Seorang CEO muda yang ambisius seperti Kenzo Praditya tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi dengan Anindya, janda dari kakaknya sendiri.
"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku melakukan ini hanya demi wasiat Kakak," ucap Kenzo dingin di malam pertama mereka.
Anindya hanya bisa menelan kepahitan. Ia bertahan demi satu alasan, buah hatinya yang membutuhkan perlindungan keluarga Praditya.
Namun, tembok es yang dibangun Kenzo perlahan runtuh saat ia melihat ketegaran Anindya menghadapi badai fitnah dari luar.
Saat rasa peduli mulai berubah menjadi obsesi, Kenzo dihadapkan pada satu kenyataan pahit. Ia mulai mencintai wanita yang seharusnya tidak boleh ia miliki.
Simak Kisah Selanjutnya di Cerita Novel => Turun Ranjang.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Udara pagi di pesisir Jakarta Utara membawa aroma garam yang khas dan hembusan angin yang sejuk. Anindya menarik napas dalam-dalam, merasakan paru-parunya terisi oleh kesegaran yang selama ini absen dari hidupnya.
Ia mengenakan gaun summer berbahan tipis dengan motif bunga kecil, rambutnya dibiarkan tergerai tertutup topi jerami lebar.
Pagi ini, ia bergerak lebih cepat dari biasanya. Sebelum matahari benar-benar naik, ia sudah memasukkan perlengkapan pantai Elang ke dalam bagasi mobil. Ia tidak menggunakan sopir, ia ingin memegang kendali atas ke mana kakinya melangkah.
"Siska, cepat masuk. Kita berangkat sekarang," ucap Anindya pada babysitter Elang.
"Tapi Nyonya, Tuan Besar belum bangun. Apa tidak sebaiknya kita berpamitan dulu? Pengawal juga belum siap di depan," Siska tampak pucat, tangannya gemetar memegang botol susu Elang.
Anindya menoleh, menatap pintu rumah megah itu dengan tatapan dingin. "Aku tidak butuh izin untuk membawa anakku melihat laut. Dan untuk pengawal... biarkan mereka tertinggal. Aku ingin privasi hari ini."
Dengan gerakan cekatan, Anindya memacu mobilnya keluar dari gerbang tinggi kediaman Praditya, meninggalkan keheningan rumah yang sesaat lagi akan berubah menjadi badai.
Pukul delapan pagi, Tuan Praditya turun ke ruang makan dengan setelan jas rapi. Ia duduk di kursi kebesarannya, menanti menantu dan cucunya untuk ritual sarapan keluarga yang selalu ia jaga. Namun, kursi di hadapannya kosong.
"Bi Inah! Panggil Anindya dan Elang ke bawah sekarang. Kenapa mereka terlambat?" suara Tuan Praditya menggelegar di ruangan yang sunyi itu.
Bi Inah datang dengan langkah tergesa, wajahnya menunduk dalam. "Anu... Tuan Besar. Nyonya Anin sudah pergi sejak subuh tadi."
Tuan Praditya menghentikan gerakan tangannya yang hendak menyendok nasi goreng. "Pergi? Ke mana?"
"Nyonya bilang mau ke pantai bersama Den Elang untuk liburan, Tuan. Nyonya juga membawa mobil sendiri dan menyuruh para pengawal untuk tidak mengikuti," lapor Bi Inah gemetar.
BRAAAKK ....!
Tuan Praditya membanting sendok peraknya ke atas piring porselen hingga menimbulkan denting yang memekakkan telinga. Wajahnya memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol.
"Berani sekali dia! Siapa yang memberinya hak untuk bertindak semaunya di rumah ini?" teriak Tuan Praditya. "Ambilkan ponselku!"
Ia segera menghubungi nomor Anindya. Panggilan pertama, dialihkan. Panggilan kedua, nomor tidak aktif. Tuan Praditya melempar ponselnya ke atas meja makan dengan geram.
"Wanita itu benar-benar ingin menantangku. Dia pikir karena Kenzo tidak ada, dia bisa menjadi ratu di sini? Cari tahu di pantai mana dia berada! Sekarang!"
Sementara itu, di sebuah pantai pribadi yang jauh dari hiruk-pikuk publik, Anindya duduk di atas kain pantai yang terbentang.
Elang sedang asyik berlari kecil mengejar ombak yang membasahi kakinya, sesekali berteriak kegirangan sambil memegang sekop plastik.
Anindya sengaja mematikan kedua ponselnya, baik ponsel pemberian Kenzo maupun ponsel pribadinya. Ia ingin dunia berhenti sejenak. Ia ingin melupakan bahwa ia adalah Istri yang dikutuk oleh publik Jakarta.
"Anin? Anindya Praditya?"
Sebuah suara pria yang sangat familiar membuat Anindya tersentak. Ia mendongak dan melihat seorang pria bertubuh atletis dengan kemeja linen biru muda berdiri di hadapannya.
Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin pantai, namun senyumnya masih sama seperti sepuluh tahun lalu.
"Bimo?" suara Anindya bergetar.
Bimo adalah sahabat karib Arlan dan Anindya sejak masa kuliah di Fakultas Ekonomi. Mereka bertiga dulu adalah trio yang tak terpisahkan sebelum akhirnya Bimo memilih pindah ke luar negeri untuk mengelola bisnis perhotelannya.
"Ya Tuhan, Anin! Sudah berapa lama kita tidak bertemu?" Bimo segera menghampiri dan duduk di sampingnya. "Aku mendengar kabar tentang Arlan... aku sangat berduka. Aku baru sampai di Jakarta kemarin dan berniat mencarimu."
Anindya menatap Bimo dengan mata yang berkaca-kaca. Bertemu dengan seseorang dari masa lalu, seseorang yang mengenal Arlan sebagai sahabat, bukan sebagai aset perusahaan, membuat benteng pertahanan Anindya runtuh sesaat.
"Kehidupanku sekarang sangat berantakan, Bim," bisik Anindya.
Ia melirik ke arah Siska yang sedang menjaga Elang di kejauhan, memastikan pembicaraan mereka aman.
"Aku mendengar tentang Kenzo, Anin. Kabar pernikahan kilat itu sudah jadi rahasia umum di kalangan pebisnis. Tapi melihat matamu sekarang... aku tahu kau tidak bahagia. Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Bimo dengan nada tulus yang sudah lama tidak didengar Anindya.
Anindya menatap laut lepas, lalu menceritakan semuanya. Tentang ancaman hak asuh Elang, tentang bagaimana Kenzo memaksanya, dan tentang kecurigaannya yang semakin besar terhadap kecelakaan yang menewaskan Arlan.
"Kenzo selalu terobsesi padamu sejak kuliah, Anin. Arlan pernah bercerita padaku bahwa dia merasa Kenzo sering mengawasi kalian dari jauh dengan tatapan yang aneh," ungkap Bimo, wajahnya mengeras. "Dan soal kecelakaan itu... Arlan sempat mengirimiku email sehari sebelum dia meninggal. Dia bilang dia menemukan kejanggalan di proyek London yang saat itu dipegang oleh Kenzo."
Jantung Anindya seolah berhenti berdetak. "Email? Kau masih menyimpannya?"
"Masih. Dan aku juga punya akses ke beberapa orang kepercayaan Arlan di kantor pusat yang sekarang disingkirkan oleh Kenzo. Anin, kau tidak bisa melawan mereka sendirian. Keluarga Praditya itu seperti tembok baja," Bimo menggenggam tangan Anindya, memberikan kekuatan.
"Bantu aku, Bim. Aku hanya punya waktu satu bulan sebelum Kenzo kembali dari London. Aku harus punya bukti kuat agar aku bisa membawa Elang pergi dari rumah itu," pinta Anindya dengan nada memohon.
"Aku akan membantumu, apa pun taruhannya." janji Bimo.
~~
Sore harinya, saat matahari mulai terbenam dengan warna jingga yang membara, Anindya kembali ke rumah. Ia tahu apa yang menantinya di balik pintu besar itu.
Benar saja, begitu ia melangkah masuk, Tuan Praditya sudah berdiri di lobi dengan wajah yang menyeramkan. Di sampingnya, beberapa pengawal menunduk takut.
"Dari mana kau, Anindya? Berani-beraninya kau mematikan ponsel dan mengabaikan panggilanku!" Tuan Praditya melangkah maju, tangannya gemetar menahan amarah.
Anindya menurunkan Elang dari gendongannya dan menyuruh Siska membawanya ke kamar. Setelah Elang pergi, Anindya menatap mertuanya tanpa rasa takut.
"Aku pergi mencari ketenangan yang tidak bisa aku dapatkan di rumah ini, Pa. Dan soal ponsel... aku tidak ingin diganggu oleh siapa pun saat sedang bersama anakku. Termasuk oleh Papa," jawab Anindya dengan suara dingin yang menusuk.
"Kau... kau benar-benar tidak punya sopan santun! Kenzo akan tahu tentang hal ini! Dia akan sangat marah!"
"Silakan lapor padanya, Pa. Mungkin itu akan membuatnya lebih cepat pulang dan mengabaikan bisnisnya di London. Bukankah itu yang Papa takutkan? Kerugian perusahaan?" Anindya menyunggingkan senyum tipis yang meremehkan.
Tuan Praditya tertegun. Ia tidak menyangka menantunya yang dulu pendiam dan penurut kini berani berdebat dengannya secara terbuka. Anindya seolah baru saja menanggalkan topeng menantu idaman dan memperlihatkan taringnya yang tajam.
"Satu hal lagi, Pa," Anindya berhenti di anak tangga pertama. "Mulai besok, aku akan sering keluar rumah. Jangan coba-coba menghalangiku atau mengunci gerbang, karena jika itu terjadi, aku akan memastikan wartawan tahu bagaimana perlakuan keluarga Praditya terhadap janda Arlan."
Anindya berlalu menuju kamarnya, meninggalkan Tuan Praditya yang termangu dalam kemarahan yang tertahan.
Di dalam kamarnya, Anindya segera menyalakan ponsel pribadinya yang ia sembunyikan. Ada sebuah pesan masuk dari Bimo.
"Kita bertemu besok pagi di tempat yang sudah kita janjikan. Hati-hati, Anin. Kenzo punya mata di mana-mana."
Anindya menggenggam ponsel itu erat. Perang sesungguhnya baru saja dimulai. Ia bukan lagi boneka yang bisa ditarik ulurnya sesuka hati.
Jika Kenzo ingin bermain dalam kegelapan, maka Anindya akan membawa obor untuk membakar semua kebohongannya.
Di London, Kenzo menatap layar laptopnya yang menunjukkan lokasi GPS mobil Anindya yang sempat terlacak di area pantai. Ia meremas gelas kristal di tangannya hingga retak.
"Kau mulai bermain api, Sayang," bisik Kenzo dengan suara yang mengerikan. "Mari kita lihat siapa yang akan terbakar lebih dulu."
...----------------...
To Be Continue ....