NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?

​Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.


!!!⚠️!!!

#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Pagi itu, keheningan menyelimuti ruang rawat VIP rumah sakit. Brant duduk di samping ranjang, jemarinya bergerak konstan mengupas sebutir jeruk untuk ibunya yang kini mulai pulih. Setelah kembali menginap semalam, gelagat Brant terlihat tidak tenang. Ada sekat dingin yang ia bangun, menyembunyikan badai kegelisahan, amarah, dan rasa penasaran yang bercampur aduk akibat rahasia kedua orang tuanya.

​Gerak-gerik penuh tekanan itu rupanya terbaca jelas oleh Nyonya Sofia. Wanita paruh baya itu menghela napas lirih, memandangi cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya sendiri dengan tatapan kosong, sebelum akhirnya memecah kesunyian.

​"Brant," panggil sang ibu, suaranya terdengar lemah namun sarat akan penekanan. "Cari tahu siapa pemilik saham terbesar kedua di perusahaan kita yang ada di Indonesia."

​Brant menghentikan gerakannya. Ia menatap heran sang ibu, lalu mendekat dan mengulurkan potongan jeruk ke piring kecil di dekat ibunya. "Maksud mama? Bukankah selama ini keluarga kita yang memegang kendali penuh sebagai pemilik mutlak?"

​Nyonya Sofia menarik napas dalam-dalam. Ketika beliau menoleh, Brant sedikit tersentak. Tatapan ibunya begitu tajam, memancarkan aura ketegasan yang tak pernah Brant lihat sebelumnya dari sosok yang biasanya selalu dipenuhi kelembutan itu.

​"Kamu sudah bertemu dengan ayahmu?" tanya Nyonya Sofia dingin.

​"Sudah. Aku bahkan bertanya langsung perihal perdebatan yang membuat mama sampai pingsan hari itu," jawab Brant jujur, kini mengambil posisi duduk di tepi ranjang agar bisa menatap ibunya lebih dekat.

​"Dan apa jawabannya?"

​"Papa bilang itu hanya masalah biasa antara suami istri." Brant menjeda kalimatnya, meneliti raut wajah ibunya yang terasa asing. "Ma, sebenarnya apa hubungan pertengkaran kalian dengan perusahaan?"

​Nyonya Sofia menatap lekat wajah putra sulungnya, mencari keyakinan di sana. Detik berikutnya, tatapan tajam itu perlahan melunak, menyisakan gurat keteduhan saat beliau meraih dan menggenggam erat tangan Brant.

​"Untuk itulah Ibu memintamu memeriksa jajaran investor di Indonesia, Brant. Orang yang memiliki andil besar di sana... dialah yang menjadi akar masalah saat ini."

​Brant tertegun. Kepalanya mendadak dipenuhi tanda tanya besar. Mengapa tiba-tiba ibunya ikut campur dalam urusan bisnis? Sejauh yang Brant tahu, ibunya hanyalah ibu rumah tangga biasa yang tidak pernah mau ambil pusing dengan urusan korporasi suaminya. Namun, insting Brant menangkap sesuatu yang jauh lebih berbahaya di balik kepanikan tersembunyi sang ibu.

​"Ma," Brant berbisik lirih, memastikan suaranya tidak terdengar keluar ruangan. "Apakah ini ada hubungannya dengan... keluarga kita?"

​Mendengar itu, tatapan Nyonya Sofia kembali mendingin, seolah benteng pertahanannya kembali menutup rapat. "Cari tahu saja siapa dia, Brant. Dan ingat, kamu harus secepatnya menunjukkan pencapaian besar di kantor. Buat kemajuan yang signifikan agar dewan direksi tidak punya alasan lagi untuk menunda pengangkatanmu sebagai pemimpin tertinggi."

Di sudut ruang butik milik ibunya, Luca tiba-tiba memekik heboh. Ponsel yang menempel di telinga bergetar seiring dengan degup jantungnya yang ikut melonjak saat mendengar kabar bahagia dari sahabatnya, Rose.

​"Hah? Demi apa, Rose?! Secepat itu kalian bakal melangsungkan pertunangan?" seru Luca, matanya mengerjap tak percaya.

​"Hmm... iya, Ca. Awalnya gue juga kaget banget, tapi Kak Jack berhasil meyakinkan gue. Dan tentu saja, gue langsung mau," sahut Rose dari seberang telepon, terdengar begitu berbunga-bunga.

​"Kalian hebat banget, ih. Tahu-tahu sudah mau tunangan saja," ucap Luca. Namun, tanpa sadar, nada suaranya perlahan memelan, menyisakan gurat kekosongan di ujung kalimatnya.

​Rose yang sangat mengenali perubahan sekecil apa pun dari sahabatnya itu langsung tanggap. Selama ini, mereka berdua memang sering bertukar cerita tentang hubungan masing-masing—terutama mengenai Luca dan Brant yang akhir-akhir ini komunikasinya mulai renggang dan terasa sangat sulit.

​"Ca... Brant belum ada niatan datang buat nemuin lu? Udah lama banget lho dia di London," tanya Rose hati-hati.

​Luca menggelengkan kepala pelan, seolah-olah Rose bisa melihat gerakannya. "Nggak tahu, Rose. Ini saja sudah beberapa hari kami cuma bertukar pesan singkat. Kemarin aku sempat telepon, tapi Kak Brant langsung memutus panggilannya karena nggak bisa lama-lama," adu Luca, mulai menumpahkan sesak di dadanya.

​"Tapi, kalian berdua baik-baik saja, kan?" desak Rose, mulai cemas.

​"Aku rasa kami baik-baik saja. Tapi entahlah dengan Kak Brant. Dia selalu bilang ada kesibukan penting yang harus diselesaikan." Luca menjelaskan dengan raut sendu, tak mampu lagi menyembunyikan rasa kecewa yang mendalam.

​Mendengar itu, Rose merasa ada yang tidak beres dengan gelagat Brant. Namun, ia sadar tidak boleh memperkeruh suasana atau membuat Luca semakin terpuruk. "Mungkin Brant memang lagi berada di masa-masa tersulit dalam pekerjaannya, Ca. Lu yang sabar dulu ya, dan..."

​"Bahkan Kak Brant bilang, aku harus menunggu sampai dia yang menelepon duluan," potong Luca lirih, suaranya bergetar hebat menahan tangis. "Aku merasa... semuanya sudah nggak seperti dulu lagi, Rose." Seiring dengan kalimat itu, sebutir air mata akhirnya jatuh melewati pipi Luca.

​Rose mengembuskan napas gusar, rasa kesal mulai menyergap hatinya karena tidak tega melihat Luca menderita. "Gini deh, Ca. Kalau si Brant terus-terusan begitu, nanti lu telepon dia lagi. Tanya langsung ke dia, kenapa sekarang komunikasi kalian kayak sengaja dikasih jarak?" Rose menjeda kalimatnya, lalu berbisik pelan, "Kesannya dia kayak ingin menjauh."

​Bisikan itu telanjur mampir ke indra pendengaran Luca, memicu denyut perih di dadanya. "Iya, Rose. Nanti aku coba tanya langsung ke Kak Brant," jawab Luca pasrah.

​"Nah, gitu dong! Udah ya, jangan sedih terus. Ingat, kalian itu tetap couple goals kesayangan kita semua. Selesaiin masalahnya baik-baik," hibur Rose, berusaha mengembalikan keceriaan di antara mereka. "Dan ingat, hari Sabtu besok jam enam sore acaranya di rumah gue. Awas ya kalau lu bilang sibuk!"

​Luca tertawa kecil, suara tawanya yang bening perlahan kembali terdengar. "Hehehe, iya, Rose. Aku pasti datang kok."

​"Oke, bye! Sampai ketemu nanti, Ca!"

​Setelah panggilan berakhir, Luca menatap layar ponselnya yang kembali menggelap. Ia tersenyum tipis, meresapi setiap kalimat penyemangat dari sahabatnya. Aku dan Kak Brant... tetap couple goals, ya? batin Luca. Kalimat sederhana itu entah bagaimana berhasil menyuntikkan sedikit rasa bahagia dan harapan, mengobati luka kecil di hatinya akibat sikap dingin Brant akhir-akhir ini.

Di depan cermin kamarnya, Luca meneliti penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mengenakan setelan semi-formal yang anggun, ia ingin terlihat sempurna di hari pertunangan Rose dan Jack. Terlebih, statusnya kini sudah berubah menjadi brand ambassador terkenal; ia harus menjaga citra di depan publik dan sahabat-sahabatnya, terutama Elena yang pasti akan menjadikannya objek jepretan utama untuk media sosial.

​Jarum jam sudah menunjukkan pukul 18.15 WIB. Luca terlambat karena sempat terlibat drama perdebatan dengan Lea yang mendadak menolak mengantarnya dengan alasan malas. Akhirnya, menggunakan taksi daring, Luca bergegas menuju kediaman Rose.

​Begitu tiba, suasana pesta taman outdoor itu sudah tampak ramai. Dari balik pagar tanaman, Luca bisa melihat binar kebahagiaan terpancar dari wajah Rose dan Jack. Tangan mereka bertautan erat, saling melempar pandang penuh cinta. Pemandangan itu membuat Luca ikut bahagia, namun di saat yang sama, rasa rindu di dadanya membuncah hebat hingga tak tertahankan.

​Masih berdiri di luar area pesta, Luca merogoh ponselnya. Ia menatap nama sang kekasih sebelum akhirnya memberanikan diri menekan tombol panggil. Jantungnya berdesir hangat saat panggilan itu langsung diangkat di dering pertama.

​"Halo, Kak Brant! Aku mau bilang—"

​"Ca, bisa nggak lu ngertiin gue kali ini aja?" potong Brant cepat. Suaranya terdengar berat, tegas, dan ada letup amarah yang tertahan di sana.

​Napas Luca mendadak tidak teratur. Rasa jengah, kecewa, dan lelah yang ia pendam berhari-hari mulai menuntut untuk dilepaskan. "Kak, aku cuma minta waktu sebentar, kok. Aku rasa, selama ini aku sudah terlalu banyak mengertiin Kakak," sahut Luca, mencoba menuntut haknya.

​Namun di seberang sana, kalimat Luca justru terdengar seperti sebuah keegoisan di telinga Brant yang sedang tertekan. "Memangnya lu tahu masalah apa yang lagi gue hadapi sekarang, hah?! Terus dengan gampangnya lu bilang udah ngerti?!" nada suara Brant meninggi, membentak.

​Luca tersentak. Ia mencoba mengontrol emosinya, membiarkan sisi dewasanya mengambil alih agar tidak memperkeruh situasi. Dengan mata yang mulai memerah dan berkaca-kaca, ia berbisik lirih, "Kak, aku minta maaf. Aku cuma mau kasih kabar kalau Kak Jack sama Rose sudah resmi tunangan hari ini..."

​Luca tahu, setelah ini Brant pasti akan memutus sambungan teleponnya lagi secara sepihak. Maka dengan sisa keberaniannya, ia ingin bergegas mengucapkan bahwa ia sangat merindukan pria itu. Namun, belum sempat kata rindu itu terucap, kalimat Brant berikutnya telanjur menghantam dada Luca hingga hancur berkeping-keping.

​"Terserah, Ca. Gue belum kepikiran sampai ke situ."

​Klik.

​Luca langsung mematikan sambungan telepon itu lebih dulu. Air matanya luruh seketika, mengalir deras merusak riasan wajahnya. Dadanya sesak luar biasa akibat rasa kecewa yang teramat besar karna ucapan Brant. Merasa tidak sanggup masuk ke dalam pesta dengan kondisi sekacau ini, Luca berbalik arah, berniat melarikan diri dari tempat itu.

​"Luca?"

​Sebuah suara familiar menghentikan langkahnya. Vin berjalan mendekat dengan raut wajah cemas. Tatapan Vin turun ke arah layar ponsel di tangan Luca yang masih menyala, menampilkan nama kontak Brant di sana. "Apa ini karena Brant?"

​Luca tidak mampu bersuara; ia hanya mengangguk pasrah di sela isak tangisnya yang memilukan.

​Vin mengembuskan napas berat. Sebagai sahabat yang selalu menemukan Luca dalam kondisi hancur seperti ini, ia tahu ini bukan sekadar pertengkaran biasa. "Gue antar lu pulang sekarang. Biar nanti gue yang jelasin ke Rose."

​Sementara itu, dalam ruang kantornya , keheningan mencekam langsung pecah saat Brant menghempaskan ponselnya ke sudut lantai hingga hancur berantakan. Napasnya memburu cepat. Ia murka pada keadaan, sekaligus mengutuk dirinya sendiri karena sadar telah melampiaskan seluruh rasa frustrasinya kepada Luca.

​Penyebab hancurnya kendali emosi Brant terletak di atas meja kerjanya. Di sana, terkumpul lembaran bukti laporan keuangan rahasia mengenai penarikan dana ilegal dalam jumlah fantastis yang dilakukan oleh ayahnya sendiri, Tuan Lodrik, selama tiga tahun terakhir. Tindakan korup itu seolah sengaja dirancang untuk membuat perusahaan mereka di london di ambang kebangkrutan.

​Namun, kepingan fakta yang paling menghancurkan waras Brant adalah fakta mengenai kepemilikan modal. Saham tertinggi perusahaan mereka yang berada di Indonesia ternyata sudah tidak lagi atas nama Tuan Lodrik, melainkan telah dialihkan kepada Junior Willey.

Marga yang sama.... apakah dia bagian dari keluarga papa? Batin brant merasakan sekelumit kepanikan dan amarah.

Nominal dana yang digelapkan oleh ayahnya selama ini ternyata setara dengan nilai akuisisi saham tersebut. Ini bukan sekadar kerugian bisnis, melainkan skenario pengkhianatan terencana untuk memindahkan aset keluarga secara diam-diam.

Mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih, Brant menggertakkan gigi dengan rahang mengeras tajam. Tatapannya menembus kegelapan malam London, dipenuhi kobaran api dendam.

​"Kau tidak akan bisa menghancurkanku dengan mudah," desis Brant penuh amarah yang menuntut pembalasan. Matanya kemudian beralih menyalang pada berkas nama yang tertera di lembar saham baru tersebut. "Dan kau, Junior... siapa kau sebenarnya?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!