Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30--Beli rumah
Selama ini, Ibu Sarah dan adik perempuannya, Rara, tinggal di sebuah rumah sempit di pinggiran kota yang bahkan sudah nyaris kehilangan predikat “layak huni”. Atap seng tuanya sering bocor di banyak titik setiap kali hujan deras turun mengguyur malam. Kalau musim hujan datang, suara tetesan air seperti genderang penderitaan yang tidak pernah berhenti berbunyi sepanjang malam.
Di beberapa sudut rumah, ember dan baskom selalu disiapkan sebagai penampung air. Lantainya yang dingin dan kusam kerap basah karena rembesan dari atap yang lapuk. Dinding rumah pun sudah penuh bercak lembap berwarna kehitaman. Catnya mengelupas di sana-sini, memperlihatkan semen retak yang tampak menyedihkan dipandang mata.
Bahkan bagian kayu penyangga dekat dapur mulai berkarat dan rapuh dimakan usia. Saat angin malam bertiup cukup kencang, rumah itu mengeluarkan bunyi berdecit pelan yang membuat Rara beberapa kali ketakutan saat tidur sendirian.
Namun di tempat sesederhana itu, Ibu Sarah tetap berusaha tersenyum setiap hari.
Ia tetap memasak seadanya, tetap membersihkan rumah meski tahu besok dindingnya akan lembap lagi, dan tetap berpura-pura kuat di depan anak-anaknya.
Karena itulah, sejak memperoleh saldo ratusan juta dari hasil sedekah dan pengembalian sistem, satu hal yang paling pertama muncul di pikiran Naufal bukanlah mobil mewah atau barang branded.
Melainkan rumah.
Rumah yang benar-benar bisa disebut rumah. Sekarang saldonya tersisa Rp320 juta. Jumlah yang bahkan beberapa bulan lalu terasa mustahil untuk ia bayangkan. Aslinya, kalau bisa, ia masih ingin terus berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan. Apalagi setiap sedekah sering memicu cashback atau hadiah dari sistem.
Sayangnya, sistem memberinya batas limit transaksi harian. Kalau dipaksakan terus, aktivitas akun bisa dicurigai tidak wajar.
Setelah shift kerjanya selesai sore itu, Naufal tidak langsung pulang ke rumah kontrakan reyot mereka. Ia justru memacu Ducati hitamnya menyusuri jalanan kota menuju sebuah kawasan perumahan baru di daerah Blok X. Motor sport itu melaju mulus membelah lalu lintas sore hari. Cahaya matahari senja memantul di bodi Ducati yang mengilap, menciptakan kesan mahal dan elegan.
[Ding!]
[Analisis Properti Aktif!]
[Lokasi: Perumahan Blok x]
[Status: Unit Ready Stock - Desain Modern Minimalis]
[Harga Promo: Rp 220.000.000 (Khusus Unit Hook - Sisa 1 Unit!)]
Naufal tersenyum di balik helm fullface-nya. Angka itu jauh lebih masuk akal untuk sebuah hunian yang layak daripada unit sempit yang ia lihat sebelumnya, ia kemarin-kemarin sempat tanya kesana kesini ada yang punya menyediakan 75 juta tapi itu kurang. Dengan saldo Rp 320.000.000, membeli rumah ini tidak akan membuatnya jatuh miskin. Justru, ini adalah investasi paling berharga untuk ketenangan batinnya.
Lagian kemampuan cashback dia masih aktif kalau hoki dia malah bisa membuat menjadi dua kali lipat.
Naufal tersenyum. Harganya sangat pas dengan kondisi saldonya saat ini. Itu rumah sudah sangat megah, itu adalah bangunan dua lantai bergaya minimalis kotak dengan kombinasi cat warna putih dan abu-abu matte. Dindingnya bersih tanpa cacat, sangat kontras dengan dinding rumah lamanya yang berlumut.
Karena posisi hook (sudut), rumah ini punya sisa lahan di samping yang sudah ditanami rumput rapi. Ada carport dengan lantai semen sikat yang cukup luas untuk parkir Ducati miliknya.
Bahkan ada garasi mobil juga di samping rumah, pagar-pagar warna putih dari kayu terpasang. Keren ini rumah sudah cukup banget buat mereka
Ini adalah kediaman yang mungkin belum bisa dibilang sultan banget, tapi jelas naufal sudah naik kelas sekarang.
Untuk saat ini dia belum perlu membeli istana di atasnya, yang penting Rara dan Ibu Sarah bisa tidur dengan nyenyak.
Tanpa membuang waktu, Naufal melangkah masuk ke dalam kantor pemasaran yang terletak di bagian depan perumahan tersebut. Seorang petugas pemasaran pria bernama kurniawan menatap Naufal dengan alis berkerut. Ia melihat pemuda itu masih mengenakan seragam sales OMNI yang sedikit berdebu setelah seharian bekerja.
"Selamat sore, Mas. Ada yang bisa dibantu? Mau cari brosur untuk cicilan?" tanya petugas itu dengan nada yang terdengar formal namun sedikit meragukan kemampuan finansial Naufal.
Itu sudah jelas rumah ini dijual mahal, ia ragu seorang sales bisa membeli dengan tunai.
Naufal langsung duduk di kursi depan meja petugas tersebut
"Saya mau ambil unit ready stock di Blok X yang harga promo Rp 220 juta itu," ucap Naufal dengan suara tenang namun tegas.
Petugas itu tertegun sejenak, lalu tersenyum tipis yang sedikit meremehkan. "Oh, unit terakhir itu ya? Tapi mohon maaf sebelumnya, Mas, untuk harga promo itu hanya berlaku untuk pembayaran *cash* keras atau tunai. Kalau mau ciclan, harganya kembali ke harga normal dan prosesnya lumayan panjang, harus cek slip gaji dan—"
"Saya bayar tunai sekarang, bukan nyicil" potong Naufal sambil mengeluarkan ponselnya.
Mata petugas itu membelalak. "Tu-tunai? Mas serius? Ini Rp 220 juta, Mas!"
"Siapkan berkasnya sekarang. Saya tidak suka membuang waktu," balas Naufal dingin.
Setelah melihat ketegasan dari Naufal entah kenapa petugas itu jadi merinding, ia tidak diragukan lagi karena ia belajar dari pengalaman sebagai media pemasaran. Orang tipe gini gak banyak bacot langsung beli, alias orang ini kaya.
Dengan tangan gemetar, petugas itu segera menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan. Naufal melakukan transfer instan melalui aplikasi perbankannya yang telah terintegrasi dengan sistem. Dalam hitungan menit, transaksi berhasil.
BIP!
[Pembayaran Berhasil: Rp 220.000.000]
[Saldo Anda saat ini: Rp 100.000.000]
Naufal menghela napas, tidak terjadi cashback ya. Mau gimana lagi, dia sudah habis keberuntungan dari hasil roda nasib sedekah anak yatim dan bencana warga banjir. Keberuntungan juga gak mungkin 100% setiap saat muncul.
Yang terpenting sekarang rumah untuk ibu dan rara sudah ada.
Petugas pemasaran itu kini berdiri dan membungkuk hormat, keringat dingin tampak di dahinya.
"Su-sudah lunas, Pak Naufal. Ini kunci unitnya dan tanda terima sementara. Sertifikat akan segera kami proses balik nama atas nama siapa, Pak?"
"Atas nama Ibu Sarah," jawab Naufal singkat. Ia mengambil kunci dengan gantungan logo perumahan tersebut dan menyimpannya di saku. Tentu saja itu atas nama ibunya, ia ingin membuat kejutan untuk sang ibu.
Naufal berjalan keluar kantor pemasaran dengan langkah tegap. Ia menatap deretan rumah di depannya. Rumah itu memang minimalis, namun di mata Naufal, itu adalah benteng pertahanan pertama bagi keluarga yang sangat ia cintai.
Ia memacu Ducatinya kembali ke rumah lamanya. Ia sudah tidak sabar melihat reaksi Rara yang tengil dan wajah haru Ibunya.
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN