Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duel di tengah arena
Gemuruh genderang bertalu-talu, menggetarkan pasir di arena batu yang melingkar. Ratusan siluman dari berbagai ras memadati tribun, menciptakan lautan wajah-wajah mengerikan yang haus darah.
Di tengah arena, berdirilah Sura, nampak kerdil dan rapuh dalam balutan pakaian manusia yang sederhana. Di seberangnya, Bito, siluman kadal dengan sisik hijau lumut, menggaruk kepalanya yang lonjong dengan bingung.
Bito menoleh ke arah Sura. Bukannya memasang wajah garang, ia malah tersenyum lebar hingga lidah bercabangnya menjuntai lucu.
Tampaknya, efek Aura Penakluk yang tak sengaja terpapar padanya masih tersisa. Matanya menatap Sura dengan binar kekaguman yang sulit disembunyikan.
"Hei, Manusia!" seru Bito, suaranya parau namun terdengar ceria. "Bunga kemarin... anu, adikku suka sekali. Hehe."
Sura mengangguk tipis. "Senang mendengarnya. Aku tidak menyangka kamu akan ikut pertandingan ini."
Wajah Bito mendadak muram. Ia melirik ke arah tribun kehormatan, di mana kakaknya, siluman kadal yang jauh lebih besar dan mengerikan, sedang menatapnya dengan mata menyipit tajam.
"Kakak sulungku... dia galak sekali. Katanya kalau aku tidak serius, aku tidak boleh pulang," Bito menggaruk kepala. Ia memasang kuda-kuda, meski tampak gemetar. "Jadi... maaf ya, Manusia, jika aku memukulmu cukup keras nanti. Aku tidak punya pilihan!"
"Lihat si bodoh itu! Kenapa dia malah mengobrol?" teriak seekor siluman babi hutan.
"Manusia itu akan hancur dalam satu tamparan! Cepat serang dia!" timpal yang lain. "Jangan buang-buang waktu! Aku sudah bertaruh satu keping emas untuk kematian manusia itu!"
"MULAI!" Gelegar suara wasit, seekor siluman elang raksasa.
Meski kepribadiannya konyol, tubuh kadalnya bagai mesin tempur. Bito menjulurkan lidah seperti cambuk baja untuk mengincar leher lawan.
Namun, Sura berhasil merunduk, merasakan angin tebasan lidah Bito hanya beberapa sentimeter di atas kepalanya.
"Wah, kamu cepat juga!" seru Bito, matanya membelalak lucu. Ia berputar, mengayunkan ekor dalam serangan horizontal.
Wusss! Ekor tebalnya menyambar udara, menghantam lantai batu hingga hancur berkeping-keping.
Sura melompat mundur, jantungnya berdegup kencang. "Sial! Tubuhnya lebih kecil dariku, tapi kekuatannya tidak bisa kuremehkan. Aku bisa remuk terkena serangan tadi!"
"Skill Ketiga Aktif, menyalin kemampuan Panglima Gola," ucap Sistem, menanggapi panggilan memori yang tengah Sura bayangkan.
Seketika, pandangan Sura berubah. Ia melihat Bito sebagai titik yang bergerak. Kadal itu melesat maju bak peluru.
BUM!
Suara hantaman keras bergema. Debu mengepul, menghalangi pandangan. Tribun mendadak hening. Mereka berekspektasi melihat tubuh Sura terlempar hancur.
Saat debu menipis, penonton tersentak. Sura masih berdiri tegak, menahan ekor Bito hanya dengan dua tangan. Meski kaki Sura amblas beberapa sentimeter ke dalam lantai arena.
"Apa?! Bagaimana mungkin manusia bisa menahan kekuatan siluman?" seru siluman serigala, matanya menyipit takjub.
Bito sendiri tampak syok. "Eh? Kamu... kamu kuat sekali! Ternyata rumor itu bukan candaan. Kamu memang manusia spesial," Ia menarik ekornya dan kembali menyerang. Serangannya liar dan membabi buta.
Di antara serbuan Bito, Sura tidak sekadar menghindar, tapi bergerak dengan naluri predator yang ia pinjam. Ia menepis cakar Bito, memberikan pukulan balasan cepat ke perut Bito yang bersisik.
DUK! DUK! DUK!
Suara pukulannya terdengar berat, seperti palu godam menghantam baja.
Bito meringis, mundur beberapa langkah. "Aduh, aduh! Hentikan!"
Ia menarik napas dalam-dalam, dadanya membusung, mengaktifkan skill kamuflase.
Bito menunduk dan bergerak zig-zag, memanfaatkan warna sisiknya yang telah menyatu dengan arena.
"Di mana dia?" gumam Sura, indranya menajam. Ia tidak bisa melihat Bito, tapi merasakan getaran di udara dan bau amis sisik yang mendekat dari sisi kanan.
Sura berputar, tepat saat Bito muncul dari udara hampa dengan lidah yang siap menusuk jantung Sura. Serangan itu sangat cepat dan tak terduga. Sura terdesak. Ujung lidah Bito berhasil menggores bahunya.
"Darah! Lihatlah, manusia itu terluka!" sorak penonton, darah mereka kembali mendidih.
"ARGH!" Sura menggeram. Rasa sakit menyentak kesadaran.
Anehnya itu membuat Sura tersenyum puas. Matanya dipenuhi tekad, semangatnya berkobar. Sura kembali memfokuskan diri saat Bito bersiap untuk serangan kedua.
"Lihat! Bito menghilang. Kali ini, manusia itu tidak akan selamat!"
Sura mengikuti pergerakan tanpa wujud itu, bergerak ke samping, mengacuhkan sorakan penonton. "Fokus... aku harus menyiapkan tanganku untuk menghentikannya."
Pada detik berikutnya, Bito muncul dan mencoba menyeruduk.
Sura tidak menghindar. Ia justru maju satu langkah, menangkap rahang atas dan bawah Bito dengan kedua tangannya yang kini dialiri kekuatan.
"Maaf, Bito. Aku juga harus menang," bisik Sura.
Bito terkejut. Kekuatan manusia di depannya ini tidak masuk akal. Ia mencoba mengibaskan tubuh Sura yang terasa seberat gunung. Penonton di tribun berdiri, gumaman remeh mereka berubah menjadi sorakan kaget.
"Lihat itu! Manusia itu menahan Bito dengan tangan kosong!"
Bito panik, mencoba mengayunkan cakar, saat Sura memutar tubuhnya dan membantingnya ke atas arena.
BRUK! BRUK! BRUK!
Terus berulang hingga Bito tak berdaya.
Lalu dengan satu sentakan kuat, Sura menghantamkan telapak tangan ke sendi rahang Bito.
KRAKK!
Bunyi patahan tulang yang mengerikan terdengar jelas ke seluruh tribun. Rahang bawah Bito remuk, bergeser dari posisinya dengan sudut yang menyedihkan. Air liur dan darah menyembur keluar dari mulutnya.
Bito terkapar di tanah, matanya berputar, lidahnya menjulur lunglai di pasir.
Ia mengerang pelan, "Argh!!"
"Kakak Sulung... biarkan aku pulang bersamamu..." gumam Bito tidak jelas, sebelum matanya terpejam.
Keheningan total menyelimuti Arena Kerajaan Siluman. Ratusan pasang mata menatap tidak percaya pada sosok manusia yang berdiri terengah-engah di tengah arena.
Sorot mata mereka tidak lagi berisi hinaan, melainkan ketakutan dan takjub yang mendalam. Sura, sang manusia yang mereka remehkan, baru saja memenangkan pertandingan.
Di tribun atas, Raja Siluman duduk sambil tersenyum bangga. "Boleh juga. Tidak sia-sia kerja kerasku semalam."
"Kenapa kamu tidak membunuhnya?" tanya Sistem menyadari detak jantung di tubuh lawan.
Sura menatap datar, ujung kepala Bito yang masih tertunduk. "Tidak perlu. Aku tidak mau mengotori kemanusiaanku. Lagipula, tidak ada aturan untuk membunuh lawan---" Menoleh ke belakang, menatap bangku penonton. "Ini sudah cukup membuat para siluman itu bungkam."
Matanya puas melihat reaksi mereka, meski ada beberapa siluman yang semakin tersulut amarah. Seakan tertantang, dan tak sabar menghadapi Sura.
...----------------...
Semburat jingga di ufuk barat mulai memudar, meninggalkan sisa-sisa cahaya temaram yang menyapu halaman belakang istana.
Sura berlutut di tanah hitam yang pecah-pecah, matanya terpaku pada wadah perunggu yang ia sembunyikan di bawah bayangan pilar.
"Sistem, lihat ini," bisik Sura, suaranya bergetar karena antusias.
Di dalam genangan darah merah yang kini telah mengental, batang-batang tanaman yang ia rendam semalaman tidak lagi sekarat. Sebaliknya, serat-serat halus berwarna putih, akar-akar baru mulai menyembul keluar.
"Analisis dilakukan... proses perendaman berhasil. Tanaman ini telah bermutasi menjadi tanaman murni. Mereka kini memiliki kemampuan untuk memproses miasma menjadi energi pertumbuhan."
Sura segera bergerak. Dengan jemarinya, ia menggali lubang-lubang kecil di tanah tandus itu, menanam setiap bibit dengan jarak yang cukup renggang.
"Sura, apa yang kamu lakukan di sini? Dari tadi kami mencarimu. Selamat ya atas kemenangannya! Aku tidak menyangka kamu bisa mengalahkan reptil itu," ucap siluman kalong yang baru saja muncul di balik kegelapan.
Mereka berdua saling menoleh, penasaran dengan apa yang tengah Sura perbuat. Satu persatu bibit itu di tanam hingga memenuhi halaman belakang.