NovelToon NovelToon
Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Horror Thriller-Horror / Epik Petualangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Thinkziam

Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...

----

~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Arka datang ke kafe lebih awal. Dia memilih meja yang sama, pojok dekat jendela, tempat dia biasa duduk bersama Sari. Tapi kali ini dia tidak memesan kopi. Dia hanya duduk dengan tangan di atas meja, menatap pintu kaca di depan.

Dia sudah mempersiapkan diri sejak semalam. Bukan untuk marah, bukan untuk menangis, tapi untuk mendengar kebenaran. Apa pun jawabannya, dia sudah siap.

Pukul tiga tepat, Sari datang. Dress krem, rambut tergerai, senyum lebar seperti biasa. Dia melambai kecil saat melihat Arka, lalu berjalan cepat ke arah meja.

“Maaf, Ark. Tadi macet dikit.” Dia duduk di hadapan Arka, meletakkan tas di samping, lalu memanggil pelayan. “Kopi susu, gula tambahan.”

Arka tidak bergerak. Matanya lurus menatap Sari.

Sari baru menyadari sesuatu yang berbeda. “Kamu nggak pesan?”

“Nggak.”

“Kamu kenapa? Dari tadi diem aja.”

Arka mengambil napas pendek. “Sari, aku mau tanya sesuatu.”

Wajah Sari masih cerah, belum menduga apa-apa. “Tanya apa?”

“Siapa Andre buat kamu?”

Senyum Sari langsung menghilang. Matanya berkedip cepat. “Andre? Tetangga kamu yang dulu? Kenapa?”

“Aku lihat kamu bareng dia kemarin. Keluar dari kampus, naik motornya. Pegang pinggangnya kayak kamu pegang aku.”

Sari terdiam. Wajahnya berubah pucat, tapi masih berusaha tersenyum. “Itu cuma... dia nebeng. Lagi kebetulan lewat.”

“Setiap hari kebetulan?” Arka suaranya masih datar. “Aku lihat chat kamu, Sar. Waktu kamu sembunyi-sembunyi balas pesan. Aku nggak sengaja lihat, tapi aku lihat cukup.”

Sari tidak menjawab. Tangannya mulai gemetar di atas meja.

“Kamu sama Andre sudah lama?” tanya Arka.

Sari menunduk. Suaranya kecil. “Sejak... enam bulan lalu.”

Arka mengangguk. Enam bulan. Sama seperti di kehidupan pertama, tapi kali ini dia tahu lebih awal.

“Kamu sama aku karena apa?” tanya Arka. “Karena aku punya motor? Punya tabungan? Punya aset warisan orang tua?”

“Nggak, Ark. Bukan begitu—” Sari mengangkat muka, matanya mulai basah.

“Kamu tanya gaji aku kemarin. Kamu tanya tabungan. Kamu tanya aset. Dan kamu kasih tahu Andre semua yang aku bilang, iya kan?”

Sari diam. Air matanya mulai jatuh.

“Kamu rencanain apa, Sar? Habisin uang aku? Ambil apartemen? Tanah? Terus kabur sama Andre?”

“Nggak, Ark! Aku nggak—” Sari meraih tangan Arka, tapi Arka menarik tangannya pelan.

“Kamu bohong dari awal,” kata Arka. Suaranya masih tenang, tapi ada dingin yang tidak pernah Sari dengar sebelumnya. “Tiga tahun kita bareng. Tiga tahun aku percaya. Ternyata dari awal kamu cuma mau apa yang aku punya.”

Sari menangis. Tangan yang ditolak Arka kini mengusap air matanya. “Aku sayang kamu, Ark. Aku beneran sayang. Andre cuma... aku bingung. Dia yang deketin aku. Aku nggak tahu harus gimana.”

Arka menatap Sari. Wajah itu, air mata itu, dulu bisa membuatnya luluh. Sekarang dia hanya melihat seorang aktris yang sedang memainkan peran terakhirnya.

“Kita selesai, Sar,” kata Arka.

Sari menggeleng. “Nggak, Ark. Jangan. Aku janji nggak bakal ketemu Andre lagi. Aku janji—”

“Kita selesai.” Arka berdiri.

Sari ikut berdiri. Tangannya mencoba meraih Arka lagi. “Ark, jangan gini. Aku minta maaf. Aku—”

“Maaf kamu nggak akan pernah cukup.” Arka mengambil map cokelat yang sejak tadi dia letakkan di samping kursi. “Ini dokumen penting yang selama ini aku titip di rumah kamu. Sekarang sudah aku ambil. Dan aku nggak akan pernah kembali.”

Sari terpaku. Matanya membesar. “Kamu... kamu ke rumah aku?”

“Pagi tadi. Ibu kamu bukain pintu. Dia nggak tahu apa-apa.” Arka menyelipkan map itu di bawah lengan. “Bilang sama Andre, dia bisa ambil alih semuanya sekarang. Tapi dia nggak akan dapat apa-apa dari aku.”

Arka berjalan ke arah pintu. Sari masih berdiri di tempatnya, air mata mengalir di pipi.

“Ark!”

Arka berhenti. Tidak menoleh.

“Kamu jahat!” teriak Sari. Suaranya pecah. “Setelah semua yang aku kasih buat kamu, kamu tega—”

“Kamu kasih apa?” Arka akhirnya menoleh. Matanya kosong. “Tiga tahun kamu kasih apa, Sar? Senyum? Pelukan? Kata-kata manis? Sementara aku yang bayar semuanya. Makan, jalan, sepatu, tas, semua. Kamu kasih apa selain janji palsu?”

Sari tidak bisa menjawab.

“Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu masih main sama Andre dari dulu? Aku tahu, Sar. Aku tahu dari awal. Tapi aku pilih percaya. Dan lihat sekarang.”

Arka tidak menunggu jawaban. Dia membuka pintu kafe, melangkah keluar.

Di luar, matahari sore masih menyengat. Arka berjalan ke parkiran motor dengan langkah tenang. Tangannya tidak gemetar. Dadanya tidak sesak. Yang dia rasakan justru anehnya lega, seperti beban bertahun-tahun terangkat dari pundaknya.

Duduk di atas motor, dia memandang kafe itu sekali lagi. Melalui kaca jendela, dia bisa melihat Sari masih berdiri di tempatnya, menangis, sementara beberapa pengunjung lain mulai memperhatikan.

Dulu, pemandangan itu akan membuatnya berbalik. Dulu, air mata Sari cukup untuk membuatnya memaafkan segalanya.

Tidak lagi.

Arka menghidupkan motor, keluar dari parkiran, dan bergabung dengan arus kendaraan yang padat. Di belakangnya, kafe itu semakin kecil, lalu hilang ditelan keramaian.

Malam harinya, Arka duduk di balkon kos-kosan. Kopi hitam di tangan sudah dingin sejak lama, tapi dia tidak mempedulikan. Langit malam Jakarta berwarna oranye pucat, tercemar lampu-lampu kota yang tidak pernah mati.

Ponsel di saku celananya bergetar berkali-kali. Pesan dari Sari masuk bertubi-tubi.

“Ark, aku minta maaf.”

“Aku janji nggak bakal ulangi.”

“Aku sayang kamu.”

“Tolong jangan tinggalin aku.”

Arka membaca semuanya. Lalu dia membuka chat dengan Sari, menekan nama kontak itu, dan memblokirnya.

Tidak ada ragu. Tidak ada perasaan bersalah.

Dia meletakkan ponsel di meja, menyesap kopi yang sudah dingin, dan menatap langit. Di antara lampu-lampu kota yang berkelap-kelip, dia membayangkan langit yang akan datang. Abu-abu. Sunyi. Dingin.

Itu yang sebenarnya perlu aku pikirkan. Bukan Sari. Bukan Andre. Bukan masa lalu.

Dia menarik napas dalam-dalam. Udara malam masih hangat, tapi dia sudah mulai membiasakan diri dengan dingin yang akan datang.

Besok, dia akan ke bank lagi. Mengecek status pinjaman. Lusa, dia akan mulai bermain saham. Pekan depan, dia akan mencari kontraktor yang bisa membangun hotel dengan bunker di bawahnya.

Satu per satu. Tidak terburu-buru. Tapi juga tidak akan berhenti.

Dia sudah membuang satu beban. Kini dia bisa bergerak lebih cepat.

1
Nadja 🎀
hm... seru jg tp ulang² ttg bunker ? tp gpp semangat ya nulisnya!
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Gak bisa tidur... 😁
Jack Strom
Hmmm 🤔
Jack Strom
Tikus² got... 😁
Jack Strom
Ih... Ngeri aku!!! 😁
Jack Strom
Wow... 😁
Jack Strom
Waduh... Mengerikan!!! 😁
Jack Strom
Wow... Mulai merinding nih... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Seru cok!!! 😁
Jack Strom
Semangat... Cemangat!!! 😁
Jack Strom
Oh... Gitu!!! 😁
Jack Strom
🤔 Jika fisik Arka lebih kuat, Jika Arka punya skill bertahan hidup, jika Arka secepatnya menikahi Sari, jika Sari tidak kelaparan, jika Andre dan Toni tidak jumpa dengan Sari... Mungkin ceritanya beda, mungkin Sari tidak mengkhianati Arka... Mungkin!!? 🤔
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁
Jack Strom
Jika statnya beda, mungkin kejadiannya berbeda juga... 😁
Jack Strom
💪💪💪 SEMANGAT!!! 😁
Jack Strom
Jejak di atas salju tertinggal... 😁
erlang2402
macam kenal alur nya
Thinkziam: Hmm.. novel/manga sejenis emng banyak.. kk.
total 1 replies
Mauizatul Hasanah
coba dulu
alan32439
manarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!