NovelToon NovelToon
Obsession Of Jayden

Obsession Of Jayden

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Alyssa Kim

Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.

​Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.

​Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Skenario yang Terbakar

​Dua minggu sebelum bendera start Inter-School Championship resmi dikibarkan di Sentul, Loren’z High School berubah menjadi wilayah dengan ketegangan paling pekat di Jakarta Selatan. Sinar matahari siang yang terik memantul pada kaca-kaca jendela kelas XI-IPA 3, namun di pojok paling belakang—di meja nomor tiga—suasana tetap terasa sedingin es.

​Elleanor duduk dengan punggung tegak, jemari kanannya menari lincah di atas buku sketsa desain miliknya. Sifat barbarnya sengaja ia alihkan pada goresan-goresan pensil yang tajam, membentuk siluet gaun malam bergaya Parisian dengan potongan asimetris yang berani—sebuah sisa pelarian dari proyek "VÈRUNE" yang kini justru ia gunakan sebagai nama samarannya di aspal.

​Di sampingnya, Jayden Xeno Frederick bersandar santai. Cowok bermuka tembok itu sedang membolak-balik lembar cetak biru regulasi final dari pihak panitia pusat. Seragam kemeja putihnya yang bersih tampak kontras dengan gelang pintar hitam berlogo VULTURES yang masih melingkar erat di pergelangan tangan kiri Elle.

​Klik.

​Jayden meletakkan kertas-kertas itu, lalu menoleh lambat ke arah samping. Netra hitamnya yang pekat langsung mengunci pergerakan pensil Elle.

​"Desain lo terlalu banyak sudut tajam, Elle," ucap Jayden rendah, suaranya yang berat memecah keheningan di antara mereka berdua. "Sama kayak cara lo ngambil apex di tikungan S besar minggu lalu. Terlalu maksa."

​Elleanor menghentikan goresan pensilnya dengan sentakan tajam hingga ujung grafitnya patah di atas kertas. Ia menoleh patah-patah, menatap Jayden dengan kilat mata judes khasnya yang menyala-nyala. "Gak usah sok tahu soal desain ataupun cara gua bawa motor, Frederick. Sudut tajam itu sengaja gua buat biar bisa menusuk kesombongan lo sampai hancur."

​Jayden tidak terganggu oleh gertakan galak itu. Tangan kanannya terangkat, dengan gerakan yang terlampau kasual bagi seorang ketua geng berdarah dingin, ia meraih tangan kiri Elle yang mengenakan smartband. Ditatapnya layar digital yang menampilkan angka 88 BPM.

​"Jantung lo masih terlalu cepat tiap kali gua dekat, Elle," bisik Jayden, menunduk sedikit hingga aroma mint dari napasnya menyentuh permukaan kulit wajah Elle yang mulai merona samar akibat amarah. "Lo mau nipu simulasi komputer gua dengan setelan motor baru buatan Wolfangs? Silakan. Tapi lo gak bakal bisa nipu sensor yang ada di tangan lo ini."

​Elleanor menyentak tangannya kasar hingga terlepas dari cengkeraman Jayden. "Gua berdebar karena gua nahan diri buat gak menusuk mata lo pake pensil patah ini, Muka Tembok! Jangan harap lo bisa ngatur detak jantung gua setelah gua ngelewatin garis finis nanti!"

​Di luar gedung sekolah, tepatnya di dalam kabin mobil sedan hitam antipeluru yang terparkir di bawah pohon rindang seberang gerbang LHS, Kenzo Willy Smith sedang menatap layar tabletnya dengan kening berkerut dalam. Di sampingnya, seorang pria berjas tegap—kepala pengawal keluarga Smith—menyerahkan sebuah dokumen hukum bermeterai.

​"Tuan Muda Kenzo, berkas intervensi terhadap Frederick Group terkait sponsor kompetisi sudah selesai diproses oleh tim legal Tuan Kenzie di Singapura," lapor pengawal tersebut dengan nada formal. "Namun, pihak panitia pusat Inter-School menolak membatalkan regulasi Open Class karena Jayden Frederick menggunakan klausul hak veto sponsor utama."

​Kenzo melempar dokumen itu ke atas dasbor dengan mendengus kasar. Sepasang matanya yang tersembunyi di balik kacamata hitam berkilat tajam memancarkan aura protektif seorang abang kembar. "Jayden bener-bener menutup semua jalur resmi buat narik Elle balik. Dia mau memojokkan adik gua di atas aspal dengan cara yang paling legal."

​Kenzo meraih ponselnya, menekan nomor kontak Elle yang sudah dihubungkan melalui frekuensi satelit privat keluarga Smith untuk menembus proteksi Haikal.

​"El," ucap Kenzo begitu sambungan tersambung tanpa suara klik. "Gua sama Kenzie gak bisa membatalkan kelas bebas itu dari jalur hukum. Jayden terlalu kuat di komite panitia."

​Di ujung telepon, setelah jeda beberapa detik, suara Elleanor terdengar mengalun konstan dan dingin dari balik kolong mejanya di kelas. "Gak usah dibatallin, Bang Ken. Gua justru mau kelas bebas itu tetep jalan."

​Kenzo mengerutkan dahi. "Maksud lo?"

​"Kalau kelas itu dibatallin, Jayden bakal punya alasan kalau gua menang karena regulasinya dikebiri," balas Elle dengan seringai liar yang bisa dibayangkan Kenzo dari nada suaranya. "Biarin si Muka Tembok itu main-main dengan seluruh tenaga supercharger-nya. Gua, Alka, sama anak-anak Wolfangs udah nemu satu celah yang gak bakal bisa dibaca sama simulasi Haikal. Gua bakal bakar skenario gila milik Jayden tepat di depan mukanya sendiri dua minggu lagi."

​Malam harinya, di markas rahasia WOLFANGS, suasana terasa seperti ruang operasi militer. Rafka Galan duduk di atas lantai semen sambil memegang obeng besar, sementara wajahnya dipenuhi noda oli hitam. Di depannya, siluet hitam karbon VÈRUNE sudah terlanjangi sebagian; seluruh sistem suspensi depan spek Amerika telah diturunkan dan diganti dengan garpu suspensi balap kustom hidrolik ganda.

​"Ini gila, Matt! Tapi kalau ini berhasil, Jayden bakal ngeliat motor yang bisa berbelok dengan sudut kemiringan ekstrem tanpa perlu melakukan pengereman awal!" seru Rafka dengan tawa liarnya yang menggema di antara deru kipas angin bengkel.

​Matthew Felix yang duduk di kursi rodanya terus memantau pergerakan grafik data simulasi baru di layarnya. "Sistem Haikal mengalkulasi kalau Elle bakal ngerem di jarak 50 meter sebelum tikungan S besar berdasarkan data New York. Tapi dengan suspensi hidrolik kustom ini... Elle bisa melakukan late-braking di jarak 30 meter. Selisih 20 meter itu bakal membuat Jayden kehilangan momentum untuk menutup jalur."

​Alkana berdiri di samping motor Elle, menatap grafis perak bertuliskan nama VÈRUNE dengan pandangan mata yang terfokus. Rasa cemburu posesifnya terhadap Jayden kini telah bertransformasi sepenuhnya menjadi energi perlawanan yang dingin dan tak terpatahkan.

​"Kita gak cuma bakal motong momentum dia, Matt," ucap Alka rendah, suaranya parau namun sarat akan determinasi maut. "Kita bakal bikin malam itu jadi malam di mana sang predator tersadar... kalau rona buruannya kali ini punya taring yang jauh lebih tajam dari cakar miliknya."

​Di bawah kegelapan malam Jakarta yang berselimut angin malam yang dingin, benang-benang konspirasi dan taktik jalanan kian menegang. Skenario gila yang disusun Jayden untuk mengunci sangkar emasnya kini sedang di ambang kehancuran oleh keliaran darah pembalap Elleanor yang menolak untuk tunduk pada ilusi kekuasaan mana pun.

1
Davina Aurora
lanjutt ka ceritanya seruu🤩🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!