Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 2
'Beberapa Tahun Lalu Saat Kinanti Belum menikah'
.
.
\***Flashback On**\*
Panas udara Jakarta terasa membakar kulit, namun di dalam mobil Alphard hitam ini, segalanya terasa dingin dan tenang. Aromanya campuran antara parfum mahal Alana dan cairan pembersih interior mobil.
Aku, duduk di bangku penumpang depan, meremas tali tas sekolahku yang sudah mulai pudar warnanya. Di bangku belakang, Alana sedang sibuk memoles liptint di bibirnya yang tipis, matanya terpaku pada cermin kecil di tangannya.
"Pak Diman, AC-nya bisa dikecilin sedikit?" tanyaku pelan, melirik sang supir yang sudah bekerja untuk keluarga Alana sejak kami masih SD.
"Iya, Non Kinanti," jawabnya ramah.
Alana menurunkan cerminnya, menatapku melalui spion tengah. "Kenapa, Kin? Dingin? Bilang dong dari tadi. Pak Diman, kecilin AC-nya. Jangan sampai tuan putriku ini masuk angin."
Aku memaksakan senyum. Tuan putri. Kata-kata itu terdengar manis, tapi di telingaku, itu selalu membawa beban yang tidak terlihat.
"Makasih, Lan," kataku, mencoba terdengar tulus.
Kami berdua adalah murid kelas dua di SMA Taruna Bhakti, salah satu sekolah paling elit di kota ini. Kehadiran kami selalu menarik perhatian, tapi dengan alasan yang sangat berbeda.
Alana adalah seorang bintang putri dari seorang pengusaha sukses, cantik, trendi, dan selalu dikelilingi oleh barang-barang bermerek.
Aku? Aku adalah bayangannya, murid beasiswa berprestasi yang beruntung bisa bersahabat dengannya.
"Kinanti," panggil Alana lagi, kali ini nada suaranya berubah menjadi lebih serius. "Soal tawaran Papa kemarin malam..."
Aku tersentak. Aku sudah menduga dia akan mengungkit ini lagi. "Lan, gue sudah bilang. Beasiswa gue masih aman. Rapor gue semester ini bagus, kok. Jadi..."
"Tapi kalau beasiswa lu dicabut karena alasan administratif atau apa pun, Papa bilang dia siap nanggung semua biaya sekolah lu sampai lulus. Bahkan sampai kuliah, kalau lu mau."
Aku mengepalkan tangan, kuku-kukuku menekan telapak tangan. Rasa bangga yang selama ini kujaga terasa tercabik-cabik. "Bokap dan Nyokap lu sudah terlalu banyak membantu gue dan Bunda selama ini, Lan. Kami nggak bisa terus-terusan jadi beban."
"Beban?" Alana tertawa, sebuah tawa ringkih yang tidak sampai ke mata. "Lu nggak pernah jadi beban buat gue, Kinanti. Lu satu-satunya teman yang nggak menatap gue seolah gue ini cuma ATM berjalan. Gue butuh lu. Tanpa lu, siapa yang bakal dengerin curhatan gue soal pacar-pacar gue yang cuma mau pansos?"
Dia merangkul bahuku dari belakang, kepalanya bersandar di pundakku. Aromanya parfum vanila yang manis dan memabukkan. "Kan kita sudah seperti kembaran, Kin. Apa yang punya gue, itu punya lu juga."
'*Punya gue, itu punya lu juga*' Kata-kata itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang menyesakkan. Dia tidak mengerti.
Dia tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya berdiri di pintu kaca, melihat dunia mewah di dalamnya, namun tahu bahwa satu-satunya alasan pintu itu terbuka adalah karena kebaikan hati orang lain.
Begitulah Alana. Dia terlalu baik sebagai sahabat, dan kebaikannya itu perlahan menjadi duri yang menusuk harga diriku setiap hari.
"Sudah, diam! Guru sudah masuk," bisikku saat kami sampai di depan pintu kelas, melihat Alana masih ingin melanjutkan obrolan.
~~
Pada saat jam beristirahat, suasana kantin SMA Taruna Bhakti tidak pernah sepi. Bau makanan campuran antara masakan Indonesia dan Barat menyeruak. Di sini, status sosial tidak bisa disembunyikan.
Anak-anak beasiswa biasanya berkumpul di pojok paling belakang, membawa bekal dari rumah. Tapi aku, berkat Alana, selalu duduk di meja tengah, area kekuasaan anak-anak populer.
"Gue mau salad buah dan jus alpukat. Lu apa, Kin?" tanya Alana sambil mengedarkan pandangan, mencari meja kosong.
"Gue bawa bekal, Lan."
"Duh, Kin! Berhenti deh bawa bekal. Makanannya Papa sudah pasti jauh lebih enak dan bergizi daripada bekal lu itu. Ayo, gue traktir."
Aku menarik napas panjang. "Lan, please. Sekali ini aja, biarin gue makan bekal gue. Bunda sudah masakin buat gue."
Alana cemberut, tapi akhirnya menyerah. "Oke, terserah lu. Tapi habis ini lu harus temenin gue ke mall, ya? Gue mau beli sepatu baru."
Aku mengangguk pasrah. Itu adalah harga yang harus kubayar untuk persahabatan ini, waktu dan kemandirian.
Baru saja kami duduk di meja, Alana tiba-tiba menyenggol lenganku dengan sikunya. "Kin, liat deh. Di sudut kantin. Ada Reno."
Aku menegang. Nama itu. Reno adalah Ketua OSIS tahun ini. Karismatik, pintar, dan memiliki tatapan mata yang bisa membuat siapa saja bertekuk lutut. Dan dia, entah bagaimana caranya, selalu bersikap ramah padaku.
"Kita duduk di dekat mereka, yuk!" Alana sudah berdiri, bersiap untuk beraksi.
"Malu ah, Lan. Masa kita cewek yang nyamperin cowok duluan?"
"Kenapa harus malu, Kin? Kita cuma mau duduk, bukan mau mencuri," jawab Alana enteng, lalu melenggang pergi dengan percaya diri menuju meja tempat Reno dan Arya duduk.
Reno sedang tertawa bersama Arya saat kami mendekat. Tatapannya langsung tertuju padaku, dan senyum lebar mengembang di wajahnya.
"Boleh kami duduk di sini?" tanya Alana dengan senyum manisnya.
"Boleh banget!" jawab Arya, kapten tim basket yang selalu ceria.
Reno segera memberi ruang di sampingnya, matanya tidak lepas dari wajahku. "Duduklah, Lan, Kinanti."
Aku merasa Reno menyapaku, namun Alana langsung mendahului, duduk di samping Reno dan memberikan senyuman terbaiknya.
"Kamu sudah pesan makanannya, Lan?" tanya Reno.
"Belum," jawab Alana dengan mata berbinar. "Emang kamu mau pesankan buatku?"
Reno sempat terdiam sejenak, tatapannya beralih padaku dengan ragu. "Maaf, Lan. Maksudku... Kinanti."
Wajah Alana langsung berubah masam, senyum manisnya hilang digantikan oleh raut kekecewaan. "Jadi, dari tadi kamu menyapa Kinanti, bukan aku?"
Arya yang menyadari ketegangan itu segera mencoba menengahi. "Biar gue yang pesankan buat lu, Lan."
Alana hanya mendengus kesal, tatapannya menajam ke arahku. Aku hanya bisa menunduk, meremas sendok bekal di tanganku. Aku bisa merasakan percikan kecemburuan yang tipis dari arah Alana.
~~
Sore itu, langit Jakarta tampak abu-abu, seolah-olah siap untuk menumpahkan bebannya. Kami menunggu Pak Diman di depan gerbang sekolah. Reno muncul dengan motor Ninja hitamnya, helm fullfacenya menutupi wajahnya, tapi aku tahu itu dia.
"Belum pulang? Nunggu siapa?" tanya Reno, menghentikan motornya tepat di depan kami.
"Nunggu Papa... eh, nunggu kamu," sahut Alana dengan nada centil, lalu melirik ke arahku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Gue bisa bareng, kan? Kinanti sudah ada yang jemput. Gue takut pulang sendiri."
Dia lalu berbisik padaku, "Lu pulang sama Pak Diman saja ya, Kin. Gue bareng Reno."
Aku hanya bisa berdiri mematung, menatap mereka. Aku, murid beasiswa yang hidup dari belas kasihan keluarga Alana, tentu tidak pantas untuk mendahului. Aku bukanlah Alana yang bisa mendapatkan apa saja yang dia inginkan.
"Oh, oke," jawab Reno, tatapannya beralih padaku dengan ragu. "Gue antar Alana dulu ya, Kin."
Aku memaksakan senyum. "Hati-hati di jalan, Lan, Ren."
Tanpa menungguku menjawab, Alana langsung naik ke boncengan motor Reno. "Sudah, Reno. Ayo, kita berangkat sekarang!"
Aku melihat motor Reno perlahan menjauh, membawa dua orang yang paling kucintai dan paling kutakuti secara bersamaan. Di dalam diriku, ada rasa sakit yang tipis tapi tajam.
Aku juga menyukai Reno, namun aku merasa tidak pantas. Siapalah aku, seorang anak janda miskin yang hidup dari belas kasihan, jika dibandingkan dengan Alana yang sempurna?
Tak lama, Pak Diman datang dengan mobil keluarga Alana.
"Non Kinanti, mana Non Alana? Kok sendirian saja?" tanya Pak Diman saat melihatku berdiri sendirian di trotoar.
"Alana sudah pulang duluan bareng temannya, Pak," jawabku.
"Jadi, Non sendirian saja? Ayo, Non, masuklah!"
"Aku naik angkot saja, Pak. Nggak enak sendirian di mobil," tolakku sopan, namun Pak Diman bersikeras.
"Nggak apa-apa, Non. Rumah kita searah, daripada Non naik angkot sendirian di sore yang ramai ini."
Aku akhirnya mengalah dan masuk ke dalam mobil Alphard yang dingin ini.
Sesampainya di rumah, aku disambut oleh aroma manis kue yang baru saja keluar dari oven. Rumah ini kecil, tapi penuh dengan kehangatan. Bunda sedang sibuk menghias kue-kue pesanan di meja makan.
"Selamat siang, Bunda. Lagi buat kue pesanan siapa nih?" tanyaku sambil memeluk pinggangnya dari belakang, kepalaku bersandar di pundaknya yang mulai sedikit membungkuk.
"Ini pesanan Ibu Joko untuk acara nanti malam. Kamu makan dulu baru bantu Bunda," kata Bunda dengan senyum lelah, namun matanya berbinar.
"Bisa sambil makan, kok, Bun bantunya," jawabku sambil mengambil sepotong kue kecil.
Persahabatanku dengan Alana memang berawal dari sini. Dari dapur kecil ini, dan dari tangan-tangan Bunda yang selalu penuh dengan tepung. Perkenalan kami terjadi ketika Bunda bekerja sebagai tukang cuci dan setrika di rumah megah keluarga Alana.
Sejak masuk SMP, kami tak terpisahkan. Di mana ada Kinanti, pasti ada Alana. Namun, di balik kebaikan orang tua Alana yang menolong kami, ada perasaan yang perlahan tumbuh di dalam diriku, sebuah kesadaran akan jurang perbedaan yang memisahkan kami.
\***Flashback Off**\*
...----------------...
**To Be Continue** ....
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.
Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.
Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.