NovelToon NovelToon
Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:592
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )

Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )

Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )

Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24 - Batas Kekuatan Sang Junior

Kembali ke pertarungan di tengah Hutan Bambu Ungu, suara benturan pedang terus menggema, memecah ketenangan sore yang mulai meredup.

CLANG! CLANG!

Percikan petir ungu berhamburan setiap kali bilah mereka saling beradu, menciptakan kilatan-kilatan singkat di udara.

Namun perlahan, arah pertarungan mulai berubah, dan Long Chen pun mulai terdesak.

Setiap tebasan yang ia lepaskan, meskipun cepat dan tajam, selalu berhasil ditahan oleh Mo Fan dengan pertahanan yang nyaris sempurna. Tidak ada gerakan yang berlebihan, tidak ada energi yang terbuang, semuanya terasa efisien dan terkendali.

Setiap langkah Long Chen terbaca dengan jelas, dan setiap celah yang muncul langsung dimanfaatkan tanpa ragu oleh Senior Mo fan.

Setiap tebasan yang ia lepaskan, meskipun cepat dan tajam, selalu berhasil ditahan oleh Mo Fan dengan pertahanan yang nyaris sempurna. Tidak ada gerakan yang berlebihan, tidak ada energi yang terbuang, semuanya terasa efisien dan terkendali.

Tiba-tiba, keduanya sama-sama meningkatkan aliran qi mereka, petir ungu mulai menyelimuti bilah pedang masing-masing dengan lebih jelas dan liar, berdenyut seperti makhluk hidup yang siap menerkam. Aura di sekitar mereka melonjak tajam, membuat udara bergetar dan tanah di bawah kaki mereka terasa lebih berat.

Serangan yang sebelumnya sudah cepat kini menjadi jauh lebih cepat, lebih berat, dan semakin mematikan, seolah setiap gerakannya membawa tekanan yang terus meningkat tanpa memberi ruang untuk bernapas.

Mo Fan melangkah maju lebih dulu, tubuhnya bergerak secepat kilat, lalu mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh, petir ungu di sekitarnya meledak mengikuti arah tebasan itu.

Long Chen langsung mengangkat pedangnya untuk menahan, mengumpulkan seluruh kekuatan qi yang ia miliki pada bilahnya.

Benturan itu terjadi dalam satu momen.

DORR!

Suara ledakan energi menggema, gelombang tekanan menyebar ke segala arah, membuat dedaunan bambu bergetar keras.

Namun kali ini, Long Chen tidak mampu menahannya sepenuhnya. Tubuhnya terdorong mundur beberapa langkah, kakinya menyeret tanah untuk menahan momentum hingga meninggalkan jejak yang dalam di permukaan. Napasnya semakin berat, dan tangannya mulai sedikit bergetar, menandakan tekanan yang kini benar-benar mulai melampaui batas yang bisa ia kendalikan.

Di sisi lain, Meng Wu mengamati tanpa berkedip, ekspresinya tetap tenang namun matanya tajam menilai setiap detail Pertarungan yg ada di hadapannya.

Sementara itu, Shi Hao menyilangkan tangan sambil tersenyum tipis.

“Menarik…” gumamnya pelan.

Kembali ke pusat pertarungan, Mo Fan mengangkat pedangnya perlahan, aura petir ungu di sekelilingnya semakin padat dan berdenyut kuat. Tatapannya tetap tenang, namun jelas ia mulai serius. “Baiklah, cobalah hindari teknik ini, junior Long Chen,” ucapnya.

Suaranya merendah, membawa tekanan yang berbeda.

“Teknik Tingkat Keempat—Tarian Jarum Perak.”

Dalam sekejap, tubuhnya menghilang dari posisi semula, lalu serangan tusukan bertubi-tubi muncul dari berbagai arah, seolah puluhan bayangan pedang menyerang bersamaan. Setiap tusukan cepat, nyaris tak terlihat, dan sulit diprediksi arah datangnya.

Long Chen memaksa dirinya tetap tenang.

Matanya bergerak cepat.

Pedangnya berputar, menangkis satu per satu serangan yang datang.

CLANG! CLANG! CLANG!

Percikan petir berhamburan di sekelilingnya saat ia bertahan dengan seluruh kemampuan yang ia miliki.

Namun tekanan itu tidak berhenti, tidak memberi jeda sedikit pun, dan tiba-tiba—Sreet!

Mo Fan muncul tepat di belakangnya tanpa peringatan, kecepatannya melampaui batas penglihatan biasa, dan dalam satu gerakan, pedangnya langsung mengayun dengan kekuatan penuh.

Long Chen bereaksi cepat, tubuhnya berputar seketika, dan pedangnya terangkat untuk menahan serangan yang datang. CLANG! Benturan keras kembali terjadi, namun kali ini terasa berbeda—kekuatan di balik serangan Mo Fan jauh lebih berat, menciptakan tekanan yang tidak seimbang dan sulit ia tanggung.

Tubuh Long Chen langsung terpental ke belakang, kakinya kehilangan pijakan sebelum akhirnya menghantam tanah dengan keras.

Debu berhamburan ke udara, menutupi pandangan sesaat.

Mo Fan menurunkan pedangnya sedikit, aura di sekelilingnya mereda meski tidak sepenuhnya hilang, lalu menatap Long Chen dengan perhatian. “Apakah kau baik-baik saja, junior Long Chen?” tanyanya tenang.

Long Chen perlahan bangkit dari tanah, debu masih menempel di pakaiannya, napasnya berat namun stabil. “Aku baik-baik saja,” jawabnya, lalu mengangkat pedangnya kembali dengan tekad yang tidak goyah. “Kita lanjutkan saja pertarungannya, Senior.”

Mo Fan mengangguk pelan, namun kali ini ekspresinya lebih serius, sorot matanya menunjukkan bahwa ia benar-benar sedang menilai. “Sepertinya aku sudah menemukan kekuranganmu,” ucapnya.

Ia menatap pedang Long Chen yang masih dilapisi petir ungu. “Kekuatan petirmu… masih belum sempurna. Alirannya belum sepenuhnya stabil, dan ledakannya belum cukup padat,” lanjutnya dengan tenang.

Nada suaranya tidak menghakimi, melainkan membimbing. “Kau harus memperkuat teknik petirmu sebelum turnamen nanti. Kalau tidak, kau akan kesulitan menghadapi lawan yang setara atau bahkan lebih kuat.”

Long Chen mengangguk tanpa membantah, menerima setiap kata itu dengan serius. “Terima kasih atas sarannya, Senior. Aku akan mengingatnya,” jawabnya tegas.

Ia menggenggam pedangnya lebih erat, aura di sekitarnya mulai bergetar lagi, kali ini lebih terfokus.

Tatapannya mengunci Mo Fan.

“Kalau begitu… aku yang akan menyerang duluan ,senior..”

Aura Long Chen berubah seketika, tidak lagi menyebar liar seperti sebelumnya, melainkan terkumpul rapat di sekeliling tubuhnya, tajam dan terarah seperti ujung pedang yang siap menembus apa pun di hadapannya. Petir ungu yang menyelimuti bilahnya kini berdenyut lebih stabil, mengikuti aliran qi yang telah ia kendalikan dengan lebih baik.

“Teknik Tingkat Kedua—Langkah Guntur.”

WHOOSH!

Tubuhnya lenyap dari tempatnya berdiri, meninggalkan jejak samar yang langsung hilang tertiup angin.

Mo Fan langsung waspada, refleksnya bekerja seketika, matanya bergerak cepat ke segala arah, mencoba menangkap keberadaan Long Chen yang kini tidak lagi bisa diikuti dengan mudah.

Udara bergetar, dan dalam sekejap Long Chen muncul dari atas dengan kecepatan yang sulit diikuti mata. Pedangnya turun tajam, disertai kilatan petir ungu yang menyambar mengikuti arah tebasannya. Mo Fan dengan sigap mengangkat pedangnya untuk menahan—CLANG! Benturan keras menggema, namun sebelum tekanan itu benar-benar mereda, Long Chen sudah menghilang lagi. Sreet! Dalam sekejap berikutnya, ia telah muncul di belakang lawannya.

Serangan langsung datang tanpa jeda, diikuti oleh kemunculan berikutnya dari sisi lain, lalu dari depan, lalu dari atas lagi, setiap pergerakan semakin cepat dan sulit ditebak.

Serangan demi serangan mengalir tanpa henti, seperti kilat yang menyambar dari segala arah, membuat Mo Fan kini tidak hanya sekadar menahan, tetapi mulai benar-benar menghadapi tekanan yang semakin meningkat.

Di sisi lain , Ling Er membelalakkan mata lebar-lebar saat menyaksikan pertarungan di hadapannya, tubuhnya tanpa sadar sedikit condong ke depan. “Cepat sekali…” gumamnya, suaranya hampir tidak terdengar. “Teknik tingkat kedua junior Long Chen… bahkan lebih cepat dariku…”

Mei Ling yang duduk di kursi roda hanya tersenyum pelan, matanya tetap mengikuti pergerakan Long Chen yang nyaris tak terlihat. “Kau tahu, junior Ling Er,” ucapnya lembut, “setiap malam…junior Long Chen sering berlatih sendiri di halaman rumah untuk meningkatkan teknik itu.”

Ia menambahkan dengan nada tenang, “Aku sering melihatnya diam-diam, jadi aku tidak heran kalau tekniknya sekarang bisa sejauh itu, bahkan melampauimu.”

Ling Er terdiam, matanya masih terpaku pada pertarungan.

Sementara itu, Meng Wu mengangguk perlahan, sorot matanya dalam dan penuh penilaian. “Anak itu…” katanya pelan.

Ia berhenti sejenak, seolah benar-benar mempertimbangkan sesuatu.

“Bakatnya sangat luar biasa.”

Tatapannya semakin tajam, mengikuti setiap gerakan Long Chen yang kini menekan Mo Fan tanpa henti.

“Kalau terus seperti ini…” lanjutnya dengan suara rendah namun penuh keyakinan, “suatu hari nanti… dia bisa menjadi penerusku.”

Kembali ke pusat pertarungan, Long Chen terus menekan tanpa henti, gerakannya semakin cepat dan tajam, setiap langkahnya diiringi kilatan petir yang menyambar di antara bambu-bambu ungu. Serangannya mengalir seperti badai, memaksa Mo Fan bertahan dalam tekanan yang semakin meningkat.

Namun akhirnya, Long Chen pun berhenti.

Ia berdiri tepat di depan Mo Fan, jarak mereka hanya beberapa langkah, napasnya berat naik turun, keringat mengalir di pelipisnya, tetapi matanya bersinar penuh keyakinan.

“Aku akan mengakhiri ini, Senior,” ucapnya tegas.

Ia mengangkat pedangnya sedikit, aura petir di sekelilingnya bergetar semakin kuat.

“Nampaknya… kali ini aku akan menang.”

Angin seolah berhenti, suasana pun menegang, sementara Mo Fan hanya tersenyum—senyum yang tenang dan tidak goyah sedikit pun, seakan segala tekanan yang baru saja terjadi sama sekali tidak menggoyahkan dirinya.

“Apakah kau yakin?” balasnya santai.

Tatapannya menajam, aura di tubuhnya perlahan meningkat, jauh lebih dalam dari sebelumnya.

“Justru… aku yang akan menang.”

Long Chen langsung melesat maju tanpa di ragu, tubuhnya seperti kilat yang membelah udara, pedangnya mengarah lurus ke Mo Fan dengan seluruh kekuatan yang ia kumpulkan.

Namun pada saat yang sama, Mo Fan tiba-tiba bergerak.

Dengan satu langkah ringan, ia mengayunkan pedangnya dan suaranya terdengar tegas.

“Teknik Tingkat Keenam—Pelindung Elektromagnetik.”

Dalam sekejap, pedangnya berputar cepat di sekeliling tubuhnya, menciptakan medan energi petir yang padat dan berlapis, seperti perisai tak terlihat yang bergetar kuat.

Aura di sekitarnya langsung berubah, menjadi berat dan menekan, dan saat serangan Long Chen menghantam—BOOM!

Ledakan energi terjadi, gelombang kejut menyebar ke segala arah, menghancurkan tanah di sekitar mereka dan membuat bambu-bambu di sekitarnya bergoyang keras.

Namun kali ini, bukan Mo Fan yang terdorong, melainkan Long Chen yang terpukul mundur oleh tekanan yang berbalik arah.

Tubuhnya terpental jauh ke belakang, kakinya kehilangan pijakan sebelum akhirnya menghantam tanah dengan keras.

Pedangnya terlepas dari genggamannya, berputar di udara sebelum jatuh dengan suara tajam di kejauhan.

Mo Fan tidak menyia-nyiakan kesempatan sedikit pun, tubuhnya langsung bergerak saat Long Chen masih berusaha bangkit dari hempasan tadi. “Teknik Tingkat Kedua, Langkah Guntur,” ucapnya tenang.

Dalam sekejap, sosoknya menghilang dari tempatnya berdiri, hanya menyisakan bayangan samar yang langsung lenyap bersama hembusan angin.

Detik berikutnya, ia sudah muncul tepat di depan Long Chen dengan kecepatan yang nyaris tak terlihat, pedangnya terangkat seolah siap menebas, namun kemudian berhenti tepat sebelum serangan itu dilepaskan.

Ujung bilah itu berada sangat dekat dengan leher Long Chen, cukup dekat untuk menentukan akhir dari pertarungan.

Hening menyelimuti area itu, sementara debu perlahan turun dan mengaburkan sisa-sisa jejak pertarungan yang baru saja terjadi.

Mo Fan menatapnya dengan tenang, tidak ada kesombongan, hanya kepastian.

“Sepertinya… pertarungan ini telah selesai, junior Long Chen,” ucapnya ringan.

Meng Wu melangkah maju dengan tenang, aura di sekitarnya tetap stabil seperti sebelumnya, namun kini sorot matanya lebih lembut setelah melihat jalannya pertarungan hingga akhir. “Nampaknya pertarungannya telah selesai,” ucapnya dengan suara tegas namun tidak keras.

Ia berhenti di dekat Long Chen, menatapnya dengan penuh penilaian.

“Kerja bagus, Junior Long Chen,” lanjutnya.

Nada suaranya tidak berlebihan, namun mengandung pengakuan yang jelas. “Kau sudah memberikan yang terbaik.”

Tatapannya menjadi lebih dalam, seolah melihat lebih jauh dari sekadar hasil pertarungan barusan. “Aku yakin… kau akan bisa bersaing dengan para peserta lain di Turnamen Tujuh Divisi nanti,” katanya.

Mo Fan mengulurkan tangannya dengan santai, senyumnya kembali seperti biasa, hangat tanpa tekanan.

Long Chen menatapnya sejenak, lalu menerima uluran itu tanpa ragu.

Dengan satu tarikan ringan, ia dibantu berdiri kembali, tubuhnya masih terasa berat namun kini lebih stabil.

Mo Fan menepuk bahunya pelan. “Kau sudah hebat, junior,” ucapnya jujur. “Tadi kau benar-benar membuatku kesulitan.”

Long Chen tersenyum kecil, bukan senyum bangga, melainkan penuh rasa syukur. “Terima kasih, Senior,” jawabnya.

Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah yang lain, ke Meng Wu, Mei Ling, Ling Er, dan Shi Hao yang sejak tadi menyaksikan.

“Terima kasih… Guru… semuanya…” ucapnya tulus.

Di bawah langit senja yang perlahan meredup, cahaya jingga menyelimuti Hutan Bambu Ungu dengan kehangatan yang lembut, seolah menenangkan segala ketegangan yang baru saja terjadi. Angin berdesir pelan, menggerakkan dedaunan bambu dan menciptakan suasana yang damai.

Meng Wu berdiri dengan tenang, Mo Fan dan Shi Hao berada di sampingnya, sementara Ling Er mendorong kursi roda Mei Ling, dan Long Chen berdiri di dekat mereka. Untuk sesaat, tidak ada tekanan, tidak ada beban, hanya kebersamaan yang sederhana.

End Chapter 24

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!