AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
APA KUCING!!
Matahari pagi sudah tinggi, menyinari halaman kuil dengan terang benderang. Namun, cahaya matahari secerah apapun kalah mempesona dibandingkan kilauan hijau zamrud yang memenuhi halaman tengah. Blok-blok batu raksasa itu kini tergeletak rapi, memancarkan aura dingin namun megah.
Deon Key tidak membuang waktu. Setelah saraman singkat berupa teh hangat dan roti kering, ia sudah berdiri di hadapan salah satu blok batu terbesar. Wajahnya serius, matanya menyapu permukaan batu itu seperti seorang dokter yang memeriksa pasien.
"Kek, siapkan pahat kecil dan palu besi! Hari ini kita bedah batu ini!" seru Deon penuh semangat.
"Bedah apanya! Hati-hati dong! Ini barang maha karya alam!" Kakek Genpo mengomel sambil menuruti perintah, membawa kotak alat ukir yang biasanya dipakai untuk kayu. "Kamu yakin bisa belah ini tanpa merusak isinya? Kalau pecah, kita miskin seketika!"
"Percaya sama analisis struktur kristalku, Kek. Batu ini punya garis lemah alami. Kita tidak memaksanya pecah, kita hanya... membantunya terbuka," jawab Deon santai.
Deon mengambil posisi. Ia menandai satu garis panjang di tengah batu menggunakan kapur tulis. Garis itu lurus sempurna, seolah ditarik dengan laser.
"Lihat ini. Di sini seratnya paling tipis. Energi ikat molekulnya paling rendah. Jadi pukulan kita harus tepat, vertikal, dan berirama."
Deon meletakkan mata pahat berlian (yang entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hasil temuan lama juga) di atas garis itu.
"Kakek, pukul dengan kekuatan sedang... tapi konsentrasi penuh! Satu... dua... TIGA!"
DOK!
Genpo memukul dengan mantap.
Suara yang keluar bukanlah suara batu pecah yang kasar, melainkan bunyi TINGGGG! yang nyaring dan bersih, bergetar lama di udara.
Ajaib! Dari titik pukulan itu, sebuah retakan halus dan lurus memanjang tepat mengikuti garis yang dibuat Deon. Retakan itu membelah batu hijau itu menjadi dua bagian yang seimbang.
"Wah... sungguh presisi..." Genpo ternganga, melupakan rasa lelahnya.
"Dorong pelan Kek!"
Mereka berdua mendorong kedua sisi batu itu ke kiri dan kanan.
Sreeeeet...
Dengan suara gesekan halus, batu itu terbuka lebar.
Dan saat bagian dalam batu itu terekspos sempurna...
Mereka berdua terdiam kaku. Napas mereka tertahan di kerongkongan.
Bukan emas, bukan koin kuno, dan bukan juga peti harta karun.
Yang ada di dalam batu raksasa itu adalah... sebuah rongga alami yang terbentuk sempurna, dan di dinding bagian dalamnya, terdapat formasi kristal alami yang tumbuh menjuntai seperti stalaktit es. Warnanya gradasi hijau muda ke hijau tua yang sangat indah, berkilauan seperti ribuan mata zamrud kecil.
Tapi yang paling mencengangkan adalah bentuknya.
Secara alami, tanpa campur tangan manusia, mineral-mineral itu menumpuk dan membentuk sebuah siluet yang sangat jelas.
"Itu... bentuknya apa itu Kek?" tanya Deon saking takjubnya.
Genpo mengusap dagunya yang berbulu putih, matanya menyipit meneliti bentuk misterius di dalam batu itu.
"Hmm... kalau dilihat dari kepalanya yang besar dan badannya yang memanjang... ini jelas Naga!" tebak Genpo yakin. "Lihat! Ada sisik-sisik alaminya! Dan ekornya panjang! Ini pasti Naga Pelindung Kuil!"
"Hah? Naga?" Deon mengerutkan kening, mendekatkan wajahnya hampir menempel ke batu. "Mana ada naga kepalanya bulat gitu Kek? Itu kan telinga! Itu jelas Kucing! Kucing raksasa tidur! Lihat matanya yang sipit dan badannya yang gemuk gemes!"
"APA?! Kucing?!" Genpo langsung protes keras. "Jangan menghina benda suci ini Deon! Naga! Itu Naga! Simbol kekuatan dan keabadian!"
"Itu Kucing Kek! Kucing Hutan! Lihat deh bentuk hidungnya pesek gitu!" Deon tak mau kalah. "Lagipula kan bentuknya alami, jadi wajar kalau ambigu. Tapi menurut ilmu geometri, kemiripannya 80% dengan kucing!"
"Dasar Ahli Merusak! Matamu buta seni! Itu Naga! NAGA!!" Genpo memukul pelan punggung Deon. "Kakek yang Tukang Kayu Emas bilang Naga, berarti Naga!"
"Hahaha ya sudah Naga deh... Naga Kucing!" Deon tertawa terbahak-bahak melihat kakeknya ngotot. "Pokoknya cantik banget. Ini formasi geologi langka sekali. Namanya Geode Kristal versi raksasa."
Meskipun berdebat soal bentuk, mereka sama-sama terpana melihat keindahan di dalam batu itu. Cahaya matahari masuk memantul-mantul di dalam rongga itu, membuat seluruh halaman kuil seakan disinari oleh cahaya hijau magis.
"Deon," kata Genpo tiba-tiba, matanya berkilat penuh ide. "Bagaimana kalau... kita rapikan sedikit bentuk luarnya?"
"Maksud Kakek?"
"Kita ukir sedikit saja. Biar bentuknya makin jelas. Kalau menurut Kakek ini Naga, ya kita buatkan sedikit detail sisik dan cakar biar makin gagah! Nanti jadilah Patung Naga Zamrud terbesar di dunia!" usul Genpo bersemangat, jiwa seninya bangkit kembali.
"Wah, ide bagus!" Deon mengangguk setuju. "Tapi jangan diubah banyak ya Kek, nanti rusak nilai alaminya. Cukup dibersihkan dan diperhalus. Biar orang yang lihat nanti... hmm... tetap bisa berdebat itu Naga atau Kucing!"
"Hahaha! Dasar anak nakal! Pokoknya Kakek akan buatkan dia jadi Naga yang paling gagah! Siap tempur melindungi kuil ini!"
Genpo langsung mengambil alat ukir kecilnya yang paling tajam. Ia mulai bekerja dengan hati-hati sekali. Jarinya yang terlatih menggores permukaan batu sekeras berlian itu dengan lembut.
Ting... ting... ting...
Suara pemukulan pahat terdengar merdu di seantero kuil. Perlahan tapi pasti, siluet makhluk misterius itu mulai semakin jelas. Badannya yang kekar, kepalanya yang besar, dan ekor yang melingkar.
"Gimana Deon? Sekarang sudah kelihatan kan badannya? Naga kan?!" tanya Genpo bangga.
Deon memiringkan kepala, menilai hasil karya kakeknya.
"Hmm... makin kelihatan Kek. Sekarang jadi... Kucing yang lagi marah-marah terus mau napas api!"
PLAK!
"ADUH!" Deon terkikik saat dipukul pelan oleh Kakek Genpo.
"Kurang ajar! Ini Naga! NAGA!! Jangan dikit-dikit kucing! Nanti dia hidup dan makan kamu lho!"
"Hahaha maaf maaf! Naga! Naga yang sangat tampan dan gagah perkasa! Puas?!"
Suasana halaman kuil pagi itu menjadi sangat hidup. Penuh tawa, debat seru, dan keajaiban hijau zamrud yang menyelimuti mereka.