Larasati mengira pernikahan adalah pelabuhan aman dari badai hidupnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil suami, Bagaskara, justru menjadi iblis yang menyeretnya ke neraka.
Terlilit hutang judi yang tak berujung, Bagas melakukan hal yang paling tak ter maafkan. menjadikan kesucian istrinya sebagai jaminan pelunasan.
Di balik jeruji kontrakan kumuh Jakarta. Larasati terjepit antara rintihan harga diri yang diinjak-injak dan ancaman fitnah yang menghancurkan nama baik orang tuanya.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rizki Pratama, sang pewaris takhta bisnis yang baru saja mengikat janji palsu demi bakti. Merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ada jiwa yang menjerit meminta tolong, jiwa yang pernah ia temukan di tepi sungai namun ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".
Saat kehormatan telah berpindah tangan dan pengkhianatan menjadi mata uang. Akankah doa di antara dua hati yang terpisah mampu menuntun mereka pada sebuah pertemuan berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Kesetiaan Palsu
Matahari Jakarta menyengat kulit dengan sapaan yang kasar sejak pukul tujuh pagi. Di sebuah gang sempit yang pengap. Larasati berjalan menunduk, mendekap erat tas belanjaan plastik berisi kangkung dan tempe.
Sesekali ia tersenyum kecil, tampak dipaksakan, saat beberapa ibu-ibu mencoba membicarakannya tanpa menegur. Tapi dengan agak keras seolah menggunjing. Langkah kakinya terasa berat. Seolah setiap jengkal aspal yang ia pijak adalah duri yang menusuk jiwanya.
Sesekali, tangan kirinya secara refleks meraba bagian dalam tas kain yang tersampir di bahunya. Di sana, di balik lipatan baju ganti yang ia bawa dari desa, terselip sebuah amplop cokelat tebal. Uang tunai sebesar lima puluh juta rupiah.
Ia simpan rapi, tanpa sepengetahuan Bagas. Itu adalah harta terakhir keluarganya. Hasil dari Pak Tarno menggadaikan sawah satu-satunya demi bekal hidup putri tercintanya di kota besar. Pak Tarno yang begitu angkuh, juga masih seorang Ayah.
Tanpa sepengetahuan Bagas. Ia memberikan amplop berisi harta terakhir itu. Sedangkan yang diberikan pada Bagas. Senilai dua puluh juta adalah, tabungan Bu Rahayu selama ini.
“Simpan ini, Nduk. Untuk peganganmu kalau suamimu sedang sulit atau kalau kamu butuh apa-apa,” bisik Pak Tarno sebelum mereka berangkat tempo hari.
Larasati memejamkan mata sejenak. Menahan sesak yang menghunjam dada. Ayahnya tidak tahu bahwa suami kebanggaannya. Telah membiarkan kehormatan putrinya dirampas di jalan tol.
Larasati menyimpan uang itu dengan satu niat yang mulai mengkristal di otaknya. melarikan diri. Firasatnya sejak malam jahanam itu sudah mati rasa.
Namun naluri bertahan hidupnya mulai berontak. Ia harus pulang. Ia harus menceritakan semuanya, meski ia harus menanggung aib seumur hidup di Sukamulya.
Kesunyian yang Menipu
Sampai di kontrakan kumuh itu, suasana tampak sepi. Mobil sewaan Bagas sudah tidak ada. Beberapa saat lalu, Bagas dan Maya pamit berangkat bekerja ke pabrik yang mereka ceritakan.
Bagas pamit bekerja, sedangkan Maya pamit ke tempat temanya. Bagas bahkan sempat mengecup kening Laras dengan sandiwara perhatian yang memuakkan. Sementara Maya memberikan senyum palsu yang kini terasa seperti seringai ular.
Laras segera menuju dapur kecil yang terletak di bagian belakang rumah. Ia menyalakan kompor, mencoba menyibukkan diri dengan memotong sayuran. Ia berharap aroma tumisan kangkung bisa sedikit mengusir bau pengap dan kenangan pahit yang memenuhi rongga parunya.
Sambil mengaduk masakan, pikirannya melayang jauh. Ia membayangkan terminal bus. Ia membayangkan bagaimana caranya mencapai stasiun tanpa ketahuan Bagas. Ia harus menunggu saat yang tepat, saat Bagas benar-benar lengah.
Ia tidak bisa lagi mempercayai pria itu. Pria yang mengaku mencintainya. Namun hanya terdiam saat ia diseret ke semak-semak.
Tiba-tiba,
Dua lengan kekar dan lembap, melingkar di pinggangnya dari arah belakang. Laras tersentak. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan, "Mas Bagas? Sudah pulang? Kenapa cepat sekali?”
Laras memutar tubuhnya, bermaksud melepaskan pelukan itu. Namun, kalimatnya terhenti di tenggorokan. Matanya membelalak penuh horor. Pria di hadapannya bukan Bagas.
Seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan perut yang menyembul dari balik kemeja ketatnya berdiri di sana. Wajahnya berminyak, dengan senyum menjijikkan yang memperlihatkan deretan gigi yang tidak rata.
Di belakang pria itu, di ambang pintu dapur, berdiri dua orang pria berwajah sangar dengan tato di lengan mereka. Bersedekap sembari menatap Laras seperti serigala menatap domba.
"Siapa kalian?! Mau apa masuk ke sini?!" jerit Laras.
Suaranya melengking ketakutan. Ia menyambar pisau dapur kecil yang tadi ia gunakan. Mengarahkannya ke depan dengan tangan yang gemetar hebat.
Pria gendut itu tertawa, suara tawanya serak dan berat. memenuhi ruangan dapur yang sempit, "Tenang, Manis, jangan galak-galak begitu. Kami di sini bukan orang asing."
"Keluar! Atau aku teriak!" ancam Laras, air mata mulai mengalir deras di pipinya.
Pria itu justru melangkah maju, sama sekali tidak takut pada pisau di tangan Laras, "Teriaklah Semaumu. Tetangga di sini tidak akan peduli. Lagi pula, kau tahu tidak? Suamimu yang hebat itu. Bagaskara, dia sudah menyerahkanmu pada kami."
Laras mematung. Dunia seolah berhenti berputar, "Apa maksudmu? Bohong! Mas Bagas tidak mungkin, bohong kalian.”
Salah satu pria sangar di belakang tertawa sinis sembari mengeluarkan selembar kertas dari sakunya, "Ini surat perjanjian hutang Bagaskara. Hutangnya pada bos kami sudah jatuh tempo dan sebagai alat pelunasan. Dia memberikan hak pakai istrinya selama seminggu kepada kami. Kau sudah dijadikan jaminan, Nona Manis. Kau adalah alat bayar utang suamimu sendiri."
Tragedi yang Berulang
Laras merasakan kakinya lemas. Pisau di tangannya jatuh berdenting di atas lantai semen. Pengkhianatan Bagas terasa lebih tajam dari mata pisau mana pun. Ia tidak hanya dihancurkan secara fisik di jalan tol. Tapi ia dijual secara sistematis oleh pria yang memegang janji suci atas namanya di depan Tuhan.
"Tidak... tidak mungkin..." gumam Laras lirih.
Tanpa banyak bicara lagi, pria gendut itu menyergap Laras. Tenaga Laras yang sudah terkuras oleh trauma tak mampu memberikan perlawanan berarti. Pria-pria itu menyeretnya dengan kasar.
Melewati ruang tengah menuju kamar tidur. Laras mencoba mencengkeram kusen pintu, kukunyah tergores hingga berdarah. Namun mereka terlalu kuat.
Tragedi itu pun terulang kembali. Kali ini bukan di jalan tol yang sunyi. Melainkan di atas ranjang yang seharusnya menjadi tempat paling sakral bagi pengantin baru.
Di bawah atap rumah yang ia kira sebagai tempat perlindungan. Kesucian, kehormatan Laras kembali dirampas habis-habisan oleh manusia-manusia yang sudah kehilangan nuraninya.
Larasati tidak lagi menjerit. Ia hanya menatap langit-langit kamar yang retak. Air matanya mengalir dalam diam. Pikirannya kosong, ia merasa seolah jiwanya sudah benar-benar mati.
Meninggalkan raga yang terus-menerus diinjak-injak oleh keserakahan manusia. Di sela-sela penderitaannya, ia hanya bisa membisikkan satu nama dalam hati yang terdalam.
Mas yang dulu menolongku, tolong aku, sekali lagi, tolong!
Kehancuran di Ujung Kasur
Setelah beberapa jam yang terasa seperti selamanya. Pria-pria itu pergi begitu saja. Mereka keluar dari kontrakan dengan tawa kemenangan. Meninggalkan pintu depan yang terbuka lebar.
Seolah-olah martabat di dalam rumah itu sudah tidak ada lagi harganya. Mereka sangat puas menyeringai buas. Setelah bergantian memaksa Laras, menuruti nafsu bejat mereka.
Di dalam kamar yang berantakan, Larasati terduduk diam di ujung kasur. Ia tidak mengenakan busana sama sekali. Rambutnya yang panjang menutupi wajahnya yang hancur.
Ia memeluk kedua lututnya erat-erat. Mencoba menyatukan kembali kepingan dirinya yang telah hancur berkeping-keping.
Bau keringat pria-pria asing dan aroma pengkhianatan memenuhi ruangan itu. Laras menatap tas kainnya yang tergeletak di sudut ruangan. Uang lima puluh juta itu masih ada di sana. Namun Laras merasa uang itu pun kini terasa kotor. Ia merasa tidak lagi pantas menjadi manusia.
"Bapak, Ibu, maafkan Laras," rintihnya dengan suara yang nyaris tak terdengar. Hari ini untuk seminggu ke depan, pagi laras akan menjadi neraka. Setiap pagi itu akan ada pria gendut itu yang akan mendekapnya. Sebagai alat pelunas utang Bagas. Mulai saat itu niatnya untuk kabur begitu besar.
Di saat yang sama, di kediaman Darmawan yang megah. Rizki Pratama sedang duduk di samping ayahnya yang terlelap. Tiba-tiba, Rizki merasakan dadanya sesak luar biasa.
Ia meremas kemejanya, mencoba menghirup napas. Namun ia merasa seolah-olah ia sedang tenggelam dalam air yang sangat dingin.
"Ada apa, Rizki?" tanya Nana yang baru saja masuk membawakan obat.
Rizki tidak menjawab. Ia hanya menatap kosong ke depan. Hatinya bergetar hebat.
Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia yakin, di suatu tempat di kota ini, ada sebuah jiwa yang sedang menjerit meminta tolong kepadanya. Jiwa yang ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".
Larasati di kontrakannya kini mulai bergerak pelan. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mengenakan pakaiannya kembali. Matanya yang kosong kini mulai berkilat dengan api amarah yang samar di balik duka.
Jika Bagas menganggapnya sebagai barang jaminan, maka Larasati akan membuktikan bahwa barang yang telah rusak pun masih bisa menghancurkan pemiliknya.
Ia akan lari. Malam ini juga. Dengan atau tanpa kehormatan, ia harus keluar dari neraka ini.