Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: PEMBUKAAN GAMBIT
Gedung pertemuan di kawasan Kuningan itu tampak megah dengan dinding kaca yang memantulkan kemilau matahari Jakarta tahun 2014. Nata berdiri di depan lobi, mengenakan kemeja biru tua yang bersih dan celana kain hitam. Meskipun penampilannya sederhana dan jauh dari kesan mewah para peserta lain yang datang dengan mobil pribadi, tatapan mata Nata memiliki ketajaman yang membuat orang-orang di sekitarnya menoleh dua kali.
Grand Jakarta Tech & Chess Open.
Bagi orang lain, ini adalah ajang olahraga otak. Bagi Nata, ini adalah sebuah panggung di mana ia telah menyusun skenarionya dengan sangat matang.
"Nama?" tanya petugas registrasi, seorang wanita muda yang tampak sibuk dengan MacBook-nya—barang mewah yang masih jarang terlihat di sekolah Nata.
"Nata Prawira. Kategori Umum," jawab Nata singkat.
Petugas itu mencari nama Nata di daftar digital, lalu memberikan sebuah kartu identitas berkalung. "Meja 42, lantai dua. Babak penyisihan dimulai sepuluh menit lagi. Semoga beruntung, Dik."
Nata hanya mengangguk kecil. Baginya, keberuntungan hanyalah variabel kecil yang tidak terlalu ia pikirkan dalam rencananya.
Di lantai dua, ruangan besar itu dipenuhi dengan barisan papan catur kayu yang elegan. Aroma kopi mahal dan bisikan strategi memenuhi udara. Nata berjalan menuju mejanya. Lawan pertamanya adalah seorang pria dewasa berpakaian rapi, kemungkinan besar seorang pekerja kantoran dari distrik bisnis sekitar.
"Halo, Dek. Anak SMA ya? Berani juga ikut kategori umum," sapa pria itu sambil menjabat tangan Nata.
"Hanya ingin belajar, Pak," jawab Nata dengan kesopanan yang terukur.
Permainan dimulai. Nata bermain dengan putih. Ia tidak menggunakan pembukaan yang agresif. Ia menggunakan Reti Opening, sebuah sistem yang fleksibel dan tidak langsung menunjukkan niat penyerangan. Sebagai seorang perencana yang teliti, Nata lebih suka membangun pondasi pertahanan yang kokoh sebelum menjebak lawan ke dalam situasi yang tidak bisa mereka hindari.
Sepuluh menit berlalu. Lawannya mulai berkeringat. Pria itu menyadari bahwa setiap kali ia mencoba menukar perwira, ia justru kehilangan kendali di area tengah papan. Nata tidak hanya bermain catur; ia sedang memetakan kemenangan langkah demi langkah.
"Skakmat," ucap Nata pelan di menit ke-lima belas.
Lawan Nata tertegun, menatap papan yang kini terasa seperti penjara bagi rajanya. "Langkah yang luar biasa... saya tidak melihat gajah itu dari tadi."
Nata berdiri, menyalami lawannya, lalu berjalan menuju papan pengumuman. Ia tidak tertarik pada kemenangan itu sendiri. Matanya menyisir area VIP di balkon lantai atas. Di sana, duduk beberapa pria dengan setelan jas mahal yang sedang mengamati jalannya turnamen lewat monitor besar. Salah satunya adalah Hendra Wijaya, pendiri Nusa-Capital.
Di sela-sela istirahat babak kedua, Nata tidak membuang waktu. Ia pergi ke area kafetaria, namun tujuannya bukan makanan. Ia melihat Pak Broto sedang berbicara dengan seseorang di sudut ruangan. Pak Broto melambai pada Nata.
"Nata! Kemari. Saya ingin kamu bertemu dengan seseorang," seru Pak Broto.
Pria yang bersama Pak Broto adalah seorang jurnalis senior dari harian bisnis terkemuka. "Nata, ini Pak Firman. Dia yang mengelola kolom teknologi dan investasi. Saya tadi menceritakan sedikit soal analisis tulisanmu tentang pembangunan jalan tol."
Pak Firman menatap Nata dengan rasa ingin tahu yang besar. "Pak Broto bilang kamu punya keyakinan bahwa BitCore akan menjadi standar baru penyimpanan kekayaan dalam sepuluh tahun ke depan? Itu klaim yang sangat berani untuk seorang siswa SMA. Sebagian besar ahli ekonomi masih menyebutnya penipuan."
Nata duduk dengan tenang, menyilangkan kakinya. "Banyak orang menyebut listrik sebagai sihir sebelum mereka memahami cara kerjanya, Pak Firman. BitCore bukan sekadar uang; ini adalah sistem kepercayaan digital yang tidak membutuhkan bank. Di dunia yang semakin maju, sesuatu yang jumlahnya terbatas secara matematis akan jauh lebih berharga daripada uang kertas biasa."
Pak Firman mengeluarkan alat perekam kecilnya. "Lanjutkan. Bagaimana dengan analisismu soal harga tanah di jalur jalan tol baru?"
Nata mulai menjelaskan dengan data yang sangat masuk akal. Ia menyebutkan koordinat desa yang akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru dan bagaimana pola logistik akan berubah. Ia berbicara dengan keyakinan seorang pria yang sudah tahu apa yang akan terjadi esok hari.
Tanpa Nata sadari, di meja belakang mereka, seorang pria muda dengan kacamata hitam sedang mendengarkan percakapan itu sambil mencatat sesuatu di ponselnya.
Babak demi babak terlewati. Nama Nata Prawira mulai menjadi perbincangan. Seorang anak SMA tanpa latar belakang klub catur profesional berhasil menumbangkan tiga pemain unggulan berturut-turut.
Namun, saat Nata menuju kamar mandi sebelum babak final, langkahnya dihentikan oleh dua orang pria berbadan tegap yang ia kenali sebagai orang suruhan Paman Danu. Kali ini mereka mengenakan kemeja batik agar terlihat seperti pengunjung biasa.
"Nata, Pamanmu sudah habis kesabaran," bisik salah satu dari mereka, berdiri sangat dekat. "Dia tahu kamu ada di sini. Dia bilang, kalau kamu tidak menyerahkan surat tanah itu malam ini, adik perempuanmu di rumah mungkin akan celaka."
Darah Nata mendidih. Ancaman terhadap Kirana adalah satu-satunya hal yang bisa merusak ketenangannya. Namun, alih-alih meledak, sorot mata Nata justru mendingin.
"Kalian tahu di mana kalian berada?" tanya Nata, suaranya rendah namun tajam.
"Jangan banyak tanya—"
"Gedung ini milik Nusa-Capital. Ada puluhan kamera CCTV di sini, dan banyak wartawan bisnis di lantai atas. Jika saya berteriak sekarang, nama baik Paman Danu sebagai pengusaha akan hancur seketika," Nata melangkah maju, justru menantang balik. "Katakan pada Danu, jika dia menyentuh sehelai rambut Kirana, saya tidak hanya akan mengunci tanah itu secara hukum. Saya akan membongkar semua kecurangannya soal asuransi palsu yang ia lakukan lima tahun lalu."
Pria itu tampak ragu. Keberanian Nata yang tidak masuk akal membuat mereka goyah.
"Pergi. Sebelum saya memanggil petugas keamanan," perintah Nata.
Kedua pria itu mendengus dan berbalik pergi, namun Nata tahu ancaman ini serius. Ia segera mengirim pesan singkat kepada Pak Broto: "Pak, tolong hubungi rekan hukum Bapak. Saya butuh penjagaan di rumah sore ini. Paman Danu mulai main kasar."
Babak final mempertemukan Nata dengan seorang mahasiswa jenius yang juga juara nasional. Papan catur mereka dikelilingi banyak orang. Hendra Wijaya sendiri turun dari balkon VIP untuk melihat langsung remaja yang ramai dibicarakan bawahannya itu.
Hendra berdiri tepat di samping papan, memperhatikan setiap langkah Nata. Nata sadar akan kehadiran Hendra. Ini adalah momennya. Ia tidak akan bermain hanya untuk menang; ia akan bermain untuk menunjukkan cara berpikirnya dalam berinvestasi.
Nata melakukan langkah yang sangat berisiko: mengorbankan menteri (Queen) di langkah ke-dua puluh dua. Penonton bergumam kaget. Lawannya tersenyum, mengira Nata membuat kesalahan fatal karena lelah.
"Kenapa kamu membuang menterimu?" bisik Hendra Wijaya secara spontan karena rasa penasarannya yang besar.
Nata tidak menoleh. Ia memindahkan kudanya ke posisi strategis di tengah. "Karena dalam bisnis maupun catur, terkadang kita harus melepaskan hal paling besar untuk mendapatkan posisi yang tidak bisa dikalahkan. Menteri adalah kekuatan, tapi kuda di posisi yang tepat adalah penyelesaiannya."
Tiga langkah kemudian, lawan Nata menyadari jebakannya. Pengorbanan itu membuka celah bagi benteng dan kuda Nata untuk melakukan serangan mematikan yang tidak terduga.
"Skakmat," ucap Nata pelan.
Keheningan melanda ruangan itu sebelum tepuk tangan meriah pecah. Hendra Wijaya mendekati Nata setelah kerumunan sedikit mereda.
"Langkah yang sangat berani, Nata Prawira. Saya dengar kamu juga punya pemikiran menarik soal masa depan ekonomi digital?"
Nata berdiri dan menatap pria berpengaruh itu. "Saya hanya melihat pola yang akan terjadi, Pak Hendra. Dunia sedang berubah, dan mereka yang berani melangkah hari ini adalah mereka yang akan memimpin di masa depan."
Hendra tersenyum lebar. Ia mengeluarkan kartu nama berwarna emas dari sakunya. "Datanglah ke kantor saya hari Senin pukul sepuluh pagi. Saya ingin mendengar lebih banyak tentang pemikiranmu. Dan jangan khawatir soal 'gangguan' di luar sana. Saya tahu cara melindungi orang berbakat."
Nata menerima kartu nama itu. Rencana berjalan sempurna.
Malam harinya, Nata pulang dengan perasaan campur aduk. Ia memenangkan turnamen, namun ancaman Paman Danu tetap menghantui. Saat sampai di depan gang, ia melihat mobil polisi dan motor Pak Broto di depan rumahnya. Nata berlari masuk dengan jantung berdebar.
"Kirana! Arya!"
"Nata! Tenang, mereka aman," Pak Broto mencegatnya di pintu.
Di dalam, Kirana sedang duduk bersama Ibu Sari, sementara Arya tampak baik-baik saja.
"Pamanmu mengirim orang lagi sore tadi, tapi Ibu Sari dan teman hukumnya sampai lebih dulu. Mereka mencoba memaksa masuk, tapi langsung kami laporkan ke polisi," jelas Pak Broto.
Ibu Sari berdiri. "Nata, saya sudah resmi mengurus gugatan perlindungan hak warismu sore ini. Pamanmu tidak bisa lagi menyentuh tanah itu, dan sekarang dia sendiri yang berurusan dengan hukum karena mencoba masuk rumah orang tanpa izin."
Nata mendekati Kirana, memeluknya erat. "Maafkan kakak, Kirana. Aku tidak akan membiarkan ini terjadi lagi."
Malam itu, setelah semua tamu pulang, Nata duduk di meja belajarnya. Ia melihat kartu nama emas milik Hendra Wijaya. Di sebelahnya, buku tabungannya kini menunjukkan hasil dari kerja keras dan strateginya. Namun yang paling penting adalah angka di layar ponselnya. BitCore melonjak tinggi dalam satu malam.
Tabunganku kini nilainya berkali-kali lipat, hitung Nata.
Ia membuka buku catatannya, mencoret nama Paman Danu. Danu bukan lagi ancaman besar; dia hanyalah masa lalu yang akan segera diselesaikan. Fokusnya kini adalah Senin pagi. Pertemuan dengan Hendra Wijaya adalah kunci untuk membangun masa depan yang sebenarnya bagi adik-adiknya.
"Semuanya sudah dimulai," gumam Nata sambil menatap langit malam. Ia tidak akan berhenti sampai Kirana dan Arya benar-benar hidup dalam kemewahan yang aman.
Bersambung.....