NovelToon NovelToon
Asisten Tak Terduga

Asisten Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Abil_

"Menjadi asisten pribadi seorang CEO paling dingin di ibu kota bukanlah rencana awal hidupku."

Bagi Kenzo, perfeksionisme adalah segalanya. Baginya, asisten bukan sekadar pembantu, tapi mesin yang harus bekerja 24/7 tanpa celah. Namun, kedatangan asisten barunya yang "tak terduga" mulai mengacaukan ritme hidupnya yang kaku.

Ia tidak menyangka bahwa di balik kopi yang selalu pas suhunya dan jadwal yang tertata rapi, asistennya menyimpan rahasia besar yang bisa menjungkirbalikkan dunia bisnisnya. Setiap babak baru dalam hubungan mereka hanyalah awal dari lapisan misteri dan percikan rasa yang lebih dalam.

Akankah hubungan profesional ini tetap pada jalurnya, atau justru terjebak dalam permainan perasaan yang tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandiwara di Balik Gaun Merah

Lampu kristal di aula hotel bintang lima itu bersinar sangat terang, namun tidak seterang tatapan mata Kenzo Aditama saat melihat asistennya turun dari mobil. Gadis itu mengenakan gaun merah marun yang pas di tubuhnya, rambutnya yang biasa diikat rapi kini tergerai indah. Kenzo sempat terpaku selama beberapa detik sebelum kembali memasang wajah dinginnya.

"Jangan besar kepala. Ini hanya bagian dari pekerjaan," ketus Kenzo sambil menyodorkan lengannya untuk digandeng.

"Saya tahu, Pak. Tapi setidaknya Bapak bisa memuji usaha saya untuk tidak mempermalukan Aditama Group malam ini," bisiknya sambil tersenyum manis ke arah kamera wartawan yang mulai menyoroti mereka.

Saat memasuki aula utama, suasana mendadak hening. Semua mata tertuju pada Kenzo dan "pasangan" barunya. Gosip beredar cepat di antara para sosialita bahwa CEO dingin itu akhirnya membawa seorang wanita ke acara publik.

"Kenzo! Siapa wanita cantik ini?" sapa seorang pria paruh baya, yang ternyata adalah kolega bisnis ayahnya.

Kenzo mengeratkan gandengannya, lalu dengan suara berat yang mantap ia berkata, "Perkenalkan, dia adalah tunanganku. Kami sengaja menyembunyikan hubungan ini dari media demi privasi."

Jantung asistennya nyaris berhenti berdetak. Tunangan? Perjanjiannya tadi hanya menjadi asisten dekat, bukan sampai menjadi tunangan di depan umum! Ia melirik Kenzo, namun pria itu hanya memberikan tatapan yang seolah berkata, 'Ikuti saja atau kamu dipecat'.

Di tengah pesta, seorang wanita cantik dengan balutan gaun mewah mendekat. Wajahnya terlihat tidak senang. Dia adalah Aruna, mantan kekasih Kenzo yang baru saja kembali dari luar negeri.

"Tunangan? Sejak kapan kamu punya selera serendah ini, Kenzo?" tanya Aruna sambil memandang sinis ke arah asisten Kenzo dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Dia bahkan tidak terlihat seperti orang dari kelas kita."

Kenzo hendak menjawab, namun asistennya justru mendahului. "Kelas seseorang tidak dilihat dari gaun yang dipakainya, Mbak Aruna, tapi dari bagaimana dia menghargai orang lain. Dan setahu saya, Pak Kenzo memilih saya karena saya tahu cara menjaga rahasianya, bukan hanya sekadar memajang wajah cantik di depan media."

Aruna terbelalak, wajahnya merah padam karena malu. Sementara Kenzo, ia merasa ada sesuatu yang bergejolak di dadanya—rasa bangga yang tak seharusnya ia miliki.

Malam semakin larut ketika Kenzo membawanya ke balkon hotel untuk menghirup udara segar. "Kamu cukup berani melawan Aruna tadi," ucap Kenzo tanpa menoleh.

"Saya hanya melakukan tugas saya, Pak. Melindungi Bapak dari gangguan yang tidak perlu," jawabnya lelah.

"Tapi sekarang masalahnya lebih besar. Pengumuman tadi sudah didengar semua orang, termasuk ibuku. Besok, dia pasti akan memintamu datang ke rumah," Kenzo menoleh, menatap asistennya dengan sangat intens. "Kita terjebak dalam sandiwara ini lebih dalam dari yang aku duga."

Ia tertegun. Sandiwara ini baru saja dimulai, namun ia merasa bahwa batas antara akting dan perasaan mulai mengabur. Terlebih lagi, ia melihat sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya dari nomor yang tidak dikenal: "Jangan terlalu dekat dengan Kenzo, atau rahasia masa lalumu akan kubongkar malam ini juga."

Jantungnya seolah berhenti berdetak saat membaca baris demi baris ancaman itu. Cahaya dari layar ponselnya terasa menyilaukan di tengah kegelapan balkon, namun rasa dingin yang menjalar di punggungnya jauh lebih nyata. Siapa pun pengirim pesan ini, mereka tahu sesuatu yang seharusnya sudah terkubur bersama masa lalunya.

"Kenapa diam saja?" Suara berat Kenzo memecah keheningan, membuat gadis itu tersentak dan reflek menyembunyikan ponsel di balik lipatan gaun merahnya.

Kenzo melangkah mendekat, bayangannya yang tinggi besar kini mengurung tubuh mungil asistennya. Pria itu menatapnya dengan alis bertaut, mencoba membaca ekspresi wajah asistennya yang mendadak pucat pasi. "Apa kata-kata Aruna tadi benar-benar melukai harga dirimu sampai kamu tampak seperti melihat hantu?"

Ia menarik napas panjang, berusaha keras mengendalikan raut wajahnya agar tetap terlihat profesional. "Bukan itu, Pak. Saya hanya sedang memikirkan... bagaimana jika sandiwara ini terbongkar? Bapak baru saja mempertaruhkan reputasi Aditama Group di depan seluruh rekan bisnis Bapak hanya demi membungkam mantan kekasih Bapak."

Kenzo mendengus pelan, sebuah senyum miring yang angkuh tersungging di bibirnya. "Jangan terlalu percaya diri. Aku tidak melakukan ini untuk melindungimu," desis Kenzo sambil mencondongkan tubuhnya, membuat jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. "Bagiku, kamu hanyalah alat. Alat yang paling tepat untuk menunjukkan pada Aruna bahwa aku tidak bisa lagi dipengaruhi olehnya. Dan alat yang bagus harus bisa menjalankan perannya tanpa banyak bertanya."

​"Kalau begitu, sebagai 'alat' Bapak, saya harap Bapak siap dengan segala konsekuensinya," balasnya dengan suara yang diusahakan tetap tenang meski tangannya masih sedikit bergetar. "Karena mulai besok, seluruh dunia akan mengenal saya sebagai tunangan Anda. Tidak akan ada jalan kembali, Pak Kenzo. Kita berdua sudah terjebak dalam permainan ini."

Kenzo terdiam sejenak, menatap mata asistennya dengan sangat intens. Sejenak, suasana di balkon itu menjadi sangat sunyi, hanya ada suara musik klasik dari dalam aula yang terdengar lamat-lamat. Kenzo seolah sedang mencari kejujuran di mata gadis itu, namun yang ia temukan hanyalah dinding pertahanan yang sama kuatnya dengan miliknya sendiri.

"Pulanglah," perintah Kenzo akhirnya, suaranya sedikit melunak namun tetap penuh otoritas. "Supir sudah menunggu di lobi bawah. Besok pagi jam tujuh tajam, aku ingin kamu sudah ada di kantorku. Kita harus merancang strategi untuk menghadapi pengumuman ini, karena ibuku pasti akan langsung memintamu datang menemui keluarga besar."

Ia hanya bisa mengangguk patuh, merapikan gaunnya, dan berbalik meninggalkan balkon tanpa mengucapkan satu kata perpisahan pun. Saat ia melangkah melewati aula pesta yang mulai sepi, ia merasa sepasang mata penuh kebencian terus mengawasinya dari balik pilar besar.

Begitu sampai di dalam mobil jemputan yang mewah, ia segera mengunci pintu dan kembali membuka pesan ancaman tadi. Dengan jari yang masih gemetar, ia mengetikkan balasan singkat: "Siapa kamu? Apa maumu?"

Balasan itu datang secepat kilat: "Hanya seseorang yang tahu bahwa identitasmu saat ini adalah palsu. Nikmatilah kemewahan ini selama kamu bisa, karena saat aku membongkar siapa kamu sebenarnya, Kenzo sendiri yang akan menjadi orang pertama yang menghancurkanmu."

Gadis itu menyandarkan kepalanya di kaca mobil yang dingin, menatap rintik hujan yang mulai membasahi ibu kota. Ia tahu, ia sedang bermain dengan api. Namun, demi membalaskan apa yang telah diambil dari keluarganya di masa lalu, ia bersedia terbakar bersama Kenzo Aditama dalam sandiwara yang ia ciptakan sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!