Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 002
Ziva (Zura) hanya melirik pria itu sekilas, lalu menguap lebar tanpa menutup mulut—" sesuatu yang sangat tidak sopan untuk ukuran seorang 'Lady'.
"Oh, halo Om eh, Pa," sahut Ziva (Zura) malas.
Ini namanya kenikmatan hakiki. "Papa mau? Tapi udah habis sih. Minta Bibi buatin aja kalau mau."
Papa Ziva mematung. Alisnya bertaut. Biasanya, Ziva akan langsung merapikan duduknya atau malah membentak pelayan karena malu ketahuan makan makanan rakyat jelata. Tapi ini? Anaknya malah menguap dan memanggilnya dengan nada santai seolah dia adalah tetangga sebelah rumah.
"Kamu sehat?" tanya Papanya curiga.
"Sehat. Cuma ngantuk. Saya ke kamar dulu ya, Pa. Mau nyari daster atau baju yang lebih manusiawi. Ini baju sutra bikin gatel."
Zura bangkit dari kursi, menyeret langkahnya melewati Papanya yang masih terdiam kaku seperti patung lilin. Masa bodoh dengan citra, masa bodoh dengan alur novel. Prioritas Zura sekarang cuma satu: Menemukan bantal yang paling empuk di rumah ini dan melanjutkan ritual rebahannya yang tertunda.
"Ternyata jadi orang kaya itu enak ya," gumam Zura sambil menaiki tangga. "Lantainya aja adem banget buat tidur."
...Skip....
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup Zura yang penuh drama, ia tidur dengan nyenyak tanpa memikirkan rencana jahat untuk esok hari. Sementara itu, di lantai bawah, seluruh penghuni rumah sedang rapat darurat, menduga sang Ratu Bully sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar siraman air got.
Mereka tidak tahu, Ziva yang sekarang cuma sedang malas jadi orang yang jahat.
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden sutra yang mahal, menggelitik hidung Zura. Sebagai mantan pejuang kosan yang terbiasa bangun pagi demi antre kamar mandi, jam biologisnya tidak bisa diajak kompromi. Jam enam pagi, matanya sudah terbuka lebar.
"Kebiasaan," gumamnya sambil meraba sisi tempat tidur, mencari ponsel.
Begitu tangannya menyentuh bantal yang jauh lebih empuk dari guling kempesnya di dunia lama, ia teringat. "Oh iya, gue kan jadi si kaya," gumam Zura.
Alih-alih lanjut tidur, Zura memutuskan bangun. Tubuhnya terasa lengket karena sisa riasan kemarin. Ia melangkah ke kamar mandi yang luasnya setara ruang tamu, lalu berendam air hangat. Mandi pagi ini terasa seperti ritual penyucian diri ia menggosok habis sisa-sisa eyeliner dan foundation yang masih membandel sampai wajah aslinya benar-benar terlihat.
Keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepala, Zura berdiri di depan lemari raksasanya. "Oke, mari kita cari sesuatu yang nggak bikin sesak napas," gumamnya.
Ia memilah tumpukan seragam yang rata-rata sudah dimodifikasi, rok super mini dan kemeja yang kancingnya seolah mau meledak. Setelah mengobrak-abrik bagian paling belakang, ia menemukan satu set seragam cadangan yang masih utuh dan ukurannya sedikit lebih longgar.
Ia memakai kemeja itu, mengancingkannya sampai atas (tapi tetap menyisakan satu lubang kancing agar tidak tercekik), dan memakai rok yang panjangnya masih sopan setidaknya menutupi setengah pahanya. Rambut panjangnya ia sisir rapi dan dibiarkan tergerai alami. Wajahnya? Cukup pelembap dan sedikit lipbalm agar tidak terlihat seperti mayat hidup.
"Nah, begini kan enak. Nggak berat di muka," ucapnya puas melihat pipinya yang ternyata sedikit chubby dan menggemaskan tanpa kontur tajam.
Zura turun ke bawah untuk sarapan. Di meja makan, Papanya—Pak Baskara—sudah duduk dengan koran di tangan. Ia menurunkan korannya sedikit saat melihat Ziva (Zura), lalu terdiam.
"Kamu mau ke sekolah dengan wajah pucat begitu?" Tanya Papa Ziva bingung.
"Ini bukan pucat, Pa. Ini namanya 'bersih'," sahut Ziva (Zura) sambil mengambil selembar roti tawar dan mengolesnya dengan selai cokelat tebal-tebal.
"Lagian pakai bedak tebal itu berat, Pa. Kayak bawa dosa satu sekolah di muka."
Papa-nya hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia merasa ada yang salah dengan saraf anaknya, tapi setidaknya Ziva tidak berteriak-teriak minta dibelikan tas bermerek pagi ini.
Setelah sarapan, Ziva (Zura) diantar oleh supir pribadinya, Pak Jajang, menggunakan mobil sedan mewah. Sepanjang jalan, Zura hanya menatap keluar jendela, mencoba menghafal rute agar tidak tersesat di dunia yang asing ini.
Begitu mobil berhenti di depan gerbang SMA Pelita Bangsa, Zura menarik napas panjang.
"Semangat, jangan marah, jangan capek, tetap rebahan di mana pun ada kesempatan," bisik Ziva (Zura) menyemangati diri sendiri.
Ia turun dari mobil. Begitu kakinya menginjak aspal sekolah, suasana mendadak hening. Murid-murid yang berada di parkiran menoleh. Mereka melihat seorang gadis cantik dengan rambut tergerai indah, seragam rapi yang tidak ketat, dan wajah natural yang sangat segar.
"Eh, itu anak baru ya?"
"Gila, cantik banget!"
"Kelas berapa tuh?"
"Vibes-nya beda banget, kayak boneka porselen."
Zura mengabaikan bisikan itu. Ia berjalan santai dengan tas ransel yang hanya disampirkan di satu bahu. Kepalanya sedikit miring ke kanan dan kiri, mencari letak mading untuk melihat denah kelas. Karena dandanannya berubah total, tidak ada yang menyadari bahwa gadis "manis" ini adalah Ziva si Ratu Bully.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
...BRUMMM! BRUMMMM!...
Suara raungan mesin motor sport memecah keheningan parkiran. Lima motor besar masuk dengan kecepatan tinggi, menciptakan suara bising yang memekakkan telinga. Suasana langsung pecah.
"BLACK EAGLE DATANG!"
"AKSA! LIHAT KE SINI, AKSA!"
"GILA, VINO GANTENG BANGET HARI INI!"
Zura refleks menutup kupingnya. "Berisik banget sih, ini sekolah apa sirkuit?" keluhnya ketus.
Lima cowok turun dari motor mereka, membuka helm secara bersamaan seolah sedang syuting iklan sampo. Di barisan paling depan, seorang cowok dengan jaket kulit hitam dan tatapan mata setajam silet berjalan tanpa ekspresi.
Itu Aksa. Sang pemimpin, pemilik sekolah, manusia paling irit bicara yang prinsip hidupnya hanya satu 'jangan ganggu dia kalau tidak mau masuk rumah sakit'. Di belakangnya mengikuti Kenan yang tebar pesona, Vino yang sibuk dengan ponselnya, Daren yang terlihat kalem, dan Bram yang paling berisik menyapa kerumunan.
Di kerumunan lain, seorang cowok dengan wajah rupawan namun terlihat gelisah tampak berdiri. Itu Reygan, sepupu Daren. Reygan secara refleks mengedarkan pandangan ke sekeliling parkiran, biasanya di jam begini Ziva akan muncul entah dari mana untuk bergelayut di lengannya atau sekadar mempermalukan Liana—gadis yang saat ini sedang berdiri di dekat mading dengan buku-buku di pelukannya.
Reygan melihat ke arah gadis asing yang berdiri tidak jauh dari mading. Gadis itu sedang menatap Aksa dan kawan-kawannya dengan tatapan terganggu?
"Dih, sombong banget gaya jalannya," gumam Ziva (Zura) cukup keras, membuat beberapa murid di dekatnya melongo.
Aksa, yang memiliki pendengaran tajam, sempat menangkap gumaman itu. Ia menghentikan langkahnya sejenak, melirik ke arah Ziva (Zura) dengan tatapan dingin khasnya. Hanya dua detik, lalu ia kembali berjalan tanpa kata.
"Eh, tunggu," Kenan berbisik pada Daren. "Itu siapa? Murid baru ya? Bening banget, bro."
"Mana gue tahu," sahut Daren cuek.
Sementara itu, Liana—si protagonis wanita—secara tidak sengaja berpapasan dengan Ziva (Zura) di depan mading. Liana langsung menunduk dalam, bahunya gemetar. Ia mengira gadis cantik di depannya ini adalah anggota geng baru yang mungkin akan ikut merundungnya.
Zura melihat Liana yang ketakutan. Ia mengerutkan kening.
lanjut ya thor... 🤧