru terasa sangat menenangkan baginya.
"Sudah, jangan bicara di telepon lagi," gumam Jati rendah.
"Tryas, aku pulang dulu. Sudah malam. Kamu harus istirahat di rumah barumu ini."
Pelukan itu terasa begitu tulus dan melindungi, membuat kebohongan Gayuh terasa semakin berat di pundaknya.
Jati perlahan melepaskan dekapannya, lalu menepuk pelan puncak kepala Gayuh.
"Makanlah martabaknya sebelum dingin. Sampai bertemu besok," ucap Jati sambil tersenyum tipis, lalu melangkah keluar menuju motor ojeknya.
Gayuh hanya bisa mengangguk kecil, terpaku di ambang pintu barunya.
Ia menatap punggung Jati yang perlahan menjauh di kegelapan malam, merasa bahwa di balik jaket ojol yang kusam itu, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa ia bayangkan.
Sementara itu, Jati memacu motornya dengan satu pikiran di kepala.
"Aku akan membiarkanmu bermain dengan skenariomu, Gayuh, sampai tiba saatnya aku sendiri yang akan menulis akhir bahagia untuk kita."
Setelah jati pulang, Gayuh masuk ke dalam kamar dan memejamkan matanya.
Malam yang tenang itu seketika pecah oleh suara derit ban mobil mewah yang berhenti mendadak di depan rumah baru Gayuh.
Tryas keluar dari mobil dengan napas memburu, wajahnya merah padam karena amarah yang belum tuntas sejak percakapan telepon tadi.
Ia melangkah kasar menuju pintu, tidak mempedulikan rumah yang kini terlihat jauh lebih mewah.
Baginya, Gayuh tetaplah bawahannya. Tryas berteriak dari luar tanpa tahu Jati baru saja pergi beberapa menit yang lalu.
"Gayuh! Keluar kamu! Berani-beraninya kamu membela tukang ojek itu di depanku!" teriak Tryas membabi buta.
Gayuh yang baru saja hendak memejamkan mata segera bangkit dengan jantung berdebar.
Ia membuka pintu dan mendapati sahabatnya berdiri dengan wajah penuh kebencian.
"Tryas, jangan berteriak-teriak. Ini sudah malam, tidak enak sama tetangga," ucap Gayuh mencoba menenangkan.
Tryas tertawa sinis, matanya menyapu penampilan Gayuh yang masih mengenakan baju dari butik tadi.
"Oh, sekarang sudah berani mengaturku? Setelah aku memberimu kehidupan, kamu malah membela laki-laki rendahan itu?"
"Aku akan mengembalikan uang yang aku pinjam saat aku kecelakaan dulu, Tryas. Semuanya. Tapi tolong, bicaralah dengan baik," pinta Gayuh dengan suara bergetar.
"Sombong sekali kamu, Gayuh! Apa lelaki ojek itu memberimu semua hasil tarikannya seharian ini sampai kamu merasa kaya?" ejek Tryas dengan nada merendahkan.
"Jangan hina dia!!" teriak Gayuh, kali ini suaranya meninggi.
Ia tidak bisa lagi menahan sesak di dadanya.
"Tolong jangan hina lelaki sebaik Jati. Dia lebih berharga dari semua uang yang kamu punya!"
Wajah Tryas menegang. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak karena Gayuh lebih memilih membela seorang tukang ojek daripada dirinya.
Tanpa peringatan, Tryas meludah ke samping dan menendang pot anggrek bulan yang baru saja diletakkan pekerja renovasi di depan teras hingga pecah berantakan.
"Mulai malam ini, persahabatan kita putus!" desis Tryas tajam.
"Kembalikan semua uangku dalam tiga hari. Kalau tidak, aku pastikan kamu membusuk di penjara, penulis sampah!"
Tryas berbalik dan memacu mobilnya pergi, meninggalkan debu yang menyesakkan.
Gayuh jatuh terduduk di lantai teras yang dingin. Dengan tangan gemetar, ia mulai mengumpulkan kepingan pot dan mengambil tanaman anggrek bulan yang malang itu.
Ia memindahkannya ke sudut yang lebih aman, seolah sedang melindungi satu-satunya sisa kebaikan yang ia miliki.
"Jangan hina Jati-ku..." gumam Gayuh sesenggukan.
Air matanya jatuh membasahi kelopak anggrek yang putih bersih.
"Dia tidak tahu apa-apa, dia orang baik..."
Gayuh menangis sejadi-jadinya di bawah rembulan, merasa dunia begitu tidak adil.
Di saat ia baru saja merasakan sedikit kebahagiaan bersama Jati, kenyataan pahit kembali menghantamnya.
Ia tidak tahu bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak itu dalam tiga hari, namun satu hal yang pasti: ia akan melakukan apa pun demi menjaga kehormatan pria yang ia cintai—pria yang ia kira hanya seorang tukang ojek biasa.