Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17
****
Jakarta menyambut kepulangan sang power couple dengan cuaca yang gerah, namun di dalam mansion megah kawasan Menteng, suhu tetap terjaga sejuk. Beberapa hari telah berlalu sejak penyatuan emosional mereka di Paris. Bagi dunia, mereka adalah simbol kesempurnaan. Namun bagi Karina, menjadi Nyonya Darma Hutomo ternyata jauh lebih membosankan daripada jadwal latihan dance sepuluh jam sehari.
Pagi itu, Karina memutuskan untuk menginvasi dapur utama. Ia ingin membuat cookies kayu manis, sebuah resep yang dulu sering ia buat bersama ibunya untuk meredakan stres.
"Ibu, biarkan kami saja yang mengerjakan. Ibu istirahat saja," ujar Sari, sang pelayan, dengan nada khawatir melihat tepung mulai beterbangan di dapur marmer yang biasanya steril itu.
"Sari, kalau aku cuma duduk diam melihat gorden, aku bisa berlumut. Biarkan aku main tepung sebentar, ya?" sahut Karina dengan cengiran khasnya.
Karina tampil sangat kontras dengan kemegahan rumah itu. Ia hanya mengenakan kaos putih kebesaran dan celana pendek, rambut hitam panjangnya di-jedai asal—bahkan ada sedikit noda tepung yang menempel di ujung hidung dan apronnya. Namun, kecantikannya justru terpancar lebih murni.
Tentu saja, ia tidak lupa mengunggah momen domestik itu ke Instagram. Dalam hitungan detik, puluhan juta pengikutnya menyerbu.
Komentar Netizen:
@ayinfans_club: "Omo! Nyonya Hutomo lagi baking? Tepungnya aja kelihatan mahal!"
@pencari_remah_rengginang: "Bayangkan jadi Darma, pulang kantor disambut bidadari belepotan tepung begini. Nikmat mana yang kau dustakan?"
@lambe_turah_kw: "Salfok sama cincin kawinnya tetep dipake pas ngadon. Gak takut masuk ke adonan tuh berlian 12 karat? "
@chef_juna_wannabe: "Visualnya juara, tapi cookies-nya enak nggak ya? Semoga gak sekeras hati suaminya. Hehe."
Karina tertawa gemas membaca komentar-komentar itu. "Enak saja bilang suamiku keras hati. Dia itu bukan keras, cuma... membeku," gumamnya sambil memasukkan loyang ke dalam oven.
Sambil menunggu cookies-nya matang, Karina duduk di island table dan mulai berselancar di platform berita. Namun, tawanya mendadak hilang. Sebuah notifikasi berita hoaks dengan tajam merobek mood-nya yang sedang bagus.
HEADLINE GOSIP:
"Cinta Lama Belum Kelar? Darma Hutomo Tertangkap Kamera Bermesraan dengan Selebgram Angel di Lapangan Golf. Apakah Pernikahan dengan Karina Hanya Tameng Politik?"
Di sana terpampang foto yang diambil dari sudut jauh. Darma tampak berdiri sangat dekat dengan seorang wanita cantik bernama Angel. Wanita itu terlihat menyentuh lengan Darma dengan posesif. Wajah Darma tidak terlihat karena membelakangi kamera, namun postur tubuhnya tak bisa salah lagi.
"Gosip macam apa ini? Kenapa bisa ada berita murahan kayak gini muncul sekarang?" desis Karina. Jantungnya berdenyut nyeri, sebuah rasa cemburu yang asing tiba-tiba membakar dadanya.
Ia memperhatikan foto itu lagi dengan mata menyipit. "CK! Kegatelan banget sih jadi cewek! Siapa sih Angel ini? Senyumnya lebar banget, kayak habis menang lotre," omel Karina tanpa sadar.
Ia beralih ke akun gosip populer untuk melihat reaksi netizen.
Komentar Akun Gosip:
@netijen_julid: "Hah? Beneran ini Angel selebgram itu? Bukannya dia dulu emang 'peliharaan' kalangan elit, termasuk gosipnya deket sama Darma?"
@rumpi_no_secret: "Tapi kan Darma udah nikah sama Karina. Masa iya main belakang secepat ini?"
@pro_angel: "Jujur mereka lebih serasi sih. Sama-sama dunia bisnis. Kalau sama Karina kan cuma gara-gara bapaknya jenderal aja."
@cinta_lama_bersemi: "Mungkin cinta lama belum kelar. Angel itu tipenya Darma banget, lebih dewasa."
"Apa-apaan sih, kok jadi malah kayak gini?" Amarah Karina meledak. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak. "Terus kalau emang dia punya pacar atau masa lalu yang belum beres, kenapa dia setuju nikah sama aku? Kenapa dia menyentuhku semalam di Paris kalau pikirannya masih sama perempuan ini?"
Prasangka buruk mulai merayapi pikiran Karina. Ia merasa dimanfaatkan. Apakah perlindungan Darma selama ini hanya bagian dari kontrak agar Darma bisa tetap "bermain" di belakang tanpa merusak citra keluarga?
Karina melepas apronnya dengan gerakan kasar, melemparnya ke atas meja hingga mengenai wadah tepung yang tersisa.
Brak!
Para pelayan di dapur tersentak kaget. Mereka belum pernah melihat sang Nyonya Muda semarah ini. Namun, di sudut dapur, seorang pelayan senior tampak tersenyum tipis seolah memang itulah reaksi yang diharapkan dari skenario ini.
**
Sementara itu di lantai teratas Gedung Hutomo, suasana di dalam ruangan kerja CEO itu terasa seperti berada di dalam lemari es raksasa. Dinding kaca tebal yang menyajikan pemandangan cakrawala Jakarta yang polutif tidak mampu meredam aura dingin yang terpancar dari meja kerja kayu mahoni di tengah ruangan.
Darma Mangkuluhur sedang duduk dengan punggung tegak di kursi kebesarannya. Matanya yang tajam meninjau laporan akuisisi lahan ribuan hektar di Kalimantan untuk proyek Hutomo Green Energy. Suasana sunyi yang biasanya menjadi zona nyaman Darma tiba-tiba terpecah.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruangannya diketuk dengan ritme yang terburu-buru, sebuah anomali di kantor yang menjunjung tinggi ketenangan. Aldi, asisten sekaligus orang kepercayaan Darma yang telah bersamanya selama lebih dari satu dekade, masuk dengan wajah tegang. Tangannya yang memegang tablet sedikit gemetar.
"Pak Darma, maaf sekali saya harus mengganggu fokus Anda," suara Aldi terdengar agak tercekat saat ia berdiri di depan meja Darma.
Darma tidak mendongak sedikit pun. Jemarinya terus membalik halaman dokumen legal di depannya. "Aldi, kamu tahu saya tidak suka interupsi untuk hal yang tidak mendesak. Berikan saya satu alasan logis kenapa kamu harus masuk seperti dikejar hantu."
Aldi menelan ludah. Meski sudah bertahun-tahun bekerja dengan 'Beruang Es' ini, ia tetap tidak bisa sepenuhnya kebal terhadap tekanan aura Darma. "Ini tentang media sosial, Pak. Ada gosip yang sedang digoreng secara masif sejak tiga jam yang lalu. Ini tentang foto Anda dengan Angel di lapangan golf saat peresmian resor minggu lalu. Sudut pandangnya... sangat provokatif."
Darma akhirnya mengangkat pandangannya. Ia melirik sekilas ke arah layar tablet yang disodorkan Aldi, melihat foto dirinya yang sedang berbincang dengan seorang model papan atas di tengah hamparan rumput hijau.
"Biarkan saja. Itu berita basi," sahut Darma datar, kembali menatap dokumennya seolah foto itu hanya sampah yang lewat.
"Tapi Pak, situasinya berbeda sekarang," Aldi mencoba mendesak, suaranya naik satu oktav karena cemas. "Status Anda sudah berubah. Sekarang Anda bukan sekadar pengusaha sukses, Anda adalah suami dari putri tunggal Sang Panglima. Narasi yang dibangun netizen dan akun-akun gosip sekarang sangat menyudutkan Bu Karina. Mereka menyebut Anda 'tidak puas dengan satu panggung' atau semacamnya."
Darma meletakkan pena mahalnya dengan bunyi tik yang tajam di atas meja. Ia menatap Aldi dengan mata yang menyipit. "Buat apa saya mengklarifikasi gosip sampah? Dunia tahu siapa saya. Angel hanya kebetulan ada di sana sebagai tamu undangan mitra bisnis saya dari Singapura. Dia yang mendekat untuk menyapa, bukan saya yang mengundangnya ke lubang hole-in-one saya."
"Maaf Pak, tapi ini bukan hanya soal Angel," Aldi mengusap keringat di pelipisnya. "Oposisi politik mertua Anda, Jenderal Agus, mulai menggunakan foto ini sebagai amunisi. Mereka ingin menyerang stabilitas aliansi klan Cendana dan militer melalui isu keretakan rumah tangga Anda. Mereka ingin publik berpikir pernikahan ini hanya sandiwara yang gagal."
"Mereka ingin bermain politik di atas ranjang saya?" suara Darma merendah, sebuah tanda bahwa ia sedang di puncak kekesalannya. "Bodoh sekali."
"Dan satu hal lagi, Pak..." Aldi ragu sejenak. "Ibu Karina mungkin sudah melihatnya. Dia sangat aktif di media sosial. Mood wanita, apalagi yang memiliki pengaruh sebesar dia, biasanya... sulit diprediksi jika menyangkut hal sensitif seperti ini. Saya khawatir beliau salah paham."
Darma terdiam sejenak. Ingatannya melayang pada momen di Paris beberapa waktu lalu. Isak tangis Karina, noda merah di seprai, dan bagaimana wanita itu akhirnya tertidur di pelukannya. Ia juga teringat wajah Karina yang tertawa gemas pagi tadi saat melakukan Live Instagram yang sempat ia tonton secara diam-diam melalui akun anonim miliknya.
"Buat pernyataan standar melalui tim humas," perintah Darma dengan nada otoriter yang tak terbantahkan. "Katakan itu foto lama yang diambil di ruang publik atau distorsi sudut pandang kamera. Jangan berikan mereka ruang untuk berspekulasi lebih jauh."
Darma bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela kaca besar dan menatap gedung-gedung di bawahnya. "Dan Aldi... cari tahu siapa yang pertama kali membocorkan foto itu ke akun anonim. Jika ini memang pesanan politik untuk merusak kepercayaan istri saya, pastikan mereka tahu bahwa mengusik urusan rumah tangga Darma Mangkuluhur adalah kesalahan fatal yang akan membuat karier mereka terkubur."
Aldi menunduk dalam, merasakan hawa membunuh yang keluar dari punggung bosnya. "Siap, Pak. Saya akan urus segera. Tapi..."
Aldi menjeda kalimatnya, mencoba mengumpulkan keberanian terakhirnya. "Tapi saya secara pribadi berharap, semoga Ibu Karina bisa menyambut kepulangan Anda sore ini dengan senyuman hangat, Pak. Bukannya dengan... piring terbang atau aroma kayu manis yang berubah jadi api."
Darma membalikkan tubuhnya perlahan. Ia menatap Aldi dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca kosong, bingung, sekaligus heran. Seolah-olah Aldi baru saja berbicara dalam bahasa kuno yang tidak ia mengerti.
"Senyuman?" tanya Darma pelan, keningnya berkerut. "Kenapa dia harus tersenyum jika dia tahu suaminya sedang difitnah? Dan apa hubungannya kayu manis dengan api? Kamu bicara terlalu banyak filosofi hari ini, Aldi. Kembali bekerja."
Aldi hanya bisa menghela napas pasrah melihat ketidakpekaan bosnya yang luar biasa. "Baik, Pak. Permisi."
Setelah Aldi keluar, Darma kembali menatap layar komputernya. Namun, untuk pertama kalinya dalam sejarah kariernya, fokusnya buyar. Ia tahu Karina bukan wanita yang mudah dikendalikan seperti bawahannya.
"Investasi ini mulai melibatkan variabel emosi yang merepotkan," bisiknya pada ruangan yang sunyi itu.
Darma tidak sadar, bahwa di rumah mereka di kawasan Menteng, "investasi" berharga miliknya itu sedang dalam mode siaga tempur, memegang ponsel dengan jemari yang gemetar karena amarah, siap menyulut api dalam pertemuan mereka nanti malam.
****
Bersambung....