NovelToon NovelToon
Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Horror Thriller-Horror / Epik Petualangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Thinkziam

Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...

----

~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Jakarta, 23 Desember 2026

Suhu: –14°C

Badai salju ketiga bulan ini

Tiga hari... Tiga hari Arka terperangkap di ruang bawah tanah sebuah ruko di Blok M, menunggu badai reda. Ketika akhirnya dia berhasil keluar, kakinya sudah tidak bisa digerakkan dengan sempurna karena tertimpa balok beton saat atap ruko itu ambruk. Dia merangkak di atas salju sejauh dua kilometer, menyeret karung beras yang tinggal setengah.

Sepanjang perjalanan, dia hanya memikirkan satu hal: pulang..

Pintu apartemen terbuka. Andre menyambutnya dengan wajah pucat. Toni berdiri di belakang, tangan di saku jaket. Sari berlari ke arahnya, tapi berhenti beberapa langkah sebelum menyentuhnya.

"Ya Allah, Ark... kamu ga apa apa kan..."

"Alhamdulillah , masih hidup sar  . . . ." Arka tersenyum pahit.

"Kaki kananku sepertinya Patah terkena reruntuhan ruko, Tapi untungnya  aku selamat."

Dia merangkak masuk. Sari membantu melepas jaketnya yang membeku. Andre mengambil karung beras dan langsung menghitung isinya. Toni menutup pintu dan menggeser baut pengaman.

"Kamu hanya dapat sedikit kali ini ," kata Andre datar.

Arka menoleh. "Aku hampir mati di sana. Ada apa denganmu?"

Andre tidak menjawab. Dia hanya menatap Toni.

Arka sudah melihat perubahan mereka sejak sepekan lalu. Cara mereka berbisik saat dia pergi. Cara mereka tiba-tiba diam saat dia masuk. Tapi dia terlalu lelah untuk memikirkannya.

Sari membantunya duduk di kursi plastik hijau. Tangannya dingin, tapi dia memegang lengan Arka dengan lembut.

"Aku buatkan teh," katanya. "Hangatkan badan dulu."

Arka mengangguk. Dia memejamkan mata. Kepalanya terasa berat karena kelelahan.

Sari kembali dengan secangkir teh hangat. Aroma jahe menyebar diudara dingin.

" Teh jahe? " Tanya arka

"Iya, minumlah mumpung masih hangat"

Arka meneguk teh hangat itu sekaligus. Suhu hangat teh itu  menyebar di tenggorokan, lalu turun ke perut.

Tapi aneh. setelah meneguk teh itu perutnya terasa dingin dan menyebar ke seluruh tubuh, sensasi mati rasa karena kedinginan mulai menjalar dari telapak kaki.

"Sar... " bisik Arka seolah tak percaya. "Kamu kasih apa minumannya?"

Wajah Sari berubah tidak terlihat panik atau khawatir. Tapi... lega? Seperti beban yang terangkat.

"Maaf, Ark." ucap sari sembari melepaskan pegangan tangan Arka.

Arka mencoba berdiri tapi kakinya tidak bisa bergerak , otot-ototnya lemas kehilangan tenaganya,

"Obat  . . .. " kata Sari pelan. "Aku campur sedikit. Cukup untuk membuatmu... tenang."

Tap ... tap ... tap

suara langkah kaki Andre dann doni mendekat.  Andre membawa tali. Toni memegang pistol.

Arka menatap Sari. Matanya menyipit. "Kalian merencanakan ini.?"

"Bukan rencana, Bang," Andre memotong. "Ini kebutuhan. Badai Es makin parah. Stok makanan kita tinggal sedikit. Dan kamu..." dia menunjuk kaki Arka yang terbungkus perban basah, "kamu sekarang cuma beban."

"hahahahha"

Arka tertawa pahit. "Aku yang selama ini berjalan diatas tumpukan salju, demi mengais sisa sisa Bahan makanan .. demi kita. Tapi . .. . ."

"Itu dulu," potong Toni. "Sekarang kamu cacat. Kamu nggak bisa cari makanan lagi. Tapi kamu tetap akan makan."

Arka menoleh ke Sari. "Kamu juga berpikir begitu?"

Sari menunduk menggigi bibirnya. Tangannya gemetar. "Aku nggak punya pilihan, Ark.. . Andre bilang, kalau kamu mati, kita bisa bertahan lebih lama. Dan... dan mereka mengancam akan membunuhku  juga kalau aku nggak ikut."

"Berhenti berpura pura sari, drama telah selesai" Ucap Andre ketus.

" Kamu pikir sari benar benar jatuh hati dengan orang seperti kamu?... Ngayall " Andre mengangkat bahu.

Arka memejamkan mata. Kepalanya terasa semakin berat. Racun itu mulai bekerja. Tapi di balik kelopak matanya, ada sesuatu yang menyala. Bukan amarah. Bukan kepanikan. Tapi kejernihan yang aneh, seperti orang yang baru sadar bahwa selama ini dia hidup dalam mimpi.

"Kalian pikir dengan membunuhku, kalian akan selamat?" suaranya pelan, nyaris berbisik. "Kalian akan mati juga. Cepat atau lambat. Dan kalian akan mati seperti aku: dikhianati oleh orang yang kalian percaya."

Andre merengut. "Cukup omong kosongnya, Ton. Cepat selesaikan."

Toni mengangkat pistol. Tapi sebelum jarinya menarik pelatuk, Arka bergerak mencoba meraih pistol itu.

Namun tubuhnya limbung.. dan ia jatuh dari kursi.

DORRRR.

Suara tembakan menggelegar di ruangan itu..

Arka terdiam. Matanya membelalak. Bukan karena peluru yang baru saja menembus bahunya. Tapi karena Sari.

Sari yang berdiri di antara dia dan Toni. Sari yang menangis sambil memegang tangan Toni yang memegang pistol. Sari yang berkata,

"Jangan di kepala, Ton. Jangan... biar aku yang..."

DUARRRRRRR

sekali lagi timah panas itu mengenai Arka .. Tepat di Jantungnya

"Aku sayang kamu," Bisik Sari sambil tersenyum sinis.

Kalimat   kasih sayang itu terasa sangat menyakitkan bagi Arka bahkan lebih menyakitkan dari peluru yang menembus jantungnya.

Darah mengalir di lantai.. tubuhnya terkulai lemas di atas karpet rumahnya sendiri.

Matanya masih terbuka.

Melalui kabut yang menyelimuti kesadarannya, dia melihat Andre dan Toni bergerak. Mengambil karung beras. Menghitung stok. Membagi-bagi jatah.

Sari masih berdiri di tempatnya. Mengutak atik pistol...

" Andre . . . ayo bantu" Ujar toni sambil menggerek tubuh arka.

"Mau dibawa kemana?.. lemparkan saja dijendela itu..    nyusahin aja." Jawab Andre Ketus.

"Lepas Jaketnya, itu masih berguna" kata Toni

" Ayo... buruan."

-------

Pllllaaaaakkkkk ....

Suara tubuh Arka Jatuh diatas tumpukan salju yang kian menebal.

1
Nadja 🎀
hm... seru jg tp ulang² ttg bunker ? tp gpp semangat ya nulisnya!
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Gak bisa tidur... 😁
Jack Strom
Hmmm 🤔
Jack Strom
Tikus² got... 😁
Jack Strom
Ih... Ngeri aku!!! 😁
Jack Strom
Wow... 😁
Jack Strom
Waduh... Mengerikan!!! 😁
Jack Strom
Wow... Mulai merinding nih... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Seru cok!!! 😁
Jack Strom
Semangat... Cemangat!!! 😁
Jack Strom
Oh... Gitu!!! 😁
Jack Strom
🤔 Jika fisik Arka lebih kuat, Jika Arka punya skill bertahan hidup, jika Arka secepatnya menikahi Sari, jika Sari tidak kelaparan, jika Andre dan Toni tidak jumpa dengan Sari... Mungkin ceritanya beda, mungkin Sari tidak mengkhianati Arka... Mungkin!!? 🤔
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁
Jack Strom
Jika statnya beda, mungkin kejadiannya berbeda juga... 😁
Jack Strom
💪💪💪 SEMANGAT!!! 😁
Jack Strom
Jejak di atas salju tertinggal... 😁
erlang2402
macam kenal alur nya
Thinkziam: Hmm.. novel/manga sejenis emng banyak.. kk.
total 1 replies
Mauizatul Hasanah
coba dulu
alan32439
manarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!