NovelToon NovelToon
Yang Tersisa Di Kota Mati

Yang Tersisa Di Kota Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:781
Nilai: 5
Nama Author: Adira Malam

Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FREKUENSI 107.9

Rintik hujan masih membasahi bumi ketika fajar mulai merayap samar di balik cakrawala. Langit pagi itu tampak kelabu, dipenuhi awan hitam yang menggantung rendah di atas kota yang telah mati. Di bawahnya, bangunan-bangunan tinggi berdiri kaku layaknya nisan raksasa—diam, dingin, dan suram.

Damar menjadi orang pertama yang terjaga. Semalaman ia berjaga di dekat jendela ruang kelas, dan kini lehernya terasa luar biasa pegal akibat tertidur dengan posisi duduk bersandar pada dinding yang lembap.

Ia mengedarkan pandangan. Beberapa meter darinya, anggota kelompok yang lain masih terlelap dalam posisi masing-masing. Alya tidur meringkuk sambil memeluk erat ranselnya, sementara Rania bergelung di bawah selimut tipis dengan boneka beruang lusuh yang tak pernah lepas dari dekapan. Tidak jauh dari mereka, Kapten Rendra tertidur dalam posisi siaga, dengan senapan yang diletakkan persis di samping tangannya.

Untuk sesaat, keheningan di dalam kelas itu terasa damai. Terlalu damai untuk dunia yang sudah hancur ini.

Sampai akhirnya, ketenangan itu pecah oleh suara statis yang familier.

*Krrrttt...*

Mata Damar langsung terbuka lebar. Kesadarannya tersentak penuh. Ia menoleh cepat ke arah meja guru, tempat sebuah radio tua diletakkan. Lampu indikator di perangkat usang itu tampak berkedip lemah.

*“Krrrtttt...”*

Detik berikutnya, sebuah celoteh singkat memotong gelombang statis. *“...107.9...”*

Damar langsung bangkit berdiri. "Alya," bisiknya setengah mendesak, membuat perempuan itu tersentak kaget.

"Hah? Kenapa?" tanya Alya dengan suara serak khas orang baru bangun.

"Denger gak?"

Belum sempat Alya menjawab, radio itu kembali berdesis. *“...107.9...”*

Kali ini, suaranya cukup nyaring hingga membuat semua orang di ruangan itu terjaga. Kapten Rendra langsung bergerak bangkit, sementara Rudi yang baru saja membuka mata ikut duduk tegak dengan raut bingung.

"Frekuensi?" gumam Rendra, memastikan apa yang baru saja didengarnya.

Damar mengangguk cepat. "Kayanya iya."

Mereka segera bergerak memutari meja, mengelilingi radio tua tersebut dengan napas tertahan. Namun, suara misterius itu tidak kunjung muncul lagi. Yang tersisa hanyalah dengung statis yang monoton. *“Krrrtttt...”*

Rendra mengetuk-ngetuk jarinya ke meja, berpikir sejenak. "107.9. Itu pasti petunjuk. Frekuensi radio."

Alya menelan ludah, kecemasan mulai membayangi wajahnya. "Mereka sengaja ngasih tahu kita?"

"Mungkin," jawab Kapten Rendra sambil mengangguk pelan. "Mungkin semalam situasi mereka gak memungkinkan buat ngomong panjang. Atau... ada pihak lain yang nyadap frekuensi utama mereka."

Analisis Rendra terasa masuk akal bagi Damar. Jika memang ada kelompok lain yang ikut memantau jalur komunikasi, wajar saja jika pemberi pesan memilih bersikap hati-hati dan tidak membuka semua informasi secara gamblang.

Rendra kemudian merogoh tasnya, mengeluarkan selembar peta lusuh dan membentangkannya di atas meja. "Kita bergerak hari ini. Tapi tujuan pertama kita bukan sektor selatan. Kita cari sumber sinyal 107.9 ini dulu."

Keputusan itu membuat yang lain saling pandang. "Kenapa?" tanya Rudi penasaran.

"Karena besar kemungkinan sumber sinyal ini berasal dari kelompok yang nyoba ngehubungin kita semalam. Kalau posisi mereka dekat, kita bisa dapat informasi lebih banyak."

Tidak ada yang membantah argumen sang kapten. Mereka semua paham betul bahwa di dunia yang baru ini, informasi yang akurat adalah komoditas yang sangat berharga. Kadang, nilainya jauh lebih tinggi ketimbang tumpukan makanan.

Dua jam kemudian, setelah merapikan barang bawaan, mereka meninggalkan gedung sekolah. Hujan telah sepenuhnya reda, menyisakan udara pagi yang menggigit kulit. Jalanan kota tampak lengang, didominasi oleh deretan kendaraan berkarat yang terbengkalai begitu saja. Di beberapa sudut aspal, tampak bangkai *infected* yang tergeletak mengenaskan—sebagian sudah mengering tinggal tulang, sementara sebagian lagi membusuk hingga menyebarkan bau menyengat dan tak lagi menyerupai bentuk manusia.

Rania berjalan dengan langkah kecil, memilih untuk terus menempel di dekat Alya. Sejak kehilangan ayahnya, bocah itu memang menjadi sangat pendiam. Namun setidaknya pagi ini, tatapannya tidak lagi sekosong hari-hari lalu. Ada binar tipis yang kembali hidup di sepasang matanya. Harapan.

Sembari melewati kawasan pertokoan yang hancur berantakan, Damar tak henti-hentinya mengawasi keadaan sekitar. Entah mengapa, sejak mendengar peringatan misterius dari radio semalam, perasaannya terus didera gelisah. Ada sesuatu yang mengganjal di sudut benaknya, sebuah firasat buruk yang tidak mampu ia jelaskan dengan kata-kata.

Hampir satu jam mereka berjalan tanpa hambatan berarti, hingga akhirnya langkah mereka terhenti di depan sebuah minimarket yang bangunannya masih relatif utuh. Kapten Rendra mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua berhenti.

"Kita cek ke dalam," cetus Rendra pendek. Persediaan makanan mereka memang sudah mulai menipis, dan tempat seperti ini adalah peluang yang tidak bisa dilewatkan. "Damar, Rudi, ikut saya masuk. Alya, kamu jaga Rania di luar."

Pintu kaca minimarket itu berderit nyaring saat didorong, memecah kesunyian parah di dalam ruangan yang gelap. Rak-rak barang tampak roboh berantakan, dan aroma busuk samar langsung menyengat hidung begitu mereka melangkah masuk.

Damar mengangkat senapannya, menyandarkan popor ke bahu dengan insting yang sepenuhnya siaga. Mereka mulai menyisir lorong demi lorong dengan gerakan super hati-hati. Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda keberadaan *infected*. Namun, ada hal lain yang justru membuat dahi Rendra mengernyit.

"Kita gak sendirian," gumam Rendra lirih sambil menunjuk ke lantai.

Damar ikut mendekat dan memperhatikan arah pandang sang kapten. Di atas lantai yang berdebu, terdapat jejak kaki sepatu yang masih sangat baru—belum tertutup debu sama sekali. Jejak itu tampak bergerak lurus menuju ke arah gudang di bagian belakang.

Ketiganya saling bertukar pandang, saling memberi kode lewat isyarat mata, lalu perlahan mulai mendekati pintu gudang tersebut. Satu langkah... dua langkah... tiga langkah...

*BRAK!*

Pintu gudang mendadak terhempas keras. Seseorang merangsek keluar dari dalam kegelapan sambil mengacungkan sebilah pistol ke arah mereka. "JANGAN GERAK!"

Dalam sekejap, moncong senjata Damar, Rendra, dan Rudi sudah mengarah ke orang yang sama. Situasi seketika membeku. Ketegangan yang tercipta selama beberapa detik itu rasanya berjalan begitu lambat seperti berjam-jam.

Sosok di depan mereka adalah seorang pria paruh baya, mungkin berusia sekitar lima puluh tahun. Badannya kurus, penampilannya kotor dengan janggut tebal yang tidak terurus. Sepasang matanya tampak merah karena kurang tidur. Namun yang paling melegakan sekaligus mengherankan adalah, pria ini tampaknya sendirian.

Kapten Rendra menurunkan sedikit ketegangan suaranya, mencoba bernegosiasi. "Kita gak nyari masalah."

Meski begitu, pria itu tidak langsung menurunkan senjatanya. "Ada berapa orang kalian?"

"Enam."

"Kelompok?"

"Iya."

Mendengar jawaban jujur Rendra, pria itu tampak ragu. Matanya bergerak gelisah, mengamati seragam dan pembawaan mereka bertiga. Setelah menimbang beberapa saat, ia akhirnya menghela napas panjang dan perlahan menurunkan pistolnya. "Maaf... Udah terlalu lama saya gak ketemu manusia."

Damar mengembuskan napas lega yang sempat tertahan di dada.

Pria itu kemudian memperkenalkan diri sebagai Yanto, seorang mantan teknisi radio. Ia mengaku sudah bertahan hidup sendirian di tempat ini selama hampir enam bulan setelah seluruh anggota kelompoknya tewas—ada yang digigit, dibunuh manusia lain, atau hilang begitu saja di tengah kota. Mendengar penuturan itu, atmosfer di dalam minimarket seketika berubah suram. Di masa sekarang, kisah tragis seperti milik Yanto sudah menjadi makanan sehari-hari. Terlalu banyak orang yang kehilangan segalanya.

Namun, sebuah informasi berikutnya dari Yanto berhasil memantik kembali fokus kelompok mereka.

"Radio?" tanya Rendra, memotong pembicaraan setelah mereka membawa Yanto keluar untuk bergabung dengan Alya dan Rania.

Yanto mengangguk pelan. "Kalian lagi nyari frekuensi 107.9, kan?"

Pertanyaan itu sontak membuat semua orang menatap Yanto dengan pandangan tak percaya. "Lo tahu soal itu?" cecar Damar cepat.

"Tahu," jawab Yanto tenang, membuat jantung Damar berdegup dua kali lebih cepat. Yanto kemudian mengambil posisi duduk di atas sebuah peti kayu kosong sebelum melanjutkan, "Lima hari terakhir, setiap malam, frekuensi itu selalu siaran."

"Apa isinya?" Alya ikut bertanya, tidak sabar.

Yanto terdiam sejenak. Ekspresi wajahnya mendadak berubah aneh, seolah ada kengerian atau kebingungan yang tengah berkecamuk di dalam kepalanya. "Pesan... Sebuah pesan harapan."

Sore harinya, kelompok itu sudah berpindah ke atap sebuah gedung perkantoran. Di sudut atap, terdapat sebuah antena radio tua yang untungnya masih berfungsi dengan baik. Dengan keahliannya sebagai mantan teknisi, Yanto membantu memodifikasi dan memperbaiki perangkat komunikasi milik mereka agar bisa menangkap sinyal dengan lebih jernih.

Langit mulai menggelap seiring matahari yang tenggelam perlahan di ufuk barat. Semua orang duduk melingkar, menunggu dalam keheningan yang mencekam. Tidak ada yang berniat membuka obrolan; bahkan Rania pun duduk diam dengan mata yang terus tertuju pada perangkat radio.

Jam demi jam berlalu dalam penantian yang melelahkan, sampai akhirnya, speaker radio memuntahkan suara desis yang tajam.

*Krrrtttt...*

*“Kepada siapa pun yang masih hidup...”*

Suara itu membuat semua orang spontan menegakkan tubuh. Itu suara manusia—jelas, nyata, dan tanpa gangguan statis yang berarti.

*“Jika kalian menerima siaran ini... kalian tidak sendirian.”*

Damar merasakan dadanya mendadak sesak oleh emosi yang membuncah, sementara Alya menatap nanar ke arah radio tanpa berkedip sedikit pun.

Siaran misterius itu terus berlanjut. *“Ini adalah Frekuensi Harapan. 107.9 FM. Kami mengudara setiap malam. Kami tahu dunia telah runtuh. Kami tahu banyak dari kalian yang telah kehilangan keluarga... kehilangan rumah... bahkan kehilangan alasan untuk sekadar melanjutkan hidup.”*

Suara pria di seberang sana terdengar begitu tenang dan hangat, sangat kontras dengan pembawaan tegas khas militer yang biasa mereka dengar di jalur darurat. Nada bicaranya layaknya seorang guru yang sedang menenangkan murid-muridnya. Namun, kalimat berikutnya yang meluncur dari radio seketika membuat seluruh kelompok membeku.

*“Jika kalian berada di wilayah Kota dan sekitarnya... kami sedang mencari para penyintas. Kami sedang membangun kembali sesuatu.”*

Harapan. Kata itu kembali menggema di telinga Damar. Ia memejamkan matanya sesaat, meresapi kalimat yang sudah sangat lama tidak ia dengar dari dunia luar. *Membangun kembali.* Bukan sekadar bertahan hidup dari hari ke hari, bukan pula melarikan diri tanpa arah, melainkan membangun sebuah masa depan.

Radio itu masih terus mengudara, menyampaikan bait-bait penutupnya. *“Jika kalian mendengar siaran ini... teruslah hidup. Terus bergerak. Karena masih ada manusia yang berjuang di sini. Kami menunggu kalian.”*

Suara itu pun menghilang, digantikan kembali oleh dengung statis yang panjang. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Atmosfer di atas atap itu telah berubah sepenuhnya. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan didera nestapa, mereka mendengar sesuatu yang bukan berupa teriakan histeris, kabar kematian, ataupun teror. Yang baru saja mereka dengar adalah sebuah harapan yang terasa nyata.

Namun, tepat ketika Damar mulai merasakan secercah optimisme di hatinya, Yanto mendadak berdiri dengan sentakan kasar. Wajah pria tua itu mendadak pias, dengan mata yang membelalak ngeri.

"Ada yang salah," desis Yanto dengan suara bergetar.

Kapten Rendra langsung menoleh tajam. "Apa maksud kamu?"

Yanto menunjuk radio tua itu dengan jari yang gemetar. "Tadi... di belakang suara siaran itu... ada suara lain."

Dahi Damar mengernyit dalam. "Suara lain? Maksud lo?"

Yanto menelan ludah dengan susah payah. Sebagai mantan teknisi radio, indra pendengarannya jelas jauh lebih terlatih untuk memilah frekuensi suara dibanding orang awam. "Tadi ada suara yang frekuensinya sengaja ditutupi atau diredam."

"Suara apa, Pak?" desak Alya yang mulai tertular kepanikan.

Yanto tampak ragu, bibirnya bergetar sebelum akhirnya melososkan satu kata: "Geraman."

Keheningan instan langsung menyergap mereka. Rania yang ketakutan refleks memeluk bonekanya lebih erat, sementara Alya bergidik ngeri dengan bulu kuduk yang meremang.

"Kamu yakin?" tanya Rendra, memastikan dengan nada suara yang memberat.

"Sangat yakin."

Damar merasakan sensasi dingin menjalar cepat di sepanjang tulang belakangnya. Siaran itu memang terdengar terlalu sempurna, terlalu bersih, dan terlalu tenang untuk situasi dunia saat ini. Dan kini, kenyataan pahit baru saja menampar mereka: ada sesuatu yang mengerikan yang sengaja disembunyikan di balik pesan hangat tersebut.

Geraman *infected*. Atau mungkin, sesuatu yang jauh lebih buruk dari itu.

Malam merayap semakin pekat, diiringi angin dingin yang bertiup kencang memotong atap gedung. Di kejauhan, kota yang mati itu kembali tenggelam dalam kesunyian yang mencekam.

Namun, belum sempat mereka mendiskusikan temuan Yanto lebih jauh, sebuah suara panjang tiba-tiba memecah malam, menggema dahsyat dari kejauhan. Itu bukan suara manusia, bukan pula jenis suara *infected* biasa yang sering mereka hadapi. Suara itu adalah sebuah raungan mengerikan yang amat masif—perpaduan antara jeritan kesakitan dan lolongan binatang buas yang kelaparan.

*"RRRRAAAAAAAAUUUUGGGHHHHH!!!"*

Raungan itu begitu kuat hingga rasanya menggetarkan udara malam. Rania menjerit kecil karena terkejut, membuat Alya langsung menarik bocah itu ke dalam pelukannya. Kapten Rendra seketika membeku dengan tangan yang refleks mencengkeram senjata, sementara Damar merasakan darahnya seolah berhenti mengalir.

Sebab, gema raungan mengerikan itu berasal dari arah selatan. Tepat dari wilayah sektor tujuan yang harus mereka tuju.

Dan entah kenapa, naluri bertahan hidup Damar berbisik dengan ngeri... bahwa suara tersebut berasal dari "sesuatu" yang sempat disebutkan dalam peringatan radio misterius semalam. Sesuatu yang bergerak di bawah tanah kota. Sesuatu yang telah menelan tim-tim pengintai hingga lenyap tanpa bekas.

Di tengah kegelapan malam yang pekat, Damar melemparkan pandangannya jauh ke arah selatan. Ke arah tempat tujuan mereka. Ke arah neraka berikutnya yang sudah membuka mulut setinggi langit, siap menelan mereka bulat-bulat.

Untuk pertama kalinya sejak mendengar kabar tentang adanya jalur keluar dari kota ini, sebersit keraguan yang teramat sangat mulai merayap di benak Damar. Ia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri: Apakah harapan yang selama ini mereka kejar itu memang benar-benar ada... ataukah semua ini hanyalah sebuah umpan manis yang sengaja dipasang untuk menggiring mereka menuju kematian?

1
Maharani Martosono
😄😄
T28J
keren keren keren 👍
Adira Malam: semoga suka ya, baca dan dukung terus 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!