Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik pesantren yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.
Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.
Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Team Alea di mulai
Matahari Malang masih malu-malu di balik kabut tipis saat aku memacu kendaraan menyusuri Jalan Veteran. Di jok samping, gulungan cetakan biru dari Mas Andreas menjadi saksi bisu ambisi yang sempat tertahan. Enam bulan terakhir adalah perjalanan yang menguras emosi, sebuah periode di mana aku dipaksa memilih antara mimpi pribadi atau pengabdian kolektif.
Pembangunan Team Alea—kerajaan kecil yang sudah lama kurancang di kepala—benar-benar sempat berada di titik nadir. Stuck. Tidak ada kemajuan satu bata pun.
Penyebabnya bukan karena kehilangan semangat, melainkan sebuah urgensi yang tidak bisa kutolak: Sekolah Harapan. Saat itu, pilihannya hanya dua: ego atau masa depan anak-anak di sekitarku. Aku memilih yang kedua. Sekolah itu berdiri di atas tanah wakaf Bapak Agus, Ketua Diknas Pendidikan yang berhati emas, dengan sokongan dana dari Bapak Bupati.
Sebagai orang yang dipercaya memegang andil dalam tata letak bangunan dan struktur, aku tidak bisa setengah-setengah. Aku harus memastikan ventilasinya cukup agar anak-anak tidak kegerahan saat belajar, dan strukturnya kokoh agar bisa bertahan puluhan tahun. Selama setengah tahun, waktuku habis di sana, memantau setiap semen yang diaduk dan setiap kerangka besi yang dipasang.
Kini, Sekolah Harapan sudah berjalan enam bulan. Pemandangan di sana selalu berhasil membuat mataku berkaca-kaca. Anak-anak muda yang dulunya luntang-lantung di pinggir jalan kini terlihat berambisi. Semangat mereka menular, menciptakan atmosfer yang penuh harapan, persis seperti nama sekolahnya. Namun, di tengah kepuasan itu, ada bagian dari diriku yang terus berbisik, "Lalu, bagaimana dengan Team Alea?"
Minggu lalu adalah momen comeback-ku. Aku memutuskan bahwa sudah saatnya Team Alea bangkit dari tidur panjangnya. Tapi masalah klasik kembali muncul: lahan.
Setiap hari, dari pagi buta hingga petang merayap, aku menyusuri setiap jengkal jalanan Malang. Kota ini memang indah dengan udaranya yang sejuk, tapi mencari lahan yang strategis di tengah padatnya pemukiman dan ruko adalah tantangan tersendiri.
Mas Andreas, arsitek sekaligus mandor kepercayaanku, sudah menyelesaikan desain finalnya. Desain itu luar biasa—modern, fungsional, tapi tetap memiliki sentuhan personal yang "Alea" banget. Aku merasa sangat bersalah kepadanya. Beberapa bulan lalu, dengan berat hati aku menemuinya.
"Mas Andreas, maaf... sepertinya pembangunan Team Alea harus saya undur sampai waktu yang tidak bisa saya tentukan," kataku saat itu dengan nada lemas.
Beliau hanya tersenyum maklum. Untungnya, Mas Andreas adalah orang yang profesional dan berjiwa sosial tinggi. Aku tetap menggunakan jasanya untuk pembangunan Sekolah Harapan. Aku ingin sekolah gratis itu memiliki kualitas bangunan terbaik, setara dengan proyek komersial mana pun. Sambil beliau mengawasi sekolah, aku terus bergerak mencari lokasi.
Hebatnya, meski bangunan fisik belum ada, "nyawa" dari Team Alea sudah mulai bernafas. Para anak muda dan santri yang akan segera lulus sudah mulai mengikuti pelatihan intensif. Aku tidak ingin saat bangunan jadi nanti, kami bingung mencari sumber daya manusia.
Di aula sementara, aku melihat para santriwati dengan telaten merangkai bunga dan kain sutra, berlatih membuat Bucket Hantaran Pernikahan. Di sudut lain, anak-anak muda berkaus hitam sedang berkutat dengan oli dan mesin, melatih tangan mereka menjadi montir yang andal. Sementara di ruang gelap yang kami sekat sederhana, beberapa siswa fokus memegang kamera, mempelajari komposisi dan pencahayaan untuk Team Studio Alea.
Mereka adalah fondasi sebenarnya. Bangunan hanyalah wadah, tapi mereka adalah isinya.
Pencarian itu akhirnya membuahkan hasil. Sore itu, gerimis tipis membasahi kaca depan mobil saat aku melintas di area yang tidak jauh dari kampus UIN Malang. Mataku tertuju pada sebuah papan kusam bertuliskan "Dijual".
Lokasinya sempurna. Dekat dengan area mahasiswa, penuh energi, dan sangat strategis untuk unit bisnis pertama kami: Team Bucket Alea. Mahasiswa butuh kado wisuda, hantaran, dan segala macam pernak-pernik kreatif. Di sinilah bangunan pertama itu akan berdiri. Aku segera menghubungi pemiliknya, dan tanpa pikir panjang, kesepakatan tercapai.
"Satu langkah besar, Alea," gumamku pada diri sendiri sambil menandatangani dokumen awal.
Tidak berhenti di situ, semesta seolah ingin membayar lunas waktu tungguku selama enam bulan. Hanya berselang tiga hari, aku menemukan lahan kedua. Lokasinya tidak jauh dari Alun-alun Malang. Bangunan tua yang butuh sedikit sentuhan magis Mas Andreas. Lahan ini akan menjadi markas Team Studio Alea. Dengan akses yang mudah dijangkau dari pusat kota, aku membayangkan orang-orang datang untuk mengabadikan momen berharga mereka di studio kami.
Aku segera mengabari Mas Andreas. Beliau tertawa di telepon, "Akhirnya, desain saya tidak jadi hiasan dinding ya, Mbak?"
Kami segera memulai proses pembersihan lahan. Suara alat berat dan bisingnya pekerja konstruksi yang biasanya mengganggu, kali ini terdengar seperti simfoni yang indah di telingaku.
Namun, hidup jarang sekali memberi paket lengkap tanpa ujian. Di tengah euforia pembangunan dua unit bisnis tersebut, aku masih dihantui oleh satu lubang besar: Team Montir Alea.
Unit ini adalah yang paling kompleks. Aku butuh lahan yang cukup luas untuk bengkel, akses jalan yang lebar agar kendaraan mudah keluar-masuk, namun tetap berada di jangkauan yang tidak terlalu jauh dari pusat aktivitas agar para santri yang magang tidak kesulitan transportasi.
Sudah puluhan lahan kupantau. Ada yang terlalu mahal, ada yang lokasinya masuk ke gang sempit, dan ada yang sengketa.
"Mbak, untuk bengkel itu kuncinya di drainase dan ventilasi udara. Kalau lahannya terlalu mepet pemukiman padat, nanti tetangga komplain suara berisik mesin," saran Mas Andreas saat kami berdiskusi di pinggir proyek Alun-alun.
Aku menghela napas panjang. Mencari lahan untuk bengkel di Malang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari lokasi studio foto. Aku kembali menyusuri jalanan, melewati daerah Sukun, menyisir hingga ke arah Singosari, lalu kembali ke arah kota melalui jalan-jalan tikus yang mungkin menyimpan permata tersembunyi.
Seringkali aku merasa lelah. Pikiran kembali ke masa-masa pembangunan Sekolah Harapan yang begitu mendesak. Aku teringat wajah Bapak Agus dan dukungan Bapak Bupati. Jika aku bisa menyelesaikan proyek sekolah gratis itu di atas tanah wakaf, masa aku tidak bisa menemukan satu lahan lagi untuk anak-anak muda yang sudah berlatih mesin dengan semangat itu?
Malam ini, aku kembali memarkir mobil di pinggir jalan yang agak sepi. Di depan mata, pembangunan Team Studio Alea sudah mulai menampakkan bentuk strukturnya. Besi-besi kokoh berdiri tegak, mencakar langit malam Malang yang dingin.
Aku teringat para santri yang minggu lalu menunjukkan hasil latihan mereka. Salah satu santri bernama Yusuf, yang mengambil kelas mekanik, berkata kepadaku, "Mbak, saya sudah siap bongkar pasang mesin motor matic. Kapan kita mulai di bengkel beneran?"
Pertanyaan itu terus terngiang. Aku tidak boleh menyerah. Pembangunan Sekolah Harapan telah mengajariku tentang kesabaran dan manajemen prioritas. Stuck-nya Team Alea kemarin bukanlah sebuah kegagalan, melainkan cara Tuhan menyuruhku untuk memberikan fondasi yang kuat bagi masyarakat lebih dulu sebelum membangun kepuasan sosial dan bisnisku sendiri.
Kini, dengan dua lokasi yang sudah mulai berjalan untuk pembangunan dan perbaikan, aku punya energi baru. Aku akan terus menyusuri jalanan Malang. Mungkin besok, atau lusa, di balik tikungan jalan yang belum sempat kulewati, lahan untuk Team Montir Alea sudah menunggu.
Aku memutar kunci kontak, mesin menderu halus. Perjalanan mencari "potongan puzzle" terakhir ini mungkin masih panjang, tapi aku tidak lagi merasa terburu-buru. Aku tahu, seperti halnya Sekolah Harapan yang kini sudah berdiri megah dan memberi manfaat bagi banyak orang, Team Alea pun akan berdiri pada waktunya.
Satu per satu. Langkah demi langkah. Karena di atas desain Mas Andreas dan di dalam semangat para calon staff-ku, Team Alea bukan lagi sekadar mimpi. Ia adalah kenyataan yang sedang tumbuh, bersemi di antara dinginnya udara Malang dan hangatnya harapan yang kami bangun bersama.
Aku mengarahkan kendaraan pulang, bersiap untuk fajar berikutnya. Besok pagi, aku akan mencari lagi. Karena bagi seorang perancang masa depan, tidak ada kata berhenti sebelum semua struktur terpasang sempurna.