NovelToon NovelToon
Reality Bender

Reality Bender

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:276
Nilai: 5
Nama Author: Rendy_Tbr

Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan

"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBANGKITAN "AURA KEKOSONGAN ABADI"

Malam keenam di Desa Qinghe tidak seperti malam-malam sebelumnya. Langit tertutup awan hitam yang pekat, seolah alam semesta sedang menahan napas sebelum badai besar melanda. Di halaman belakang gubuk Tabib Lu, suasana terasa begitu dingin hingga embun membeku di ujung daun herbal.

Fang Han (jiwa Li Jun) duduk bersila di atas batu besar yang permukaannya telah retak akibat latihan hari-hari sebelumnya. Seluruh tubuhnya dibalut perban yang merembeskan cairan obat berwarna keunguan. Matanya terpejam, namun kelopak matanya bergetar hebat.

Di depannya, Tabib Lu berdiri mematung. Sang tabib tua yang biasanya penuh dengan petuah meditatif itu kini terdiam seribu bahasa. Ia memegang sebuah cermin perunggu kecil, mengamati pantulan energi di sekitar tubuh Fang Han. Apa yang ia lihat membuatnya merinding—sesuatu yang melampaui nalar pengobatan dan kultivasi yang ia pelajari selama puluhan tahun.

Tiba-tiba, udara di sekitar Fang Han berhenti bergerak. Benar-benar berhenti. Angin tidak lagi berdesir, dan serangga malam seketika bungkam. Sebuah cahaya kelabu yang redup, hampir tidak terlihat, mulai merayap keluar dari pori-pori kulit Fang Han. Cahaya itu tidak bersinar terang, melainkan seolah-olah "menelan" cahaya di sekitarnya.

"Paman Lu..." suara Fang Han terdengar hampa, seperti gema dari sumur yang sangat dalam. "Aku melihatnya. Aku tidak lagi melihat benang energi... aku melihat retakan."

Tabib Lu melangkah mundur, wajahnya pucat pasi. "Retakan? Apa maksudmu, Nak? Jangan biarkan pikiranmu tersesat ke dalam ilusi! Fokuslah pada Qi di pusarmu!"

Fang Han membuka matanya. Namun, pupil matanya tidak lagi berwarna hitam kecokelatan. Pupil itu berubah menjadi abu-abu pucat, menyerupai kabut pegunungan yang mematikan. Ia perlahan mengangkat tangan kanannya menuju sebuah dahan pohon yang meranggas di sampingnya. Ia tidak menyentuhnya. Ia hanya menjentikkan jarinya dengan lembut.

Syuuut.

Tanpa suara ledakan, tanpa percikan energi, dahan itu tidak patah—ia menghilang. Bagian tengah dahan itu seolah-olah terhapus dari realitas, menyisakan dua bagian kayu yang melayang sejenak sebelum jatuh ke tanah karena kehilangan tumpuan.

"Demi Dewa Pengobatan..." bisik Tabib Lu, suaranya bergetar hebat. "Itu bukan teknik bela diri. Itu bukan manipulasi Qi. Kekuatan apa ini, Fang Han? Aku telah membaca ribuan gulungan kitab kuno, tapi aku tidak pernah melihat energi yang menghapus keberadaan seperti ini."

Fang Han menatap tangannya sendiri dengan takjub sekaligus takut. "Aku menyebutnya... Nirwana Sunya (Aura Kekosongan Abadi). Saat aku bermeditasi dalam rasa sakit tadi, aku merasa seolah-olah jiwaku terbelah. Bagian dari diriku yang mati di dunia sana, dan bagian dari diriku yang hidup di sini, bertemu di sebuah titik hampa. Titik itulah yang sekarang mengalir di nadiku."

Tabib Lu mendekat dengan ragu, ia mencoba meraba nadi Fang Han, namun tangannya terasa dingin membeku sebelum sempat menyentuh kulit muridnya.

"Fang Han, dengarkan aku," ucap Tabib Lu dengan nada yang sangat serius, hampir memohon. "Kekuatan ini... Nirwana Sunya ini... ia sangat misterius dan berbahaya. Ia tidak meningkatkan kekuatan fisikmu secara drastis—tubuhmu masih setingkat dengan Lin Jun. Jika ia memukulmu dengan telapak tangan baja, tulangmu tetap akan patah. Tapi energi ini... ia adalah pedang tak terlihat yang bisa memotong takdir."

Fang Han menghela napas panjang, pupil matanya perlahan kembali normal, meski warna abu-abunya masih tersisa sedikit di pinggiran irisan matanya. "Tapi Paman Lu, apakah ini cukup untuk melawan mereka semua besok? Zhao Chen, Kapten Iron, dan pasukan Lin Jun... mereka akan datang seperti banjir bandang."

Tabib Lu terdiam, ia menatap reruntuhan dahan yang terhapus tadi. "Secara logika? Tidak. Kau masih terlalu lemah secara fisik. Kau hanya punya satu atau dua kali kesempatan untuk melepaskan energi ini sebelum tubuhmu hancur karena kelelahan. Ini adalah kekuatan yang memakan nyawa penggunanya. Jika kau meleset... kau akan menjadi mangsa empuk bagi mereka."

Fang Han tersenyum pahit. Sebuah senyuman yang penuh dengan kepasrahan seorang pria yang sudah tidak memiliki jalan kembali.

"Meleset atau tidak, aku akan tetap berdiri di sana, Paman. Besok adalah hari ketujuh. Aku bisa merasakan aroma darah di angin malam ini. Paman Zhou... apakah dia tahu?"

"Dia tidak perlu tahu seberapa berbahayanya ini," jawab Tabib Lu. "Biarkan dia tetap percaya bahwa kau hanyalah keponakannya yang sedang berjuang. Jika dia tahu kau sedang bermain dengan energi kehampaan ini, dia akan mengikatmu di tempat tidur agar kau tidak pergi menjemput maut."

Sisa malam itu digunakan Fang Han untuk mencoba mengendalikan Nirwana Sunya. Ia menyadari bahwa kekuatan ini tidak bisa dipanggil dengan amarah. Semakin ia marah, semakin liar energi itu menghancurkan sel-sel tubuhnya sendiri. Ia harus berada dalam kondisi yang disebutnya Kematian Hidup—sebuah ketenangan mutlak, seolah-olah ia sudah mati namun tetap sadar.

Ia berlatih mengalirkan energi itu ke ujung jarinya, mencoba menghapus daun yang jatuh tanpa menghancurkan pohonnya. Berkali-kali ia gagal, tangannya melepuh dan membiru.

"Jangan paksa!" teriak Tabib Lu saat melihat Fang Han mulai muntah darah. "Berhentilah! Jika kau teruskan, kau tidak akan sampai pada fajar esok hari!"

Fang Han menyeka darah dari dagunya dengan kasar. "Aku harus bisa, Paman Lu! Jika aku tidak bisa menguasai satu serangan ini, besok aku hanya akan menjadi pajangan di depan pedang Zhao Chen! Aku harus menunjukkan kepada Lin Meili bahwa pria yang ia buang adalah badai yang tidak bisa ia bayangkan!"

Ia kembali berdiri, kakinya gemetar hebat. Ia membayangkan wajah Paman Fang Zhou yang tersenyum saat memberinya sup jagung. Ia membayangkan rasa sakit di punggungnya saat Zhao Chen menginjaknya di lumpur. Semua emosi itu ia tekan ke dalam titik hampa di hatinya, hingga ia tidak lagi merasakan panas, dingin, atau takut.

Tiba-tiba, ia bergerak. Gerakannya begitu cepat namun sunyi. Ia melewati sebuah batu besar di halaman, dan sesaat kemudian, batu itu terbelah menjadi dua dengan potongan yang begitu halus hingga permukaannya licin seperti cermin.

Tabib Lu terpana. "Kau... kau menggabungkan teknik titik saraf pengobatan dengan Nirwana Sunya?"

Fang Han mengangguk lemah. "Jika aku tidak bisa menghancurkan zirah mereka dengan kekuatan otot, aku akan menghapus titik aliran energi mereka dengan kehampaan ini. Sesempurna apa pun bela diri mereka, jika aliran energinya terhapus, mereka hanyalah manusia biasa yang lemah."

Menjelang fajar, Fang Han berjalan pulang ke rumahnya. Tubuhnya terasa seringan kapas, namun jiwanya terasa seberat gunung. Di depan pintu, Paman Fang Zhou sedang duduk merajut keranjang bambu, namun matanya tidak fokus pada pekerjaannya.

"Han-er... kau kembali," kata Paman Zhou, suaranya serak. Ia bangkit dan mendekati keponakannya, menatap wajah Fang Han yang tampak lebih dewasa sepuluh tahun hanya dalam seminggu. "Paman sudah menyiapkan pakaian terbaikmu. Paman juga sudah mengasah pedang lama Paman."

Fang Han memegang tangan pamannya yang kasar. "Paman, besok... jangan keluar dari rumah, apa pun yang terjadi. Jika Paman mendengar suara pertempuran, tetaplah di dalam dan berdoa."

Paman Zhou menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak, Han-er. Paman adalah seorang prajurit. Seorang prajurit tidak akan membiarkan darah dagingnya bertarung sendirian sementara dia bersembunyi di balik pintu kayu. Jika besok adalah hari terakhir kita, maka kita akan menyambutnya bersama-sama dengan kepala tegak."

Fang Han merasakan tenggorokannya tercekat. Ia memeluk pamannya erat-erat, menghirup aroma pakaian pamannya yang bau asap kayu—aroma satu-satunya keluarga yang ia miliki di dua dunia ini.

"Paman... terima kasih telah menyayangiku," bisik Fang Han.

"Tidurlah, Nak," ucap Paman Zhou sambil mengelus rambut Fang Han. "Fajar akan segera tiba. Dan ingatlah, tidak peduli seberapa kuat musuhmu, kau adalah keajaiban bagi Paman."

Saat Fang Han memejamkan mata di tempat tidurnya yang keras, ia bisa merasakan Nirwana Sunya berdenyut pelan di dalam dadanya. Kekuatan misterius yang bahkan Tabib Lu tidak tahu batasannya. Kekuatan yang lahir dari persimpangan dua nyawa.

Esok adalah hari ketujuh. Hari di mana Lin Jun akan membawa pasukannya, hari di mana Zhao Chen akan membawa dendamnya, dan hari di mana Lin Meili akan melihat kehancuran. Namun bagi Fang Han, esok adalah hari di mana ia akan membuktikan bahwa seorang pelayan yang telah kehilangan segalanya, adalah orang yang paling berbahaya di bawah langit.

Fajar menyingsing di ufuk Timur, membawa warna merah darah yang mengerikan. Hari penentuan telah tiba.

1
BlueHeaven
Cover novelnya mirip putra pria solo😭
Rendy Tbr: Hihihi.. 😄 Waahhh.. Mantap donk.. 👌
total 1 replies
anggita
visual gambarnya oke👌
Rendy Tbr: Terima kasih ka 👌😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!