Seorang CEO muda yang ambisius seperti Kenzo Praditya tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi dengan Anindya, janda dari kakaknya sendiri.
"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku melakukan ini hanya demi wasiat Kakak," ucap Kenzo dingin di malam pertama mereka.
Anindya hanya bisa menelan kepahitan. Ia bertahan demi satu alasan, buah hatinya yang membutuhkan perlindungan keluarga Praditya.
Namun, tembok es yang dibangun Kenzo perlahan runtuh saat ia melihat ketegaran Anindya menghadapi badai fitnah dari luar.
Saat rasa peduli mulai berubah menjadi obsesi, Kenzo dihadapkan pada satu kenyataan pahit. Ia mulai mencintai wanita yang seharusnya tidak boleh ia miliki.
Simak Kisah Selanjutnya di Cerita Novel => Turun Ranjang.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Anindya merasakan pergelangan tangannya seperti dicengkeram oleh besi panas. Tatapan Kenzo bukan lagi tatapan adik ipar yang canggung, melainkan tatapan seorang pria yang sedang mengklaim wilayahnya.
"Lepaskan, Kenzo! Ini tidak benar!" desis Anindya, suaranya bergetar antara amarah dan ketakutan.
Kenzo tidak melepaskannya. Malah, ia menarik Anindya selangkah lebih dekat hingga aroma parfum sandalwood miliknya bercampur dengan aroma sisa melati di rambut Anindya.
"Apa yang tidak benar? Menyelamatkan masa depan anakmu? Atau kenyataan bahwa kau lebih takut pada detak jantungmu sendiri daripada ancaman ayahku?"
Anindya menyentak tangannya hingga terlepas. Ia mundur hingga menabrak lemari jati besar milik Arlan. Air mata yang baru saja mengering kini kembali menggenang.
"Arlan belum genap tujuh jam di bawah tanah, Ken. Dan kau sudah bicara soal menempati ranjangnya? Di mana hatimu?"
Kenzo terdiam. Rahangnya mengeras. Ia menatap ranjang king size itu dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Hatiku sudah lama mati, Anin. Sejak hari di mana kakakku membawamu ke rumah ini dan memperkenalkanmu sebagai calon istrinya. Jadi, jangan bicara soal hati padaku."
Kalimat itu menggantung di udara seperti belati. Anindya terpaku. Apa maksud perkataan Kenzo? Sebelum ia sempat bertanya, Kenzo sudah berbalik memunggunginya.
"Keluar. Ambil bantalmu dan tidurlah dengan Elang di kamar tamu. Besok pagi, pengacara akan datang pukul delapan. Jika kau terlambat semenit saja, jangan salahkan aku jika surat gugatan hak asuh itu sampai ke meja hijau."
Anindya lari keluar dari kamar itu seolah-olah iblis sedang mengejarnya. Ia masuk ke kamar Elang, mengunci pintu, dan merosot di balik daun pintu.
Di sana, di kegelapan kamar anak yang harum bedak bayi, Anindya terisak sejadi-jadinya. Ia merasa seperti dikhianati oleh takdir.
Arlan, suaminya yang lembut, baru saja pergi, dan kini ia harus menghadapi serigala berbulu domba yang merupakan adik suaminya sendiri.
Mentari pagi di Jakarta tidak membawa kehangatan. Bagi Anindya, cahaya itu justru seperti lampu sorot di ruang interogasi.
Ia turun ke lantai bawah dengan gaun hitam sederhana, wajahnya tertutup make-up tipis untuk menyembunyikan mata yang bengkak.
Di ruang tamu, Tuan Praditya sudah menunggu bersama seorang pria berkacamata yang memegang koper kulit - Bapak Hardi, pengacara keluarga selama puluhan tahun.
Dan di sana, di kursi tunggal yang biasanya diduduki Arlan, Kenzo duduk dengan setelan jas abu-abu gelap, terlihat sangat berkuasa dan tak tersentuh.
"Duduk, Anindya," perintah Tuan Praditya.
Anindya duduk di samping Kenzo, namun ia memberi jarak yang cukup lebar.
Hardi mengeluarkan beberapa lembar dokumen. "Ini adalah Perjanjian Pranikah dan Kesepakatan Hak Asuh. Poin utamanya adalah - Pernikahan ini akan berlangsung secara sah secara hukum dan agama. Selama pernikahan berlangsung, hak asuh penuh Elang Praditya tetap berada di tangan Ibu Anindya. Namun, jika terjadi perceraian yang diprakarsai oleh pihak Ibu Anindya tanpa alasan yang sah menurut hukum, maka hak asuh jatuh sepenuhnya kepada pihak keluarga Praditya, dalam hal ini Bapak Kenzo."
Tangan Anindya gemetar saat membaca klausul itu. "Ini... ini penjara. Kalian menjebakku agar aku tidak bisa pergi."
"Ini perlindungan, Anin," suara Kenzo menginterupsi, dingin dan tajam. "Perlindungan agar Elang tidak dibawa lari oleh pria lain jika suatu saat kau memutuskan untuk menikah lagi."
"Aku tidak akan pernah menikah lagi jika bukan karena paksaan ini!" teriak Anindya, suaranya pecah di ruang tamu yang luas itu.
"Tanda tangani, atau Elang berangkat ke asrama di Swiss bulan depan," ancam Tuan Praditya tanpa emosi.
Dengan air mata yang menetes tepat di atas materai, Anindya menorehkan tanda tangannya. Ia merasa baru saja menjual jiwanya pada iblis. Kenzo mengikuti, membubuhkan tanda tangan dengan gerakan tegas dan mantap.
"Selamat, kalian resmi akan menikah secara siri siang ini dan secara hukum dalam tiga hari ke depan," ucap Hardi datar.
~~
Siang itu, di depan seorang penghulu yang didatangkan secara rahasia, Kenzo mengucapkan ijab kabul dengan satu napas. Tanpa perayaan, tanpa bunga, tanpa tawa. Hanya ada kesedihan yang pekat.
Setelah prosesi singkat itu, Tuan Praditya dan Ibu Praditya langsung meninggalkan rumah, seolah misi mereka telah selesai. Mereka memberikan ruang bagi pengantin baru itu untuk memulai kehidupan.
Anindya berdiri di tengah ruang tengah yang kosong, merasa hampa. Tiba-tiba, ia merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya dari belakang.
Ia tersentak, mencoba melepaskan diri, namun dekapan itu menguat.
"Lepaskan, Kenzo! Apa yang kau lakukan?"
"Kita sudah sah, Anin. Secara agama, kau adalah istriku sekarang," bisik Kenzo di ceruk lehernya.
Aroma maskulin Kenzo menyergap indra penciuman Anindya, memicu trauma sekaligus sensasi aneh yang tak diinginkan.
"Kau bilang kau melakukannya hanya demi Elang! Kau bilang kau tidak menginginkanku!" Anindya memutar tubuhnya, mendorong dada bidang Kenzo.
Kenzo tersenyum miring, sebuah senyum yang tidak pernah Anindya lihat sebelumnya. Senyum yang penuh dengan kemenangan dan kepahitan.
"Seorang pengusaha sukses tahu kapan harus berbohong untuk mendapatkan tanda tangan di atas kontrak, Anindya. Dan kau baru saja menyerahkan dirimu padaku."
Kenzo melangkah mendekat, memojokkan Anindya ke pilar besar rumah itu. Ia menatap bibir Anindya yang bergetar.
"Aku akan membiarkanmu berduka hari ini. Aku akan membiarkanmu menangisi Arlan satu malam lagi. Tapi mulai besok..." Kenzo menyentuh dagu Anindya, memaksanya menatap matanya yang kelam. "...kau akan belajar bahwa namaku bukan lagi 'Adik Ipar'. Namaku adalah 'Suami'."
Kenzo melepaskan Anindya dan berjalan menuju tangga. Namun, di anak tangga kelima, ia berhenti tanpa menoleh.
"Oh, satu hal lagi. Jangan pernah memakai parfum yang biasa kau pakai saat bersama Arlan. Aku sudah membuang semuanya. Aku sudah menyiapkan aroma baru di kamarmu. Aroma yang hanya akan mengingatkanmu padaku."
Anindya jatuh terduduk di lantai marmer yang dingin. Ia menatap punggung Kenzo yang menghilang di lantai atas. Ia menyadari satu hal yang mengerikan.
Arlan mungkin adalah pria paling lembut yang pernah ia kenal, tapi Kenzo? Kenzo adalah badai yang tidak akan menyisakan apa pun darinya.
Di kamar atas, Elang terbangun dan memanggil, "Ayah? Ayah Arlan?"
Suara mungil itu menyayat hati Anindya. Ia berlari ke atas, memeluk anaknya, dan berbisik dalam hati, "Maafkan Ibu, Elang. Ibu harus masuk ke dalam neraka ini untuk menjagamu."
Namun, di balik pintu kamar utama yang tertutup, Kenzo berdiri bersandar pada daun pintu, memegang dadanya yang berdegup kencang. Ia memejamkan mata, membayangkan wajah Anindya.
"Kau tidak akan pernah tahu, Anin... bahwa aku sudah mencintaimu bahkan sebelum Arlan tahu namamu. Dan sekarang, setelah sepuluh tahun menunggu dalam bayangan, akhirnya kau ada di dalam jangkauanku. Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi, meski kau harus membenciku selamanya."
~~
Malam pertama sebagai suami istri siri dihabiskan dalam ketegangan yang sunyi.
Namun, saat jarum jam menunjukkan pukul dua pagi, Anindya terbangun karena mendengar suara barang pecah dari arah ruang kerja Arlan, yang kini dikuasai Kenzo.
Ia memberanikan diri mengintip. Di sana, ia melihat Kenzo sedang mabuk, duduk di lantai dikelilingi oleh berkas-berkas lama milik kakaknya.
Namun yang membuat Anindya membeku adalah apa yang sedang dibakar oleh Kenzo di dalam asbak besar.
Itu adalah foto-foto pernikahan Anindya dan Arlan. Satu per satu, wajah Arlan di dalam foto itu hangus dimakan api.
Kenzo menoleh, menyadari kehadiran Anindya. Matanya merah, bukan karena tangis, tapi karena amarah yang terpendam bertahun-tahun.
"Kenapa kau membakar itu?" tanya Anindya gemetar.
Kenzo berdiri dengan sempoyongan, berjalan ke arahnya dengan tatapan lapar. "Karena di rumah ini, tidak boleh ada jejak pria lain. Termasuk dia."
Kenzo kemudian menarik tangan Anindya, memaksanya masuk ke dalam ruang kerja dan mengunci pintunya.
"Sekarang, bantu aku melupakannya, Anin. Bantu aku menghapus bayangannya dari kepalamu."
Anindya terjebak. Dan malam yang panjang baru saja dimulai.
...----------------...
To Be Continue ....