Lin Feng, seorang Kaisar Abadi yang tak tertandingi di generasinya, yang dikenal sebagai "Penguasa Abadi," tewas dalam sebuah pengkhianatan keji. Murid terdekat dan wanita yang paling dicintainya bersekongkol untuk merebut Kitab Suci Kekacauan Abadi miliknya, sebuah teknik kultivasi tertinggi, tepat saat ia mencoba naik ke Alam Dewa. Meskipun raganya hancur, seutas jiwa ilahinya berhasil lolos dan bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda yang baru saja mati di dunia fana yang terpencil.
Tubuh baru ini, yang juga bernama Lin Feng, dianggap sebagai "sampah" dengan meridian yang hancur, dikucilkan oleh klannya sendiri, dan dihina oleh tunangannya. Berbekal ingatan dan pengetahuan dari kehidupan masa lalunya yang gemilang, Lin Feng harus memulai segalanya dari nol. Dia akan menggunakan pemahamannya yang tak tertandingi tentang Dao agung untuk menempa kembali takdirnya, menantang langit, dan menapaki jalan menuju puncak kekuasaan sekali lagi, sambil merencanakan balas dendam yang akan m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Tatapan Seekor Naga
Keheningan yang mencekam menyelimuti halaman kecil itu. Udara yang tadinya dipenuhi arogansi kini terasa berat dan dingin. Kedua pengikut Lin Wei tanpa sadar mundur selangkah, tidak berani menatap langsung ke mata Lin Feng. Mereka tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi insting mereka berteriak bahwa pemuda di depan mereka ini sangat berbahaya.
Lin Wei sendiri merasa darahnya seolah membeku. Tiga kata itu, "Sudah selesai bermain?", bergema di telinganya bukan sebagai pertanyaan, melainkan sebagai vonis. Rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mulai merayap di hatinya.
"Ba-bajingan! Apa yang kau lakukan?!" Lin Wei berteriak, suaranya sedikit bergetar. Dia mencoba menutupi rasa takutnya dengan kemarahan yang lebih besar.
Perlahan, Lin Feng bangkit dari tempat tidur.
Gerakannya tidak cepat, tetapi sangat stabil. Setiap sendi, setiap otot, bergerak dengan efisiensi yang menakutkan, seolah-olah setiap pergerakan telah diperhitungkan hingga tingkat kesempurnaan tertinggi. Tidak ada getaran atau keraguan sedikit pun, tidak seperti orang yang baru saja pulih dari luka parah.
Dia berdiri tegak, dan meskipun tubuhnya masih kurus, punggungnya lurus seperti tombak yang siap menembus langit. Aura tak kasat mata yang agung dan kuno menyebar darinya, menekan ketiga pemuda itu hingga mereka merasa sulit bernapas.
"Aku akan memberimu satu kesempatan," kata Lin Feng. Suaranya tetap datar, tetapi setiap kata terasa berat seperti gunung. "Bawa pecah-pecahan pintu ini dan enyah dari hadapanku. Jangan pernah muncul di depanku lagi."
Ini bukan negosiasi. Ini adalah perintah.
Mendengar ini, rasa takut di hati Lin Wei langsung berubah menjadi penghinaan yang luar biasa. Dia, Lin Wei, seorang jenius kecil di klannya, diperintahkan oleh sampah yang baru saja ia injak-injak?
"Beraninya kau, sampah!" raung Lin Wei, wajahnya memerah karena malu dan marah. "Kau pikir kau siapa?! Kau hanya beruntung bisa menghindari pukulanku! Aku akan menunjukkan padamu kekuatan sejati!"
Mengabaikan peringatan instingnya, Lin Wei mengerahkan seluruh kekuatannya. Energi spiritual tingkat tiga Alam Penempaan Tubuh miliknya meledak sepenuhnya. Dia menggunakan jurus andalannya, "Tinju Batu Menghancur," sebuah teknik bela diri tingkat menengah yang dikenal karena kekuatan brutalnya.
"MATI!"
Tinju itu melesat, membawa angin kencang dan suara siulan yang tajam. Kali ini, ia tidak menahan diri sama sekali. Dia yakin pukulan ini akan menghancurkan Lin Feng menjadi tumpukan daging.
Menghadapi serangan kekuatan penuh ini, Lin Feng tetap diam. Di matanya, gerakan Lin Wei penuh dengan kekurangan. Kecepatan? Terlalu lambat. Kekuatan? Tersebar. Teknik? Mentah.
Tepat saat tinju itu hanya berjarak beberapa inci dari dadanya, Lin Feng akhirnya bergerak.
Gerakannya sangat sederhana hingga tampak biasa. Dia tidak menghindar. Dia hanya mengangkat tangan kanannya, mengulurkan jari telunjuknya, dan dengan lembut mengetuk bagian bawah pergelangan tangan Lin Wei.
"Tap."
Suaranya sangat pelan, nyaris tak terdengar.
Bagi Lin Wei, rasanya seperti disambar petir. Ketukan ringan itu mendarat tepat di titik akupunktur tempat energi spiritualnya mengalir. Seketika, aliran energi di lengannya menjadi kacau. Kekuatan yang telah ia kumpulkan dengan susah payah lenyap dalam sekejap, seperti balon yang ditusuk jarum.
Momentum dari serangannya sendiri membuatnya kehilangan kendali. Tubuhnya terdorong ke depan, dan karena lengannya tiba-tiba menjadi lemas, ia jatuh tersungkur dengan canggung di kaki Lin Feng.
"BRUK!"
Lin Wei terbaring di lantai, menatap kosong ke tanah dengan ekspresi tidak percaya.
Dia... dia jatuh? Dia jatuh hanya karena satu ketukan jari dari seorang sampah yang meridiannya hancur? Bagaimana ini mungkin?! Dia tidak merasakan kekuatan apa pun dari jari itu. Itu hanya ketukan ringan!
Kedua pengikutnya membeku di tempat, mulut mereka ternganga. Pemandangan ini benar-benar di luar pemahaman mereka.
Lin Feng menunduk, menatap Lin Wei yang terbaring di tanah. Tatapannya dingin dan tanpa emosi, seperti dewa yang memandang seekor serangga yang menyedihkan.
"Aku sudah memberimu kesempatan," katanya dengan suara rendah.
Dia mengangkat kakinya dan dengan santai menginjak punggung tangan Lin Wei yang tergeletak di lantai.
"Ingat rasa sakit ini. Ini adalah harga karena telah menggangguku."
Lin Feng tidak menggunakan banyak kekuatan fisik, tetapi dia menyalurkan seutas kecil energi jiwa Penguasa Abadi miliknya—energi yang bahkan tidak bisa dideteksi oleh para ahli di dunia ini—ke dalam kakinya.
"KRAK!"
Suara tulang retak yang mengerikan terdengar.
"ARRGGHHHHHHH!"
Jeritan kesakitan yang memilukan keluar dari mulut Lin Wei. Rasa sakit yang tajam dan menusuk dari tangannya membuatnya menggeliat di tanah seperti cacing. Tulang-tulang di punggung tangannya telah hancur!
Kedua pengikutnya menjadi pucat pasi. Mereka menatap Lin Feng seolah-olah sedang melihat iblis. Tanpa sepatah kata pun, mereka bergegas membantu Lin Wei berdiri, memapahnya dengan gemetar, dan lari tunggang langgang dari halaman kecil itu, bahkan tidak berani menoleh ke belakang.
Lin Feng menarik kakinya, tidak melirik mereka lagi. Dia berbalik dan melihat ke dalam ruangannya yang sekarang terbuka karena pintu yang hancur.
Matanya menyipit.
"Aku butuh tempat yang lebih tenang untuk berkultivasi."