NovelToon NovelToon
Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: the anonym

Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Tirai Turun dan Gema di Ruang Hampa

Mata pemuda berambut abu-abu itu kehilangan fokusnya. Cahaya keemasan Stellaron yang tadinya berkobar liar di dadanya mereda, bersembunyi kembali di balik sangkar dagingnya. Di bawah pengaruh Spirit Whisper Kafka, sang Trailblazer kini berdiri pasif layaknya boneka yang tali kendalinya baru saja dipotong.

​Di balik dinding piksel transparan, March 7th memukulkan tinjunya ke batas siber itu dengan panik.

​"Hei! Lepaskan dia!" teriak March, suaranya sedikit teredam oleh perisai dimensi. Ia menembakkan panah es abadi dari jarak dekat, namun anak panahnya hancur menjadi serpihan cahaya biru saat membentur firewall buatan Silver Wolf. "Dan Heng, lakukan sesuatu! Wanita itu mencuci otaknya!"

​Dan Heng tidak membuang waktu. Ia memusatkan seluruh aura naga airnya ke ujung Cloud-Piercer. Dengan auman pelan, ia menusukkan tombaknya tepat ke titik tengah dinding piksel tersebut.

​BZZZZZT!

​Dinding itu beriak hebat. Angka-angka nol dan satu berhamburan dari titik benturan, menciptakan retakan siber. Namun, sebelum tombak Dan Heng bisa menembus sepenuhnya, deretan kode itu memperbaiki diri mereka sendiri dengan kecepatan kilat, mementalkan Dan Heng mundur beberapa langkah.

​"Itu percuma," suara Silver Wolf terdengar santai dari arah lain. Gadis hacker itu melayang turun dengan papan selancar hologramnya, mendarat dengan mulus di samping Kafka. Ia meniup permen karetnya lalu menyeringai. "Pelindung ini tidak memiliki parameter HP (Health Point) fisik. Kalian tidak bisa menghancurkannya dengan damage mentah. Ini murni distorsi spasial."

​Di kubus yang lain, Finn Deimne menggertakkan giginya. Ia bisa merasakan stigmata The Hunt di punggungnya berdenyut marah. Ia adalah pemburu, namun mangsanya kini diculik tepat di depan matanya oleh pihak ketiga yang tidak diundang.

​"Siapa kalian sebenarnya?!" teriak Loki dari kubusnya, mencengkeram dinding transparan itu dengan jari-jarinya yang gemetar. Mata merah sang Dewi Penipu memancarkan kemarahan murni. "Apa kalian pesuruh si Penulis brengsek itu?! Kalian sadar apa yang kalian bawa?! Benda di dalam anak itu bisa menghancurkan dunia ini!"

​Kafka memalingkan wajahnya dari Trailblazer, menatap Loki dengan senyuman anggun yang tidak mencapai matanya yang berwarna batu kecubung.

​"Kami tahu persis apa benda ini, Dewi Fana," jawab Kafka dengan nada lembut yang mematikan. Tangannya masih menggenggam tangan Trailblazer dengan protektif. "Dan justru karena itulah kami mengambilnya. Kami adalah pemburu... dan kebetulan, mangsa kita sama. Hanya saja, tujuan kita berbeda."

​Silver Wolf melirik layar hologram di pergelangannya yang mulai berkedip merah.

​"Waktu habis, Kafka," lapor Silver Wolf, nadanya sedikit lebih serius sekarang. "Himeko dan pria berkacamata dari Kereta Astral itu mulai meretas balik sinyalku. Jaringan komunikasi mereka terlalu kuat. Kalau kita tidak pergi dalam tiga puluh detik, meriam orbital dari kereta mereka akan mengunci koordinat kita."

​Kafka mengangguk pelan. "Ayo pergi. Kita sudah mendapatkan apa yang kita butuhkan."

​Silver Wolf menjentikkan jarinya. Di belakang mereka, ruang hampa terdistorsi, terbuka seperti ritsleting yang membelah udara, menampilkan portal pusaran data berwarna ungu kehitaman.

​Kafka menuntun sang Trailblazer yang masih dalam pengaruh hipnotis untuk berbalik. Pemuda itu melangkah masuk ke dalam portal tanpa perlawanan sama sekali.

​"TUNGGU!" teriak Aiz, yang entah bagaimana berhasil memaksakan sebelah matanya terbuka meskipun tubuhnya lumpuh. Tangannya bergerak inci demi inci, mencoba menggapai udara kosong. "Kembalikan..."

​Kafka berhenti sejenak di depan portal. Ia menoleh ke arah Aiz, tersenyum simpul.

​"Beristirahatlah, gadis kecil. Panggung ini terlalu besar untuk kau bakar sendirian."

​Dengan kata-kata terakhir itu, Kafka melangkah masuk. Silver Wolf berbalik ke arah semua orang yang terkurung, memberikan kedipan mata main-main sambil mengacungkan dua jarinya membentuk simbol peace, lalu melompat ke dalam portal.

​SRAASH!

​Portal itu tertutup seketika, tidak meninggalkan jejak energi magis maupun distorsi ruang. Mereka lenyap begitu saja dari Lantai 50.

​Di Atas Tebing Pantau

​Aku berdiri dari tempat duduk batuku. Skenario ekstraksi berjalan sempurna. Jauh di bawah sana, aku bisa melihat ekspresi putus asa dari Kereta Astral dan kemarahan dari Aliansi Orario.

​Tepat di sampingku, sebuah portal piksel seukuran pintu terbuka dalam diam—jalur evakuasi yang ditinggalkan Silver Wolf untukku.

​Aku menatap perkamen di tanganku. Tinta untuk babak ini telah kering. Aku memasukkannya ke dalam tas kulitku, menatap sekali lagi ke arah dunia fana yang telah kuacak-acak hukumnya.

​"Satu babak selesai," bisikku pada ruang hampa. "Sampai jumpa di babak berikutnya, pahlawan."

​Aku melangkah masuk ke dalam portal, dan sensasi dingin dari teleportasi siber menelan tubuhku.

​Lantai 50 – Puing-Puing Ruang Isolasi

​PRANGGG!

​Lima detik setelah hilangnya para Pemburu Stellaron, program isolasi Silver Wolf akhirnya mencapai batas waktunya. Dinding-dinding piksel transparan yang mengurung mereka hancur berkeping-keping layaknya kaca yang dipukul palu godam, larut menjadi debu cahaya yang menghilang di udara.

​Gravitasi yang tadinya memutarbalikkan lantai itu perlahan mulai kembali normal, meski beberapa pulau batu masih melayang dengan posisi miring.

​Keheningan yang mencekam turun menyelimuti arena pertempuran tersebut. Hanya terdengar suara napas yang memburu dan denting senjata.

​Ottar perlahan menurunkan pedang besarnya. Finn tidak lagi memancarkan panah cyan-nya, stigmata The Hunt perlahan meredup dari balik zirah kaptennya karena kelelahan absolut. Tsubaki menonaktifkan kubah Preservation-nya, jatuh terduduk sambil menyeka keringat sebesar biji jagung di dahinya.

​Semua mata, baik dari pihak Orario maupun Kereta Astral, kini saling bertatapan. Tidak ada lagi dinding yang memisahkan mereka. Jarak mereka kini hanya terpaut beberapa puluh meter di atas pulau batu yang retak.

​March 7th memegang busurnya erat-erat, tangannya gemetar bukan karena dingin, tapi karena campuran antara marah dan takut. Rekan barunya baru saja diculik, dan di depannya sekarang berdiri sepasukan dewa dan petualang bersenjata lengkap yang sejak awal berniat membunuh pemuda itu.

​Dan Heng melangkah maju, memposisikan dirinya di depan March. Tombaknya terhunus, ujungnya diarahkan lurus ke dada Finn Deimne.

​Di seberang mereka, Finn balas menatap dengan tombaknya yang mengarah ke bawah. Ia bisa saja menyerang. Pihaknya unggul jumlah. Namun insting rasionalnya mengatakan bahwa pertarungan ini sudah kehilangan tujuannya.

​"Riveria," suara serak Loki memecah keheningan. "Bagaimana keadaan Aiz?"

​Riveria, yang sudah berlutut di samping Aiz, meletakkan tangannya di dahi gadis berambut pirang itu. "Dia tidak terluka secara fisik. Suhu tubuhnya normal. Tapi pikirannya dipaksa masuk ke dalam status hibernasi absolut. Aku... aku belum pernah melihat sihir seperti ini. Mantra penyembuhanku tidak merespons."

​Haruhime yang pucat pasi menghampiri, mahkota Harmony-nya meredup. "B-biarkan aku mencoba bernyanyi, Riveria-sama. Mungkin Harmony bisa menyatukan kembali kesadarannya yang terputus."

​Loki menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang kuyu. Ia perlahan bangkit berdiri, menepis tangan Bete yang mencoba menolongnya. Sang Dewi Penipu melangkah ke garis depan, berdiri di samping Finn. Matanya kini terkunci pada dua Penjelajah dari bintang lain itu.

​"Jadi..." Loki memulai, suaranya lelah namun masih menuntut otoritas. "Kalian datang bersama kereta raksasa dari langit, mencoba menyelamatkan benda yang bisa meledakkan duniaku. Dan sekarang, benda itu dibawa kabur oleh sekelompok wanita aneh."

​Dan Heng tidak menurunkan senjatanya. Mata naga hijaunya menatap Loki dengan penuh perhitungan. "Benda yang kau sebut itu adalah manusia. Dan mereka baru saja menculiknya."

​"Manusia yang menyimpan Kanker Semua Dunia di dalam dadanya," potong Freya yang tiba-tiba melangkah maju, senyum tipis yang dingin terukir di bibirnya. "Jangan naif, anak muda. Kami bisa melihat apa yang bersemayam di dalam dirinya."

​March 7th mengerucutkan bibirnya. "Hei! Dia menyelamatkan kami tadi! Dan dia tidak terlihat ingin meledakkan apa pun sampai gadis pirang kalian itu mencoba membakarnya!"

​"Cukup," potong Finn, menaikkan tangannya untuk menghentikan Ottar yang berniat maju. Finn menatap lurus ke mata Dan Heng. "Suka atau tidak, mangsa kita telah dicuri. Kita berdua adalah korban dari skenario yang ditulis oleh pihak ketiga."

​Finn perlahan menurunkan tombaknya dan menancapkannya ke tanah bebatuan. Ia membuka kedua tangannya, menunjukkan gestur gencatan senjata.

​"Musuh dari duniaku adalah sang Penulis, beserta antek-anteknya yang baru saja kabur melalui sihir dimensi tadi," ucap Finn tenang. "Jika kereta kalian memiliki teknologi untuk melacak ke mana mereka pergi... maka untuk saat ini, kita memiliki tujuan yang sama."

​Dan Heng terdiam. Ia melirik ke arah March, lalu menatap kembali ke pasukan Orario yang kelelahan. Logikanya membenarkan perkataan manusia kerdil ini. Mereka berada di dunia asing, tanpa dukungan penuh, dan mereka kehilangan Trailblazer. Berperang dengan penduduk lokal sekarang adalah tindakan bodoh.

​Perlahan, sangat perlahan, Dan Heng menurunkan Cloud-Piercer-nya.

​"Namaku Dan Heng. Dan ini March," ucapnya datar. "Kami dari Fraksi Nameless, Kereta Astral. Dan jika kalian benar-benar ingin menghentikan Fragmentum yang menghancurkan tempat ini... kurasa kita perlu bicara dengan navigator kami."

​Loki menyeringai tipis, sebuah senyum lelah yang dipenuhi ironi takdir. "Bagus. Karena aku punya banyak pertanyaan tentang 'Aeon' brengsek yang menitipkan kekuatannya pada anak-anakku."

1
l.."..l
aku suka novel ini, makin lama ceritanya menarik
Ero-Sensei
oke ini semakin menarik
Ero-Sensei
buseng dah repot amat MC skizo padahal tinggal bilang cuma fiksi dan ngapain juga perlu ngumpet.
Ero-Sensei
repot amat, tinggal bilang aja ini cuma karya fiksi. lagian kisah argonot aja cuma karya fiksi khayalannya argonot yang pengen jadi pahlawan. aslinya mah bocah cupu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!