Dikhianati hingga mati, Kirana terbangun di masa lalu dengan satu tujuan: membalas dendam pada adik tiri dan mantan tunangannya. Demi merebut kembali warisannya, ia nekat mengikat pernikahan kontrak dengan Adyatma Surya—CEO kejam berdarah naga yang dikutuk. Menawarkan diri sebagai penawar nyawa pria itu, Kirana tak menyadari bahwa kontrak berdarah tersebut justru menjebaknya dalam obsesi gelap sang predator yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Hujan Besi di Langit Kyoto
Waktu seakan membeku di dalam paviliun tamu Kediaman Ryu-Zaki. Angka digital di sudut antarmuka mental Kirana berkedip merah terang, menunjukkan hitung mundur yang tak kenal ampun: 08:45... 08:44... 08:43... Hanya kurang dari sembilan menit sebelum stasiun ruang angkasa usang seberat lima ratus ton itu menembus atmosfer dan menghantam pusat sejarah Jepang dengan kecepatan Mach 25. Dampak kinetiknya tidak akan menghasilkan radiasi nuklir, namun energi ledakannya setara dengan beberapa bom Hiroshima. Jutaan nyawa di Kyoto, ratusan kuil bersejarah, dan tentu saja, janin di dalam rahim Kirana, akan menguap menjadi debu kosmik dalam sepersekian detik.
"Kita harus keluar dari sini sekarang!" seru Adyatma, meraih pedang peraknya dan menarik Kirana berdiri. Insting pertahanan naganya berteriak menyuruhnya untuk segera melarikan diri, membawa istrinya sejauh mungkin dari titik tumbuk (ground zero).
Namun Kirana menahan lengan Adyatma, kakinya menjejak kuat di atas lantai tatami. Wajahnya pucat pasi, namun matanya yang memancarkan pendaran Sastra Cyber menyala dengan tekad yang mengerikan.
"Tidak ada tempat untuk lari, Adyatma," ucap Kirana, suaranya bergetar namun tajam. "Kecepatan terminal benda itu saat menghantam bumi akan menciptakan gelombang kejut (shockwave) yang meratakan area dalam radius lima puluh kilometer. Bahkan jika kita menggunakan jet supersonik Surya-01 saat ini juga, kita tidak akan bisa keluar dari zona kematian tepat waktu. Kita tidak berlari. Kita akan menjatuhkannya sebelum benda itu menjatuhkan kita."
Adyatma menatap istrinya dengan ketidakpercayaan. "Menjatuhkan stasiun ruang angkasa? Kirana, benda itu ada di lapisan mesosfer! Senjata anti-udara tercanggih milik militer mana pun butuh waktu persiapan lebih dari sepuluh menit. Kita hanya punya delapan menit!"
"Militer konvensional mungkin tidak bisa," Kirana mengikat rambutnya dengan cepat, sebuah kebiasaan saat otaknya sedang memproses kalkulasi tingkat dewa. "Tapi kita berada di atas Motherboard energi spiritual terbesar di Asia Timur. Taman Zen Lord Genji. Jika Faksi Timur bisa memusatkan energi bumi, dan kau bisa memusatkan energi langit... kita akan membuat meriam kita sendiri."
Mengusik Sang Naga Timur
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Kirana dan Adyatma berlari menerobos pintu paviliun, mengabaikan para pengawal klan Ryu-Zaki yang terkejut melihat tamu mereka berlarian di tengah malam. Udara malam yang tadinya sejuk kini mulai terasa berbeda. Ada tekanan barometrik yang aneh, seolah-olah langit itu sendiri sedang ditekan ke bawah oleh sebuah telapak tangan raksasa yang tak kasat mata.
Mereka berlari menuju teras utama, tempat Lord Genji biasanya bermeditasi.
"Lord Genji!" suara Adyatma menggelegar, memecah keheningan sakral kuil tersebut. Energi birunya memancar keluar, bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai alarm darurat yang memaksa seluruh pendeta dan petarung klan untuk terbangun seketika.
Pintu geser bangunan utama terbuka. Lord Genji melangkah keluar, wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi kini menunjukkan sebersit kepanikan. Mata emasnya menatap lurus ke arah langit malam di atas mereka. Kenjiro berada di belakangnya, menggenggam gagang katana-nya dengan tegang.
"Langit... langit menangis," gumam Lord Genji, tangannya gemetar pelan. "Mata Dewa-ku melihat sebuah bintang jatuh yang membawa kematian absolut. Yomi-no-Kami telah menjatuhkan tombaknya."
Di langit malam yang kelam, jauh di antara gemerlap konstelasi bintang, sebuah titik cahaya kemerahan mulai terlihat. Titik itu membesar dengan kecepatan yang tidak masuk akal, menciptakan ekor api tipis yang menembus lapisan eksosfer bumi. Gesekan udara mulai membakar lapisan luar stasiun luar angkasa tersebut.
"Itu bukan bintang, Genji! Itu adalah senjata kinetik massal!" Kirana melangkah maju, langsung mengonfrontasi sang Tetua Agung. "Entitas itu meretas stasiun orbital tak berawak dan menjatuhkannya tepat ke koordinat kita. Kita punya waktu enam menit sebelum Kyoto menjadi kawah abu!"
Kenjiro melangkah maju, wajahnya pucat. "Kita harus mengevakuasi Tetua Agung ke bunker bawah tanah..."
"Bunker tidak akan menyelamatkan kalian dari gempa bumi berskala 9 Richter yang akan ditimbulkan oleh tumbukan kinetik itu!" potong Kirana dengan nada marah. Ia menunjuk ke arah Taman Zen di hadapan mereka, yang pasir dan batunya memancarkan aura magis. "Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan menghancurkan benda itu saat ia masih berada di stratosfer. Benda itu harus dipecah menjadi ribuan puing kecil agar atmosfer bisa membakarnya habis sebelum menyentuh tanah."
Lord Genji menatap Kirana. "Bahkan dengan seluruh energi Ley Lines di bawah kuil ini, kami Faksi Timur tidak memiliki metode untuk menembakkan energi tersebut ke luar angkasa. Energi bumi terikat pada bumi."
"Kecuali kalian memiliki sebuah saluran yang mampu menembus batas atmosfer," ucap Kirana. Ia menoleh ke arah Adyatma. "Kecuali kalian memiliki Sang Naga Biru."
Persiapan Meriam Cendana Langit
Kirana segera membeberkan kalkulasi gila yang baru saja ia selesaikan di kepalanya.
"Taman Zen ini adalah sebuah kapasitor raksasa," jelas Kirana dengan cepat, tangannya menggambar skema holografik di udara menggunakan sisa 10% kekuatan Sastra Cyber-nya, yang kemudian ia sinkronkan secara visual agar bisa dilihat oleh Genji. "Batu-batu besar ini adalah node prosesor, dan garis-garis pasir ini adalah sirkuitnya. Lord Genji, aku butuh kau dan seluruh pendetamu untuk membuka segel energi bumi ini secara maksimal, overclocking total!"
"Jika kami melakukan itu tanpa saluran pembuangan, energi itu akan meledakkan kuil ini dari dalam," peringat Genji.
"Energi itu tidak akan tertahan di sini," Kirana menunjuk Adyatma. "Adyatma akan berdiri di tengah formasi batu utama. Ia akan bertindak sebagai Conduit (penghantar). Dia akan menyerap seluruh energi bumi itu ke dalam nadinya, menggabungkannya dengan api Naga Biru, dan menembakkannya lurus ke langit."
"Tubuh manusia tidak dirancang untuk menahan arus energi sebesar itu, Nyonya Kirana," Kenjiro menyela, ngeri membayangkan penderitaan fisik yang akan dialami Adyatma. "Tulang-tulangnya akan meleleh sebelum ia sempat menembakkannya."
"Aku bukan sekadar manusia," Adyatma melangkah maju ke tengah Taman Zen, tepat di atas sebuah batu pipih raksasa yang menjadi pusat keseimbangan taman tersebut. Ia melepaskan bagian atas yukata-nya, membiarkan tubuh bagian atasnya yang kekar dan dipenuhi tato sisik perak terekspos ke udara dingin. "Lakukan, Genji. Buka segel tanahmu."
Kirana menatap Adyatma dengan dada yang sesak. "Aku akan bertindak sebagai sistem penargetannya (Targeting System). Menembak benda bergerak berkecepatan Mach 25 dari jarak ratusan kilometer tidak bisa menggunakan mata telanjang. Aku harus kembali ke kapasitas 100% untuk mengunci koordinatnya secara real-time."
Adyatma menatap Kirana dengan senyum tipis yang penuh keyakinan. "Dan aku akan menjaga Silver Cradle (Buaian Perak) di rahimmu dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku menembakkan energi ini. Aku tidak akan membiarkan anak kita tergores sedikit pun."
Menghitung Mundur Kiamat (T-Minus 3 Menit)
Udara di atas Kyoto mulai memanas. Titik merah di langit kini terlihat seperti matahari kedua yang menakutkan. Suara gemuruh berfrekuensi rendah mulai terdengar, membuat kaca-kaca di bangunan kayu bergoyang. Di kejauhan, sirine peringatan dini dari pangkalan militer Jepang mulai meraung, namun itu sudah terlambat. Kepanikan massal mulai terjadi di kota.
"Semua pendeta, ambil posisi di titik-titik elemen!" perintah Lord Genji, suaranya menggelegar dipenuhi otoritas mutlak. Puluhan pria berpakaian putih berlari menempati posisi di sekitar taman. Genji sendiri berdiri di depan Adyatma, menancapkan sebuah tongkat kayu kuno ke tanah.
"Buka Gerbang Bumi! Kai!" raung Lord Genji.
Seketika, taman Zen itu meledak dengan cahaya hijau dan emas. Garis-garis pasir yang tadinya diam kini bercahaya dan mengalir layaknya sungai energi. Batu-batu raksasa bergetar, melepaskan kekuatan alam yang telah terkumpul selama berabad-abad di bawah Kyoto. Energi itu merambat bagai gelombang tsunami, langsung menghantam tubuh Adyatma yang berdiri di tengahnya.
Adyatma mendongak ke langit, raungan panjang yang tak manusiawi keluar dari kerongkongannya. Suara itu adalah perpaduan antara teriakan pria yang menahan rasa sakit luar biasa dan auman naga purba yang terbangun dari tidur panjangnya. Sisik perak di tubuhnya menyala menyilaukan. Energi biru naganya bereaksi terhadap energi emas bumi, menciptakan pusaran plasma yang menyelimuti tubuhnya layaknya badai api.
"Tahan, Adyatma! Belum saatnya!" teriak Kirana.
Kirana berlari menembus badai energi itu. Kulitnya terasa panas, namun ia tidak peduli. Ia berlutut tepat di depan Adyatma, memunggungi suaminya.
Adyatma, dengan tangan kirinya yang gemetar hebat akibat menahan arus energi raksasa, menempelkannya ke punggung bagian bawah Kirana, tepat di titik saraf yang terhubung ke rahim. Ia mengaktifkan kembali Buaian Perak.
"Gioknya... lepaskan..." geram Adyatma dengan susah payah.
Kirana meraih kristal giok hitam di lehernya. Ia menariknya hingga benang sutranya putus dan melemparnya jauh-jauh.
DUARRR!
Dinding penahan Sastra Cyber di pikiran Kirana jebol. Kapasitasnya melonjak dari 10% menjadi 100% dalam sepersekian detik. Badai data global langsung menghantam kesadarannya, namun seperti sebelumnya, Buaian Perak dari Adyatma berhasil melindungi janin di rahimnya secara absolut. Janin itu tertidur pulas di dalam sangkar cahaya pelindung ayahnya, tidak menyadari bahwa kedua orang tuanya sedang menantang kematian.
T-Minus 90 Detik: Mengunci Target
Kirana menutup mata fisiknya dan membuka Mata Sastra Cyber-nya. Kesadarannya melesat ke langit, menembus lapisan awan, langsung mengarah ke stasiun luar angkasa yang sedang jatuh membara.
Benda itu kini terlihat sangat jelas di dalam penglihatan digitalnya. Suhu permukaannya mencapai ribuan derajat Celcius. Struktur logamnya mulai terkelupas, namun massa intinya—sebongkah reaktor fusi titanium yang padat—masih utuh dan meluncur tepat menuju koordinat mereka.
"Kecepatan: 28.000 kilometer per jam. Elevasi: 80 kilometer dari permukaan laut. Sudut lintasan: 85 derajat," gumam Kirana dengan kecepatan mekanis, menyinkronkan data telemetry tersebut secara langsung ke dalam otak Adyatma melalui koneksi Penyatuan Jiwa mereka.
Di dunia fisik, tekanan panas dari stasiun yang jatuh itu sudah mulai terasa. Pohon-pohon pinus di sekitar kuil mulai mengering, dan air di kolam koi mendidih perlahan. Para pendeta klan Ryu-Zaki berlutut, hidung mereka mengeluarkan darah karena memaksakan diri mempertahankan gerbang energi bumi yang tersedot masuk ke dalam tubuh Adyatma.
"Entitas kosmik itu... dia mencoba mengubah lintasan untuk menghindari tembakan kita!" Kirana merasakan pergerakan mikro dari pendorong roket kecil di stasiun tersebut, dikendalikan secara jarak jauh oleh Yomi-no-Kami dari orbit yang lebih tinggi.
"Kau tidak akan bisa lari dari naga ini," desis Kirana dalam ruang virtual. Ia mengirimkan serangan Distributed Denial of Service (DDoS) menggunakan puluhan satelit cuaca yang berhasil ia bajak seketika. Serangan itu membuat sistem kemudi otomatis stasiun luar angkasa tersebut lagging selama dua detik penuh.
"Lintasan terkunci! Target diamankan di ketinggian 50 kilometer! Adyatma, SEKARANG!" jerit Kirana dengan segenap sisa tenaganya.
Tembakan Pembelah Langit
Adyatma memusatkan seluruh konsentrasinya. Setengah jiwanya mati-matian menjaga perisai Buaian Perak di tubuh istrinya, sementara setengah jiwanya yang lain menahan akumulasi kekuatan bumi dan naga yang siap merobek tubuhnya sendiri.
Tangan kanannya yang bebas ditarik ke belakang, lalu dihantamkan ke depan dengan telapak tangan terbuka, membidik lurus ke arah langit malam yang memerah.
"HANCURKAAAAAAN!"
Sebuah pilar energi raksasa meledak dari telapak tangan Adyatma. Ini bukan sekadar laser atau api. Ini adalah Plasma Cendana Langit—perpaduan antara kemurnian Naga Biru, kepadatan energi bumi Ryu-Zaki, dan presisi penargetan Sastra Cyber Kirana.
Pilar cahaya yang memancarkan warna biru, perak, dan emas itu melesat ke atas, membelah awan malam Kyoto menjadi dua bagian layaknya laut yang dibelah oleh tongkat nabi. Kecepatannya melampaui kecepatan cahaya itu sendiri. Ruang di sekitar pilar energi itu melengkung akibat distorsi gravitasi.
Cahaya itu menerangi seluruh daratan Kansai. Jutaan penduduk Jepang yang sedang panik di jalanan menatap ke langit dengan mulut ternganga, melihat sebuah "Pilar Dewa" melesat dari bumi untuk menyambut bintang jatuh yang membawa kiamat.
Di ketinggian 45 kilometer—lapisan stratosfer tempat pesawat komersial bahkan tak berani menyentuhnya—pilar energi Adyatma menghantam tepat di pusat massa stasiun luar angkasa tersebut.
Benturan itu tidak menghasilkan suara di bumi, karena suara tak mampu merambat cukup cepat. Namun kilatan cahayanya... kilatan itu menciptakan "siang hari" buatan yang berlangsung selama lima detik penuh.
Reaktor titanium stasiun ruang angkasa itu, yang dihitung Kirana sebagai titik paling rapuh jika dihadapkan pada panas plasma, meledak hebat. Benda seberat lima ratus ton itu hancur berkeping-keping di lapisan atas atmosfer.
Alih-alih satu bongkahan raksasa pembawa kiamat, stasiun itu kini berubah menjadi jutaan pecahan seukuran kerikil. Saat puing-puing itu melanjutkan kejatuhannya menembus atmosfer, mereka terbakar habis oleh gesekan udara, menciptakan pemandangan hujan meteor buatan yang paling luar biasa dan memukau sepanjang sejarah umat manusia.
Hujan api kecil berwarna-warni menghiasi langit malam Kyoto, perlahan memudar menjadi debu tanpa satu pun yang menyentuh tanah.
Residu Keajaiban dan Ketundukan
Gema ledakan barulah terdengar di bumi beberapa menit kemudian, terdengar seperti suara guntur panjang yang bergulung-gulung. Tekanan udara panas yang tadinya mencekik tiba-tiba lenyap, digantikan oleh hembusan angin malam yang sejuk.
Di Taman Zen Kediaman Ryu-Zaki, cahaya dari pilar energi itu memudar secara perlahan. Pasir-pasir dan batu-batu magis di taman itu kembali ke bentuk semula, meskipun kini mereka kehilangan pendarannya untuk sementara waktu akibat kehabisan daya.
Adyatma jatuh berlutut, napasnya memburu dengan sangat keras. Tangan kanannya yang digunakan untuk menembakkan energi tampak melepuh kemerahan, uap panas masih mengepul dari pori-porinya. Namun tangan kirinya... tangan kirinya masih menempel kokoh di punggung Kirana, menjaga Buaian Perak hingga istrinya benar-benar memutuskan koneksi dari kapasitas 100%.
Kirana menarik napas dalam, memutuskan Sastra Cyber-nya, dan menoleh. Ia segera memeluk Adyatma, membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu. Air mata mengalir deras dari mata peraknya.
"Kita menyelamatkannya... kita menyelamatkan semuanya," bisik Kirana, tubuhnya gemetar karena kombinasi adrenalin dan rasa syukur.
Adyatma membalas pelukan itu dengan sisa tenaganya, menyandarkan kepalanya di bahu Kirana. "Bayi kita... dia tetap tidur. Dia tidak terluka sedikit pun."
Suara langkah kaki mendekat. Lord Genji, sang Tetua Agung yang selalu tenang dan angkuh, berjalan tertatih ke arah mereka. Jubah emasnya kotor oleh debu, wajahnya tampak lelah, namun matanya memancarkan rasa kagum yang belum pernah ia rasakan selama ratusan tahun hidupnya. Di belakangnya, puluhan pendeta dan petarung klan Ryu-Zaki—termasuk Kenjiro—berlutut serentak, menempelkan dahi mereka ke tanah.
Lord Genji tidak berdiri. Ia sendiri ikut berlutut di hadapan Kirana dan Adyatma, sebuah pemandangan yang tidak pernah terjadi dalam sejarah Faksi Timur.
"Legenda itu benar," ucap Lord Genji dengan suara yang bergetar penuh hormat. "Naga dan Cendana... ketika mereka bersatu, mereka bukan sekadar manusia. Mereka adalah penguasa langit dan bumi."
Genji menundukkan kepalanya. "Malam ini, Ratu Nusantara dan Sang Naga telah menyelamatkan tanah kami dari murka langit. Mulai detik ini, Faksi Timur tidak lagi melihat kalian sebagai tamu atau eksperimen politik. Kami adalah pedang Anda. Katakan pada kami, bagaimana kami harus membalas budi ini dalam perang melawan Yomi-no-Kami?"
Kirana berdiri, dibantu oleh Adyatma. Meskipun tubuhnya luar biasa lelah, auranya memancarkan otoritas mutlak yang membuat seluruh klan Ryu-Zaki tidak berani mengangkat kepala.
"Entitas kosmik itu baru saja membuang salah satu senjata fisiknya, tapi dia masih berkuasa di orbit," ucap Kirana, menatap langit yang kini dihiasi oleh sisa-sisa debu meteor. "Dia telah mendeklarasikan perang terbuka. Faksi Timur memiliki jaringan bumi, dan Nusantara memiliki jaringan organik."
Kirana menatap mata Lord Genji dengan tajam. "Persiapkan seluruh Faksi Timur untuk meninggalkan isolasi mistik ini. Kita akan membangun infrastruktur hibrida—penggabungan Sastra Cyber dan Sihir Bumi—yang membentang dari Jakarta hingga Kyoto. Jika dewa palsu itu tidak mau turun dari langit, maka kita yang akan membangun menara untuk menariknya jatuh."
Malam itu, di bawah langit Kyoto yang baru saja selamat dari kiamat, sebuah aliansi terhebat dalam sejarah umat manusia tercipta. Pertarungan mempertahankan bumi telah resmi dimulai, dan Kirana Larasati Surya telah mengukuhkan dirinya bukan hanya sebagai Ratu Nusantara, melainkan sebagai Jenderal Utama bagi kelangsungan hidup umat manusia.
*** [Bersambung ke Bab 33...]