NovelToon NovelToon
JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

Status: tamat
Genre:Janda / Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Tamat
Popularitas:734
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.

Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!

Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Kebohongan yang Tumpang Tindih

"Aku tidak akan memberikan apa pun padamu," Ekantika berkata, suaranya serak namun penuh tekad. "Kau tidak akan mendapatkan satu sen pun dariku, Arsa."

Senyum Arsa menghilang. Matanya menyipit, dingin. "Oh, kamu keras kepala. Sayang sekali. Padahal aku sudah menyiapkan sebuah kejutan kecil untuk dewan direksi besok. Video-video itu akan membuat mereka sangat terhibur. Mungkin Pak Doni akan senang melihat betapa manipulatifnya CEO mereka."

Ekantika tahu Arsa tidak main-main. Reputasinya adalah segalanya. Namun, hatinya juga menjerit. Aku tidak akan membiarkan dia menang lagi. Ia sudah terlalu lama menjadi korban Arsa.

Tepat saat Arsa hendak melanjutkan ancamannya, sebuah bayangan melintas di belakangnya. Riton.

Riton melangkah masuk ke restoran. Ia baru saja selesai rapat dengan calon investor di gedung sebelah. Sepanjang perjalanan ia memikirkan "Tante Nana" yang misterius. Apakah dia Ekantika? Apakah semua ini kebohongan? Ia butuh jawaban.

Matanya menyapu ruangan, mencari meja yang kosong, namun pandangannya terpaku pada satu meja di pojok. Ekantika Asna, CEO Garuda, duduk berhadapan dengan seorang pria. Pria itu, dengan setelan jas abu-abu dan seringai licik, terlihat sangat familiar.

Arsa.

Riton mengenali wajah Arsa dari berbagai artikel berita tentang investasi startup yang bermasalah. Arsa adalah investor yang terkenal suka menipu, menghancurkan perusahaan, dan menghilang dengan uang. Sosok yang sangat tidak disukai di komunitas startup.

Ia melihat Ekantika. Wajahnya pucat, tangannya mengepal di bawah meja. Ada ketakutan di matanya yang belum pernah Riton lihat. Arsa, di sisi lain, tampak menikmati setiap detik penderitaan Ekantika, menyeringai dengan kejam.

Hati Riton mencelos. Ada apa ini? Intuisi pertamanya berbisik bahwa Ekantika sedang dalam masalah besar. Semua teka-teki, semua kebetulan aneh, tiba-tiba terasa lebih gelap. Arsa adalah racun.

Riton memperlambat langkahnya. Ia ingin mendengar percakapan mereka, ingin memahami apa yang terjadi. Tapi suara mereka terlalu pelan, teredam oleh gemuruh restoran. Ia hanya bisa melihat ekspresi mereka. Ketakutan Ekantika, dan kekejaman Arsa.

Ini bukan lagi tentang Nana yang berbohong. Ini tentang Ekantika Asna yang sedang terjebak.

Riton merasakan adrenalin memompa. Ia tidak suka Arsa. Ia tidak suka melihat seorang wanita diperlakukan seperti itu, bahkan jika wanita itu adalah Ekantika Asna yang dingin. Dan terutama, ia tidak suka melihat Ekantika Asna, yang entah kenapa terasa begitu terhubung dengannya, berada dalam masalah.

Ia tahu ia tidak seharusnya ikut campur dalam urusan pribadi bosnya, mantan bosnya, atau entitas misterius yang mungkin saja adalah kekasih fiktifnya. Tapi ada sesuatu yang menariknya, sebuah dorongan kuat untuk melindungi.

Riton mengambil langkah terakhir, mendekati meja mereka. Hatinya berdebar, bukan karena takut, melainkan karena ia tahu, sebentar lagi, ia akan masuk ke dalam sarang masalah. Ia berdiri di samping meja mereka, pandangannya beralih dari Ekantika ke Arsa.

"Ada masalah di sini, Bu Ekantika?" Riton bertanya, suaranya tegas dan tenang, memecah keheningan tegang di antara mereka. Arsa dan Ekantika terlonjak kaget. Keduanya menatap Riton, wajah mereka memucat. Dia ada di sini? Bagaimana bisa?

Jantung Ekantika berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya seolah ingin melompat keluar. Ia merasakan semua darah mengalir dari wajahnya, membuat kulitnya terasa dingin dan kaku. Sial. Sial. Sial. Riton, di sini, sekarang, berdiri tepat di antara dua kepingan kehidupannya yang paling beracun: Arsa, masa lalu yang pahit, dan Nana, masa kini yang penuh kebohongan. Ini adalah skenario terburuk yang pernah ia bayangkan.

Arsa, dengan senyum liciknya yang tidak pernah luntur, memulihkan diri lebih cepat. Ia menatap Riton, ada kilatan menghina di matanya. "Oh, lihat siapa ini. Si anak muda ambisius dari Aksara Digital. Dunia memang sempit ya, Ekantika? Atau kamu memang punya hobi mengumpulkan semua brondong di sekitarmu?"

"Arsa!" Ekantika mendesis, suaranya nyaris tanpa volume. Tangannya mengepal erat di bawah meja, berusaha mengendalikan diri. Ia merasakan napasnya tertahan. Aku tidak boleh membiarkan dia bicara lebih banyak.

Riton mengabaikan Arsa, tatapannya terfokus pada Ekantika. Ada campuran kekhawatiran dan kebingungan di matanya. "Bu Ekantika, Anda baik-baik saja? Saya lihat Bapak ini..." Riton mengedikkan dagu ke arah Arsa.

Ekantika memaksakan seulas senyum kaku. "Ah, Riton. Kebetulan sekali kau di sini. Ini... ini mantan suami saya, Arsa. Kami sedang mendiskusikan masalah pribadi. Lebih tepatnya, masalah utang lama yang belum terselesaikan." Ia sengaja menekankan kata "utang," berharap Riton akan mengaitkannya dengan citra Arsa sebagai investor bermasalah.

Riton mengerutkan kening. "Masalah utang? Saya kira Bapak Arsa ini adalah investor yang cukup... sukses." Ada nada sarkasme halus dalam suaranya. Dia tahu siapa Arsa.

Arsa tertawa renyah, tawa yang menusuk gendang telinga Ekantika. "Oh, saya memang sukses, Nak. Hanya saja, Ekantika ini punya kebiasaan buruk menyimpan masalah orang lain. Termasuk masalah pribadi saya. Kamu tahu, wanita ini punya bakat luar biasa dalam menciptakan ilusi. Terutama tentang dirinya sendiri." Ia melirik Ekantika, matanya berkilat jahil. "Bagaimana kalau kamu ikut duduk, Nak? Mungkin kamu bisa belajar satu atau dua hal tentang bagaimana seorang wanita bisa... bermain peran."

Riton menatap Arsa, lalu beralih ke Ekantika. Tatapan Ekantika memohon, penuh ketakutan, dan Riton menangkapnya. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.

"Saya rasa saya tidak perlu ikut campur urusan pribadi Ibu Ekantika," Riton berkata, meskipun suaranya tenang, ada keteguhan yang tak tergoyahkan di sana. "Saya hanya khawatir. Ibu terlihat..."

"Saya baik-baik saja, Riton," Ekantika memotong, suaranya tegas, memberi sinyal agar Riton tidak melanjutkan. Jangan buat dia curiga lebih jauh!

Arsa, seolah tidak peduli dengan interupsi Ekantika, kembali menyeringai. "Oh, tentu saja dia baik-baik saja. Dia selalu baik-baik saja. Bukankah begitu, Nana?"

Kata "Nana" itu meluncur dari bibir Arsa seperti pisau tajam, menusuk langsung ke telinga Ekantika. Dunianya terasa berhenti berputar. Udara di sekitarnya menipis. Arsa baru saja mengucapkan nama yang tidak seharusnya ia tahu. Di depan Riton. Habislah aku.

Riton mengerjap. "Nana? Siapa Nana?" Ia menoleh ke Ekantika, tatapannya penuh pertanyaan.

Ekantika merasakan seluruh tubuhnya menegang. Ia melihat kilatan kemenangan di mata Arsa. Ini adalah saat yang menentukan. Aku harus menghentikannya. Tanpa berpikir panjang, dengan seluruh kekuatan yang tersisa, Ekantika menggerakkan kakinya di bawah meja. BUGH! Tumit stiletto-nya menghantam tulang kering Arsa dengan keras.

Arsa terkesiap. Wajahnya langsung memucat, seringainya lenyap, digantikan oleh ekspresi terkejut dan kesakitan yang tak bisa ia sembunyikan. Ia mencengkeram lututnya di bawah meja, bibirnya menipis.

"Ada apa, Bapak?" Riton bertanya, menyadari perubahan ekspresi Arsa yang mendadak.

Arsa mencoba kembali tersenyum, namun senyumnya kini terasa dipaksakan dan penuh rasa sakit. "Ah, t-tidak ada apa-apa, Nak. Mungkin... saya hanya terlalu bersemangat bicara. Tulang kering saya... sedikit kesemutan." Ia melirik Ekantika dengan tatapan mematikan, yang dibalas Ekantika dengan tatapan dingin, memperingatkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!