NovelToon NovelToon
Because Of Music We Met

Because Of Music We Met

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Crazy Rich/Konglomerat / Anak Genius
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sandra Yandra

Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.

Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.

Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.

Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.

Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...

Maka pertanyaannya kini adalah...

Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemarahan Yongki

"TAMMA!"

Yongki sudah meledak. Kendali emosinya lenyap begitu saja saat dia berlari mendekati sosok yang duduk terkulai lemas di tengah lapangan sekolah Harmoni.

Melihat wajah sahabatnya yang babak belur, penuh memar dan bekas pukulan. Amarah yang sudah Yongki tahan sejak tadi akhirnya meledak tanpa bisa dibendung lagi.

"Apa isi otak tumpulmu itu, Tamma Okamy?! Kau mau cari mati, hah?!" teriak Yongki keras.

Suaranya Yongki bergema memenuhi lapangan kosong itu. Dia baru tahu kalau Tamma dibuntuti diam-diam oleh Jodha dan kelompoknya, dan dengan bodohnya Tamma memilih mengorbankan dirinya sendiri supaya orang lain selamat.

Di belakang Yongki ada Arjuna, Hendy, Nathan dan Jericko, dan Judika yang berusaha mengejar, tapi Yongki terlalu cepat. Terlalu dikuasai emosi untuk menunggu mereka.

Arjuna segera menyusul dan menepuk pundak Yongki pelan. Dia berusaha menenangkannya.

"Sudahlah Yongki. Kendalikan dirimu dulu."

Tatapan Arjuna tertuju pada Tamma, dan hatinya terasa perih melihat kondisinya yang sangat memprihatinkan.

"Bagaimana aku bisa tenang, kak Juna?! Anak bodoh ini bertindak semaunya sendiri! Kalau saja ada yang lebih parah terjadi padanya, bagaimana nasib kita semua?!" bantah Yongki. Nada suaranya masih meninggi, terbakar oleh amarah dan rasa khawatir yang bercampur jadi satu.

Nathan hanya menghela napas pelan. Matanya mengamati sekeliling area sekolah. Dia berlari kecil ke sana kemari, memeriksa setiap sudut dan lorong kosong. Nntah apa yang sebenarnya dia cari saat ini.

Sementara itu, Judika, Hendy, dan Jericko mendekat ke arah Tamma. Wajah mereka sama-sama dipenuhi kekhawatiran, tapi tak satu pun dari mereka berani membuka mulut lebih dulu.

Arjuna duduk tepat di samping Tamma yang hanya diam membisu. Kepala tertunduk dalam-dalam. Dia terlalu takut menatap wajah Yongki yang sedang dipenuhi amarah. Dia tahu betul bahwa kali ini kesalahannya terlalu besar.

"Kau baik-baik saja, Tamma?" tanya Arjuna lembut. Tatapan menatap wajah sahabatnya itu dari ujung kiri sampai ujung kanan. Memeriksa setiap luka dan memar yang terlihat.

Tamma hanya mengangguk pelan, tak berani mengeluarkan suara.

"Katakan padaku. Apakah Jodha yang melakukan semua ini padamu?"

Kali ini Yongki berbicara dengan nada yang lebih rendah, tapi amarahnya masih terasa jelas di setiap kata yang keluar. Dia sebenarnya sudah tahu jawabannya, tapi dia ingin mendengarnya langsung dari mulut Tamma sendiri.

"Yongki, tenanglah. Sekarang bukan waktunya membahas itu. Lebih baik kita bawa Tamma ke tempat yang aman dulu. Kau sadar kan, ini wilayah sekolah Harfa. Kalau kita bikin keributan, masalahnya bakal makin besar," saran Arjuna.

"Benar kak. Dari tadi banyak murid yang lewat memandangi kita. Rasanya sebentar lagi kita bakal diusir atau dilaporkan," tambah Jericko menyetujui.

Meskipun hari minggu, sekolah ini tetap ramai dengan siswa yang mengikuti ekstrakurikuler. Sama seperti sekolah mereka sendiri, Harmoni High School.

"Aku tidak peduli! Kali ini Jodha benar-benar sudah minta dihajar! Persetan dengan aturan dan hukuman sekolah. Perbuatannya sudah keterlaluan!" bentak Yongki.

Tanpa mendengarkan lagi, Yongki langsung berlari pergi. Dia pergi menuju arah tempat Jodha biasanya berkumpul. Saran dan peringatan Arjuna sama sekali tidak digubris.

Arjuna berdiri seketika, menendang keras tanah di bawah kakinya. Rupanya, kelakuan Yongki justru memicu emosi yang selama ini dia simpan rapi.

"Sial! Anak itu benar-benar susah diatur!" umpat Arjuna kesal. Baru kali ini dalam hidupnya, dia sampai kehilangan kesabaran sedemikian rupa.

"Judika, Jericko. Kalian tinggal di sini jaga Tamma. Aku dan Hendy akan mengejar Yongki. Dan kau, Nathan..." ucap Arjuna.

Seketika ucapan Arjuna terhenti saat dia sadar orang yang disebutnya sudah tidak ada di tempat.

"Kemana Nathan?!" tanya Arjuna lagi. Dia memandang sekeliling, tapi sosok itu sudah lenyap entah ke mana.

"Kak, sepertinya kita harus bergerak cepat. Kalau tidak, dua orang itu bakal mengubah seluruh sekolah ini jadi medan perang," saran Hendy yang dengan cepat membaca situasi.

"Mereka berdua benar-benar membuatku geram!"

Arjuna menggemertakkan gigi. Tangannya mengepalkan tinju sampai buku jarinya memutih, berusaha menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubunnya.

Tanpa buang waktu lagi, Arjuna langsung berlari mengikuti jejak Yongki, diikuti oleh Hendy.

Kini tinggal Tamma bersama Judika dan Jericko. Keduanya tetap duduk di samping Tamma. Suasana hening, tak ada yang berani memulai pembicaraan.

"Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan padamu, Judika?"

Tamma akhirnya membuka suara. Berusaha menahan rasa sakit yang menjalar ke seluruh wajahnya saat bibirnya bergerak.

Judika menunduk, tak berani menatap wajah sahabatnya itu. "Aku sudah lakukan seperti yang kau perintahkan. Aku sudah lari cari bantuan, kan?" gumamnya pelan.

"Bukan itu maksudku, anak bodoh! Aku cuma suruh kau cari kak Arjuna saja! Kenapa kau malah memanggil semuanya?!" bentak Tamma dengan nada kesal.

"Aku bisa apa, kak?! Waktu aku datang, kak Arjuna lagi bersama mereka semua, mana bisa aku pilih-pilih!" bantah Judika.

"Karena itu gunakan otakmu dong! Kau bisa saja bilang ada masalah kecil, atau cari cara lain! Lihat sekarang, semuanya jadi kacau. Kita semua bakal kena imbasnya!" Tamma menghembuskan napas panjang, wajahnya penuh frustasi.

"Kenapa malah salahkan aku?! Kalau tahu bakal begini, lebih baik aku tidak usah menuruti ucapanmu sama sekali!" jawab Judika dengan nada tinggi, rasa sesal dan lelah kini memenuhi hatinya. Dia hanya ingin menolong, tapi kenapa hasilnya malah begini?

"Sudah, berhenti. Ini bukan salah Judkka, Tamma. Dia sudah berusaha menyembunyikannya, tapi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian. Akulah yang bilang ke yang lain." Jericko menyela, menghentikan pertengkaran yang tak ada gunanya itu.

Tamma menatap sekilas ke arah Jericko, lalu kembali menunduk. Tenaga dan emosinya sudah habis, tak ada lagi yang bisa dia katakan.

"Aku cuma... aku cuma tidak mengerti. Kenapa dia mau melindungiku," gumam Tamma pelan, nyaris tak terdengar.

"Dia? Siapa?" tanya Judika yang duduk paling dekat, berhasil menangkap kalimat itu.

Tamma mengangguk perlahan. "Kakakmu, Judika. Chandra Wiguna."

Wiguna?

Judika tertegun seketika. Matanya membelalak tak percaya. Dua kenyataan berat menghantam kepalanya bersamaan. Bagaimana mungkin orang yang dia benci setengah mati, rela mengorbankan diri demi menolong sahabatnya? Sebodoh apa Chandra sampai melakukan hal itu?

Dan yang lebih menyakitkan lagi. Nama belakang yang dipakainya adalah Wiguna. Sejak kapan Chandra mengganti nama keluarganya menjadi nama keluarga ibu mereka? Apakah ini caranya memutuskan semua ikatan dengan ayah dan juga dengan dirinya sendiri?

Rasa benci dan dendam yang sudah membeku di hatinya kembali menyala, menelan habis rasa terkejut dan sedikit rasa terima kasih yang sempat muncul.

"Brengsek!" batin Judika. "Chandra Wiguna, sekarang kau bahkan ganti nama belakangmu. Baiklah kalau begitu. Mulai hari ini kau adalah Chandra Wiguna, dan aku Judika Pratama. Kita adalah orang asing, bahkan musuh. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah memaafkanmu, atau wanita yang melahirkan kita berdua. Aku membenci kalian berdua sampai ke tulang sumsum!"

Wajah Judika seketika memerah. Matanya berkaca-kaca menahan amarah dan tangis yang hendak tumpah.

"Aku tidak peduli apa yang bajingan itu lakukan padamu, Tamma. Dia pikir dengan begitu aku bakal lupa semua yang dia dan ibunya perbuat? Tidak akan pernah! Selama aku masih bernapas, dia akan tetap jadi musuh nomor satu dalam hidupku!" ucap Judika dengan nada dingin dan tajam.

Tanpa menunggu jawaban siapa pun. Judika langsung berbalik dan pergi. Meninggalkan Tamma dan Jericko yang hanya bisa diam terpaku.

"Bagaimana ini, Jericko? Sepertinya dia benar-benar hancur mendengar kabar ini," ucap Tamma pelan.

"Kau juga sih, ngomongnya tidak pakai pikiran dulu!" balas Jericko kesal.

***

Di tempat lain, Yongki dan Nathan akhirnya berhasil menemukan Jodha dan kelompoknya. Suasana langsung memanas, napas masing-masing sudah terasa membara.

Saat Yongki hendak menerjang dan menghajar habis-habisan, tepat pada saat itu Arjuna dan Hendy datang, langsung melerai dan memisahkan mereka.

Awalnya Yongki dan Nathan menolak untuk mundur. Emosi mereka sudah terlalu tinggi untuk dikendalikan.

1
whiteblack✴️
apa Dika mulai buka hatinya untuk damai...akan lebih baik...terus mengejar cinta ya dika
sri wahyu
judika masih perang dengan batinnya sendiri pelan pelan saja
whiteblack✴️
hati Dika masih tertutup rapat... apa masih proses menerimaan..
sri wahyu
pelan2 saja judika jangan terburu buru
sri wahyu
pecah sudah tangisku di bab ini kak,,,, mendengar cerita judika
sri wahyu
baru baca 4 bab aq dah mau nangis kak💪💪💪👍👍👍
sri wahyu
cerita baru ya kak
whiteblack✴️
Dika masih perang ego nya😤
Himme
Ada yang mau bantu nonjok si Chandra... sungguh bikin emosi banget. Nggak sadar diri💢/Speechless/
whiteblack✴️
sahil loe ya...enggak ngerti suasana serius...tadi ngomong serius..biar chandra itu sadar mala..di ajak bercanda..😒
whiteblack✴️
sepertinya butuh waktu lama..Dika berdamai ..apa lagi punya kakak emosian suka maen tangan pula😒
Himme
Taukan kenapa Judika sulit memberikan maaf pada ibu dan kakaknya tapi mereka berdua aja yg egois/Wilt//Grievance/
Sandra Yandra: benar sekali.
Egois nya adalah mereka tidak mau memaafkan dan memberikan kesempatan kepada suaminya/ayahnya. Sementara mereka terus mendesak Judika untuk memaafkan mereka.
total 1 replies
Himme
Benci banget sumpah.. yang satu egois dan satunya emosian💢
whiteblack✴️
aku benci banget kakaknya gampang emosian maen tangan pula apa lagi ibunya egois sekali/Panic/
whiteblack✴️
lebih baik judika belajar untuk ikhlas aja..siapa tau hari" nya bisa menyenangkan kembali...
Himme
Kasihan Judika.. lagian itu si Chandra dan ibunya egois nya kebangetan💢
Himme
Part yang paling aku hindari/Sob/
whiteblack✴️
chan loe egois dan gampang emosi/Panic/ .. enggak sadar kesalahan loe huh/Angry/
whiteblack✴️
pertempuran ego+ hati= suara mulut pedas akan segera di mulai/Scare/
whiteblack✴️
hemmm...tuw kan Judika marah besar...ama ibunya..../Grievance/....sepertinya butuh waktu untuk berdamai semuanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!