Di bawah rindangnya pohon sakura yang menghiasi jalan setapak kampus, Alana menyimpan sebuah rahasia besar. Dari kejauhan, ia menyaksikan Raka, sosok pria yang selalu sibuk dengan sketsa-sketsa arsitekturnya. Kekaguman Alana tumbuh dalam diam, seperti bunga yang mekar di sudut perpustakaan yang paling sunyi. Setiap langkah Raka adalah sebuah melodi bagi hati Alana yang pemalu, sebuah lagu yang tak pernah ia berani nyanyikan dengan suara keras.
Namun, segalanya berubah saat Alana dan Raka terpaksa berada dalam satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Jarak yang selama ini memisahkan mereka tiba-tiba menghilang. Kini, Alana tidak hanya mengamati dari jauh, tapi harus bekerja bahu-membahu dengan pria yang ia kagumi. Setiap interaksi minimal-seperti sentuhan jari saat bertukar nomor telepon atau nama Alana yang terucap dari bibir Raka-menjadi ledakan listrik yang menyesakkan dada Alana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAKSAN DI ATAS FONDASI
Pagi di Desa Sukamaju biasanya dihiasi oleh kicauan burung dan semerbak aroma kopi tubruk buatan Pak Kades. Namun, hari ini terasa lain bagi Alana. Ada kilauan tak biasa di sorot matanya, seolah sulit menyembunyikan perasaan yang membuncah sejak peristiwa yang terjadi di gubuk kemarin. Ia seperti merasakan bahwa dunia baru saja menyerahkan kunci untuk membuka hati Raka, yang selama ini tertutup rapat.
"Alana, Bram memanggilmu ke depan. Katanya, ada tamu untuk kelompok kita!" suara Dinda menggema dari teras samping, memecah lamunannya.
Alana merapikan kuncir rambutnya dengan gerakan ringan, memandang cermin retak di sudut kamarnya sambil mengulas senyum tipis. Setelah menarik napas panjang, ia melangkah keluar menuju ruang tamu posko. Pemandangan di sana membuat langkahnya terhenti sejenak. Bram tengah duduk bersama seorang wanita yang begitu mencolok dibanding lingkungan sederhana mereka. Wanita itu mengenakan gaun bermotif bunga yang anggun, membawa tas mahal yang terlihat mewah, dan dilengkapi aroma parfum eksklusif yang langsung menenggelamkan harumnya tanah basah Sukamaju.
Alana belum sempat berkata apa-apa saat Bram mendongak dan menyadari kehadirannya. "Ah, Alana! Kenalin, ini Maudy. Dia sengaja jauh-jauh datang dari kota buat kasih kejutan," ujarnya dengan nada yang terdengar setengah canggung.
Maudy, wanita itu, berdiri sambil menyunggingkan senyum manis yang entah kenapa terasa terlalu rapi, bahkan dingin. Matanya tertuju pada Alana sejenak sebelum akhirnya ia membuka suara. "Hai, kamu pasti Alana, ya? Kebetulan aku tunangannya Raka. Raka lagi ada, kan?"
Ucapan itu menyerang Alana seperti angin badai yang tiba-tiba menghantam. Kata "tunangan" menggema di telinganya dan meresap hingga ke dalam jiwanya. Tubuhnya terasa lemas, seolah-olah oksigen di sekitarnya mendadak menghilang. Aliran pikirannya kacau, membeku bersama seluruh perasaannya. Senyum kecil yang sempat ia bawa dari kamar tadi kini ambruk, meninggalkan kehampaan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Sebelum Alana sempat menjawab, pintu belakang terbuka. Raka melangkah masuk dengan tangan yang masih membawa gulungan kertas kalkir. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok Maudy yang berdiri di tengah ruangan.
"Maudy? Kamu... kenapa di sini?" suara Raka terdengar datar, namun ada nada terkejut yang tertahan.
"Surprise! Aku kangen, Raka. Papa bilang kamu susah dihubungi karena sinyal di sini jelek, jadi aku minta supir buat antar ke sini," jawab Maudy sambil menghampiri Raka dan merangkul lengannya dengan sangat akrab—pose yang sama persis dengan apa yang Alana bayangkan dalam ketakutan terburuknya.
Alana hanya bisa mematung. Ia melihat bagaimana Raka tidak menolak rangkulan itu, meski wajahnya tampak sangat tidak nyaman. Mata Raka sempat melirik ke arah Alana, sebuah tatapan yang penuh dengan rasa bersalah dan kepanikan, namun Alana segera memalingkan wajahnya.
"Aku... aku permisi dulu. Ada data sejarah yang belum selesai kuketik," bisik Alana. Ia berbalik dan berjalan secepat mungkin, mengabaikan panggilan Bram yang bingung melihat perubahan sikapnya.
Kebenaran yang Menyakitkan
Alana mengunci diri di kamar mandi belakang, satu-satunya tempat di mana ia bisa sendirian. Ia menyalakan keran air agar suara isakannya tidak terdengar oleh siapa pun.
"Bodoh... bodoh sekali kau, Alana," bisiknya pada dirinya sendiri.
Ingatannya kembali pada percakapan di gubuk. “Arsitektur mengajarkanku untuk tidak membangun fondasi di atas tanah yang belum stabil.” Sekarang Alana mengerti maksud kalimat itu. Tanah itu bukan belum stabil karena mereka saling mengamati, tapi karena sudah ada bangunan lain yang berdiri di sana. Bangunan bernama Maudy.
Kekaguman yang ia pupuk selama tiga tahun di meja nomor 15, keberanian yang ia kumpulkan untuk menyentuh pipi Raka di dapur, dan harapan yang membumbung tinggi saat kehujanan kemarin semuanya hancur berkeping-keping.
Sore harinya, Alana berusaha bersikap profesional. Ia keluar untuk membantu tim konsumsi menyiapkan makan malam, meski ia berusaha keras untuk tidak menatap ke arah teras di mana Raka dan Maudy sedang duduk berdua.
"Lan, kamu oke?" Dinda mendekat, wajahnya penuh simpati. Rupanya berita tentang status Raka sudah menyebar ke seluruh anggota kelompok.
"Aku oke, Din. Cuma kurang tidur saja," jawab Alana bohong.
"Raka itu... katanya dijodohkan sejak lulus SMA. Bisnis keluarga mereka saling berhubungan. Anak-anak Teknik sudah lama tahu, tapi Raka memang nggak pernah cerita," bisik Dinda.
Alana hanya mengangguk. Dijodohkan. Sebuah kata yang terdengar sangat kuno namun memiliki kekuatan hukum yang sah di mata keluarga. Ia menyadari bahwa ia hanyalah sebuah bab tambahan yang tidak sengaja tertulis dalam novel kehidupan Raka yang alurnya sudah ditentukan oleh orang lain.
Pertemuan di Bawah Pohon Kamboja
Malam itu, saat Maudy sudah beristirahat di kamar tamu Pak Kades, Raka menemukan Alana sedang duduk sendirian di bawah pohon kamboja di belakang posko.
"Alana, bisa kita bicara?" suara Raka terdengar sangat lelah.
Alana tidak menoleh. Ia terus menatap hamparan sawah yang gelap. "Nggak ada yang perlu dibicarakan, Raka. Tunanganmu sangat cantik. Kamu seharusnya menemaninya, bukan di sini."
"Itu rumit, Alana. Aku tidak pernah menginginkan perjodohan ini. Ini semua rencana ayahku agar proyek kantor mereka berjalan lancar," Raka mendekat, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan.
"Tapi kamu tidak menolaknya, kan?" Alana akhirnya menoleh, matanya merah karena menahan tangis. "Kamu membiarkanku merasa spesial kemarin di gubuk. Kamu membiarkanku berpikir bahwa ada kesempatan untuk kita. Kenapa kamu nggak bilang dari awal di meja nomor 15? Kenapa harus sekarang, saat aku sudah memberikan seluruh hatiku?"
Raka terdiam. Kepalanya tertunduk. "Aku pengecut, Alana. Aku pikir dengan berada di sini, di desa yang jauh ini, aku bisa melupakan kenyataan itu sebentar saja. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi Raka yang bebas, yang bisa mengagumi seorang gadis sastra tanpa beban kontrak keluarga."
"Tapi kamu nggak bebas, Raka. Kamu terikat," suara Alana melemah. "Dan aku... aku nggak mau jadi pencuri di hidup orang lain. Maafkan aku karena pernah mengagumimu."
Alana bangkit berdiri. Ia melepaskan jaket Raka yang masih ia pinjam sejak kemarin dan meletakkannya di bangku kayu.
"Jangan pernah panggil aku di meja nomor 15 lagi, Raka. Biarkan meja itu kosong, seperti perasaanku malam ini."
Malam itu, buku catatan Alana tidak berisi puisi yang indah. Halamannya bergelombang karena tetesan air mata yang jatuh saat ia menuliskan baris terakhir di Bab 6 ini:
> "Ternyata, fondasi yang kau bangun bukan untukku. Kau hanyalah arsitek yang sedang singgah di rumah sastranya yang sepi, sebelum kembali ke istana megah yang sudah disiapkan untukmu. Maafkan aku yang terlalu percaya pada gema di lorong senyap, tanpa sadar bahwa suaramu sudah milik orang lain."
> Di kejauhan, Raka masih berdiri di bawah pohon kamboja, menggenggam jaketnya yang terasa dingin. Ia menyadari bahwa ia telah menghancurkan satu-satunya hal yang paling murni dalam hidupnya: kekaguman tulus dari seorang gadis di meja nomor 15.
jadi nostalgia😍
cerita yang bagus