"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
Waktu berlalu begitu cepat. Kenangan tentang kepergiannya dari desa, perjalanan panjang menuju kota, hingga hari pertama ia menginjakkan kaki di kampus, terasa seperti baru kemarin. Kini, Melisa Wulandari sudah memasuki semester lima di fakultas hukumnya.
Selama lebih dari dua tahun berkuliah, ia hanya memiliki dua teman dekat. Bukan karena ia tidak ingin bergaul, tetapi karena sejak dulu ia memang pendiam dan agak sulit bersosialisasi. Jika bukan karena mereka yang lebih dulu mendekat, mungkin sampai sekarang pun ia akan tetap sendiri.
Suasana di koridor kampus siang itu begitu ramai. Mahasiswa berlalu lalang, ada yang berjalan santai sambil berbincang, ada yang tertawa lepas, dan ada pula yang bergegas masuk ke ruang kelas. Namun, di tengah keramaian itu, Melisa tetap berjalan sendirian. Dengan tas selempang di bahu dan beberapa buku di tangan, ia melangkah menuju gedung fakultas dengan kepala sedikit tertunduk, menghindari terlalu banyak interaksi.
Tiba-tiba, suara lantang menggema dari arah belakang, memecah hiruk-pikuk kampus.
"MELMEL!"
Melisa otomatis berhenti sejenak. Tanpa perlu menoleh, ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Tidak mungkin ada orang lain yang memanggilnya dengan sebutan aneh seperti itu selain—
Diana Saskia Rindara.
Perempuan kelahiran Oktober itu adalah kebalikan Melisa dalam banyak hal. Jika Melisa pendiam, Diana adalah sosok ekstrovert sejati—ramah, aktif, dan tidak bisa diam. Jika Melisa lebih suka mengamati, Diana justru selalu menjadi pusat perhatian. Dan jika Melisa cenderung menghindari konflik, Diana dengan percaya diri akan maju ke depan tanpa ragu.
Tak butuh waktu lama, Diana sudah berada di sampingnya dan langsung merangkul lengan Melisa dengan akrab.
"Jangan teriak-teriak, Na. Malu didengar orang," bisik Melisa pelan, berharap sahabatnya itu bisa sedikit lebih tenang.
Namun, yang ditegur justru hanya menyengir lebar tanpa rasa bersalah. "Habisnya lo jalan sendiri aja kayak orang hilang! Lagian, gue tuh harus kasih tahu sesuatu yang penting banget!"
Melisa hanya mendesah pelan. "Penting? Apa lagi kali ini?" tanyanya, meskipun ia sudah bisa menebak bahwa ‘penting’ versi Diana sering kali tidak sepenting itu.
Diana mengguncang lengannya dengan semangat. "Nanti aja di kantin! Aku tungguin, jangan kabur ya!" serunya sebelum akhirnya berlari mendahului Melisa, entah menuju ke mana.
Melisa hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis. Seaneh apa pun Diana, ia bersyukur memiliki sahabat seperti dirinya.
Melisa kembali melangkah menuju kelasnya. Sejujurnya, ia dan Diana berada di kelas yang sama, tapi sahabatnya itu entah pergi ke mana setelah berteriak heboh tadi. Meli sudah terbiasa dengan kebiasaan Diana yang selalu muncul dan menghilang sesuka hati.
Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba ada sesuatu yang menekan bahunya dari samping, diikuti lengan kekar yang seenaknya merangkulnya erat.
"Oi, sendirian aja, Neng? Gak takut diculik?"
Meli hampir kehilangan keseimbangan. Ia menoleh dengan tatapan tajam ke arah pemilik suara, yang ternyata adalah seseorang yang sama sekali tidak asing baginya.
Riki Cahyo Permana.
Sahabatnya yang satu ini memang selalu bertingkah semaunya. Dengan tinggi badan yang menjulang dan gaya santai yang khas, Riki selalu sukses membuat Meli geregetan.
"Aduh, Ki! Udah dibilangin berkali-kali, jangan main rangkul sembarangan! Untung aku gak jatuh!" keluh Meli sambil berusaha menyingkirkan lengan berat yang masih bertengger di bahunya.
Alih-alih merasa bersalah, Riki malah terkekeh santai. "Yaelah, Neng, sensi amat pagi-pagi. Gue kan cuma sayang sama sahabatku ini."
Meli mendesah. Sudah dua tahun lebih ia mengenal Riki, dan selama itu pula ia terbiasa dengan tingkah usilnya.
Berbeda dengan Diana yang ceria dan enerjik, Riki adalah tipe lelaki yang sulit ditebak—santai, nakal, dan terkenal dengan pesonanya yang luar biasa di kalangan mahasiswi. Bisa dibilang, ia adalah "playboy kelas kakap" di fakultas mereka. Hampir semua mahasiswi di kampus ini pernah menjadi mantannya atau minimal masuk dalam daftar gebetannya.
Tiap hari, Riki selalu datang ke kampus dengan menggandeng perempuan yang berbeda. Bukan hanya itu, Meli juga sering melihatnya menerima bekal makanan atau sekadar snack dari para pengagumnya—entah itu dari mahasiswi di fakultas mereka sendiri atau bahkan dari fakultas lain.
Meli hanya menggeleng pelan. "Kamu gak kapok ditampar cewek, Ki?" tanyanya dengan nada datar.
Riki tertawa kecil. "Hidup itu harus penuh warna, Neng. Lagian, gue kan gak pernah maksa. Mereka yang datang sendiri," jawabnya sambil mengedipkan sebelah mata.
Meli mendengus pelan. "Hidup penuh warna atau penuh drama?" gumamnya.
Riki hanya terkekeh, lalu merangkul bahunya sekali lagi sebelum akhirnya melepaskannya sendiri. "Udahlah, ayo ke kelas. Jangan sampai kita telat gara-gara ngobrolin pesona luar biasaku ini."
Meli mendesah panjang. Dua sahabatnya ini memang benar-benar melelahkan, tapi dalam hati kecilnya, ia bersyukur memiliki mereka.