NovelToon NovelToon
Menikah Karena Tekanan Keluarga

Menikah Karena Tekanan Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 32 : DEBU DI ATAS PUING DAN JEJAK YANG HILANG

Pesawat jet pribadi Arkatama Glory membelah awan di atas Samudera Hindia dengan deru mesin yang terdengar seperti raungan kemarahan. Di dalam kabin yang mewah itu, keheningan terasa begitu berat, seolah oksigen telah habis disedot oleh rasa cemas. Devan Arkatama duduk mematung di kursinya, matanya menatap kosong ke arah layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV butik yang dikirimkan oleh tim keamanannya beberapa jam lalu.

Anya Clarissa duduk di sampingnya, tubuhnya sedikit gemetar meskipun Devan telah menyelimutinya dengan kain kasmir. Air mata Anya sudah mengering, meninggalkan jejak perih di pipinya. Kabar tentang pembakaran butik Mamanya bukan sekadar berita kriminal bagi Anya; itu adalah serangan terhadap satu-satunya tempat di mana kenangan almarhum ayahnya, Pramudya, masih terasa hidup lewat mesin jahit tua dan gulungan kain sutra yang dulu mereka pilih bersama.

"Kita akan sampai dalam satu jam, Anya," suara Devan terdengar serak, ada nada keputusasaan yang jarang ia tunjukkan. "Aku sudah memerintahkan seluruh jaringan intelijen maritimku untuk memantau setiap pelabuhan tikus di Jakarta. Kita tidak akan membiarkan mereka lolos."

Begitu roda pesawat menyentuh landasan pacu Jakarta, rombongan tidak membuang waktu. Dengan pengawalan ketat, konvoi mobil hitam melesat membelah kemacetan kota menuju kawasan butik Mama Clarissa. Saat mereka sampai, bau hangus yang menyengat langsung menusuk hidung, seolah aroma kematian dari kain-kain indah yang terbakar itu memenuhi udara.

Anya melompat keluar bahkan sebelum mobil berhenti sempurna. Ia terpaku di depan bangunan yang dulu begitu berwarna dan elegan. Kini, butik "Clarissa Mode" hanyalah kerangka hitam yang berasap. Garis polisi melintang dengan warna kuning yang mencolok di tengah kegelapan puing.

"Mama!" Anya menghambur ke arah ambulans yang terparkir di pojok jalan.

Di sana, Mama Clarissa duduk dengan bantuan selimut, wajahnya pucat pasi dan tatapannya kosong. Ia memegang sepotong kain perca yang selamat dari api—itu adalah sisa dari kain pengantin yang sedang ia jahit untuk klien VIP-nya.

"Semuanya habis, Anya... semuanya jadi abu," isak Mama Clarissa dengan suara yang nyaris hilang.

Papa Arkatama melangkah turun dari mobil dengan bantuan tongkatnya. Ia berdiri di depan puing-puing itu, menatap sisa pembakaran dengan mata yang berkaca-kaca. Sebagai seorang kakak tertua, Papa Arkatama selalu berusaha melindungi adik-adiknya, termasuk Bram, meskipun ia tahu Bram memiliki sifat yang serakah.

"Bram... bagaimana bisa kamu setega ini?" gumam Papa Arkatama dengan suara yang bergetar karena luka batin yang mendalam. "Aku memberikanmu pendidikan, aku memberimu saham, aku menganggapmu bagian dari jiwaku... tapi kamu membakar rumah saudaramu sendiri."

Ada rasa kecewa yang lebih perih daripada sakit fisik di dada Papa Arkatama. Ia merasa gagal sebagai kepala keluarga. Pengkhianatan darah adalah jenis luka yang tidak bisa disembuhkan oleh obat manapun. Ia melihat Devan yang berdiri dengan tangan mengepal, dan ia tahu, persaudaraan di keluarga Arkatama telah resmi berakhir di antara bara api ini.

Di tengah suasana duka yang begitu hebat, Mama Sarah (Nyonya Sarah Arkatama) mencoba melakukan sesuatu untuk memecah ketegangan, meski caranya sangatlah konyol. Ia merasa semua orang butuh energi untuk berpikir jernih.

"Bi Inah! Mana tas kresek isi roti buaya yang kita beli di bandara tadi?!" teru Mama Sarah sambil sibuk membongkar bagasi mobil.

"Aduh, Nyonya, roti buayanya kegencet koper Nyonya Sarah!" sahut Bi Inah panik.

Mama Sarah mengeluarkan roti buaya besar yang sekarang bentuknya sudah tidak karuan—lebih mirip kadal yang tergilas. "Aduh! Ini rotinya penyet! Anya, Devan, makan ini dulu! Biar kalian kuat nyari si Bram dan Rico. Ini roti buaya melambangkan kesetiaan, kalau dimakan nanti pelakunya nggak bisa lari jauh!"

Devan yang sedang serius berdiskusi dengan komandan polisi hanya bisa menoleh pelan. "Ma, jangan sekarang. Kami sedang melacak koordinat."

"Justru kalau lapar, radar otaknya nggak jalan, Devan! Ayo, gigit buntut buayanya!" paksa Mama Sarah sambil menyodorkan roti itu ke depan mulut Devan. Adegan itu sangat kontras dengan latar belakang gedung yang masih berasap, membuat beberapa petugas polisi berusaha keras menahan tawa demi menghargai keluarga konglomerat itu.

Namun, kesulitan yang sesungguhnya baru dimulai. Devan yang biasanya bisa menemukan apapun dengan uang dan kekuasaannya, kali ini harus menelan pil pahit. Om Bram dan Rico ternyata telah belajar banyak dari cara kerja Devan. Mereka mematikan seluruh ponsel mereka, mencabut kartu kredit, dan meninggalkan mobil mereka di sebuah pasar tradisional yang padat, lalu menghilang tanpa jejak.

"Tuan Devan, semua pelacak GPS di mobil pelarian mereka hilang di kawasan padat penduduk di Tambora," lapor ajudan Devan. "CCTV di sana banyak yang mati, dan warga tidak ada yang mengenali wajah mereka karena mereka memakai helm dan jaket ojek online."

Anya juga mencoba membantu dengan menggunakan pengetahuannya tentang aset-aset lama Mamanya. "Devan, coba cek gudang lama di Bekasi yang dulu pernah mau disewa Om Bram."

"Sudah, Anya. Kosong. Mereka sepertinya sudah menyiapkan tempat persembunyian yang tidak ada dalam catatan aset resmi manapun," jawab Devan dengan frustrasi.

Berjam-jam mereka mencari. Dari pinggiran Jakarta hingga ke pelosok Tangerang, namun Om Bram dan Rico seolah-olah menguap ke udara. Pencarian ini menguras energi dan mental mereka. Anya mulai merasa putus asa, sementara Devan terus menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menangkap paman dan sepupunya lebih cepat.

...****************...

Di sebuah tempat yang tidak akan pernah diduga oleh siapapun—sebuah bunker tua di bawah sebuah bekas pabrik tekstil yang telah lama bangkrut dan tertutup semak belukar—Om Bram dan Rico duduk bersulang dengan botol wiski mahal.

"Hahaha! Lihat, Rico! Si jenius Devan Arkatama sedang kebingungan mencari kita di seluruh Jakarta!" Om Bram tertawa lepas, wajahnya diterangi oleh cahaya lilin yang temaram. "Dia lupa, aku adalah orang yang dulu membantunya membeli properti-properti ini secara rahasia. Tempat ini tidak ada di sistem data Arkatama."

Rico menyesap minumannya dengan puas. "Benar, Pa. Mereka pasti sekarang sedang menangis di depan butik yang sudah jadi arang itu. Rasanya sangat puas melihat kesombongan Anya hancur."

Mereka berdua kini adalah pengangguran dengan status buronan, namun bagi mereka, kehancuran Arkatama jauh lebih penting daripada nasib mereka sendiri. "Besok, saat Eleonora mengirimkan tim penjemput dari Paris, kita akan menghilang sepenuhnya dan menyerang mereka lagi dari tempat yang lebih jauh," bisik Om Bram dengan sorot mata penuh dendam.

...****************...

Malam semakin larut, Anya dan Devan kembali ke mansion dengan tangan hampa. Papa Arkatama duduk di ruang tengah, menatap foto masa kecilnya bersama Bram. Air matanya jatuh.

"Kenapa darah yang sama bisa menghasilkan hati yang begitu berbeda, Devan?" tanya Papa lirih.

Devan berlutut di depan ayahnya. "Kita akan menemukan mereka, Pa. Aku janji."

Anya mendekati jendela, menatap kegelapan malam. Ia menyadari bahwa musuh yang paling sulit dikalahkan adalah musuh yang berasal dari dalam selimut sendiri. Pekerjaannya sebagai arsitek mengajarkannya bahwa jika sebuah bangunan runtuh karena sabotase struktur di dalam, maka pondasi paling kuat pun tidak akan bisa menahannya.

Namun, di tengah keputusasaan itu, Bi Inah masuk membawa sebuah amplop kecil yang diletakkan seseorang di depan pagar. Di dalamnya hanya ada secarik kertas bertuliskan satu kalimat yang membuat jantung Anya berdetak kencang:

"Cari di tempat di mana kalian pertama kali saling membenci."

1
Emily
ada ada aja orang jahat
Emily
😂😂😂jus pare satu ember ...ada aja mama sarah
Emily
Valerie otak kriminal
Emily
memang kampret si valerie
Emily
Valerie Mak lampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!