Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.
Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Dibalik Pintu yang Tertutup
Apartemen Chae-young terletak di kawasan yang cukup tenang, sebuah unit minimalis namun hangat yang ia beli dengan hasil jerih payahnya membangun brand Forever-Young. Begitu pintu tertutup, Chae-young menyandarkan punggungnya di daun pintu. Napasnya masih memburu, seolah-olah ia baru saja berlari maraton menghindari kejaran monster.
"Mommy? Kenapa wajah Mommy merah?" Tanya Chae-rin polos sambil menarik ujung blus Chae-young.
Chae-young tersentak, ia memaksakan sebuah senyum tipis. "Ah, tidak apa-apa, Sayang. Mommy hanya sedikit lelah karena udara di luar cukup dingin. Ayo, kalian ganti baju dan cuci tangan, ya?"
Setelah kedua buah hatinya masuk ke kamar, Chae-young terduduk di sofa ruang tamu. Kepalanya terasa mau pecah. Bayangan pria di depan galeri tadi terus berputar seperti kaset rusak di otaknya. Struktur rahang yang tegas, hidung yang mancung sempurna, dan sepasang mata biru yang tajam namun menyimpan kesedihan tersembunyi.
"Kenapa... kenapa pria itu terlihat seperti versi dewasa dari Chan-yeol?" Bisiknya pada diri sendiri.
Ia teringat asisten pria itu memanggilnya Matteo. Nama yang asing bagi telinga orang Korea. Nama itu terdengar seperti nama bangsawan Eropa atau pengusaha asing yang tak tersentuh. Chae-young menggelengkan kepalanya keras-keras, mencoba mengusir pikiran konyol itu.
"Jangan gila, Park Chae-young. Dia orang asing, mungkin ekspatriat kaya yang baru pindah ke Seoul. Mana mungkin dia ada hubungannya dengan malam terkutuk lima tahun lalu?" Gumamnya ketus. Baginya, pria dari malam itu adalah sosok bayangan tanpa wajah yang ia benci sekaligus ia tangisi. Menghubungkan pria sekelas 'Matteo' dengan tragedi hidupnya terasa seperti lelucon yang buruk.
Di sisi lain kota, sebuah gerbang besi otomatis terbuka lebar menyambut kedatangan mobil mewah Matteo. Ia pulang ke sebuah rumah bergaya modern-minimalis yang berdiri megah di atas tanah warisan ibunya, Lee Young-ae. Rumah ini adalah tempat pelariannya, benteng yang ia bangun untuk membuktikan bahwa ia bisa hidup tanpa bayang-bayang keluarga Smith di Filipina.
Matteo melangkah masuk ke dalam rumah yang sunyi. Ia melepas jas abu-abunya, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka. Ia menuangkan wiski ke dalam gelas kristal, lalu berdiri menatap pemandangan kota Seoul dari jendela besar di ruang tengahnya.
Pikirannya melayang pada bocah laki-laki yang ia lihat di trotoar tadi.
"Kenapa anak itu mirip sekali dengan Kendrick?" Matteo bergumam pelan.
Wajah bocah itu, sorot matanya yang tenang namun cerdas, benar-benar mengingatkannya pada keponakannya di Manila. Matteo menghela napas panjang. Mungkin ia hanya merindukan Kendrick. Mungkin rasa bersalah karena telah membenci Mark—ayah Kendrick—membuat fantasinya bermain-main. Ia merindukan pelukan kecil bocah itu yang selalu memanggilnya 'Papa' karena wajah mereka yang identik.
Tring... Tring...
Dering ponsel di atas meja marmer membuyarkan teka-teki pikirannya. Matteo melirik layar: Ibu.
"Halo, Ibu?" suara Matteo terdengar sedikit lebih lembut, meski tetap ada nada lelah di sana.
"Matteo, anakku. Bagaimana kabarmu di Seoul? Apa kau sudah makan dengan benar?" suara Lee Young-ae terdengar hangat dari seberang sana, membawa sejuk di tengah dinginnya malam Seoul.
"Aku baik, Bu. Baru saja sampai di rumah. Ada apa?"
"Matteo, Ibu hanya ingin bicara. Kau tahu, kau sudah berusia 29 tahun. Sebentar lagi kepala tiga. Kau tidak ingin punya keluarga sendiri? Ibu tidak tenang melihatmu sendirian di sana."
Matteo memijat pangkal hidungnya, sudah menduga arah pembicaraan ini. "Ibu, aku sedang sibuk membangun M-Nexus. Keluarga bukan prioritasku sekarang."
"Matteo, jika kau belum menikah juga, lebih baik Ibu menjodohkan kamu saja dengan sepupumu sendiri. Setidaknya Ibu tahu latar belakangnya—"
"Ibu..." potong Matteo memelas. "Jangan mulai lagi. Aku sudah bilang, aku ingin mencari orang luar. Aku tidak ingin hubungan yang diatur oleh silsilah keluarga."
Terdengar helaan napas panjang dari Lee Young-ae. "Matteo, maafkan untuk segalanya. Ibu tahu ini sulit bagimu sejak kejadian dengan Sheena, tapi tidak ada salahnya membuka hati, kan? Kamu sudah dua bulan di Seoul. Sejak kehadiranmu kemarin di Filipina untuk urusan Mark, Ibu merasa memiliki teman di sini. Apa kau tidak ingin kembali dan tinggal di sini saja bersama Ibu?"
Matteo terdiam sejenak. Ingatan tentang Manila selalu membawa rasa perih, rasa iri, rasa bersalah, dan rasa asing. Seoul adalah tempat di mana ia merasa benar-benar memiliki jati diri.
"Tidak, Bu," jawab Matteo tegas namun tenang. "Sejak awal aku memang sudah berniat tinggal di sini setelah menyelesaikan studiku bertahun-tahun lalu. Di Seoul sangat nyaman, jauh lebih maju, dan aku bisa membangun segalanya dari nol tanpa embel-embel nama besar Ayah. Tolong, kali ini dukung aku ya, Bu. Aku ingin sukses dengan caraku sendiri di sini."
Hening sejenak di ujung telepon, sebelum Lee Young-ae menjawab dengan suara bergetar haru. "Tentu, anakku. Apapun itu, Ibu akan selalu mendukungmu. Doa Ibu selalu ada padamu. Hiduplah dengan baik dan bahagia, Matteo."
"Terima kasih, Bu. Selamat malam."
Matteo mematikan ponselnya. Ia kembali menatap bola dunia kristal yang sempat ia bawa dari kantor dan ia letakkan di meja samping tempat tidurnya. Benda itu berputar pelan, sama seperti takdir yang mulai berputar di sekelilingnya.
Ia memutuskan untuk menetap di Seoul selamanya. Ia harus mengeluarkan nama Sheena dari pikirannya. Ia harus memulai lembaran baru. Namun, tanpa ia sadari, lembaran baru itu tadi siang baru saja ia lihat di trotoar Gangnam—seorang wanita dengan sepasang anak kembar yang memiliki mata persis seperti miliknya.
Di apartemennya, Chae-young akhirnya tertidur setelah memastikan Chan-yeol dan Chae-rin terlelap. Dalam mimpinya, ia kembali ke kamar hotel lima tahun yang lalu. Namun kali ini, pria di dalam kegelapan itu memiliki wajah—wajah Matteo yang menatapnya dengan tatapan biru yang dalam.
Chae-young terbangun dengan napas tersengal dan keringat dingin. "Hanya mimpi, Chae-young. Itu hanya mimpi buruk," bisiknya menenangkan diri.
Namun di luar sana, takdir sedang tersenyum sinis. Seoul bukan lagi sekadar kota bisnis bagi Matteo, dan bukan lagi sekadar tempat persembunyian bagi Chae-young. Kota ini akan menjadi saksi bagaimana sebuah rahasia satu malam akan menuntut pertanggungjawaban yang tak terelakkan.