Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.
Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Dua minggu berlalu seperti kedipan mata. Seminggu terakhir arka menyibukkan diri di ruang sakit. Menangani pasien silih berganti. Bertepatan juga hari ini adalah hari pernikahan Lilis.
Keluarga besarnya, termasuk Yuda dan adik-adiknya, sudah berangkat lebih dulu dan menginap di rumah keluarga mereka yang letaknya memang persis berdampingan dengan rumah Lilis. Arka sendiri baru bisa menyusul hari ini karena baru mendapatkan jadwal libur.
Ponsel Arka bergetar di atas nakas saat ia sedang merapikan kemeja batiknya. Nama Ibu tertera di layar.
"Halo, Bu?"
"Bang, jangan lupa ya datang. Nanti nggak enak sama Tante juga Om-mu. Kamu libur kan hari ini?" suara Kirana terdengar tegas namun ada nada cemas di sana.
"Iya, Bu," jawab Arka singkat sambil menatap pantulan dirinya di cermin.
"Kapan acaranya mulai?"
"Bentar lagi. Kamu udah siap-siap?"
"Udah Bu, ini mau otw," sahut Arka sembari meraih kunci mobilnya.
Arka menutup telepon dan terdiam sejenak. Ia melihat kembali pesan di ponselnya yang dikirim dua minggu lalu pesan yang tak pernah mendapatkan balasan hingga detik ini.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Para tamu undangan mulai berbisik-bisik. Meja akad yang sudah dihias cantik di depan sana masih tampak kosong melompong.
Arka yang duduk di barisan kursi keluarga mulai merasa ada yang janggal. Ia bergeser mendekati ibunya yang sejak tadi tampak gelisah dan terus mematikan-nyalakan layar ponselnya.
"Bu, kok belum mulai? Harusnya kan akadnya jam sembilan tadi," bisik Arka pelan.
Kirana menghela napas panjang, wajahnya tampak tegang. "Ibu juga nggak tahu, Bang. Pihak laki-laki belum ada kabar lagi. Bentar, Ibu masuk ke dalam dulu, mau cek Mbak Rita."
Kirana bergegas masuk ke dalam rumah, meninggalkan Arka yang kini diliputi rasa cemas yang aneh.
Di dalam kamar pengantin, suasana terasa begitu menyesakkan. Wangi melati yang seharusnya membawa kebahagiaan justru terasa memuakkan. Lilis duduk bersimpuh di tepi ranjang.
Di balik cadar tipisnya, tangis Lilis pecah tanpa suara.
Mbak Rita terduduk lemas di kursi rias sambil memegang dadanya, sementara Tiara berdiri di samping Lilis, memegang erat bahu sahabatnya itu dengan mata yang juga sudah berkaca-kaca.
Rafka adiknya Lilis juga disana terdiam. Tadi calon suami kakanya Rama mengirim pesan padanya jika acaranya di batalkan dulu.
"Astaghfirullah... Mbak, yang bener?" Ucap Kirana dengan suara bergetar.
Mbak Rita hanya bisa menggeleng lemah.
Ia menunjuk ke arah Rafka yang berdiri kaku di sudut ruangan dengan wajah merah padam.
Rafka kemudian menunjukkan layar ponselnya kepada Kirana. Di sana hanya ada satu pesan singkat dari Rama yang masuk beberapa menit lalu.
“Raf, maaf, sampaikan ke keluarga kamu, acaranya dibatalkan dulu. Saya nggak bisa lanjut.”
"Hanya itu pesannya, Tante. Setelah itu nomornya langsung nggak aktif."
Pandangan Kirana beralih pada Lilis. Gadis itu masih bersimpuh di tepi ranjang, bahunya naik turun menahan isak tangis yang mulai terdengar pilu. Tiara yang berada di sampingnya terus mengusap punggung Lilis.
"Mbak... yang sabar, Mbak," bisik Kirana sambil menghampiri dan memeluk Mbak Rita.
Rama calon suaminya Lilis adalah orang sangat baik, tutur cakapnya juga lembut. Lilis tak menyangka ini akan terjadi padanya.
Satu per satu tamu undangan mulai meninggalkan lokasi dengan wajah penuh tanya. Bisik-bisik spekulasi terdengar di antara mereka yang melangkah menuju pagar, sementara sebagian kecil lainnya masih bertahan di kursi, menanti kepastian yang tak kunjung datang. Suasana yang tadinya penuh harapan kini berubah menjadi canggung dan hampa.
Arka yang sedari tadi diliputi keresahan, melihat ayahnya dan Om Jefri duduk di bangku pojok teras. Wajah Om Jefri tampak sangat kuyu, guratan kesedihan dan rasa malu terpancar jelas dari tatapannya yang kosong ke arah lantai.
Arka melangkah mendekat, " Yah, ini ada apa?" tanya Arka pelan.
Yuda menghela napas berat, menatap putranya dengan tatapan lesu. "Acaranya batal, Bang. Mempelai prianya membatalkan acaranya begitu saja."
Mendengar itu, Arka hanya terdiam. Dunia seolah berhenti berputar sejenak baginya. Namun, di balik diamnya, otak Arka berputar cepat, memikirkan seribu cara dan kemungkinan.
Tanpa diduga, Arka tiba-tiba berdiri tegak di depan Om Jefri. Matanya menatap lurus, menunjukkan kemantapan hati yang luar biasa.
"Om... izinkan saya menggantikan pria itu. Izinkan saya menikahi Lilis," ucap Arka tegas.
Suasana seketika hening. Yuda dan Jefri langsung kaget, hampir tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar dari mulut Arka.
"Kalian sepupu, Bang!" sahut Yuda.
"Sepupu juga bisa menikah, Yah. Aku sudah cari tahu. Ayah dan ibunya Lilis yang bersaudara, jadi secara syariat kami bisa menikah."
Jefri mendongak, menatap Arka dengan tatapan yang sulit diartikan antara harapan yang tiba-tiba muncul dan keraguan akan keseriusan keponakannya itu. Sementara Yuda masih terpaku, tak menyangka putra sulungnya yang selama ini dingin soal asmara, justru menawarkan diri di saat yang paling krusial seperti ini.
Kalimat ijab kabul yang diucapkan Arka dengan satu tarikan napas mantap disambut seruan lega dari orang-orang yang tersisa di sana.
"SAH!" ucap para tamu dan keluarga yang hadir dengan nada penuh syukur, meski rasa terkejut masih menyelimuti hati mereka.
Di dalam kamar, Lilis dan Tiara hanya bisa diam. Mereka berdua seperti masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Dalam hitungan menit, status Lilis berubah dari seorang pengantin yang ditinggalkan menjadi istri dari sepupunya.
Mbak Rita menatap putrinya dengan tatapan yang kini jauh lebih lega, meski sisa air mata masih membekas di pipinya. Ia mengusap kepala Lilis yang masih tertutup kerudung pengantin.
"Sudah, jangan menangis lagi. Syukur Arka mau menikahi kamu," bisik Mbak Rita.
"Sudah Ibu bilang kan jauh-jauh hari... Ibu sebenarnya nggak percaya sama calonmu itu. Firasat Ibu memang sudah nggak enak sejak awal."
Lilis menyeka air matanya di balik cadar, suaranya terdengar parau dan sedikit bergetar.
"Aku mana tahu, Ma... kalau ini bakal seperti ini," ucap Lilis lirih.
Tiara yang memegang tangan Lilis ikut mengangguk pelan. Ia sendiri tak menyangka kakaknya, Arka, akan mengambil langkah seberani itu.
"Jangan nangis lagi, Lis. Kamu nangisin pria lain, sedangkan kamu sekarang sudah nikah, sudah punya suami," ucap Mbak Rita.
"Nggak pantas kalau Arka masuk ke sini tapi kamu masih meratapi orang yang sudah menghina keluarga kita."
Lilis hanya bisa menunduk, mencoba mengatur napasnya yang masih sedikit sesenggukan. Ucapan ibunya benar-benar menampar kesadarannya.
"Cepat, itu makeup-nya sudah luntur. Biar diperbaiki MUA-nya," sambung Mbak Rita.