Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda, ada yang berbakat di olahraga, ada yang berbakat di ilmu pengetahuan, ada juga yang berbakat di seni. Kayla seorang siswa yang membuktikan bahwa setiap orang bisa berubah asal punya kemauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Geb Lentey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Hari-hari terasa semakin tenang bagi Kayla. Ia mulai terbiasa dengan ritme barunya—belajar, latihan, dan waktu-waktu sederhana yang diam-diam menjadi berarti. Kedekatannya dengan Reyhan pun semakin terasa… natural. Tidak terburu-buru, tidak penuh tekanan. Hanya berjalan perlahan, tapi pasti.
Namun ketenangan itu… sekali lagi diuji.
Suatu pagi, saat Kayla masuk ke kelas, ia langsung merasa ada yang berbeda.
Beberapa teman melihatnya… lalu berbisik.
Ada yang menoleh cepat saat mata mereka bertemu.
Ada yang tersenyum aneh. Kayla mengernyit.
“Ada apa sih?” bisiknya ke Salsa sambil duduk.
Salsa terlihat ragu.
“Kay… kamu belum dengar?”
“Hear what?”
Salsa menarik napas pelan.
“Katanya… kamu sama Kak Reyhan… udah pacaran.”
Kayla langsung terdiam.
“Hah?” kaget
Salsa melanjutkan pelan, “Dan… katanya kamu deketin dia cuma karena dia pintar dan populer…”
Kalimat itu terasa menusuk. Kayla langsung menggeleng.
“Itu gak bener…”
Namun bisikan di kelas semakin jelas.
“Eh itu dia…”
“Iya yang sama kak Reyhan…”
Kayla menggenggam tangannya. Perasaan tidak nyaman itu datang lagi. Namun kali ini ia tidak langsung panik.
“Ada yang sengaja nyebarin ini,” katanya pelan.
Salsa mengangguk.
“Kayaknya…”
Mereka saling pandang. Dan satu nama langsung terlintas. Maya. Siang itu, saat istirahat, Kayla akhirnya melihat langsung. Di koridor, sekelompok siswi sedang membicarakan sesuatu. Dan di tengah mereka Maya. Ia tertawa kecil. Seolah semua ini hanyalah permainan. Kayla menarik napas dalam.
“Aku harus hadapi ini,” katanya pelan.
Salsa langsung berdiri. “Aku ikut.”
Mereka berjalan mendekat. Langkah Kayla tenang. Tidak terburu-buru. Maya melihatnya. Senyumnya langsung muncul.
“Eh… yang lagi viral,” katanya santai.
Beberapa orang di sekitarnya tertawa kecil. Kayla berhenti tepat di depannya.
“Kak Maya,” katanya.
“Iya?” jawab Maya ringan.
Kayla menatapnya. Langsung. Tanpa ragu.
“Kalau ada masalah sama aku, gak usah lewat orang lain.”
Suasana langsung hening. Maya mengangkat alis.
“Wah… nuduh ya sekarang?”
Kayla tetap tenang.
“Aku gak nuduh.”
“Tapi aku juga gak bodoh.”
Beberapa orang mulai saling pandang. Maya tersenyum tipis.
“Terus kamu mau apa?”
Kayla menarik napas.
“Cukup berhenti.”
Sederhana. Tapi tegas. Maya tertawa kecil.
“Kalau itu bener, kenapa kamu repot?”
Kayla tidak langsung menjawab. Lalu berkata pelan:
“Karena aku gak mau orang lain percaya sesuatu yang gak aku lakukan.”
Sunyi. Maya menatap Kayla beberapa detik. Namun kali ini tidak ada celah. Tidak ada keraguan di mata Kayla. Maya akhirnya tersenyum.
“Yaudah… kita lihat aja.”
Lalu ia berbalik. Pergi.Namun isu itu tidak langsung hilang. Sepanjang hari, bisikan masih ada. Tatapan masih terasa. Sampai akhirnya Reyhan mengetahui semuanya. Sore itu, ia menemukan Kayla di perpustakaan. Duduk sendiri. Lebih diam dari biasanya.
“Kayla,” panggilnya pelan.
Kayla menoleh.
Reyhan duduk di depannya.
“Aku dengar,” katanya langsung.
Kayla menghela napas.
“Maaf…”
Reyhan langsung mengernyit.
“Maaf buat apa?”
Kayla menunduk.
“Karena kamu jadi kena juga…”
Reyhan menatapnya serius.
“Aku gak peduli itu.”
Kayla terdiam.
“Aku cuma peduli kamu gimana.”
Kalimat itu langsung membuat hati Kayla bergetar.
“Aku gak apa-apa,” jawab Kayla.
Reyhan menggeleng pelan.
“Kamu gak harus selalu kuat.”
Kayla menatapnya. Dan untuk pertama kalinya hari itu matanya sedikit berkaca.
“Aku capek…” bisiknya.
Reyhan tidak langsung bicara. Ia hanya mendorong pelan sebotol minum ke arah Kayla.
“Minum dulu.”
Sederhana. Tapi cukup. Kayla tersenyum kecil.
Di luar sana, masalah masih ada. Isu belum selesai. Namun di momen itu Kayla merasa satu hal. Ia tidak sendirian. Dan kali ini ia tidak akan mundur. Karena ia sudah belajar kebenaran mungkin pelan tapi tetap akan berdiri.
Keesokan harinya, suasana sekolah belum sepenuhnya kembali normal. Bisikan itu masih ada. Tatapan itu masih terasa. Meski tidak sekeras kemarin, cukup untuk membuat siapa pun merasa tidak nyaman.
Namun kali ini… ada yang berbeda.
Kayla berjalan di koridor seperti biasa, berusaha tetap fokus. Salsa di sampingnya sesekali melirik orang-orang yang berbisik, terlihat kesal, tapi Kayla hanya menarik napas pelan.
“Udah, gak usah dipikirin,” kata Kayla pelan.
Salsa mengangguk, meski jelas belum sepenuhnya terima. Saat mereka hampir sampai di kelas tiba-tiba seseorang berdiri di depan mereka. Reyhan.
“Pagi,” katanya.
Kayla sedikit terkejut.
“Pagi, Kak…”
Namun kali ini Reyhan tidak hanya menyapa. Ia berjalan sejajar dengan Kayla. Masuk ke kelas bersama. Suasana langsung berubah. Beberapa siswa yang tadi berbisik langsung diam. Reyhan tidak terlihat canggung. Tidak ragu. Ia bahkan berhenti di dekat meja Kayla.
“Udah sarapan?” tanyanya santai.
Kayla menggeleng kecil, masih agak kaget.
“Belum…"
Reyhan mengangguk.
“Nanti istirahat makan ya. Jangan lupa.”
Nada suaranya normal. Seolah semua ini hal biasa. Namun efeknya tidak biasa. Seluruh kelas melihat. Dan untuk pertama kalinya tidak ada yang berani berbisik. Salsa langsung melirik Kayla dengan mata membesar. Kayla hanya bisa duduk pelan. Jantungnya berdegup lebih cepat. Setelah Reyhan keluar dari kelas, suasana tetap hening beberapa detik. Lalu perlahan kembali normal. Namun kali ini tanpa bisikan. Salsa langsung mendekat.
“Kay… itu tadi… wow.”
Kayla masih diam. Ia tidak menyangka. Reyhan benar-benar tidak menyembunyikan apa pun. Saat jam istirahat, kejadian itu berlanjut. Biasanya Kayla makan hanya dengan Salsa. Namun hari ini Reyhan datang.
“Boleh gabung?” tanyanya.
Salsa langsung menjawab, “Boleh banget!”
Kayla hanya tersenyum kecil. Mereka makan bersama. Di tempat terbuka. Dilihat banyak orang. Dan Reyhan tetap sama. Tidak berlebihan. Tidak romantis. Tapi jelas. Ia ada di sisi Kayla. Di tengah makan, salah satu siswa yang kemarin ikut menyebarkan isu lewat dan melihat mereka. Ia berhenti sebentar. Seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun sebelum sempat bicara Reyhan menoleh. Tatapannya tenang. Tapi tegas. Siswa itu langsung diam. Dan pergi. Kayla melihat itu. Perasaan hangat muncul di dadanya. Bukan karena “dibela” dengan cara besar. Tapi karena ia tidak dibiarkan sendirian. Sore harinya, saat mereka berjalan keluar sekolah, Kayla akhirnya bicara.
“Kak…”
“Iya?”
“Kakak… gak takut?”
Reyhan menoleh.
“Takut apa?”
“Omongan orang…”
Reyhan tersenyum kecil.
“Kalau aku harus mundur cuma karena omongan orang…”
“Berarti aku gak serius dari awal.”
Kayla terdiam. Kalimat itu sederhana. Tapi sangat jelas.
“Aku gak peduli mereka ngomong apa,” lanjut Reyhan.
“Aku tahu kamu seperti apa.”
Dan untuk pertama kalinya Kayla merasa benar-benar dilihat. Bukan dari cerita. Bukan dari isu. Tapi dari dirinya sendiri. Kayla tersenyum. Lebih tulus dari sebelumnya.
“Makasih ya…”
Reyhan mengangguk.
“Iya.”
Di kejauhan Arga melihat itu lagi. Namun kali ini bukan hanya rasa cemburu. Ada sesuatu yang lain. Kesadaran. Bahwa Reyhan bukan lawan yang main-main. Dan jika Arga benar-benar ingin memperbaiki semuanya ia harus melakukan lebih dari sekadar berubah diam-diam. Sementara itu, Kayla berjalan pulang dengan langkah ringan. Isu itu belum sepenuhnya hilang. Masalah belum benar-benar selesai. Tapi sekarang ia punya seseorang yang berdiri di sampingnya. Bukan di belakang. Bukan di kejauhan. Tapi di sisi yang sama. Dan mungkin untuk pertama kalinya Kayla mulai membuka hatinya lebih dari sebelumnya.